
Sarah terus saja memerhatikan wajah Tasya yang sedang tersenyum pada dirinya. Ia lihat dari ujung kaki hingga ujung rambut, tidak ada celah untuk membandingkan dirinya dengan wanita itu. Sungguh cantik dengan kulit putih mulus hasil perawatan ruti. Seperti seorang model, Tasya memiliki postur tubuh bak seorang model. Hidungnya mancung tegas hingga Sarah megangin hidungnya sendiri. Apalagi kalau soal body, Sarah itu kurus dan relatif berisi otot hasil berlatih karate. Sedangkan Tasya itu bohay berisi dengan dada tidak rata. Lah kok itu …
Sarah ngelihatin dadanya sendiri dari celah kaos band rock Nirvana, ternyata memang bener, rata. Nah satu lagi, Tasya ke sini pakai blouse ala-ala fashion wanita korea dengan atasan warna putih dan rok berwarna hitam. Pokoknya terlihat cantik dan imut. Sementara Sarah memakai kaos band rock Nirvana yang depannya ada sablon Kurt Cobain, vokalis band tersebut. Soalnya Sarah itu selain fans fanatik dari Kangen Band sang babang tampan yang tiada duanya, Sarah juga penggemar Kurt Cobain yang gantengnya pakai maksimal.
“Hai Sarah, hai Tami. Kenalin aku Tasya, temen satu fakultasnya Naila ….” Tangan gemulai Tasya menjulur untuk bersalaman.
“Iya, aku Tami. Salam kenal ….”
“Sarah ….” Terus Sarah senyum sedikit sambil bilang dalam hati, anjir tangannya halus banget. Abis diamplas apa?
Naila tersenyum melihat perkenalan tersebut. Ia senang apabila ada teman-teman yang bertamu ke rumahnya dan saling mengenal satu sama lain.
“Nah, Kak Tasya ini content creator di youtube dan di intagram, jangan lupa sabskraip youtube Kak Tasya, Tasyahoolic. Followers Kak Tasya di Instagram juga melebihi aku loh,” jelas Tami kepada mereka berdua.
Tami menampakkan ekspresi takjubnya kepada Tasya. Ia senang menambah satu teman yang terkenal\, meskipun masih sedikit waspada dengan hubungannya dengan Tasya. Tami juga objektif\, kalau Tasya punya kelebihan maka ia akan takjub dan puji. Sedangkan Sarah\, dia cuma bilang `O` dua harakat\, artinya dua ketukan kalau lagi ngaji iqra` di taman quran waktu bocil dulu.
“Lo semester berapa?” tanya Sarah penasaran.
“Gue? Gue seangkatan kalian kok, sama juga kaya Andi ….”
ANDI!!!! KENAPA LO NYEBUTIN NAMA DIA SIH SYAMSUL?!
“Andi? Lo kenal cowok gue?”
Tasya mengangguk. “Kenal kok, waktu itu jurusan kami tanding futsal. Ternyata cowok lo gacor juga ya main futsal.”
“Iya dong, dia memang gila main futsalnya,” balas Sarah dengan ekspresi cuek. Matanya sayu menatap wanita itu.
“Kayanya elo beruntung deh dapet Andi,” sambung Tasya.
“Oh iyalah ….” Sarah langsung menoleh ke Naila. “Ayo Nai, kita langsung aja cobain bajunya.”
“Oh okee ….”
Naila pun mengeluarkan sejumlah fashion hijab yang ia punyai. Mumpung Naila merupakan brand ambassador dari sebuah produk fashion muslimah, maka ia mengaluarkan produk-produk tersebut. Naila juga memberikan Sarah dan Tami masing-masing satu karena bulan ini ia mendapatkan bonus dari brand tersebut. Punya Naila udah bejibun di lemari, kalau nambah, takutnya nanti enggak kepakai. Sekalian aja promosian, mana tahu Sarah dan Tami memutuskan untuk berhijab nantinya, kan jadi bermanfaat.
