Andi X Sarah

Andi X Sarah
98. Kamar Mandi (SEASON 3)


__ADS_3

Wangi parfum Nabe bikin Andi bersin-bersin di belakang. Jadi\, tadi di kelas Nabe nyemprotin parfumnya ke Andi dan Ari Kiting karena tercium bau-bau e`ek kucing. Mereka berdua sudah mengecek sepatu untuk memastikan jika mereka tidak habis menginak e`ek kucing. Jelas terlihat jika mereka bersih. Barangkali bau tidak mengenakkan itu berasal dari orang yang menempati kelas ini sebelumnhya. Namun\, Nabe tetap teguh pendirian kalau dua orang di belakangnya habis menginjak e`ek kucing.


“Sumpah loh Nabe, kita ini bersih. Lagi pula gue enggak ada nginjak tanah berpasir kok. Emangnya kucing bokernya di plavin box?” Andi membela diri.


Ari Kiting mengibas-ngibaskan tangannya ke udara karena bulir parfum masih terlihat bergerak setelah Nabe mengemprotkannya kembali.


“Ini parfum lo mahal-mahal, tapi malah dibuang begini!” Tangan Ari Kiting menutup hidungnya. “Woi udah woi! Kaga ada kami nginjak bokernya kucing!”


“Pokoknya harus kalian!!!” paksa Nabe.


“Lah kok gitu, sih?!” protes Andi.


“Kan biasanya kalian yang bawa e`ek kucing ke kelas,” balas Nabe.


“Yee kan itu kemarin-kemarin, jangan diungkit lagi. Noh si Andi waktu itu nginjek tai kucing. Kalau sekarang, kita bener-bener bersih.”


“Gue kaga percaya!” Nabe berbalik lagi ke depan.


Bagaimana tidak kelas jika Nabe sering mencium bau tai kucing di belakangnya. Kasus sebelumnya sudah memberikan fakta kalau mereka berdua sering nginjek tai kucing. Tidak tahu entah darimana mereka membawanya, yang pasti di telapak sepatu mereka sudah tampak benda itu. Alhasil, Nabe tidak percaya meskipun mereka berdua membela diri.


Hidung Andi meler kaya minum es tiga hari berturut-turut. Dia bersin-bersin sampai minta tissue milik Lala. Andi pun ke kamar mandi buat membuang melernya hidung. Ari Kiting untung saja masih aman dan lanjut mengerjakan bagian tugas kelompok di kelas.


Sesampainya di kamar  mandi, Andi melihat terdapat tiga orang senior yang lagi ngerokok. Seperti anak SMA yang diam-diam merokok, Andi pun harap maklum dengan kelakukan mereka karena terkadang Andi pun melakukannya juga. Kamar mandi tetaplah jadi tempat paling aman merokok di fakultas dan tidak harus capek dulu berjalan ke kantin.


Andi tidak begitu mengenal senior tersebut karena mereka berasal dari organisasi seni jurusan, sedangkan Andi lebih dekat ke organisasi olahraga jurusan. Namun, Andi tetap mengetahui nama senior yang sedang melepaskan kemejanya, yaitu Rizky. Senior semester dua belas itu merupakan mantan Nabe yang pernah menghadangnya di mantanya itu. Mata mereka saling bertemu dalam tatapan sebelum Andi pergi ke bilik WC untuk membuang meler di hidungnya, sekaligus buang air.

__ADS_1


Bunyi air di WC duduk terdengar setelah Andi menyiramnya. Berdecitlah pintu WC membelai telinga Andi tatlala ia buka. Tiga senior itu masih berada di sana untuk menikmati rokok. Sambil menunduk Andi melewati mereka dengan sopan. Namun, Rizky malah menutup pintu kamar mandi.


“Wangi tubuh lo kayanya gue kenal.”


“Nabe memang suka buang-buang parfumnya ke gue sama temen gue. Emangnya kenapa?” Andi langsung ke intinya saja tanpa basa-basi.


“Lo udah ngapain aja sama Nabe?!” tanya Rizky.


“Gue bukan kaya elo, Rizky. Gue cowok baik-baik.”


Mendengar Andi yang hanya memanggil nama, Rizky pun tertawa kecil sembari mengunci kamar mandi dari dalam. Andi mundur ke belakang karena dua senior yang lain tampak mendekati dirinya.


