
Motor bututnya berangkat dengan suara mberr yang menggelegar. Di kala pasangan lain bergonceng berdua di malam minggu seperti ini, Andi hanya sendiri tanpa ditemani siapa-siapa. Tidak ada orang yang turut mengisi bangku belakang, kosong melompok kaya dompet anak kos di akhir bulan. Orang-orang mengira jika Andi sedang menjemput seorang kekasih, tetapi aneh saja menjemput cewek dengan motor yang lebih cocok untuk dijadiin balap liar. Tapi, Andi tetap pede saja mengegas motornya di tengah orang yang berboncengan ketika lalu lintas sedang lampu merah.
Andi berkali-kali melihat alamat yang ada di undangan. Sempat ia tersesat di tengah komplek perumahan mewah yang rumahnya gede-gede. Hampir sama gedenya kaya rumah Naila yang pernah ia sambangi dulu. Andi berharap ada warung kecil untuk membeli rokok tambahan, ternyata tidak ada warung-warung seperti itu di sini. Biasanya kan ada tuh preman-preman yang duduk di warung sambil ngopi. Ternyata orang kaya tidak punya selera untuk itu.
Sampailah Andi di depan kediaman rumah Tasya. Terdapat mobil-mobil yang terpakir di jalan sepi tersebut, berjejerlah seperti parkiran mall. Ternyata, ada juga orang yang memaki motor. Tetapi tidak ada motor yang seperti ini, mayoritas diisi oleh motor-motor sport bagus. Andi jadi insekyur parkir di samping jejeran motor mewah tersebut karena kalah rupa. Kalau soal kecepatan, mungkin Andi masih mempertimbangkan untuk diadu. Motornya udah oprekan teknisi terbaik di komplek, yaitu Memet.
Andi baca doa dulu sebelum masuk, pasti banyak cewek-cewek yang menggugah iman. Waktu sebelum masuk saja, sudah tampak cewek-cewek kelas atas yang berombongan. Sementara Andi kaya bocah celingak-celinguk di tepi comberan. Tampaklah mereka memberikan undangan kepada security yang memastikan jika orang yang masuk telah diundang terlebih dahulu. Andi melakukan hal yang sama kemudian.
“Bang, beneran rumah Tasya kan?”
Security tersebut mengangguk. “Bener, Dek. Ini rumah Neng Tasya. Silahkan masuk, semuanya udah berkumpul.”
“Apa enggak ada warung jual rokok di komplek ini?
“Ya enggak ada dong Dek. Kalau mau beli rokok ke Indoapril aja.”
Andi jadi males ke Indoapril soalnya nanti ditagih parkir. Ya sudah, Andi berusaha untuk menghemat rokok ketika di dalam tadi. Langkah Andi tidak jadi beranjak untuk masuk, ia kembali bertanya.
“Maap ni Bang, orangtuanya Tasya kerja apaan ya?” Andi melihat ke ujung atas rumah Tasya. Sungguh gede kaya istana. Halamannya luas pula. “Rumahnya gede banget kaya gedung mall.”
Security tersebut melakukan hal yang sama seperti Andi. “Oh, orangtua Tasya itu bapaknya anggota DPR. Kalau ibuknya, pengusaha fashion. Punya butik di emol-emol gitu.”
“Pantes ya Bang kaya. Kapan saya bisa kaya gini deh.” Andi jadi curhat.
__ADS_1
“Udah, masuk aja. Lihat tuh.” Security menunjuk barisan belakang Andi yang menunggu karena Andi mengajukan pertanyaan aneh-aneh. “Yang lain jadi pada ngantri.”
“Oh iya, maap ya Bang. Rumahnya lepas sendal atau enggak nih Bang?”
“MASUK AJA SONO!”
Security hanya menggeleng melihat anak katrok seperti baru pertama kali masuk rumah segede ini. Mau bagaimana lagi, Andi jadi tidak pede bergaul dengan orang-orang di sana. Pasti bicaranya nyampur Bahasa Inggris gitu biar keren. Soalnya Andi mendengar percakapan anak-anak Jaksel di dekatnya. Andi mau nyoba seperti itu, malah jadi aneh. Dia cuma bisa Bahasa Minang.
