Andi X Sarah

Andi X Sarah
3. Mencoba Serius (SEASON 3)


__ADS_3

Anak muda jaman sekarang lagi digandrungi sama aplikasi Tik Tak yang bikin cewek-cewek bohai melejit namanya. Jangankan cewek, cowok-cowok pun mengalay di sana biar viral dan dapet banyak follower. Modalnya pun tidak mahal, hanya berupa handphone dan gerakan-gerakan yang lagi viral. Kalau hapenya aipon jadi nilai tambah karena videonya jadi enggak burik kek yang lain. Nah, itu pula yang lagi dilakuin sama Sarah di rumahnya.



Andi hanya menggeleng-geleng melihat pacarnya sudah seperti ular yang lagi goyang-goyang kepanasan. Gerakan ke kiri dan ke kanan, tangan yang diangkat dan diturunkan, serta pinggul yang berputar udah persis kaya orang kesurupan. Berharap lebih bohay lagi, eh malah bikin Andi jadi ilfil. Ia pun tidak sanggup menatap Sarah, takutnya dia malah kayang kaya orang lagi debus, lalu makan kaca dan ngupas kelapa lewat mulut. Jadi, Andi nyibukin diri masangin gigi tari motor Sarah soalnya kemarin rusak waktu nyoba ngebut di jalanan.



“Sar, lo itu sumpah kaya orang gila.” Andi menyeka keringat yang mulai bercucuran di dahi.



Bunyi musik jedag-jedug semakin menggema saja di garasi pribadi Sarah. Saking cintanya nih sama motoran, Sarah sampai dikasih garasi sendiri sama papanya, walaupun garasi tersebut bekas gudang. Di sinilah Andi sering nongkrong sambil ngeliatin Sarah yang cantik, meskipun terkadang bikin ilfil sendiri gara-gara kelakuannya.



“Eh, cewek sekarang itu harus pandai gerakan kaya gini.” Sarah memeragakan salah satu gerakan. Padahal sedari tadi dia udah nge-take gerakan yang sama dan belum juga selesai.



“Sekarang emang udah ada standar kaya gitu, ya?”



“Betul, terus kaosnya dijepit di belakang biar kaosnya nge-press gitu. Liat nih ….” Sarah menunjukkan jepit rambut yang dijepitin di belakang kaos. Fungsinya biar kaos Sarah jadi ketat kek cewek-cewek di Tik Tak.



*Tepos begituan malah dipaksa* …. Andi kembali mengangkat ban untuk dipasangkan kembali.



“Sar, kalau lo itu cantik ya cantik aja. Enggak usah dikasih begituan tetep aja cantik bagi gue.”



“Ih, *so sweet* banget ….” Sarah berhenti sejenak. “Tapi, tambah cantik lagi kalau bisa kaya gini.”



Batin Andi menggeliat waktu menatap tubuh Sarah yang semakin kaya orang gila ngecobain salah satu gerakan Tik Tak.



“Ya Allah, tobat lo Sar. Itu gerakan apa, sih?”



“Gerakan ular minta kawin,” jawabnya singkat.



“Emangnya lo pernah ngelihat ular minta kawin?” tanya Andi dengan penasaran.

__ADS_1



“Ya suka-suka gue, dong. Yang penting gue keren banget kaya gini.”



*Keren pale lu kek gorilla minum ciu dua botol* …. Andi langsung merebut hape aipon terbaru punya Sarah. Masih ingat nih Andi ngebela-belain hujan-hujanan ngantarin Sarah biar bisa beli aipon itu. Dikirain biar makin produktif jualan di olshop, eh malah dijadiin goyang-goyangan enggak jelas. Gerakannya dinamain ular minta kawin, apa enggak gila tuh!



“Sar, gue makin aneh kalau lu main Tik Tak beginian.”



“Lah, elo sendirian malah seneng ngelihat cewek yang ginian?” Sarah balas merebut hapenya. “Gue sering ngelihatin lo buka video Tik Tak yang cewe-cewe.”



“Iya sih, isi Tik Tak hape gue juga itu, tapi bukan berarti gue suka kalau lo kaya gitu. Udah, goyangnya yang normal-normal aja.”



“Kaya mana …?”



“Kaya gini ….” Andi langsung kayang dengan satu tangan, lalu menjulurkan lidah.




