Andi X Sarah

Andi X Sarah
144. Ngajar (2) (SEASON 3)


__ADS_3

Udahlah dituduh pacaran sama Tasya, ditambah lagi Andi diajukan banyak pertanyaan yang aneh-aneh. Pertama memang sih dituduh pacaran, eh malah ditanyain apakah sudah menikah atau belum. Emangnya bisa pacaran sambil nikah atau nikah sambil pacaran? Ya kan enggak juga. Merek motor Andi juga tidak luput menjadi objek kekepoan anak murid. Kalau anak cewek masih mendingan karena muji Andi itu pria yang tinggi, meskipun agak buncitan. Yang paling parah itu, Andi ditanyain nama mulu. Padahal sudah berkali-kali Andi menjelaskan siapa namanya. Serasa tidak berguna name tag yang Andi desain untuk anak-anak KKN melalui aplikasi canva.


Setelah dikepoin ini itu, pertanyaan Andi mengenai mereka ingin berolahraga apa ternyata belum terjawab. Andi bertanya lagi dengan baik-baik, bahkan anak paling bandel pun Andi elus-elus rambutnya.


“Jadi kalian mau main apa nih?” tanya Andi.


“Main bola bang ….”


“Main basket Bang ….” Padahal di sini ga ada lapangan basket.


“Main volley bang ….”


“Main karet aja bang …,” ucap salah satu anak cewek dengan polosonya. Mana ada pelajaran olahraga main karet.


“Main bola bekel ….”


Andi mengetuk papan tulis dengan ujung spidol.


“Udahlah, banyak kali cakap kalian ni … Bapak nentuin mau main apa ya. Karena kalian ada lapangan bola fustal dan bola volley, anak cewek main volley dan anak cowok main futsal …”


“Dari tadi ngapa sih Bang? Kan enggak lama gini … waktu jam olahraganya malah habis nanti ….”


Napas Andi menghela berat mendengar kritikan tersebut. Sudah hampir berbuih mulut Andi bertanya ingin berolahraga apa, tapi malah dicecar banyak pertanyaan seperti KPK introgasi terangka korupsi.


Beruntung anak-anak sudah memakai baju seragam olahraga SD, jadi Andi tinggal menggiring anak-anak murid ke lapangan yang berada di belakang sekolah. Andi paling belakang pun melihat betapa tengilnya anak-anak murid. Ada yang mentoel telingan temennya, ada yang nendang-nendang, ada yang mengadu kepada Bapak Andi ini karena sudah diganggu, dan ada juga yang tidak ingin berolahraga. Andi terus membujuk bocak laki-laki mageran itu dengan cara menggedongnya di punggung. Karena merasa asyik udah memperbudak Andi, dirinya pun akhirnya mau main bola bersama yang lain.


Lapangan volley dan fustal berada samping-sampingan. Andi berdiri di tengah-tengah untuk mengawasi jalannya permainan. Tidak butuh peraturan ketat kaya anak SMA, sederhana saja yang dimainkan Andi. Anak cewek dibagi tujuh orang satu tim, meskipun itu sudah melanggar aturan main volley. Sedangkan anak cowok, cukup main lima lawan lima dalam permainan fustal.


“Untuk perempuan, udah pandai kan main futsal … eh main volley-nya?” tanya Andi baek-baek.


“Udah Pak … eh Bang …”


Terserah deh, Andi ga peduli mau dipanggil Bapak atau Abang. Sekalian aja Mamang kalau bisa.

__ADS_1


“Anak cowok udah pandai main fustal kan?”


“Kami tahunya main bola bang, fustal itu apa?”


“Aduh … sama aja itu main futsal sama main bola. Kalau futsal itu lapangannya lebih kecil,” jawab Andi.


“Oh gitu … yalah …”


Sumpah nih anak cuek banget ….


Bunyi peluit panjang pertanda bagi dua lapangan untuk bermain. Anak cowok langsung teriak kaya tawuran. Satu yang megang bola, lima orang yang mengejar. Waktu ngerebut, langsung main hantam-hantaman kaki. Andi jadi teringat bagaimana dirinya bermain bola sewaktu masih masa-masa bocil bersama Memet. Apalagi Memet selalu jadi musuh bebuyutan main di lapangan bola belakang komplek.