Aduh … kenapa Sarah kaga bisa ikut sih. Kalau ada dia, gue kaga celingak-celinguk seperti ini.
Andi masuk ke rumah Tasya. Terdengar bunyi music EDM barat keren, tidak seperti Sarah yang lebih suka msuk DJ jedag-jedug Tik-Tak. Biar kelihatan asyik, Andi ikutan menggangguk seakan mengikuti irama musik. Seperti dugaannya, Andi dikelilingi oleh anak-anak muda keren dengan berbagai fashion mahal mereka. Sedangkan Andi, masih memakai baju raya tahun kemarin. Ia lihat ke sekeliling rumah, sungguh mencerminkan keluarga kelas atas dengan segala perabotan mewah. Setiap sudut ruang diisi oleh para undangan yang menikmati suasana.
“Waduh, gue kaga bawa apa-apa lagi. Cuma bawa rokok.” Andi melihat ke sekitar. Para undangan yang baru masuk ternyata membakau kado untuk diberikan. “Ya udah deh, pede aja tebelin muka.”
Panggung tersebut bersamping-sampingan dengan panggung band indie Ibu Kota yang sedang viral di situs yutub. Andi tidak menyangka Tasya berhasil mengundang band tersebut, soalnya Aisyah sering dengerin lagu mereka melalui spotipai di hape. Matanya bergeser ke samping, terlihat wanita berhijab sedang berada di barisan teman-teman dekat Tasya. Ia adalah Naila.
Untung ada anak itu, ada orang yang gue kenal, ucap Andi di dalam hati.
Andi bergerak menuju panggung tersebut. Senyum lebar sespoden ia tebar pertama kali kepada Naila, lalu kepada Tasya yang merupakan bintang hari ini.
“Andi, lo datang!!!!” Tasya tampak antusias.
Tanpa ia duga, ternyata Tasya memeluk Andi. Walaupun hanya sebentar, Andi tetep merasa aneh, sekaligus bangga. Ternyata dia dihargain banget sama Tasya.
__ADS_1
“Eh iya, gue agak nyesat tadi di komplek ini. Banyak belokannya, terus enggak ada warga yang bisa gue tanyain,” balas Andi.
“Ya mana ada warga keluar nangkring di tepi jalan kalau di komplek seperti ini. Individualis sih rata-rata.” Ia sempat tersenyum kepada undangan yang menyapa, lalu kembali menatap Andi kembali. “Maksaih banget ya udah memenuhi undangan gue. Gue seneng banget.”
“Ah, iya … gue senang juga udah diundang. Kayanya di sekitaran sini banyak orang famous. Banyak selebgram juga gue lihat.”
Tasya melihat ke sekitar. “Mana pacar lo? Siapa sih namanya? Oh iya, Sarah ….”
“Hmmm seperti yang gue bilang, Sarah kurang suka pergi ke tempar-tempat rame begini. Dia lebih milih nginep ke rumah temennya,” balas Andi.
Tasya mengangguk. “Ya udah deh ga apa, padahal gue pengen lo kenalan sama Sarah. Kayanya orangnya asyik banget deh.”
“Asyik sih ….” Andi menoleh sesaat ke samping, kadang bar-bar juga ….
“Nikmatiin aja semua fasilitas yang ada, jangan malu-malu. Orangtua gue lagi ada di luar kota. Ada beberapa orang di jurusan lo kok yang datang. Nanti gue nyamperin lo buat ngobrol.”
“Oh oke, gue pergi duluu ya.” Andi menoleh juga kepada Naila. “Bye Naila ….”
Andi pun bergabung dengan keramaian itu. Ia mengambil kue-kue yang ada. Sebenarnya Andi pengen gorengan bakwan atau pisang goreng gitu kaya orang hajatan. Tapi kan ini bukan hajatan, biar keren dikasih nama party. Terdapat pula berbagai minuman yang bisa ia ambil. Mata Andi tertuju kepada alkohol di meja barista yang disediakan. Karena teringat perkataan Sarah, Andi tidak jadi memilih minuman itu. Ia mengambil botol seprit untuk dinikmati.
Uanjir padahal enak juga nih minum-minum ….
Terkadang Andi jadi ***** begini …..
__ADS_1
***