Mbak-mbak asisten rumah tangga Naila dipanggil untuk dijadikan model tutorial hijab kali ini. Mbak-mbak itu memiliki wajah relatif muda sehingga cocok untuk dijadikan model untuk mereka, termasuk Tasya juga yang ingin belajar. Naila pun mulai melakukan keahliannya, bagaimana membentuk hijab modelan ughtea-ughtea jaman sekarang. Ada modelan ughtea yang hijrah total, yang baru hijrah, setengah hijrah, dan bahkan kedoknya aja yang hijrah.
Sekarang ini perkembangan hijab sudah berkembang dengan pesat sehingga banyak model-model memakainya. Yang paling aneh itu cuma dililitin gitu aja, terus pakai manset hitam dan celana levis ketat. Sarah sering banget ngelihatin modelan begini di Tik-Tak, mereka goyang-goyang enggak jelas. Terus kalau di jalanan biasanya cewek begini memakai motor vespa hasil nendang pintu, alias merengek ke orangtua. Nongkrongnya di café-café sambil mencari perhatian cowok. Para cewek ngabers ini memang bikin Sarah risih. Sekalian aja enggak pakai hijab kalau modelannya begitu.
Tidak hanya tutorial hijab dari Naila. Mumpung Tasya merupakan conten creator make up, ia pun memberikan ilmunya kepada sesama bagaimana cara merias diri yang cocok untuk wanita-wanita berhijab. Meskipun Tasya tidak memakai kerudung, tetapi dirinya sering merias teman-temannya yang memakai itu. Jadi, Tasya juga memiliki pengalaman dan sudut pandang yang baik bagaimana seharusnya wanita berhijab memakai make up.
“Waah … kita jadi dapet ilmu yang bangus nih.” Tami bertepuk tangan waktu melihat mbak-mbak asisten rumah tangga itu jadi cantik. Ada dua orang berpengalaman yang menanganinya kali ini. “Ya kan Sarah.”
“Iya nih, gue jadi pandai makai hijab biar enggak kaya anak-anak MTS. Soalnya hijab gue modelan kaya masih di MTS dulu ….”
Tasya langsung menoleh kepada Sarah yang ternyata lulusan MTS. Tapi kelakuannya sangat tidak meng-MTS-kan.
“Iya nih, kita juga bisa belajar make up dari Kak Tasya. Makasih banyak ya …”
“Apa enggak ada tutorial bengkelin motor di sini,” tambah Sarah yang mulai bosan melihat Tasya disanjung melulu. “Atau cara mengkarate para pelakor ….”
Tami diam-diam menyiku Sarah agar tidak berlebihan. Untung saja Tasya dan Naila tertawa karena mengira Sarah sedang bercanda.
“Hahaha … Sarah bisa aja becandanya.” Tami pura-pura ketawa.
“Iya sih … pelakor jaman sekarang harus diberi pelajaran karate.” Naila menoleh kepada Tasya. “Kak Sarah ini juga pelatih karate loh. Medalinya udah banyak juga.”
“Bisa dong ajarin kami karate … ciaat ….” Tasya mempraktikan gerakan garate tangan seperti di adegan kartun spombob.
Naila tertawa karena suara Tasya yang melengking. “Haha … kayanya kita semua punya kelebihan masing-masing. Kak Tami juga mantan dancer, tapi dia malu-malu nunjukin di sekolah. Kalau diluar malah sering tampil.”
“Heheh … aku pemalu dulu waktu di sekolah.”
__ADS_1
Kini, Tami mengambil gambar Sarah di taman belakang Naila yang penuh dengan bunga. Dengan muka setengah bete` ia bergaya apa adanya dengan hijiab yang ia sedang pakai kali ini. Waktu dilihat hasilnya, ternyata Sarah merasa cocok dengan hijab ini. Ia seperti foto mendiang mamanya yang terpampang di dalam kamar. Dengan itu, Sarah jadi semangat meminta foto dengan latar belakang yang berbeda. Lumayan untuk unggahan Instagram nantinya.
