
Kabar tentang nongki-nongki di halaman belakang rumah Tami sudah tersebar. Sarah sudah menyiapkan segala peralatan untuk yang berkemungkinan akan dipakai esok harinya. Tidak puas hanya makan mie dabel, Sarah memalak Agus dan Felix agar mau mengeluarkan uang lebih. Lewat Video Call⸺tidak pakai `S`⸺Sarah mengancam akan membuka baju sambil kayang kalau mereka tidak menuruti keinginan Sarah. Malah Andi yang ketakutan karena mereka melakukan video call di kamarnya Andi malam itu. Alhasil, Agus dan Felix mau ngeluarin uang lebih.
Awalnya diminta Sarah buat beli ayam goreng cepat saji yang pakai ember biar banyak. Tapi, Sarah minta tiga ember ayam goreng karena masih bisa dibawa pulang buat sarapan.
Sementara itu, Felix malah mau beli bacoon di restoran Tionghoa faforitnya. Karena mereka semua enggak makan bacoon dan ditambah keinginan suasana yang meriah, Agus dan Felix membeli tiga ekor ayam untuk dibakar, jagung manis, minuman soda, serta makanan ringan lainnya.
Tekorlah Agus dan Felix karena seluruh dana dari mereka berdua. Sarah memang pande morotin cowok. Gimana enggak tekor tuh Andi kalau setiap pergi makan, Sarah selalu minta dua ronde porsi. Namun, Agus dan Felix merasa selama ini mereka tidak selalu meluangkan waktu untuk teman-teman lama. Oleh karena itu, mereka malah merasa senang jika kesempatan itu digunakan untuk bersenang-senang.
Udah kaya pesta, Tami dan Sarah mau tampil perfect. Mereka pakai riasan di rumah Tami. Sarah pun di-make up sama Tami. Maklum, Sarah kurang pande megang kuas rias, malah lebih handal megang obeng bengkel.
Bunyi musik dangdut bintang pantura berdendang di kamar Tami. Walaupun sama sekali enggak ngerti selera lagunya Sarah, Tami tetap ikutan goyang ngebor di atas ranjang bersama anak itu. Berantakan banget kamar Tami dibikin mereka berdua.
“Sumpah nih kita harum banget, kek mau pergi kondangan.” Sarah mencium ketek Tami. “Bisa-bisa Andi malah pingsan gara-gara ini.”
“Hmm … iya juga, ya.” Tami mencium keteknya sendiri. “Tapi, kamu udah enggak apa-apa kan kalau Pram nanti bakalan datang.”
“Enggak apa-apa, sih. Lagian Pram bawa Kevin dan Revin juga, kan. Andi dan yang lain juga senang kok karena mereka bertiga hadir,” balas Sarah.
“Kamu yakin kalau Andi enggak masalah? Dia itu paling anti sama Pram.”
Sarah berhenti gonjang-ganjing di atas ranjang Tami. “Tenang, gue bisa ngatur anak itu. Bilang aja ntar dikasih jatah, dia pasti nurut.”
“Jatah itu apa?”
Jemari Sarah ngegaruk-garuk kepala. Punchline humornya jadi enggak kesampaian karena Tami sama sekali belum ngerti. Ni anak gaulnya sama kucing tiap hari jadinya gini …
“Itu … jatah … jatah main futsal. Gue itu ngelarang Andi sering-sering main futsal. Biar kek cewek-cewek jaman sekarang getoh yang suka ngelarang pacarnya main futsal.”
“Oo gitu, aku sering ngelihat di akun-akun receh Instagram kalau cewek banyak yang ngelarang cowoknya main futsal. Aneh banget, ya.”
__ADS_1
“Kriteria cewek cantik jaman sekarang mungkin. Gue juga enggak tahu.”
Seketika bunyi bell rumah Tami berbunyi. Sarah pun mematikan bunyi musik dangdut pantura yang sedari tadi dimainkan.
“Kayanya itu Andi sama temen-temennya,” ucap Tami.
“Mana pernah Andi nge-bell terus masuk lewat pintu depan. Sopan banget. Yang ada dia itu lewat samping rumah, kalau bisa sekalian manjat pagar.
“Itu Pram!” Mereka berdua berucap bersamaan.
