
Andi X Sarah
Sarah sedih di saat mengingat kembali kalimat Agus waktu itu. Andi tidak pernah dianggap walaupun prestasi sudah banyak ia genggam di bidang olahgara. Di saat ia menjuari futsal tingkat SMA, hanya pelatih dan guru olahraganya yang memuji keberhasilan mereka. Namun, di saat ada murid yang mendapatkan medali olimpiade Matematika, sekolah merayakannya seakan ia adalah juara dunia.
Kelas kini penuh dengan Wali Murid yang akan menjemput raport anak-anak mereka. Di depan kelas telah berdiri Bu Silaban yang tengah menyampaikan sepatah kata dengan logat Batak yang kental.
Ada sesuatu yang ia tunggu, yaitu Andi. Sarah ingin melihat senyum bahagianya ketika tahu dirinya mendapatkan sepuluh besar. Sarah begitu berharap melihat kebahagiannya di saat 'perubahan' itu tampak jelas terjadi. Suatu hal yang membuatnya dianggap oleh orang lain. Sarah sangat ingin Andi merasakan itu.
Papa Sarah tengah melangkah keluar setelah selesai mengambil raport milik Sarah. Ia memeluk Sarah seketika. Papanya sangat bangga dengan apa yang diraih oleh anaknya. Peluknya sangatlah erat sekali, seakan almarhum mamanya turut memberikan pelukan.
"Papa bangga sekali, Nak," ucap Papa saat memeluknya.
"Itu berkat motivasi dari Papa dan Mama."
"Papa pulang dulu, si Popi belum makan." Papanya memasang topi komunitas burung kebanggaannya.
"Oke, Pa."
Papa Sarah begitu sayang dengan burung peliharaannya. Tiap pagi ia rajin memberikan burung kecil itu makanan. Bahkan, ia bisa lupa kalau anaknya sendiri belum sarapan sedari tadi.
Ia terus mencari Andi ke mana-mana. Namun, yang ia cari adalah Andi. Ia bagaikan hantu yang bisa menghilang kapan saja. Sangat sulit untuk mencarinya. Bisa-bisa ia sudah cabut dari sekolah sedari tadi.
Sementara itu, mamanya Andi sudah bersalaman untuk menyambut raport yang diberikan oleh Bu Silaban. Tante Eti sangat senang karena anaknya sekarang mendapatkan sepuluh besar. Sepuluh besar merupakan hal yang sangat berarti bagi Andi. Ia bahkan menganggap itu adalah suatu hal yang mustahil, sama halnya dengan mendapatkan pacar dari anggota Jeketi Fortieg.
Wanita empat puluhan itu berlari kecil ke arahnya. Sebuah buku raport berwarna coklat ia peluk dengan erat. Segurat wajah bahagia tersirat dari garis wajahnya yang menua. Matanya memicing, menyimpulkan senyum pada Sarah. Bibir merahnya bergerak mengatakan sesuatu.
"Makasih, Sarah. Udah ngajarin Andi di rumah," puji Tante Eti. Logat Minang sangat terdengar kental dari kalimatnya, Ia mengedarkan pandangannya. "Mana Andi? Anak tu sering kali menghilang."
"Hehehe, iya sama-sama tante." Sarah turut melihat ke sekitar. "Sedari tadi Sarah belum ketemu sama Andi."
"Carikan dia. Suruh dia cepat balek. Ndak jadi Tante potong jajannya sebulan."
Sarah mengangguk senang. Ia melangkah mencari keberadaan Andi. Pikirannya menebak-nebak ke mana anak itu pergi. Sarah menatap bangunan WC yang penuh dengan anak laki-laki yang sedang nyebat bersama. Hari ini hari bahagia, ia tak ingin marah-marah dengan kelakua mereka.
Ia buka satu per satu bilik WC yang dijadikan markas nyebat bersama oleh anak laki-laki. Mana tau nanti ga sengaja ketemu Andi lagi nyebat sama ketiga temannya yang gila itu.
WC satu nggak ada Andi yang ditemukan, cuma segerombol anak kelas 10 yang lagi nyebat sambil buka seragam. Ia pergi ke sampingnya, ia cuma nemuin anak kelas sebelah yang lagi pemanasan buat be'ol.
"Sorry, gue ga tau," ucap Sarah sambil menutup mata. Ternyata dia lagi persiapan buat be'ol. Lagi buka celana.
Bilik selanjutnya Sarah cuma nemuin dua anak kelas 12 yang lagi menyulap WC jadi tempat curhat. WC memang jadi langganan tempat buat curcol sama anak cowok.
"Bro, gue putuh sama cewek gue. Dia lebih milih yang berotot daripada kurus kaya gue," ucap cowok yang lagi curhat berdua.