Kebutuhan pansos Naila juga harus terpenuhi. Ia pun gantian denga Sarah untuk difotoin oleh Tami. Sementara itu, Sarah duduk sofa teras belakang sembari melihat Naila bergaya dengan hijabnya.
“Aduh … panas juga ya makai hijab ini. Apa gue aja yang enggak biasa? Kayanya Naila biasa aja deh.” Sarah mengipasi kepalanya dengan kipas portable.
Dari belakang datanglah Tasya sedang membawa minuman dingin kalengan untuk mereka. Ia duduk di samping Sarah sembari memberikan satu minuman untuk wanita itu.
“Nanti bakalan biasa kok. Tapi lo cantik loh makai hijab. Kayanya bentar lagi udah hijaban nih,” rayu Tasya.
Nih anak sok akrab banget, baru kenal juga padahal, ucap Sarah di dalam hati. Ia juga sedikit menggeser ke kanan agar tidak terlalu berdekatan. Parfum Tasya harum banget. Meskipin begitu, Sarah merisihkan diri karena Tasya itu ia anggap menyebalkan.
“Oh ya? Sok tahu banget sih lo,” ucap Sarah tanpa menoleh.
“Lo suka Kurt Cobain ya?”
Mendengar Tasya bertanya itu, ia pun menoleh. Jarang sekali cewek-cewek sepertinya yang mengetahui vokalis Band Nirvana.
“Lo tahu Kurt Cobain?”
Tasya mengangguk. “Tahu dong, gue juga juga denger lagu-lagu Nirvana di playlist spotipai gue. Meskipun gue bukan fans Nirvana sih. Gue sukanya Neck Deep.”
Selera musik dia oke juga nih, puji Sarah di dalam hatinya. Ketika semua cewek menggandrungi musik-musik boyband korea dan penyanyi solo ganteng yang isi lagunya galau itu, mereka masih mempertahankan selera anti mainstream terhadap band-band musik barat. Biasanya penyuka rock, pop rock, emo, dan punk diisi oleh para cowok, terutama mereka yang dari kelahiran sembilan puluhan. Masa sekolah mereka masih bersinggungan dengan genre-genre lagu tersebut.
“Oh Neck Deep, gue datang ke konsernya waktu itu. Seru sih … suara vokalisnya itu gahar banget, gue suka.”
“Wah, berarti kita pernah di satu tempat dong dulu? Gue juga ada di konsernya Neck Deep waktu itu. Sumpah dong Ben Barlow itu badass banget, kereen ….”
Ben Barlowa adalah vokalis dari Band Neck Deep. Meskipun Sarah tidak penggemar band tersebut, tetapi ia tahu siapa tokoh tersebut. Jadi, enggak malu-malu banget di depan Tasya.
“Lo suka band apa lagi?” tanya Sarah penasaran.
“Hmm …. Kaya Movement, Saosins, Blink 182, Hot Mulligan, banyak sih di playlist gue.”
Lah kok gue jadi nyambung gini sih ngomong sama dia … Kadar kebete`an Sarah jdi berkurang karena Tasya mulai membahas band-band luar negeri yang mereka sukai. Kalau ngomong sama Tami soal beginian, gadis itu nama ngerti. Dia penyuka oppa-oppa Korea yang putih mulus tipe wajah feminim. Sedangkan Sarah sukanya vokalis tatoan dengan rambut gondrong. Bahkan, Tami sering nyindir musik-musik yang sering Sarah mainkan di mobil karena ia anggap hanya orang berteriak, bukan bernyanyi.
Naila menghampiri mereka berdua yang sedang berbicang. “Kalian laper ga? Pergi makan-makan cantik yuk. Kak Tami mau kok.”
“Oh ya? Mau makan di mana?” tanya Tasya.
