Andi X Sarah

Andi X Sarah
88. Bengkel Motor (SEASON 3)


__ADS_3

Sebenarnya tidak ada keakbran di antara kedua pria itu. Hal yang Sarah kira sebuah kehangatan, ternyata hanya sandiwara yang diciptakan. Saking bahagianya Sarah, dia permisi dulu untuk menyeduh mie dalam cup untuk disantap bersama-sama di sore hari ini.


Tinggallah Andi dan Aslan. Aslan dengan rasa cemas duduk di samping Aslan tanpa berani melirik. Sementara itu Andi seperti anjing yang majikannya baru saja diganggu. Kalau bisa, Andi menggigit dengan bringas. Orang sekelas Aslan hanya butuh satu tangan untuk menumbangkannya. Sementara itu, Andi telah berpengalaman berkelahi dengan berbagai preman dan kriminal. Aslan bukanlah orang setara untuk diurusi secara fisik.


“Woi, lihat gue ….” Andi menjentik telinga Aslan tanpa ragu.


Aslan menoleh. “Iya bang ….”


“Lo tahu gue? Preman-preman di sini aja takut sama gue, apalagi orang sekelas elo. Muka lo itu masih pakai skincare makanya bersih, nih gue udah berapa kali bonyok.


“ Andi menepuk muka Aslan untuk kembali menoleh padanya lagi. “Jadi lo mau ngedeketin Sarah ya?”


“Enggak kok Bang. Tadi itu becanda sumpah …”


Jemarin Andi langsung menjentik bibir Aslan. Aslan sekarang udah dibikin enggak ada harga dirinya lagi. “Malah ngejawab lagi lo ya. Mau gue kasih ke Memet lo? Dia itu preman besar di komplek ini. Orang terkuat di SMK Permesinan pada masanya. Lo mana tahu sama dia, lo pasti SMA-nya SMA swasta yang isinya anak orang kaya dan enggak pernah tawuran. Kalau dipukul langsung ngadu polisi.”


“Mana gue tahu Bang sama si Memet itu siapa Bang. Ampun Bang, sumpah tadi gue becanda.”


“Masalahnya elo itu becandanya sama gue? Kalau elo becanda sama orang lain, gue kaga peduli karena gue juga kaga tahu.” Andi menjewer telinga Andi. “Lo berani sama gue?


Aslan menggeleng agar jeweran Andi dilepas darinya. “Enggak Bang, gue enggak berani.”


“Lo pasti cupu kan? Mau kelahi sama gue?” tantang Andi.


“Iya Bang gue cupu, kelahi aja enggak pernah sumpah.” Aslan membentuk jemari telunjuk dan tengah seperti huruf V. “Gue kaga berani lawan elo.”


“Jadi, mulai selanjutnya lo tahu apa yang bakal dilakuin?”


“Tahu Bang, gue enggak ganggu Sarah lagi,” balas Aslan dengan lemah.


“Sekali aja gue ketemu elo di kampus, gue cemplungin elo ke danau kampus. Ingat itu!” Andi menempelkan Aslan ke keteknya. Hal ini terinspirasi dari Kevin yang sering mengketeki para musuhnya.


Aslan jadi lemes karena diapit di keteknya Andi. Jantungnya berdegap-degup karena takut sama Andi.


“Eh … lagi bicarain apa? Kayanya seru banget.” Sarah datang dengan tiga buat mie dalam cup.


Untung saja Andi melepaskan Aslan dengan cepat agat tidak ketahuan. Ia melihat baju dan rambut Aslan yang tidak lagi rapi karena abis diamuk sama dirinya sendiri.


“Ini dia orangnya ternyata humoris. Dia cerita tentang dosen kalian di kampus,” ucap Andi dengan semangat.


Mata Sarah memicing curiga. Setahunya, Aslan sering belaga jadi cool boy gitu di depan anak kelas, terutama di hadadapan anak cewek. Di antara teman seangkatan, Aslan memang cowok famous karena berasal dari keluarga kaya sehingga ia bisa bergaya ke  kampus. Temen-temannya juga anak-anak hedon kampus.


Tapi faktanya di sini Andi malah ngejadiin Aslan kaya kerupuk.


“Setahu gue elo enggak humoris deh?” tanya Sarah. “Lo itu sering sok-sokan jadi kalem gitu biar cewek-cewek pada tertarik. Padahal enggak juga kaan.”


Remuk dong hati Aslan dikatain begitu. Seremuk-remuknya hati Aslan, masih remukan telinganya yang sedate tadi dijewerin mulu sama Andi tanpa henti.