Sarah langsung nutup pintu.
Bilik selanjutnya Sarah buka kuat-kuat. Soalnya ditahan dari dalam. Seketika mereka yang lagi di dalam WC terkejut karena melihat Sarah sedang bertegak pinggang di depan WC. Mereka mengira Sarah bakal jadi huluk dan mencabik-cabik mereka karena merokok berjamaah di dalam WC.
"Astaga naga!!!!!" ucap Nanang di dalam WC. "Ternyate elo Sar."
"Sumpah, bukan gue yang nyuruh. Gue cuma ikut-ikutan aja, Sar. Sumpah." Felix menyembunyikan rokokya.
__ADS_1
"Ngapain lo main ke WC cowok?" tanya Agus. Agus sok berani gitu. Padahal dia udah pucat.
"Andi mana?" Sarah memasang wajah sinisnya.
"Ga tau, dari tadi ga nongol."
"Beneran ga tau? Dia dapet sepuluh besar"
Anak Amak terdiam sebentar. Mereka saling menatap satu sama lain. Bibir mereka tak dapat menahan tawa yang ditahan.
"HAHAHAHAHAHA, serius?"
"Serius, jadi di mana Andi?" tanya Sarah lagi.
"Coba cari aja di rooftop. Biasanya dia sering ke sana kalau lagi galau."
Dengan cepat Sarah berlari menuju ke tempat yang dikatakan. Semangatnya berkobar tatkala melewati setiap anak tangga. Tak ia pedulikan keringat yang mulai menetes di dahinya, ia tetap ingin bertemu dengan Andi secepatnya. Ada sebuah janji yang akan ia tepati kepada pria itu. Suatu janji yang ia anggap sebagai hal yang mustahil.
Ia menekan gagang pintu itu. Terlihat seorang pria tinggi nan tengah menadahkan pandangan ke mentari pagi yang nyaman. Matanya menari-nari dengan burung pagi, berputar-putar seiring terbang mereka di udara.
Andi menatapnya yang tengah terengah-engah oleh seratus lebih anak tangga yang dilalui. Tatapannya tampak teduh tak seperti biasa. Tak ada senyum yang melingkar, tak ada mata yang memicing senang, tak raut wajah yang Sarah inginkan.
Air matanya tak bisa dibendung oleh kebahagian ini. Tujuan sebenarnya telah terwujud. Semua usaha yang ia lakukan, kini membuahkan hasil. Andi telah berubah menjadi lebih baik. Ia telah membuat Andi menjadi orang yang dianggap, seperti Andi inginkan. Sarah tak ingin menyembunyikan semuanya lagi. Ia akan menepati janji itu.
Sarah memeluk Andi dengan erat. Air matanya menyesap ke serat-serat seragam Andi.
"Andi, gue suka sama lo. Sejak dahulu, bahkan sebelum lo nyatain perasaan lo ke gue. Lo selama ini kesepian karena lo merasa enggak dianggap, kan? Sekarang waktunya lo dianggap oleh orang lain. Lo dapat sepuluh besar di kelas."
"Gua udah tau itu, gua menguping pembicaraan lo sama Bu Silaban waktu itu."
Sarah melepaskan pelukannya. Ia seka air matanya yang mengalir. Wajah tampan Andi tak cukup jelas ia lihat karena air mata ini. Ia ingin melihat wajah bahagia Andi.
"Janji buat jadi pacar gua kalau gua dapat sepuluh besar?"
Kepalanya mengangguk. Senyumnya mekar ke sudut maksimal. "Iya, itulah janji gue waktu itu."
Wajah Andi menurun tak biasa. Lemah terkulai dirundung sesuatu. Pandangannya tak lagi menatap wajah Sarah. Ada sesuatu yang ia pandang dalam hatinya. Bimbang bercampur untuk merusak pikiran, hingga ia takut untuk menentukan. Pilihan itu begitu sulit, namun harus diperjelas. Setiap pilihan itu tentu memiliki resikonya, namun resiko ini sangat sulit untuk ia lalui.
"Kenapa lo keliatan sedih gitu? Harusnya lo senang karena lo bisa dapet sepuluh besar."
Andi menggeleng menolak. Tak keluar sepatah kata pun dari bibirnya yang tipis itu. Ia hanya diam menunggu angin pagi menghantamnya. Ia tak tahu kemana suara jawaban yang ia inginkan itu pergi.
Sarah tebungkam dihantam jawaban dari Andi. Ia merasa seakan tak sedang bicara dengan Andi yang sebenarnya. Bukan jawaban ini yang ia pikirkan sebelumnya. Ia hanya memikirkan kemungkinan terbesar, Andi akan memeluknya sambil mengatakan bahwa ia akan menjadi kekasih Sarah.
