Andi X Sarah

Andi X Sarah
36. Baiklah (SEASON 2)


__ADS_3


Baiklah



Semua peserta kemah terkejut ketika mendengar Ajiz yang tiba-tiba berkata kasar. Yang seharusnya ia merayakan kemengan, Ajiz malah langsung menjauhi kerumunan. Ia sempat ditahan oleh Naila, namun ia tidak peduli. Emosinya sungguh tidak terkendali saat ini. Bisa-bisa ia melakukan hal yang lebih dari tadi. Sudah lama ia tidak merasakan emosi seperti ini, semenjak memandang wajah Dandi yang meremehkannya ketika wajah Ajiz habis dipukuli.


"Sudahlah, nanti biar gue urus." Andi menarik tangan Naila.


"Tapi kan─" Kalimatnya dipotong oleh Andi.


"Lo ga ngerti masalah laki-laki ... jadi diam aja. Cukup fokus dengan pertandingan selanjutnya." Andi mendorong Naila ke arah panitia untuk melakukan lempar coin.


Tangan Naila mengepal semangat tatkala mata koin pilihannya keluar ketika dilempar. Seseorang yang tengah menatapnya menumbuhkan semangat baru untuk memilih lawan cewek. Wanita itu berada di pihak lawan yang akan mereka hadang di pertandingan ini. Ia merupakan adik bimbingan Kiki, si mantan Wakil Ketua OSIS.


"Gue milih lawan cewek!" teriak Naila sambil menunjuk seseorang. Ia merupakan cewek yang udah bikin kakinya bengkak waktu tanding bola api. " Tapi, gue mau lo yang jadi lawan."


Merasa terpanggil, wanita tersebut menangguk sambil maju. "Ayo, biar gue jatuhin lo ke sungai."


Mereka sama-sama ke ujung pohon dan merangkak ke tengah. Naila sempat jijik karena oli yang licin dan warnanya hitam. Namun, melihat wanita tesebut sudah berada di tengah. Ia memburu pergerakannya biar ga keliatan cemen.


"Awas lo, gue tarik tali beha lo, ya," ucap lawan.


"Ih, mana boleh pake tangan." Naila menunjuknya. "Gue bakal mukulin susu lo sampai tumpah."


"Gue yang bakalan gitu."


"Gue ..."


"Gue ...


"Gue ..."


"Gue ..."


"GUUEEEEEE!" Ini yang bicara Sarah. Soalnya risih ngeliat mereka bilang gue-gue-gue berkali-kali. "Ngapain sih kalian?"


"Eh enggak ada Kak," balas mereka berdua.


Peluit dibunyikan. Mereka saling pukul berkali-kali. Terjadi jual beli serangan, tangkisan, jual belinya ga pake utang ya, apalagi ditawar. Lah emangnya lagi jualan. Pokoknya seru sampai seluruh orang yang ngelihatin jadi geregetan ngelihat mereka gelud di atas pohon pinang. Tepuk tangan bergemuruh ketika lawan mengenai kepala Naila dengan keras. Berkat itu, Naila tidak ingin kalah dan membalas dengan perlakuan yang sama.


"Eh kont*** lo ya!" jawab lawannya.


"Ngomong lo ga bisa dijaga ya!"


Mereka bicara sambil mukul-mukul.


"Sakit anjing!" balas Naila karena kena pukul. Matanya jadi perih karena kena pukulan tersebut.


Matanya yang terpicing membuatnya tidak bisa melihat lawan dengan jelas. Sebuah pukulan telak membuat Naila terjatuh ke dalam aliran sungai. Suara teriakan orang-orang yang mendukung lawannya terdengar tatkala Naila memasuki air dengan kepala duluan.


Ingin rasanya menangis karena kekalahan ini. Naila hanya bisa menundukkan wajah karena dirinya lah yang telah menantang wanita itu. Ia berjalan dengan langkah yang tidak semangat. Apalagi aliran sungai cukup kuat dan hampir sedalam dadanya, jadi langkahnya semakin lambat.


Di tepian telah bersambut tangan yang mengulurkan pertolongan kepadanya. Ajiz telah berbalik melihat pertandingan. Walapun mereka kalah, Ajiz tetap menyemangati Naila dengan senyuman.