“Makan ala-ala barbekyu korea gitu kata Kak Tami. Gue juga udah lama ga makan begituan. Mau ga?”
“Gue bebas sih. Kalau Sarah gimana?” tanya Tasya.
Sudah pasti itu ide dari Tami. Dia memang suka mengajak Sarah ke sana untuk bermukbang ria. Kalau sudah begini, Sarah ikut-ikut saja. Lagi pula, ia tidak punya jadwal lain selain pergi bersama Tami.
“Iya, gue ikut kok.”
Sehabis melepas hijab yang dipakai, mereka bergegas pergi ke restoran barbekyu korea menggunakan mobil Tami. Lokasinya berada sekitar lima belas menit dari kediaman Naila. Biasanya, Sarah dan Tami tidak pernah menahan selera kalau makan di sana. Dia jadi ragu akan makan sepuasnya jika bersama Tasya. Oleh karena itu, Sarah berencana akan menjaga kesan pertama dengan wanita itu.
Sesampainya di sana, Naila memesan paket all you can eat untuk mereka berempat, sekaligus minuman dingin agar kerongkongan kaga serek. Melihat menu itu datang, Sarah langsung menelan ludah. Perut Sarah jadi keroncongan dan ingin langsung menggasak seluruh makanan tersebut. Melihat Tasya yang bersikap kalem dan manis, Sarah pun menarik napas dalam-dalam agar fokus jika dirinya sekarang menjaga image.
“Ini banyak loh, kalau enggak habis kita dedenda.” Naila memberikan sumpit untuk teman-temannya.
“Wih … banyak banget nih, all you can eat loh. Kalau orang Jawa bilang, iso mangan kabeh,” balas Tasya.
Tami dan Sarah langsung beradu tatapan. Soalnya kalau mereka ke sini pasti membuat tantangan siapa yang paling banyak menghabiskan makanan, siapa yang paling sedikit maka ia harus membuat story bodoh di Instagram.
“Eh iya … boleh makan semua ya kan?” pancing Sarah kepada Tami.
Tami menahan napas sewaktu ditanya begitu. Dirinya juga hampir sama dengan Sarah kalau soal makan-memakan.
“Hehehe ….” Tami menatap Sarah, tidak lama kemudian mereka pun saling tersenyum satu sama lain.
__ADS_1
Lo kira bisa ngalahin gue? tanya Sarah di dalam hati.
Kamu kemarin kalah dari aku loh Sar, pasti kalah lagi nih …. Tami tertawa licik di dalam hatinya.
Sementara itu, Naila dan Tasya menatap mereka berdua yang saling tatap-tatapan.
“Ayo silahkan dimakan. Aku yang bayar kok, jadi jangan khawatir,” tawar Naila sembari meletyakkan sehelai daging ke atas panggangan.
“GAAS!!!!” Sarah langsung semangat waktu denger yang gratisan.
Daging-daging dipanggan\, sayuran diletakkan ke piring masing-masing. Kalau ada indomie\, Sarah mau mesen pakai nasi. Masalahnya di sini tidak ada indomie. Mereka pun makan-makan cantik bersama. Tidak lupa pula meng-update status dulu sebelum makan\, namanya juga para wanita yang harus posting dulu di laman media sosial\, Naila juga menandai Sarah dan Tami\, bahkan Tasya pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua jadi bangga karena bisa hangout bersama dua orang famous. Caption yang diberikan bertajuk `bestie syantik gue nih` yang langsung dikirimkan dengan puluhan ribu followers Naila dan Tasya. Terpampanglah wajah Sarah dan Tami di sana.
Story yang dilakukan oleh dua orang famous ini ternyata jadi ajang pansos dan promotion akun Instagram. Selang sepuluh menit semenjak diunggah, Sarah mendapatkan notifikasi pengikut baru berjumlah sepuluh orang. Banyak temen kampusnya memuji Sarah yang sedang hangout bareng dua orang selebgram kampus. Sementara itu, Tami mendapatkan lebih dari dua puluh pengikut baru yang semuanya para buaya-buaya. Namanya juga orang imut seperti Tami, pasti para cowok langsung mem-follow. DM Tami pun dipenuhi oleh para pria yang meminta diikuti balik.
