
Futsal
Motor mereka berhenti sebentar untuk menatap gerbang lapangan futsal yang dijaga sama beberapa orang, terutama petugas parkir. Mereka tidak yakin bisa masuk dikarenakan bukanlah siswa dari SMA penyelenggara turnamen futsal. Ditambah lagi hubungan mereka sedang tidak akur.
"Gimana, Met? Kayanya kita ga bisa ngelihat cewek-cewek lagi deh. Bosan gue ngelihat cowok mulu di SMK," kata teman yang sedang diboncengi oleh Memet.
"Tenang, gue udah punya orang dalam. Gue juga kepingin kali ngelihat cewek sesekali." Memet mengengkol motor bebeknya. "Ayo, masuk aja."
Dengan sedikit keberanian mereka nekat untuk melewati pemeriksaan. Masing-masing dari mereka diperiksa, termasuk jok motor. Soalnya takut ada yang bawa senjata tajam dan minuman keras.
Panitia pemeriksaan pelototin mereka satu per satu. Untung aja panitianya merupakan anak OSIS cupu yang bukan anggota Antophosfer. Kalau dia anak Antophosfer, tentu saja ia akan mengetahui mereka siapa.
Njir, ni anak sok serem amat sih. Muka anak mami gitu, kata Memet dalam hati.
Mereka kembali diperiksa. Kantong baju, kantong celana, kantong semvak, kantong mata, semuanya kantong diperiksa.
"Kayanya gue jarang ngelihat kalian," kata panitia pemeriksaan.
"Iya, bang. Kami baru kelas 10. Liat aja mukanya cupu-cupu." Memet menunjuk wajah temen-temennya yang kaya tukang dan knek angkot. Serem dah pokoknya. Tau sendiri gimana anak SMK permesinan.
Ia pun mengangguk. "Oh, gitu ya? Yaudah masuk. Kalau ada yang nganggu kalian bilang aja sama gue ya ...."
"Iya, Bang. Makasih ya Bang ...."
Memet dan kelima temannya berhasil masuk. Tetapi gaya panitia tadi buat Memet jijik banget. Muka songong minta ditampol. Padahal mereka ga ada apa-apanya bagi Memet. Apalagi Memet dua tahun lebih tua dari angkatannya sekarang. Maklum, pernah dua tahu tinggal waktu di SD.
Hilih kint*l ... tapi ga apalah demi bisa ngelihat Tami.
Mata Memet mendarat ke mana-mana demi mencari Tami, sang pujaan hati yang baru. Sarah sudah tega meninggalkanya seorang diri. Padahal waktu itu dia lagi cinta-cintanya sama Sarah. Sampe-sampe Memet putus asa buat mencintai wanita. Waktu dia berusaha buat mencintai pria, eh malah ga bisa. Tambah jijik.
Lah, ada-ada aja.
Kevin dan kawan-kawan menyadari bahwa ada komplotan bebuyutan yang datang. Mereka dengan cepat menghampiri karena takut mereka bakal membuat keributan.
"WOI, NGAPAIN KALIAN DI SINI????!!!!!!!" teriak Kevin dari kejauhan.
Anjir, ada kevin ...
Memet membawa tenang dirinya untuk tidak terpancing emosi. Mereka sekarang sedang berada di kandang singa. Hatinya harap dan cemas karena Tami tidak kunjung ditemukan. Hanya dia usaha terakhir buat bisa tetap berada di sini. Tadi malam Memet udah minta perlindungan sama Tami buat bisa ngebela mereka kalau dihadang sama anak Antophosfer.
Ingat, Antophosfer itu persatuan seluruh anak berandal di SMA-nya Andi. Mereka acap kali bergesekan dengan SMK-nya Memet.
"Kami datang dengan damai, Vin. Jangan emosi." Memet menurunkan telunjuk Kevin yang mengarah ke arah mereka. Tampak juga pentolan anak KODOMO, seperti Pram dan Revin.
