Andi X Sarah

Andi X Sarah
148. Om Andi (SEASON 3)


__ADS_3

KKN berjalan lancar di awal-awal hari. Pengadaptasian dilakukan dengan baik kepada seluruh elemen masyarakat desa. Anak KKN berkenalan dengan wargan desa, pemuda desa, dan tidak lupa pula dengan para pemudi desa. Anak cowok KKN pasti ngelirik-lirik kepada gadis-gadis desa yang pada bening, tidak terkontaminasi oleh debu kendaraan perkotaan dan racun shopie yang bikin duit abis tiap bulan.


Andi mendapati jika gotong royong di kota sangat berbeda dengan di desa. Di desa, hampir seluruh warga datang untuk gotong royong. Paling tidak, ada satu perwakilan dari setiap keluarga, baik itu orangtuanya maupun anaknya sendiri. Kalau ada yang gotong royong, pada bawa pacul, sabit, dan alat-alat lainnya. Beda sama di kota yang sering bolos gotong royong rutin. Alasannya beragam, ada yang main gold, acara keluarga, dan bahkan tidak merasa penting agenda tersebut. Sekalinya datang, pasti cuma bawa rokok yang sulit banget dimintain dan juga cuma ngincer gorengan pagi.


Posko KKN pun merasakan cipratan budaya gotong royong tersebyut, meskipun ada aja yang bikin jengkel karena lalai atau pun tidak pandai mengerjakan sesuatu. Sebagai contoh, jangan bawa Aulia dan Tasya masak di dapur karena bakalan ngacauin. Masa setiap memotong bawang pasti aja ada jempolnya yang terluka. Kalau urusan bersih-bersih, Andi paling males dengan Kelly, pasti geraknya mager banget. Dia nyapu kaya ibu-ibu hamil, cuma pakai satu tangan. Pantang sekali mamanya ngelihat anak gadis yang nyapu seperti itu, soalnya Aisyah di rumah juga sering dimarahin.


“Eh Andi … sini dulu dong …” Bang Asep melambai kepada Andi. Ia sedang berada di rumah salah satu warga bersama teman-teman pemuda.


Andi yang segan, kini menghampirinya. “Gimana KKN? Lancarkan?”


“Lancar kok Bang, makasih banget udah banyak bantuin.”


Semenjak jadi ketua KKN, Andi makin akrab sama pemuda desa. Malamnya aja sering dibawa nongkrong ke warung buat main domino. Sayangnya, Sarah melarang mulu karena ia pernah lihat pemuda desa lagi minum-minum. Takutnya Andi juga keikut minum-minum sama mereka.


“Jangan segan-segan kalau ada yang dibutuhin, ya kan?” Bang Asep menoleh kepada teman-teman yang lain, mereka pun mengiyakan. “Mau ke mana emangnya?”


“Ini Bang, mau beli rokok ke warung, sekalian beli stok kopi sampan api.”


“Nah, sekalian aja kamu ini … hmm … antarkan gas ke rumah sofi,” pinta Bang Asep. Ia sebentar masuk ke dalam rumah, lalu membawa tabung gas warna ijo yang sedikit berkarat di bagian tepinya. “Pakai motornya abang nih.”


Kunci motor tergantung di ujung jemari Bang Asep. Andi mau tidak mau menerima permintaan itu.


“Rumah Sofi di mana ya Bang?”


“Itu loh anak tokei sayur yang namanya Ibu Titin itu. Rumahnya ada di dekat bendungan desa. Kalau kamu ke sana, panggil aja dia, bilang tabung gas ini dari Bang Asep. Ibunya Sofi mesan tabung gas di warungnya Abang,” ucap Bang Asep.


Andi mengingat jika desa ada bendungan irigasi pertanian warga. Pada saat jalan-jalan sore, Bang Asep berkata jika di ada rumah batu paling besar sedesa yang pemiliknya berprofesi sebagai tokei sayur dan toko pupuk. Hampir seluruh warga desa beli pupuk ke sana.


“Oke deh Bang … saya antarkan ke sana ya.”


Bang Asep memberikan jempolnya kepada Andi. “Si Sofi cantik lo … tapi sayang, Abang udah mau nikah, hehehe …. Enggak bisa nikah sekalian pasang dua.”


“Saya aduin loh ke calon, kan deket rumahnya hehehe,” ancam Andi dengan bercanda.