Sementara anak cewek, suasana lebih kalem. Untuk service saja banyak yang tidak sampai ke seberang net volley. Andi menyarankan agar maju sedikit agar kesampaian, akhirnya mereka pun bisa. Nah, bola service pun sudah dipukul. Ternyata lawan pun sama, tidak bisa menyambut. Ada yang berusaha menyambut, tetapi meleset ke samping tangan, bukan tepat ke tangan pembalik bola.


Andi pun menepuk kening melihat anak cewek yang cenderung asal-asalan. Ia menjelaskan bagaimana service sederhana dan cara menyambut bola yang baik kepada anak-anak cewek. Permainan kembali berlangsung sedikit lebih baik setelah itu. Keseruan terjadi di lapangan volley. Murid cewek tertawa-tawa kalau temannya melakukan hal yang lucu.


“Pak … eh Bang … anak ini nendang kepala saya!”


Tiba-tiba Andi ditarik bajunya oleh salah satu murid cowok. Sewaku Andi menoleh, ternyata kondisi murid cowok ancur-ancuran banget. Baru saja permainan berlangsung selama sepuluh menit, tapi kotornya udah kaya main dua jam.


“Awas kamu ya!” tunjuk murid yang sudah terdzolimi tadi kepada musuhnya.


“Apa? Sini by one kalau berani!”


“Eh udah … mau main kelen ga?” Andi mulai emosi.


“Mau Bang …”


Peluit Andi pun berbunyi lagi untuk murid-murid cowok. Seperti biasa, satu yang megang bola, satu tim musuh yang mengejar. Kiper pun malah ikut mengejar, padahal ia harus menjaga gawang dengan sebaik-baiknya agar tidak kebobolan. Sistemnya begini, biarlah tidak dapat bolanya, yang penting kaki harus dijegal dulu. Jatuh sewaktu merebut bola bukan jadi hal yang aneh, malah dibalas dengan tendangan ke tubuh murid. Andi langsung melerai.


“Hei! Ga boleh nendang musuh!” Andi menunjuk murid yang sudah menendang lawan. “Kamu kartu merah. Tidak boleh main selama tiga menit dulu. Tim A dapat hadiah pinalti.”


“Yeeees!” seru tim yang sudah dihadiahi tendangan pinalti.

__ADS_1


Andi menyetel waktu tiga menit untuk murid yang dapat kartu merah, sekaligus meletakan bolak ke titik pinalti. Musuh pun menyiapkan kiper terbaiknya, sedangkan pihak pendendang berdiskusi siapa yang bakalan jadi tukang jagal.


“Eh elu …” Andi malah keceplosan bilang elu sewaktu penendang tidak mendengar aba-aba peluit, malah ingin langsung menendang bola. “Kamu nendangnya setelah bunyi peluit yaa.”


“Siap bang!”


Andi meniup peluit. Murid pun menendang bola hingga mengenai muka kiper. Muka kiper berbercak debu yang mengikuti alur bentuk motif bola. Sang penendang memanfaatkan pantulan bola dengan menendangnya kembali ke gawang. Alhasil, gol pun tercipta. Tim yang ngegolin bersorak gembira karena keunggulan skor mereka.


“GOOLL!!!”


“AH CURANG KAMU!”


“ENGGAK SAH GOL-NYA!!!”


Debat lagi, debat lagi. Murid cowok memang tidak ada habis-habisnya. Andi melerai lagi perdebatan yang hampir jadi ring tinju karena saling ejek mengejek. Tatkala bola diletakkan di tengah, permainan kembali bergulir seperti biasa.


Terdengar dari belakang Andi ada murid cewek yang memanggil-manggil.


“OM … om ….”


Andi malah dipanggil Om.


“Iya, dek … ada apa?”


“Mau buang air om ….”


“Ya udah … kamu ke WC aja.”


“Ga berani … biasanya ibu guru olahraga ngantarin saya ke WC.”


Andi menepuk dahi. Apa anak ini tidak sadar kalau Andi seorang laki-laki. Andi sempat meminta kepada teman-temannya untuk mengawani muridnya pergi buang air. Tapi, tidak ada satu pun yang mau karena sibuk bermain volley. Mau tidak mau, Andi merangkul murid tersebut untuk dibawa ke WC. Mau tidak mau.


Anjir gue dikirain ngapain ntar!

__ADS_1


***


__ADS_2