"Kalian bukan anak SMA kami. Cepat keluar sebelum kami yang ngusir."
Memet mendekat dengan perlahan. Ia memasang wajah dingin biar keliatan keren. Bibirnya mendekat ke telinga Kevin. Wajahnya langsung berubah menjadi memelas.
__ADS_1
"Kevin, kasih kami kesempatan buat ngeliat cewek sesekali, dong. Kasian tau di sekolah kami ga ada cewek, cowok semua. Lo mau kamu jadi gay gitu? Kasih kesempatan dong. Berbagai itu indah, Vin."
Memet yang gagah perkasa berubah menjadi memelas seperti ini. Mukanya keliatan kasian banget, kaya jones akut puluhan tahunan. Kevin jadi tersentuh hatinya melihat Memet yang sengsara begini karena kejonesan.
Gue mengerti perasaan lo, Met. Gue juga jones.
Tapi, demi menjaga harga diri ketua KODOMO, Kevin ga akan mungkin mengalah. Ia tetap teguh dengan keputusannya.
"Ga bisa. Kalian harus get up dari sini," kata Kevin dengan menambahkan sedikit bahasa inggris biar keren.
Tapi bahasa Inggris-nya salah. Kampret banget.
"Get out ... bukan get up ... bahasa inggris lo berapa, sih?" kata Pram di belakang.
"Iya, itu maksudya. Get off!!!!!" teriak Kevin pada Memet.
Pram mengehela napas lagi. Udahlah sok keren, bahasa inggrisnnya salah lagi.
"Kevin, get out ... get out ... get out ... makanya kalau di kelas bahasa inggris jangan molor."
"Pokoknya itulah."
Perbincangan panas terjadi antara Kevin dan Memet. Memet bersikeras buat bertahan di sini untuk sekedar mencuci mata karena di SMK mereka ga ada satu pun cewek. Kadar jones mereka sudah diambang batas. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sementara itu, Kevin tetap tidak mau membiarkan mereka masuk dikarenakan bukanlah dari SMA mereka.
"Eh, kok ribut-ribut?" Tiba-tiba Tami nongol dengan wajah super imutnya.
"Tami???" kata Memet dan Kevin bersama-sama. "Oh enggak kok ... kami ga lagi ribut."
"Aku yang ngundang Memet ke sini. Ga apa-apa kan Kak Kevin?" tanya Tami.
Sentuhan Tami pada tangan Kevin membuat dirinya luluh.
"Oh, silahkan. Kalau untuk Tami sih semuanya kakak bolehin. Ngomong-ngomong ID LINE Tami kalau Tami ga keberatan."
"Nanti Tami kasih ya, Kak."
Kubu Memet dan Kevin pada mimisan semuanya. Gadis mungil bermata bulat itu selalu saja membuat para jones-jones berlutut pasrah. Alhasil, Memet dan teman-temannya diperbolehkan untuk main-main di sini.
Tami membawa Memet untuk berkeliling. Setiap langkah Memet tidak luput dari memerhatikan gadis di sampingnya. Rasa canggung menyelimuti, walaupun Tami juga merupakan teman masa kecilnya bersama Andi. Mereka bertiga selalu bermain bersama-sama dahulu. Dulu sih Tami ga seimut ini, tapi tambah besar imutnya tambah kelewatan.
"Tami, boleh geser dikit ga?" tanya Memet.
"Kenapa Met? Jalannya kan lebar. Ngapain geser."
"Bukan itu, geser imutnya dikit. Soalnya udah kelewatan."
SAVAGE!!!!!!!!
Handphone Memet bergetar ria di dalam saku. Tampak di layar handphone maminya Memet sedang nelpon.
Aduh, Mami ... jangan sekarang dong ... lagi sama cewek nih ....
__ADS_1
"Samlekom, Mi ... Memet lagi sama temen."
"Memet, tolong beliin santan ... Mami lagi masak nih. Ga bisa ditinggal."
