
Tasya berbaik hati untuk mentraktir teman-temannya untuk main ke waterpark. Karcis masuk pun bukan terbilang murah karena waterpark yang mereka masuk termasuk terbaik se-Ibu Kota. Akan ada banyak fasilitas bagus yang bisa digunakan nantinya. Mereka juga memesan gazebo secara patungan karena tidak termasuk dari pembelian karcis. Setelah semua kebutuhan di dalam sudah terpenuhi, barulah mereka dibimbing ke gazebo yang telah dipesan.
Awalnnya Sarah memang bete dan bahkan berkeinginan untuk pulang saja dengan alasan papanya meminta tolong secara mendadak. Tetapi karena suasana waterpark yang meriahh dan juga pembicaraan ringan dari mereka berempat, Sarah mulai berlembut hati untuk tetap bertahan. Terlebih lagi jika Tasya sudah berbaik hati membayar karcis masuk mereka. Menghargai seseorang yang telah berbuat baik itu sangatlah penting, tidak peduli seberapa bete dirinya dengan wanita itu.
Sembari minum susu indomilik yang dibelikan oleh Andi, Sarah malu-malu untuk membuka sweater pink dengan gambar karakter anime tersebut. Ia jadi insecure ngelihat teman-temannya sangatlah niat untuk bermain air. Pakaiannya sangatlah mendukung keestetikan tubuh dan terlihat fashionable berenang banget. Sarah cuma memakai baju Juventus original yang di belakangnya ada sablonan nama Cristian Ronaldo, soalnya dulu kan Bang Dodo pernah main di sana.
Ia lihat ketiga teman lainnya. Tami memakai pakaian renang, udah kaya kakak-kakak pelatih renang anak SD. Naila pakai pakaian renang buat para hijaber. Yang paling mencolok itu ialah Tasya. Wanita itu memakai tank top warna hitam dengan celana gemes di atas lutut. Terlihatlah mulusnya kulit putih Tasya hasil perawatannya selama ini. Tasya yang memilik postur tubuh tinggi seperti model, celana gemes itu semakin membuat kakinya terlihat jenjang. Ketika melihat ukuran dada Tasya, Sarah langsung melihat dadanya sendiri.
Apa gue besok mesen pembesar ya?
Sarah pun menggeleng kemudian sembari membuka sweaternya. Ia meningkatkan kepercayaan dirinya dengan memperlihatkan nama Bang Dodo di sablon belakang kaos bula Juventus. Nama bukan sembarang nama, melainkan icon sepak bola dunia yang wajahnya ganteng dan lakik banget.
“Tasya, kamu kan anak anggota DPR. Apa enggak ada penjagaan buat kamu kalau main di tempat umum gini?”
“Hahah … pertanyaan kamu ini ada-ada aja. Udah gede gini masa mau dijagain juga. Mending dana negara dibikin jalan tol daripada jagain gue,” balas Tasya.
“Oh betul juga ya, mending bikin jalan daripada jagain kamu heheh ….” Tami menyentuh tangan Tasya. “Aku jadi iri ngelihat kulit kamu. Kok bisa mulus gini sih?”
Sarah melihat tangannya sendiri yang relatif lebih cokelat daripada ketiga temennya.
“Gimana enggak mulus kalau Kak Tasya perawatan mulu,” sambung Naila.
“Perawatan sih kuncinya, nanti aku kasih tahu deh aku pakai lotion apa aja. Tapi, kulit kamu itu putih alami. Aku sebenarnya relatif cokelat kok. Jadi putih gini karena perawatan,” balas Naila.
“Gimana enggak putih, saban hari kaga pernah kena panas atau megang deterjen cucian baju,” ucap Sarah dengan nada becanda, padahal maksudnya hanyalah menyindir. Ia pun mengepalkan tangannya sekaligus memperlihatkan kepada mereka. “Nih lihat gue ….”
Tasya langsung menelan ludah karena Sarah itu berotot untuk standar cewek pada umumnya. Memang tubuh Sarah terkesan kurus, tetapi ia mempunya massa otot yang padat. Tentu saja Sarah memiliki otot rangka yang bagus karena ia sering berlatih beban di padepokan karate-nya.
__ADS_1
“Keker banget tangan lo Kak,” puji Naila.
“Iya dong, bisa bikin maling tumbang kalau ini mah ….” Sarah kini bisa berlagak sombong.
“Heheh … bisa bikin cowok-cowok gatel langsung lari kayanya.” Tasya tersenyum pada Sarah.