Sarah yang penat goyang Ti Tak ular minta kawin dan Andi yang keringetan ngurusin motor, kini membawa mereka makan mie instan rebus di belakang rumah. Andi suka sekali makan mie instan, tapi selalu enggak bisa kalau bikinnya di rumah sendiri. Mamanya selalu ngelarang Andi makan mie instan karena dianggap tidak sehat bagi Kesehatan. Lah buktinya Sarah masih hidup aja sampe sekarang. Andi pun hanya menenggak ludah ketika uap hangat mie instan rebus double di hadapannya. Sementara Andi cuma bisa ngabisin satu porsi saja, tidak double.



Ya, tidak semua percakapan mereka berdua selalu dihiasi oleh perdebatan bodoh. Terkadang, Andi pun memulai percakapan yang sedikit serius, Sarah pun begitu. Masing-masing dari mereka sadar kalau ada waktunya becanda, berdebat, serta me time seperti ini. Dengan sedikit menahan mulut yang asem karena pengen ngerokok, Andi memulai percakapan di sore hari ini. Jujur, Andi paling takut kalau ngerokok di samping Sarah. Nanti malah satu bungkus rokok Andi yang jadi korban dikerimukin sama tangannya Sarah.



“Sar, kita udah tambah gede aja⸺”



“Apanya yang gede?” Sarah memotong percakapan.



“Eh, gue ini serius loh. Kalau masalah gede-gedean, jangan lo pancing gue, ya.” Andi kembali menatap langit. Biar dikatain serius gitu. “Agus, Pram, dan Tami udah kejamin hidupnya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Gue, elo, dan Nanang pun udah duduk di semester enam, enggak lama lagi bakalan tamat. Gue terkadang kepikiran tentang masa depan kalau malam hari.”



“Emangnya kenapa? Lo ngerasa *insecure* sama Agus, Pram, dan Tami?” tanya balik Sarah.

__ADS_1



“Gimana, ya … mungkin itu udah rejeki mereka. Gue enggak bakalan iri karena Agus dan Tami adalah sahabat gue. Tapi, gue mikirin diri gue sendiri. Mungkin lo udah kejamin bakalan jadi dokter nantinya. Lah, gue?”



“Kan lo bisa jadi guru, Ndi. Lo itu guru olahraga.”



“Masalahnya itu, gue enggak tahu apakah bakalan betah jadi guru sementara gue dulu aja enggak betah di sekolah. Gue milih jurusan itu karena gue seneng olahraga aja. Selain itu … hmm … gimana, ya ….”



“Lo ngerasa enggak bakalan punya penghasilan yang cukup kalau cuma jadi guru?” Sarah menatap mata Andi dalam-dalam.



“Benar, kira-kira begitu. *Insecure* cowok itu lebih ke materi. Mungkin gue sekarang anak orang kaya, tapi enggak selamanya gue bergantung dari kekayaan orangtua gue. Sementara lo udah jadi dokter, kaya enggak cocok aja sama gue yang bakalan jadi guru honorer yang gajinya kecil atau guru swasta yang UMK. Gue takut disaingin aja Sar.”



Tangan Sarah mengelus rambut Andi. “Hey, Andi. Apa selama ini gue ngelihat lo secara materi? Apa kita sering nongkrong di café mahal? Paling mentok cuma di kaefci, itu pun seringnya kalau ada voucher. Kita lebih sering nongkrong di angkringan atau Indoapril. Sudahlah, apa pun lo di masa depan, lo tetaplah Andi yang terbaik bagi gue.”



“Gue takut lo pergi sama aparat abdi negara, bukan sama gue. Soalnya di drakor sama pilem-pilem gitu, dokter cocoknya sama aparat negara.”



“Memang mereka bisa ngambil semua cewek karena mereka keren, tapi enggak sama gue.” Sarah kembali menyuap mie instan ke mulutnya. Dengan mulut penuh, dia melanjutkan kalimat, “Jadi guru itu pekerjaan yang mulia. Semua orang besar itu berawal dari seorang guru yang rela tenggorokannya sakit gara-gara ngejelasin pelajaran di depan kelas. Lagi pula, kita bisa bikin usaha kalau kita bener-bener jodoh.”



“Makasih ya Sar udah percaya sama gue.”



Sarah pun menurunkan pandangannya.



“Tangan lo kurang ke atas nih,”



“Eh, sorry enggak sengaja.”



Tangan Andi tadi mah enggak sengaja naik ke pangkal paha Sarah. Katanya sih enggak sengaja, tapi enggak tahu juga sih.


__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2