"Udah ga apa-apa ... ayo naik," ucap Ajiz.

__ADS_1


"Tapi kan kita kalah ... padahal lo tadi mainnya udah hebat banget." Suara Naila terdengar memelas.


Tangan Ajiz menarik Naila ke atas. Sebuah handuk ia lemparkan ke kepala Naila.


"Kalah itu biasa, yang penting kita bisa rela menerima kekalahan."


Naila hanya bisa memandang punggungnya karena Ajiz pergi setelah mengatakan hal tersebut. Sesuatu hal yang aneh ia sadari.


Dia akhir-akhir ini perhatian sama gue ya ...


Semuanya dipersilahkan bersih-bersih dan membereskan semua perlengkapan kemah karena sebentar lagi mereka akan kembali berangkat ke kota. Setelah bersih-bersih beres, mereka juga diperbolehkan makan siang dan mandi di air terjun untuk yang terakhir kalinya. Pengumuman dibacakan setelah itu di area kemah yang sudah bersih dari sampah-sampah yang berserakan.


Kelompok Andi bersorak ketika mereka mendapatkan peringkat ketiga. Terlihat Sarah mengejek Andi yang berhasil mereka kalahkan di klasemen akhir. Kelompok Kiki menjadi juara umum dan berhak mendapatkan piala besar yang akan diberikan selesai upacara hari senin esok. Walaupun tidak mendapatkan juara umum, Sarah cukup puas mendapatkan peringkat kedua. Terutama karena telah mengalahkan Andi.


Hatinya begitu lega tatkala seluruh adik bimbingan memeluk Andi dengan erat, tanda terima kasih mereka kepada Andi karena telah membimbing mereka semua. Momen ini juga menjadi momen terakhir di program bimbingan ini karena minggu depan sudah masuk masa ujian akhir semester ganjil.


Tali tas dikencangkan, langkah mereka dipersilahkan menuju ke bus masing-masing. Berbondong-bondong para adik bimbingan berebut tempat duduk nyaman di bus. Dua jam perjalanan memang tidaklah terlalu jauh, namun kualitas perjalanan tetap dipertahankan. Sementara itu, Andi tetap di tanah area kemah. Terdapat satu orang yang ia tahan karena kelakuannya tadi sewaktu pertandingan. Sudah sedari tadi Andi menahan.


"Siapa yang nyuruh lo teriak kaya gitu tadi?" tanya Andi.


Wajah serius Andi membuat Ajiz sedikit gentar. Ia merupakan senior yang paling ia segani di SMA dan kini sedang berusaha menekannya.


"Gue ga suka sama dia."


"Emang ada gue ajarin lo bilang kaya gitu di depan orang banyak." Andi menunjuk Ajiz. "Memang gue suka bilang kata kasar, tapi gue ga pernah di depan orang banyak. Yang ga kalah penting, ga pernah gue ngatain seseorang yang lagi jadi lawan gue di sebuah permainan. Ada gue ngajarin lo ngatain lawan waktu main futsal?"


"Enggak, Bang ... gue minta maaf," balas Ajiz sembari menunduk.


"Kalau lo ada masalah bilang sama gue."


"Ga ada masalah apa-apa," jawab Ajiz singkat.


"Lo kira gue ga tau yang lo katain itu anak Four Dogs?" tantang Andi.


"Jangan ikutan masalah gue ...." Ajiz berbalik arah tanpa memedulikan Andi.


Andi merasa diremehkan tatkala Ajiz berkata seperti itu padanya. Ia menarik Ajiz dan memegangi kedua kerahnya sambil dihentak menuju pohon yang tak jauh dari mereka.


"Kalau ngomong sama gue, lo liat mata gue." Mata Andi melotot begitu kesal. "Lo pasti diajakin gabung sama mereka?"


Tangan Ajiz mendorong Andi. Jika ia mau, mungkin ia masih berani menghantam senior yang sedang dihadapannya ini. Namun, Ajiz masih bisa menahan diri.


"Kalau gue gabung, emang kenapa?" tanya Ajiz.