Sarah bersama Tami langsung ngebut ke lantai satu. Biar cepet, Sarah ngeluncur dengan pegangan tangga. Rambut yang sedari tadi berantakan kini rapi seketika. Tidak ingin bell berbunyi berkali-kali, Tami langsung membuka pintu sembari memasang senyum paling manis.
Terlihatlah paras wajah maskulin Pram yang membalas senyum Tami. Postur tubuh kekar khas polisi-polisi idaman sempat membuat Tami bergeming. Pria itu tampak rapi sekali dengan setelan kemeja dan rambut klimis. Bersemerbak wangi parfum Pram di antara Tami dan Sarah. Namun, Sarah lebih kontras ke wangi rambut Pram. Kan wangi rambut Pram terkenal banget waktu di SMA sampe-sampe Andi pernah ngendus kepalanya Pram karena penasaran.
“Hai … Tami ….” Pram melihat ke Sarah yang ada di belakang Tami. “Hai … Sarah.”
“Hai juga, Kak Pram, Kak Kevin, Kak Revin. Kalian tepat banget datang jam delapan malam.”
Tangan Pram memberikan keranjang buah serta plastik belanjaan swalayan yang berisikan makanan dan minuman.
“Ini buat Papa dan Mama di rumah.”
Mendengar kalimat itu, Sarah mau muntah karena terkesan bermanis-manis. “Nyokap ame bokap Tami enggak tinggal di rumah ini.”
“Oh, ya? Sendirian, dong?” tanya Pram.
“Iya, Kak. Aku sendirian di sini karena Mama ikut Papa ke Kalimantan. Papa kerja di sana.” Tami memeriksa isi kantong swalayan. Ia terkejut tatkala melihat setangkai bunga berada di dalam sana. “Wah, ada bunga.”
“Itu bonus dari swalayannya karena gue member soalnya. Tanya tuh sama Kevin dan Revin.”
__ADS_1
Sarah jadi curiga. Matanya langsung menatap sinis kepada Kevin yang tampak cemas dengan sikap Sarah. Dia takut kalau Sarah bakalan ngamuk di sini karena Pram terkesan menggoda Tami.
“S … s … sumpah. Itu beneran. Sumpah ….,” balas Kevin panik. Tatkala mata Sarah kembali normal, Kevin menghela kecil, “Huuh … untuk jinak nih cewek.”
“Yaudah, biar enggak banyak bacot. Lansung masuk aja,” pinta Sarah.
“Silahkan masuk kakak-kakak. Nanti duduk aja di teras belakang. Kalau mau ngerokok, ngerokok aja. Bebas kok di sini.”
“Alkohol boleh dong, ya ….” Kevin tersenyum.
“Boleh⸺” Kalimat Tami terhenti seketika.
“Sini biji lo gue jadiin bir kalau berani-beraninya minum alkohol di rumah ini.”
Pram tertawa sejenak. “Haha … gue bawa ke kantor kalau mereka mabuk-mabukan.”
Sementara mereka bertiga bersantai di teras belakang, Sarah dan Tami sibuk melihat kembali minuman dan makanan ringan yang sudah dibeli maupun diberi oleh Pram. Hati Sarah agak gimana gitu sama Pram yang sok-sok manis di depan Tami. Menurut Sarah, Pram pasti paham kalau dia enggak bakalan suka kalau temannya sendiri diganggu.
“Lo bilang rencana ini ke dia waktu di mana?” tanya Sarah.
“Waktu itu aku sama Kak Pram ketemu di café deket Polda.”
“Dia memang sok-sok manis kaya tadi, enggak?”
“Kan Kak Pram memang begitu dari dulu. Bahkan sama cowok aja sopan banget.”
Mata Sarah memicing kepada Sarah. “Gue jadi curiga sama tuh buaya. Lo harus hati-hati, ya.”
“Enggak kok, tenang aja. Kak Pram itu kayanya dewasa banget. Jadi, mana mau macem-macem.”
__ADS_1
Sarah melangkah meninggalkan dapur sembari mengangkat peralatan ke belakang. Tami masih belum ngerti dengan ekspresi Pram tadi, soalnya Tami selama ini ketemunya cuma para biayawak, belum pernah ketemu buaya beneran. Sarah udah kaya pawang buaya aja.
***