"Kan, ada adek di rumah."
"Eh, adek lo masih umur 2 tahun. Digilas motor mau?"
"Oh iya juga ya."
Memet mengehela napas. Perkataan orangtua memang ga boleh dibantah, walaupun lagi bersama-sama calon masa depan. Ia mematikan layar handphone-nya dan berpamit pada Tami.
"Tami, gue pergi dulu, ya ... ada tugas negara yang ga boleh ditinggal. Ibu negara nelpon."
"Ibu negara? Ohh pacarnya nelpon, ya?"
Memet tertawa, udah tau dia jomblo setia yang tidak mengenal makhluk yang bernama pacar tersebut.
"Gue ga punya pacar, jadi tenang aja, ya ..."
KODENYA *** SEKALI!!!!!!
Motor bebek modif Memet terbang sekencang-kencangnya. Kalau lama-lama maminya bakal bisa marah. Ia tidak peduli walaupun lobang dan polisi tidur melintang di jalanan. Pokoknya gas aja terus. Pikirnya kalau ajalnya ga di sini, yaudah dia ga bakal mati di sini.
Pemikirannya pendek banget.
Ketika enak-enaknya menyalip sana-sini. Menyalip motor, menyalip mobil, menyalip truk, menyalip temen buat ngejar gebetan, terdengar suara motor yang lagi berserak dijalanan. Suara yang keras tersebut mengakibatkan seluruh perhatian jalanan tertuju kepada arah suara tersebut, termasuk Memet sendiri. Jalanan ini memang rawan kecelakaan. Apalagi di jam-jam sibuk seperti saat ini.
Tampak sebuah motor yang sedang tergeletak di tengah jalan. Banyak bagian-bagian motor yang lepas dan berserakan. Seseorang sedang digotong ke trotoar. Ia tampak tak berdaya. Orang-orang berkerumun untuk melihat keadaannya. Karena penasaran, ia mendekat untuk ikut melihat.
Untung aja bapak ini masih sadar, kata Memet dalam hati.
Namun, korbannya tak hanya satu. Terlihat dari kejauhan masih ada satu korban lagi dengan motor yang hancur parah. Bahkan kerumunan di sana lebih banyak daripada di sini. Ia mendekat untuk sekedar melihat. Namun, alangkah terkejutnya Memet melihat seseorang tergeletak tak berdaya di tepi trotoar.
Astaghfirullah!!!!!!!
Pertandingan Andi tidak berjalan dengan mulus. Ketika di laga semifinal yang sangat menegangkan ini, mereka mendapatkan lawan kelas 12. Ditambah lagi kelas 12-nya merupakan anak IPS yang terkenal kuat kalau pertandingan seperti ini. Mereka kewalahan di babak pertama dan ketinggalan satu gol.
Andi mengutuk-ngutuk wasit yang dinilai tidak adil dalam memimpin pertandingan. Sementara itu, teman-teman yang lain tampak putus asa di istirahat turun minum. Hati Andi semakin panas melihat salah satu dari lawan sedang menatap tawa padanya. Rata-rata orang di kubu lawan kali ini banyak yang tidak menyukai Anak Amak, khususnya Andi.
Tami berlari tergesa-gesa ke arah Andi sembari memegangi handphone. Napasnya tampak tidak beraturan, bahkan melebihi Andi yang sedang berkeringat.
"Telpon dari Memet," ucap Tami.
Ia mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Memet. Hatinya seakan berhenti berdetak untuk sementara. Darahnya bagai disumbat oleh kalimat yang menghantam keras. Lututnya goyah dan bergetar. Bibirnya tak sanggup lagi untuk berkata satu kalimat pun. Air matanya langsung deras membentuk garis tangis yang memanjang sepanjang pipinya. Hatinya pilu tergores luka.
APA? SARAH KECELAKAAN?????!!!!!!!!
Hanya hatinya yang mempunyai sedikit tenaga untuk berkata.
***
__ADS_1