Namun, itu hanyalah ekspetasi belaka. Air matanya kembali jatuh.
"Kenapa, Ndi? Gue ga ngerti. Lo sama aja kaya Pram. Gue merasa dimainin sekarang. Semua kata cinta yang pernah lo katakan, akhirnya cuma buat bilang kalimat itu?"
"Gua bimbang."
"Bimbang?"
"Mama gua punya rencana buat pindah ke Padang─"
Sarah diam sesaat. Alasan itu benar-benar menampar dirinya hingga tak sanggup berkata apa-apa.
__ADS_1
"Gue kira kita bakalan sama-sama. Gue suka sama lo, lo suka sama gue. Gue kira semua ini bakalan happy ending seperti yang gue pikirin. Tapi semua udah ada takdirnya, bukan? Oke gue ngerti. Ini ga bisa dipaksain. Gue pergi dulu. Terimakasih udah numbuhin perasaan sama gue. Terimakasih udah bikin gue suka sama lo. Ternyata cinta memang manis, walaupun akan berujung pait kaya gini. Terimakasih. Gue─"
Kalimatnya tak bisa ia lanjutkan. Sarah dengan cepat berlari membuka pintu untuk menuruni anak tangga. Namun, ia belum sempat menekan gagangg pintu itu. Andi menahan langkahnya.
"Woi, cewek huluk. Gua belum selesai bicara."
"Apa lagi yang mau lo bicarain sama gue? Semuanya udah jelas, kan? Lo nolak gue."
"Kan, gua bilang gua belum sempat bicara."
"Udahlah, Ndi."
Andi menarik Sarah agar tidak membuka pintu itu. Sarah sangat kencang larinya kaya huluk kalau lari. Jika itu terjadi, sangat susah untuk mengejarnya kembali.
"Mama gua punya rencana buat pindah ke Padang. Tapi ga jadi. Trus, dia bilang kalau nilai gua bagus, Mama bakalan buat antara dendeng daging atau rendang daging. Biasa ... masakan Minang. Nah, itu yang gua bimbangin. Milih dendeng atau rendang?"
"HA?"
"Bagusanna yang mana?" tanya Andi.
"Jadi lo ga nolak gue?"
Andi tertawa kecil. "Hahahaha .... Masa gua nolak cewek yang gua suka, sih. Gua tuh lagi bimbang. Soalnya dendeng dan rendang Mama itu, rasanya luar biasa banget. Paling enak selautan."
"Selautan? Itu mah krebi peti."
"Sedaratan maksudnya."
"Jadi, intinya?"
"Intinya lo bakala jadi pacar gua, setelah gua bisa nentuin antara dendeng atau rendang."
Masih lima detik, belum terjadi apa-apa. Sarah masih bisa menahan emosinya. Kayanya sebentar lagi dia bakalan jadi huluk buat mencabik-cabik cowok ga jelas yang lagi cengar-cengir di depannya. Masa' bisa bikin galau cewek seketika, cuma gara bimbang milih dendeng atau rendang daging.
Sepuluh detik masih aman.
Dua belas detik setengah masih aman.
Lima belas detik agak aman.
Lapan belas detik Sarah udah agak panas dikit.
Dua puluh detik Sarah udah ngos-ngosan.
Detik ke dua puluh lima ....
Andi mengerang seketika. Pahanya memang dihantap pake lutut Sarah. Rasanya itu sakit banget, tapi bercamput bumbu-bumbu cinta gitu. Ga ngertilah gimana rasanya. Namun, senyum Sarah melebar. Ada perasaan bahagia yang dilihat oleh Andi. Ia merasa jahat karena telah membuat wanita itu menangis, hanya karena pikiran bimbang yang bodoh.
"Lo harus pilih rendang. Rendang itu bikinnya lama, bumbunya paling komplit, rasanya paling enak. Bukti cinta Mama lo ke lo. Soalnya dia rela bikin rendang lama-lama, cuma buat ngerayaain nilai lo yang ga seberapa itu."
Tatapan mereka saling beradu mesra. Ada senyum yang saling terlempar, menerima satu sama lain, hingga tersimpan ke sudut hati yang paling dalam. Mereka akan saling mengukir senyum itu hingga kokoh tak lekang oleh waktu. Menjadi pertanda bahwa ada satu momen yang akan tak akan pernah mereka lupakan. Momen yang akan selalu mereka ingat.
Itulah momen di saat perdebatan antara dendeng dan rendang, hingga menuliskan sebuah awal dari kisah asmara yang menyatu.
Ah bisa-bisa aja.
__ADS_1
Cieee .... Ceritanya tamatt ....
***