Andi X Sarah

Andi X Sarah
62. Kalah Itu Biasa (SEASON 2)


__ADS_3


Kalah Itu Biasa



Sebagai orang yang pernah bermusuhan dengan Ajiz, tentu saja Dandi tidak sampai hati ketika teman-temannya meminta untuk membantu Antophosfer. Terlalu banyak tanggungan harga diri yang ia pikul. Namun, kali ini ia sampingkan gengsi karena Dandi memandang pertarungan ini bukanlah antara satu geng dengan satu geng lainnya, melainkan sekolahnya yang telah diusik oleh kelompok tersebut. Oleh karena itu, mereka berangkat walaupun sedikit terlambat.


"HAHAHAH!!!!" tawa Dandi menggelegar tatkala menghantam lawan bersenjata tumpul. "Sini kalian *******!!!"


Agus terheran-heran melihat Four Dog benar-benar serius. "*****, itu Dandi kaya kesurupan ketawanya."


"Biarin aja, kita harus menang kali ini." Andi menangkis sebuah serangan.


Dandi melihat Ajiz yang lagi duel sengit sama Alex di tepi jalan. Ia tahu, Ajiz masih terlalu lemah untuk melawan seorang Alex yang pernah menyabet sabuk hitam taekwondo.


"Mundur, biar dia urusan gue," ucap Dandi ketika menarik Ajiz.


"Jangan ikut urusan gue!!" teriak Ajiz. Ia menghindar dari serangan orang lain.


"Lo itu masih kelahi pakai emosi, gunakan akal lo."


Dandi tidak peduli, ia maju dan berlari menuju Alex yang disibukkan oleh anggota yang lain. Dengan segala pengalaman gelud yang ia punya, Dandi tahu titik-titik kritikal jika diserang, perut salah satunya. Kaki Dandi dengan tepat menghantam ulu hati Alex hingga ia tidak berdaya di aspal. Lawan-lawan yang tidak pernah bertemu dengannya selalu tidak menyadari serangan andalannya ini. Dandi menduduki badan Alex dan menghantam kepalanya berkali-kali.


"Awas!!!!" Ajiz melompat melindungi Dandi.


Sebuah balok kayu menghantam tangan pergelangan tangan Ajiz. Ia rasakan getaran yang dahsyat ketika balok kayu itu mengenai tangannya. Bunyi gemeretak tidak bisa ia hindari, hingga tangannya sama sekali sulit digerakkan.


"*******!" Dengan cepat Dandi membalas serangan itu dengan lesatan pukulan yang sangat kencang.


Lawan berhasil ditumbangkan. Dandi menarik Ajiz keluar dari perturangan.


"Tangan lo terkilir," ucap Dandi.


"Jangan khawatirkan gue, selagi ada tangan kiri gue, gue masih bisa tarung sampe akhir."


"Jangan memaksakan diri," balas Dandi. Ia menarik Andi yang tengah bertarung hebat. "Ajiz terluka! Tangannya terkilir, cover dia biar selamat."


"Oke, lo masuk lagi."


Andi dan Agus mengelilingi Ajiz yang bertarung dengan satu tangan kiri. Tidak satu pun lawan yang berani mendekati Ajiz yang telah dilindungi mereka berdua. Lawan perlahan berhasil ditekuk mundur, walaupun masih ada yang tersisa.


Lah kok gue pusing gini ya? Andi merasakan tubuhnya tidak seperti biasa.


Tangan Andi mengalir darah yang deras. Ia masih tidak merasakan sumber sakit yang ia rasakan.

__ADS_1


"Gus, gue pusing."


Agus terkejut melihat tangan Andi yang mengalir darah. Dengan cepat ia membuka lengan Andi. Ternyata Andi terkena sabetan pisau hingga lengannya tersayat panjang.


"Tangan lo kena sabetan pisau kayanya," balas Agus sembari menahan serangan.


Lawan yang tinggal sedikit kembali berkurang tatkala mereka mendengar suara serine polisi mendekat. Mereka seketika menghentikan pertarungan dan menyelamatkan diri masing-masing.


"POLISI, LARI!!!" ucap Andi.


Semuanya lari kocar-kacir kaya banci dikejar satpol PP. Andi terbirit-birit lari walaupun tangannya berdarah. Felix menarik Nanang yang masih aja asik menghantam anak orang. Motor yang terparkirkan langsung digas maju, bisa-bisa mereka berada di polsek terdekat jika terlambat.


Motor dikebut sekencang mungkin karena mobil polisi dan beberapa motor trail polisi mengejar mereka dari belakang. Untung aja mereka semua tahu jalan-jalan tikus di sini dan berpencar untuk lari.


"Kebut, GUS!!!!" Andi melihat mobil polisi di belakangnya.


"Oke, tenang aja. Motor gue abis serpis."


"Indak talok-talok di serpis do kalera," balas Andi dengan bahasa Minang.


Enggak bisa mentang-tentang di serpis, ***** ...


Berkat timing yang pas buat kabur, mereka berhasil kabur dengan selamat. Andi meminta mereka semua berkumpul di kedai pak topoi, kedai yang dijadikan tempat Anak Amak nongkrong. Di sana tempatnya tersembunyi. Takutnya polisi masih patroli dan mendapati mereka lagi berkumpul di lapangan depan sekolah.