__ADS_1


“Iya lah tadi kami ketawa karena gue ceritain dosen kita Pak Cipto,” balas Aslan sambil tersenyum asam gara-gara takut sama Andi.


“Oh Pak Cipto itu memang kocaknya.” Sarah menadahkan tangannya. “Jadi mana flashdisk gue?”


Aslan memberikan flashdisk itu kepada Sarah. Sebelumnya, Pak Cipto meminta Aslan untuk mengatarkan kembali flashdisk Sarah yang juga udah diisiin drama-drama korea terbaur. Hal itu dimanfaatkan oleh Aslan untuk bisa ketemu Sarah di rumahnya.


“Jadi, gimana motor lo itu?” tanya Sarah.


“Entahlah gue kaga tahu juga. Paling gue dorong ke bengkel.”


“Bengkelnya jauh loh. Mending lo ke teknisi motor terbaik di komplek ini,” saran Sarah sembari menoleh kepada Andi. “Anterin dia nanti ya buat diperbaiki motornya.”


“Amaaan ….” Andi memberikan jempol. “Dia udah berpengalaman sebagai teknisi motor bertahun-tahun. Bahkan motor yang ingin ikut balap pun ia tangani.”


“Hehe makasih banyak ya. Jauh dari sini?”


Sarah menggeleng. “Enggak kok, rumah Memet dekat dari sini. Tinggal dorong motor bentar aja.”


Mendengar nama itu, telinga Aslan sontak berdiri. “MEMET?”


“Lah kenapa? Respon lo lebay banget. Kenal sama dia?” tanya Sarah penasaran.


“Enggak kok, gue salah denger. Gue kira itu ... hhmm enggak usah dibilang deh.”


Andi langsung menepuk Aslan sekuat tenaga bercampur dendam. Bisa-bisanya Aslan beralasan salah mendengar kata. Padahal sebenarnya dia takut dengan nama Memet tersebut karena sudah Andi jelaskan sebelumnya.


Aslan makan dengan tidak nyaman karena sambil terus menerus oleh Andi. Mau ngunyah aja Aslan jadi segan. Dia berharap bisa pulang dengan selamat hari ini, terutama karena dia harus bertemu dengan preman besar komplek yang bernama Memet itu.


Sama sekali Andi tidak membantu Aslan untuk mendorong motor. Ia membiarkan Aslan melakukannya sampai ngos-ngosan sendiri, padahal motor tersebut terbilang berat karena berukuran besar. Sasampainya di rumah Memet, Andi menyuruh Aslan untuk maju duluan.


“Akhiirnya gue bisa ngasih elo ke Memet! Cepetan panggil dia,” ancam Andi.


“I-iya B-ang.”


Memet keluar masih dengan memakai handuk di kakinya. Ternyata Memet baru saja habis mandi sore. Tampaklah sosok Memet tinggi besar, berotot, dan berkulit gelap. Walaupun Memet berekspresi biasa-biasa saja, tetapi selalu dianggap orang lain sedang mengancam. Hal itu dikarenakan muka Memet secara alami sangar dan gahar.


“Siapa lo?” tanya Memet melihat cowok berpakaian rapi itu. Matanya bergeser ke belakang. Terdapat Andi yang lagi bersandar di dekat motor. “Loh ada Andi?”


Anjir nanya nama aja kaya nantangin kelahi, ucap Aslan di dalam hati.


“Iya Bang, gue dikasih tahu kalau abang bisa bengkelin motor.”


“Iya gue bisa … emangnya kenapa?” Memet bertegak pinggang seperti preman.


“Itu … motor gue mogok. Kata Bang Andi, kalau abang membantu gue buat benerin motor.”


Dahi Memet mengernyit. “Lah … gue udah mandi begini elo suruh ngebengkelin motor? Tangan gue kotor nanti.”

__ADS_1


Aslan menoleh kepada Andi di belakang yang sedang tersenyum seakan ingin membunuhnya hari ini. Setelah itu, Aslan kembali menatap Memet. “Gue punya duit Bang.”


“Iya gue tahu semua orang punya duit. Adek gue aja punya duit buat beli eskrim,” sindir Memet.


“Maksudnya gue bisa bayar lebih kok ke Abang.”


“Naaah … gitu dong. Kan jelas, gue jadi semangat nih kalau ada duitnya. Bentar ya gue pasang baju dulu. Kaga mungkin gue ngebengkelin motor kaya tuyul.” Memet tiba-tiba aja tersenyum lebar sembari menepuk pundak Aslan. Setelah itu, ia menatap Andi yang sedang mendorong motor masuk ke pekarangan rumah. “Makasih banget Ndi udah bawa client ke gue. Lumayan buat beli rokok buat nanti malam.”