“Iya … terutama cewek-cewek yang gatel sama cowok gue salah satunya …”
Meskipun Sarah tidak menoleh kepada Tasya, kalimat itu bermaksud untuk ditujukan wanita itu.
Pembicaraan mereka di gazebo pun berakhir. Kini mereka berjalan menuju aliran seperti sungai buatan waterpark untuk memulai perjalann mereka menggunakan pelampung tandem besar yang bisa dinaiki sekaligus dua orang. Mereka yang jalan, tetapi malah mata cowok yang gerak-gerak. Sarah memerhatikan sedari tadi kalau cowok-cowok yang lagi nangkring pada ngelihatin mereka berempat. Mata mereka jelas sekali paling tertarik dengan kemolekan Tasya yang hanya memakai tank top dan celana gemes. Rambutnya yang masih tergerai pun bikin iman cowok-cowok itu tergugah.
Kalau dipikir-pikir lagi, Tasya ini ialah pram dengan versi ceweknya. Karisma wanita itu memang biki cowok-cowok pada menoleh. Padahal, juga ada cewek yang ga kalah cantik dari Tasya, yaitu Tami. Tetapi, entah kenapa Tasya terlihat lebih menarik di antara mereka berempat. Mungkin karena dompetnya tebel kali, anak orang kaya.
“Gue di belakang ….” Sarah mengisyaratkan agar Tami naik lebih dahulu. Mereka menggunakan dua buah pelampung tandem besar. Pasangan Sarah kali ini ialah Tami sendiri.
“Ya pandailah masa kaga ….”
“Besok-besok kita ngajakin anak-anak cowok, seru juga nih,” sarah Tasya waktu masuk ke dalam air.
“Iya bener tuh, kita ajakin Andi, Ajiz, sama Bang Kevin. Apalagi Bang Kevin, orangnya kocak ….” Naila menyetujuinya.
“Oh iya, si Kevin sama Revin itu anaknya asyik juga. Ada tuh satu lagi temen mereka, gue lupa namanya,” sambung Tasya. Ia memejam mata sejenak untuk mengingatnya kembali. “Oh iya, Pram … gue baru ingat namanya.”
Nama pria yang disebut oleh Tasya tersebut sontak membuat Tami menoleh.
“Oh Kak Pram …,” sambung Tami.
__ADS_1
Sebenarnya Sarah mengetahui ekspresi Tami tersebut, tetapi ia tetap diam saja.
“Nah itu dia … Revin dan Kevin itu orangnya kocak banget, apalagi tuh junornya si Dandi yang petakilan. Kalau si Ajiz sih cenderung cool gitu orangnya. Yang paling menarik si Pram. Anaknya kalem-kalem menghanyutkan gimanaa gitu ….”
“Ciee … Kak Tasya malah kesemsem ya sama Bang Pram?” pancing Naila.
“Ah enggak kok … cuman anaknya memang menarik aja, beda sama yang lain ….”
“Yaelah Pram doang kok ….” Sarah mendorong pelampung yang di atasnya lagi ada Tami berdiam diri. “Biasa aja sama gue kaga ada istimewanya … tu anak belagu, sok kalem doang.”
“Ah masa sih?” Mata Tasya tampak memicing.
“Eh tahu ga Kak, Bang Pram itu dulu pernah ngejar-ngejar Kak Sarah loh waktu SMA ….”
Tasya pun menoleh kepada Naila. “Beneran? Wah … beruntung banget dong dikejer-kejer sama Pram. Gue penasaran sekeren apa Pram waktu SMA.
“Waduh … kalau ngebayangin Bang Pram, enggak ada abisnya deh. Dia itu kayak cowok-cowok di novel gitu. Keren, pinter, kaya, ganteng, uh … pokoknya cowok paling diincer satu sekolahan waktu itu.” Naila memejamkan mata sewaktu membayangkan Pram ketika masih SMA dulu. “Apalagi kalau sekarang nih, pakek seragam polisi.”
“Yaelah … dasar betina, pantang lihat seragam,” sindir Sarah. Ia mulai naik ke atas pelampung secara perlahan agar Tami tidak jatuh ke dalam air. “Yang penting itu kesetiaan … lihat tuh Andi … cewek mana pun yang ngedeketin dia, tetap aja dia sama gue. Soal ganteng memang sih kalah jauh dari Pram, tapi dia yang terbaik.”
“Uh … so sweet-nya ….” Naila tersenyum kepada Sarah.
Tami memandangi Sarah sewaktu mengatakan hal tersebut. Kalimat Sarah membuatnya teringat kepada seseorang, yaitu Memet ….
Apa aku lagi menyia-nyiakan seseorang ya?
***
__ADS_1