Makanan pun habis tidak bersisa. Sarah bersandar ke sofa sembari menepuk-nepuk perut dan sendawa pelan-pelan. Tidak ia pikirkan lagi rencana menjaga image di depan Tasya.
“Waah … perut gue sumpah kenyang banget. Thanks banget guys, hari ini gue bisa mukbang bareng sama kalian,” ucap Sarah sembari memberikan jempolnya.
“Iya nih gue kenyang juga,” balas Naila yang sebenarnya baru aja makan dikit langsung kenyang. Tipe-tipe orang kalau makan nasi cuma sesendok. “Seru juga ya kalau makan bareng begini.”
“Besok-besok kita pergi lagi yuk, tapi di restoran yang baru,” ajak Tasya.
“Aku setuju, tapi cari waktunya jangan waktu aku masih kerja ya.” Tami senang mendengarnya. “Aku kenyang banget, sampe mau pipis. Temenin aku ke kamar mandi dong.”
“Ayuk Kak, aku juga ke kamar mandi.”
Mereka pun saling bergenggaman tangan ke kamar mandi berdua. Kadang author bingung kenapa cewek suka banget ke kamar mandi barengan, terus sambil pegangan tangan. Coba aja kalau cowok yang begitu, auto dikira pengen nge-gay.
“Follback instagram gue dong Sar,” ucap Tasya.
“Oh ya? Oke bentar ya.” Tasya membuka instagramnya dan melihat Andi membalas story darinya. Yang paling aneh, Kevin membalasnya dengan stiker lope-lope. Bukan untuknya, melainkan untuk Tasya. “Udah tuh.”
“Yee dapet followers baru ….”
“Lah, harusnya gue yang seneng di-follow sama elo. Gue ini apaan coba cuma remahann roti.”
“Seneng tahu kalau di-follow sama temen,” balas Tasya.
Oh ya? Gue temen lo? Sarah jadi bingung harus senang atau bete` seperti tadi. Tasya sudah menganggapnya teman.
“Iya … iya, santai aja mah.”
“Sar ….” Tasya menoleh kepada Sarah setelah menutup layar handphonenya. “Lo kok enggak ikut ke pesta ulang tahun gue? Padahal Andi datang loh. Gue udah minta dia buat ajakin elo.”
Loh kok bisa? Kapan? Sarah jadi heran kenapa Andi tidak bilang-bilang.
“Oh ya? Kapan ya? Gue kok enggak tahu.”
“Ada loh, katanya elo enggak mau datang,” balas Tasya.
Barulah Sarah sadar kalau ajakan Andi waktu itu ialah pesta ulang tahun Tasya. Andi sempat bertanya apakah ia ingin ikut atau tidak, tetapi Sarah sedang ada jadwal main ke rumah Vanesa. Dia jadi nyesal kenapa enggak tanya pesta ulang tahun itu dan terlampau percaya dengan Andi.
Bangsul nih anak! KENAPA ENGGAK BILANG-BILANG SIIH!!!
“Oh itu … Andi ada ngajak gue. Tapi gue lagi ada jadwal. Lo minta dia buat ngajakin gue?”
Tasya mengangguk. “Iya, gue mau kenalan sama ceweknya Andi. Waktu itu kan kami lagi di kantin, terus gue ngasih undangan. Gue minta Andi buat ngajakin elo, soalnya di undangan itu tertera kalau cuma yang punya undangan yang boleh masuk. Jadi, gue bilang boleh kok bawa pasangan.”
MALAH DI KANTIN BERDUAA!!!!!!
Sarah sudah tidak sabar meminta klarifikasi dari Andi langsung.
***
__ADS_1