“Lo itu kayanya harus diajarin gimana sopan santun sama senior,” ucap Rizky.


Wajah Rizky berubah padam dari senyum sinisnya. Tatapannya lurus menghantam sorot mata Andi yang tegas. Isyarat Rizky kepada dua orang temannya itu meminta untuk mundur agar dirinya sendiri yang menangani Andi.


“Keduanya … kan udah gue bilang lo enggak bakalan bisa nyaman hidup di jurusan ini.’


“Mohon maaf ni ye Rizky … semua yang lo lakuin ke Nabe itu adalah sampah. Lo manfaatin Nabe yang udah begitu duluan untuk nafsu lo. Dia udah berubah sekarang, jadi berhentilah berpikiran negatif Nabe.”


“Kalau lont yaa lont aja. Kami bertiga pernah kok main sama dia.”


Mendengar hal tersebut, tangan Andi langsung melayang ke wajah Rizky dengan keras. Tidak hanya itu, kakinya menerjang kedua senior itu tepat pada perut hingga tersudut ke dalam bilik WC. Tendangan itu benar-bena bersarang tepat ke ulu hati hingga mereka sempat susah untuk bernapas. Rizky berusaha melesatkan tinjuan ke Andi, tetapi Andi lebih berpengalaman dalam pertarungan satu lawan satu. Satu kesempatan berhasil Andi gunakan untuk menarik rambut Rizky dan menghantamkannya tepat ke lutut.


Rizky langsung jatuh dengan hidung berdarah. Tangan Andi bernoda merah sehingga ia lap ke kemeja Rizky yang tergantung.

__ADS_1


“Sekali lagi lo nyebutin Nabe dengan kata itu, sumpah gue enggak peduli temen lo seberapa banyak. Gue bisa juga ngebawa temen-temen gue ke elo. Kita adu siapa yang paling bertahan.” Andi menarik kepala Rizky agar bisa menatap dirinya. “Gue bukan anak kemarin sore, Ky. Gue bukan anak orang kaya yang enggak tahu diuntung kaya elo. Urusan begini udah jadi makanan sehari-hari gue dulu. Jadi, berhentilah macam-macam sama gue.”


“Lo mampus setelah ini!”


Tamparan keras bersarang ke pipi Rizky, “Mampus gimana? Lo sekarang aja udah mampus!”


“Bangs⸺”


Tidak sempat Rizky menghina Andi dengan kata kasarnya, Andi lebih dahulu menamparnya tepat di bibir.


“Masih bisa ngomong?”


Kedua senior yang sudah memulihkan tenaga itu kini menyingkirkan Rizky dari Andi. Ia diminta untuk pergi dari kamar mandi secepatnya jika tidak ingin masalah ini menyerembet ke yang lain. Andi sudah menduga isyarat itu berarti ia akan membawa teman-temannya. Meskipun Andi tidak peduli dengan jumlah lawan. Andi tetap memilih pergi. Sembari membunyikan kepalan tangannya yang sudah puas memukuli Rizky, Andi menarik Ari Kiting yang menyusulnya ke kamar mandi.


“Pakai kamar mandi lantai dua aja di bawah. Kamar mandi itu dikunci,” ucap Andi kepada Ari Kiting.


“Lah, tumbenan ibu cleaning service ngunci kamar mandi itu?” Ari Kiting berbalik karena tidak jadi ke kamar mandi tersebut.


“Iya, makanya kita ke bawah aja.”


Mereka sama-sama ke kamar mandi bawah. Andi meminta Ari Kiting untuk balik ke kelas duluan dengan alasan Andi harus buang air besar dahulu. Setelah Ari Kiting pergi, Andi menatap dirinya di cermin besar sembari mengusap tangannya  tergores di bagian telungkup akibat perkelahian tadi. Dalam hati Andi masih ingin memukuli Rizky karena telah mengina Nabe secara frontal. Bahkan, jika bisa Andi menyelupkan wajah Rizky sialan itu air kloset. Sama sekali Andi tidak gentar meskipun tiga orang tersebut merupakan senior karena ia pernah juga begini sebelumnya sewaktu berseteru bersama Kevin dan kawan-kawans sewaktu SMA. Bahkan, dahulu pun ia tidak takut dengan Kevin sama sekali sebelum mengenal Kevin lebih jauh.


“Tenang, Nabe … lo bakalan gue bela untuk ini.”


***

__ADS_1


__ADS_2