__ADS_1


Sehabis membeli rokok sempuna, Andi bergegas pergi ke rumah Sofi yang berada di dekat bendungan desa. Bendungan tersebut berasal dari anak sungai yang langsung mengarah ke sungai utama di desa ini. Biasanya, sore-sore para bocil sering main ke sana. Namun sayang, Andi belum sempat berenang, padahal asyik nyantuy-nyantuy menghilangkan penat sembari menunggu magrib.


Motor berhenti tepat di depan rumah tersebut. Tidak seperti rumah desa pada umumnya yang sederhana, rumah gadis bernama Sofi ini hampir sama kaya rumah di kota. Terlihat jelas bahwasanya rumah ini mewah dari tingkat dua dan desainnya. Di samping rumah Sofi terdapat pula toko pupuk dan cucian sayur.


“Samlekom ….”


Tidak lama kemudian, keluar bocil perempuan yang sedang es kiko.


“Nyari siapa om?” Matanya melebar tatkala melihat Andi. “Om Andi …”


“Lah kamu?” Andi menunjuk bocil tersebut.


Gadis belia itu bernama Maya, yaitu anak murid Andi yang minta ditemenin buang air sewaktu mata pelajaran olahraga tersebut. Enggak di sekolah maupun di rumah, Andi tetap saja dipanggil Om olehnya.


“Ada kak Sofi?”


“Om kok nyari Kak Sofi? Kan udah ada Bu Tasya,” balasnya.


“Ibu Tasya itu temannya Bapak, kamu gimana sih? Ada ga Kak Sofinya.”


“Tapi Kak Sofi udah punya pacar Om,” balasnya lagi.


Tidak ada Andi meminta Sofi untuk dijadikan pacarnya, Maya malah mengada-ngada. Andi makin kesel dengan muka polos Maya yang sambil minum es kiko.


“Tidak peduli Bapak apakah kakak kamu punya pacar atau enggak. Bapak cuma mau ngasih tabung gas ini aja kok.” Andi sudah memakai nada suara paling lembut kali ini.


“Om jualan tabung gas?”


Napas Andi menggebu-gebu ingin meng-threepoint-kan Maya ke ring basket seperti Michael Jordan di NBA. Tapi karena dia anak muridnya, Andi pun berusaha buat tenang. Beneran dah, kelas pertamanya itu benar-benar absurd banget anak-anaknya.


“Enggak, om  … eh Bapak ga jualan. Tapi, mamanya kamu pesan tabung gas sama Bang Asep. Jadi, Bang Asep minta Bapak untuk mengantarkan tabung ini ke rumah kami. Mamaknya ada ga?”


“Mama ada kok, tapi lagi pergi,” balasnya dengan polos.

__ADS_1


Wajah Andi memereng mendengar jawaban tersebut. “Itu sama aja ga ada, Jaeenaab! Kalau mama kamu pergi, berarti enggak ada di rumah.”


“Oh yalah ….”


Itu doang? Andi pun heran kenapa bocil ini jadi makin absurd dan cuek sekali seperti ini. Andi pun meletakkan tabung gas tersebut di depan rumah. Tidak mungkin Andi menyelonong masuk ke dalam rumah tanpa izin. Ini si bocil daritadi nanya mulu yang ga jelas tanpa memberi izin untuk masuk.


“Ya udah … Bapak tinggal di sini.”


“Kan Maya enggak bisa ngangkat,” balasnya.


“Bapak bawa masuk ke dapur yaa ….” Andi kembali mengangkat tabung gas tersebut. “Kalau enggak, panggilin Kak Sofi aja ya …”


“Kak Sofi udah punya pacar om. Om ini kok egois sih …”


Waduh … untung aja nih Andi masih sabar, kalau enggak tabung  gas udah melayang ke pot bunga.


Tidak lama kemudian, datanglah gadis bening berambut pendek yang sedang dasteran.


“Maya? Pacar apa? Kan kakak jombl⸺” Sofi melihat ada abang-abang KKN di depan rumah. “Loh Bang Andi yang ketua KKN itu ya?”


“Iya … Bang Asep nitip ini tadi.”


“Sekalian aja pasangin ya Bang. Anak cewek lagi masak di dapur, ada kakak-kakak KKN juga loh,” balas Sofi.


“Oke ….”


Andi jadi senang kalau anak cewek KKN pada diajakin masak. Pantas saja mereka tidak ada di posko dari siang tadi, ternyata mereka ada di sini.


“Kak Sofi, jangan mau sama Om Andi …..”


“DIEM LU!” pungkas Andi dengan pelan dan penuh penekanan.


***

__ADS_1


__ADS_2