“Oke ….” Andi mendorong motor hingga ke samping rumah Memet karena biasanya di sana ia memperbaiki motor.


Selepas memasang baju, Memet menyelesaikan motor Aslan sesuai dengan keluhan-keluhan yang dikatakan oleh pemiliknya. Bak seoarang dokter yang mencatat semua keluhan, Memet langsung paham dengan keadaan motor tersebut. Jangankan bikin motor mogok jadi hidup lagi, ngerakit motor aja Memet bisa.


Aslan duduk terpaku di sana sembari memperhatikan kedua orang itu mengutak-atik motornya. Mental Aslan ciut banget menghadapi mereka berdua, terutama waktu melihat Memet yang seram itu.


Sementara itu, Andi meminta Memet agar mengganti onderdil ori di dalam motor menjadi bekas. Soalnya Memet punya banyak onderdil motor yang tidak terpakai, tetapi masih bagus. Dikarenakan Memet yang profesional, ia menolak ajakan busuk Andi tersebut. Ia memperbaiki motor Aslan sebagaimana rusak yang sebenarnya, tanpa dilebih-lebihkan seperti rata-rata bengkel nakal di luar sana.


Tetapi setelah Andi menjelaskan siapa Aslan dan bagaiman aia bertemu tadi, Memet langsung berdiri melihat pria yang sedang duduk itu. Ternyata Aslan merupakan cowok yang ingin mengganggu Sarah. Memet pun mengambil busi ori motor itu dengan busi bekas miliknya, lumayan kan buat diganti ke motornya.


“Wah udah selesai Bang?” Alsan berdiri waktu motornya menggelegar seperti biasanya. “Udah hidup lagi motor gue. Gue jadi bisa pulang nih.”


“Sini lo dulu,” pinta Memet sambil menarik kunci motor. “Ini motor harus sering lo servis biar kaga mogok lagi.”


“Hehe iya Bang … akhir-akhir ini gue sibuk jadi terlambat nyervis.” Aslan memberikan uang lima puluh ribu untuk jasa Memet. Menurutnya, lima puluh ribu merupakan harga yang cocok bagi Memet, lagi pula tidak ada yang mengganti onderdil dalam. “Makasih banyak ya Bang.”


“Lah cuma segini?” Memet menyembunyikan kunci motornya ke dalam saku baju. “Gue tahu lo ngedeketin pacarnya temen gue. Sampai ngaku-ngaku pedekatean Sarah lagi!?”


MAMPUS GUE! Aslan jadi panik.


“Maap Bang … gue tadi becanda biar kelihatan keren Bang. Maafin dong.” Aslan sampai membungkuk di hadapan Memet.


“Berapa isi dompet lo?” tanya Memet.


Aslan langsung menunjukkan isi dompenya secara live dan memperlihatkaan uang sebesar tiga ratus ribu. “Segini Bang, tiga ratus ribu.”


“Sini dompet lo ….” Memet mengambil dompet tersebut. Lalu mengambil uang sejumlah dua ratus ribu. “Anggap aja biaya gue dua ratus ribu. Lo pasti anak orang kaya kan? Uang segini masih kecil sama elo. Ini karena lo berani ngeganggu Sarah dan ngaku-ngaku pedekatean Sarah ke Andi langsung. Dia ini sahabat gue.”


“Iya Bang ambil aja.” Aslan malah menambah lima puluh ribu lagi ke tangan Andi. Bersisalah lima puluh ribu lagi di dalam dompet Aslan untuk mengisi minyak sepulang nanti. “Jangan ganggu gue di kampus ya Bang. Gue minta maap banget.”


Memet menunjuk wajah Aslan. “Kalau lo marah, marah aja. Bawa preman lo ke sini. Kalau mau lapor polisi, lapor aja. Perkara dua ratu ribu palingan elo diketawain di sana.”


“Enggak kok bang, gue ikhlas asal gue bisa pulang sekarang dan enggak diganggu di kampus sama Bang Andi.”


Memet memberikan kunci itu kepada Aslan. “Ya udah, hati-hati pulang ya. Jangan ngebut-ngebut biar orangtua lo kaga khawatir.”


“Makasih banyak Bang.”


Aslan langsung membawa motornya pergi. Sementara itu, Memet dan Andi ketawa-ketiwi karena berhasil mengerjai orang yang ingin mendekati Sarah. Alhasil, Aslan pun tobat untuk mencoba mendekati pacar orang.

__ADS_1


***


__ADS_2