Andi berjalan dengan dibantu oleh Agus menuju ke kedai. Teman-teman yang lain sampai satu per satu karena baru dapat informasi.


"Oke, tapi tangan lo gue iket dulu. Darahnya masih keluar."


Agus mengikat pangkal tangan Andi dengan tali rafia agar menahan darah yang masih keluar.


Wajah penat mereka terlukiskan tatkala duduk di kursi dan meja yang tersediakan. Ibu kedai aja sampai heran kenapa muka mereka kaya abis tawuran, padahal kan memang abis tawuran.


Dugong meminta semuanya berkumpul karena ada satu hal yang ingin ia sampaikan.


"Thanks teman-teman yang udah ikut bela Antophosfer." Dugong membakar rokoknya dengan mancis milik Ajiz. "Ada satu hal yang gue sampaikan.


"Langsung aja, Gong," ucap Andi.


Dugong mengangguk mengerti. "Kami angkatan dua belas udah mau tamat. Kami berharap ada penerus Antophosfer. Gue sebagai ketua, kali ini bakalan nunjuk siapa yang bakal jadi ketua."


Semuanya saling beragumen masing-masing. Ada yang berbisik dan memberi saran. Namun hak untuk memberikan nama hanyalah angkatan 12. Itu sudah menjadi peraturan turun temurun.


"Ketua Antophosfer harus berasal dari ketua aliansi. Gue mau Arman yang jadi penerus gue sebagai ketua."


Arman sontak terkejut. Ia memandang Dugong dengan serius. "Kok gue, Bang?"

__ADS_1


"Lo yang pantas dan yang paling banyak pengalaman di sini."


Arman menurunkan wajah. "Gue menolak, bang. Gue enggak bisa."


"Kok ga bisa? ini jabatan penting ga bisa ditolak." Andi berdiri dari duduknya.


"Gue harus pindah sekolah semester depan. Gue ga bisa. Gue lebih memilih Ajiz sebagai ketua."


Ajiz yang ga tau apa-apa jadi bengong mendengar kalimat Arman.


"Lah, gue kan anak baru ...."


Dugong dan Andi saling berbisik. Terjadi sebuah diskusi singkat. Dugong mengangguk, ia akan memilih langkah yang tepat.


"Oke, gue ga punya pilihan lain. Di angkatan 11 cuma punya satu aliansi. Sedangkan Arman ga bisa jadi ketua. Gue terpaksa memilih Ajiz yang jadi penerus gue, mengingat Ajiz enggak kalah kuat sama kelompok Arman karena mereka bagian dari Kodomo. Kodomo masih dapat tepat terhormat di Antophosfer."


"Bang, gue masih baru," potong Ajiz.


"Gue dipilih senior Ali waktu gue kelas 10, bahkan sampai buat iri Kevin yang ga dipilih. Gue menerima semua keputusan. Keputusan ini udah bulat."


Ajiz menghela napas. Ia tahu ini semua harapan daripada senior. Kepercayaan yang mereka beri tentu saja tidak diberi secara sembarangan.


"Baiklah, gue mau. Tapi dengan satu syarat."


"Apa?" tanya Andi.


"Gue mau masukin Four Dog ke dalam Antophosfer."


Semua terkejut dengan kalimat Ajiz. Ajiz tidak sembarangan berbicara. Ia melihat niat baik Four Dog yang telah membantu mereka tadi bertempur.


"Baiklah, gue mau." Andi memasang wajah serius. "Peraturan tetap peraturan. Aliansi yang baru masuk harus dites dulu ketuanya, kaya lo yang dulu. Sore ini, Dandi harus duel dengan Agus di lapangan."


Semuanya terdiam. Peraturan yang turun temurun ialah di saat ada aliansi yang ingin bergabung, ketua aliansi harus berduel dengan senior kelas 12 untuk menguji apakah mereka pantas atau tidak. Andi menyarankan nama Agus ialah agar Agus dapat membalaskan kekalahannya waktu itu.


"Oke siapa takut."


Semuanya tertuju ke arah suara. Di sana Dandi sedang duduk di belakang kerumunan bersama ketiga teman Four Dog. Andi tersenyum, ia tidak sabar menunggu duel ini.


Senja menunggu tenggelam. Langit barat melukiskan garis-garis merah kemuning yang tampak jelas ketika mereka beranjak pulang. Ajiz resmi menjadi ketua Antophosfer selanjutnya dengan syarat tidak ada gesekan antara aliansi kelas 10 dan kelas 11 di mana ketua terpilih dari angkatan kelas 10. Hal ini pernah terjadi pada masa Kevin ketika Dugong yang malah terpilih menjadi ketua Antophosfer. Semuanya juga puas dengan hasil duel antara Agus dan David.


Sembari menenteng Agus yang kelelahan, Andi membakarkan rokoknya kepada Agus.


"Kalah itu biasa ... Ga usah dendam." Andi tersenyum.


"Anak itu memang kuat. Gue bangga punya penerus sekuat dia, bahkan Ajiz," ucap Agus dengan lapang dada. "Ayo ke puskesmas. Luka lo harus dijahit."

__ADS_1


"Ayo ...."


***


__ADS_2