Telunjuk Andi menempel pada dahu Ajiz. "Sekolah kita punya budaya ... berandalan kaya kita, harus gabung ke Antophosfer. Jika lo gabung sama kelompok yang musuhin Antophosfer, lo yang bisa hancur sendiri."


"Lo kira Dandi itu orang sembarang yang bisa dikalahin sama seseorang? Mereka bisa aja ngancuin Antophosfer dalam sebulan ini kalau mereka mau." Ajiz menggeleng pelan. Matanya tetap menatap Andi dengan berkaca-kaca. "Gue lebih tahu masa lalu dia. Dia itu berbahaya dan kuat. Meski begitu, gue ga bakalan gabung sama mereka."


Helaan napas Andi beriringan dengan lepasnya tangannya dari kerah Ajiz. "Gue ngelihat potensi lo. Lo bikin poros lo sendiri di angkatan kelas 10, lalu datang sama gue. Kita berada di Antophosfer sama-sama buat ngelindungin SMA kita."


Sebelah bibir Ajiz tersenyum. "Gue ga bakalan masuk sama salah satu kelompok, apalagi Antophosfer. Maaf, Bang ...."


"Alasan lo apa?" tanya Andi.


"Gue pengen berubah. Gue ga mau terlibat masalah lagi."


Andi membakar rokoknya sembari berjalan. "Suatu saat lo pasti butuh bantuan kami."

__ADS_1


"Gue bisa bertahan sendiri."


"Baiklah."


Percakapan tersebut berakhir alot sekali. Di bus, Andi tetap kepikiran bagaimana membuat anak kelas 10 bersatu dan bisa gabung dengan Antophosfer. Ia tidak terlalu bisa berharap dengan Arman karena ia kurang pandai me-lobby seseorang. Sebagai ketua angkatan kelas 11, Arman yang seharusnya mencari penerus mereka.


Ia sudah mendengar masa lalu Ajiz dari Kevin sendiri. Ajiz selama ini sering nongkrong di kedai KODOMO dan sering berbincang bersama Kevin. Dari sana ia tahu bahwa Ajiz bukanlah orang sembarangan. Ia merupakan pemimpin bagi kelompoknya dahulu. Namun, ia memilih untuk meninggalkan mereka karena tidak ingin terlibat masalah lagi.


Dua jam berlalu Ajiz masih merasa kesal karena Andi menekannya untuk bergabung dengan kelompok Antophosfer. Baginya, ia lebih senang sendiri dan memertahankan diri sendiri tanpa bantuan dari kelompok mana pun. Ia bukan orang yang baru saja terlibat dalam masalah kenakalan remaja seumurannya, sudah dari dulu ia sering terlibat dengan masalah itu. Berkat itu, ia tidak pernah merasa takut jika sewaktu-waktu ada orang yang ingin menghadangnya.


Bus sudah sampai ke sekolah. Masing-masing dari mereka mulai pulang ke rumah masing-masing. Sengaja Ajiz menahan langkahnya, ia masih nyaman dengan rokok di bibir sembari menatap wanita yang sendirian menunggu di bawah pohon. Wanita itu selalu dijemput oleh orangtua-nya. Ajiz selalu memperhatikan Naila tatkala pulang sekolah. Jika tidak dengan orangtua, maka ia menggunakan jasa ojek online untuk pulang. Jarang sekali wanita itu menggunakan kendaraan sendiri ke sekolah.


Motor Ajiz mendekati Naila. Hatinya memaksa untuk menghampiri.


"Pulang sama siapa?" tanya Ajiz.


"Oh elo ... sama papa. Cuma kok lama banget."


Ajiz memalingkan muka, sembari tersenyum licik.


HAHAHAHA ini kesempatan gue nih buat nganterin nih anak.


"Sama gue aja." Tangan Ajiz menepuk jok belakang.


Ember pun bersambut, dari tadi nih nungguin temen yang mau nebengin dia pulang. Dia ga mau lama-lama nunggu kaya gini. Soalnya menunggu itu tidak menyenangkan. Apalagi nungguin doi nembak, makin bikin susah.


Ga apa-apa jugalah Ajiz cuma pake motor. Naila orangnya ga terlalu gengsian amat.


"Boleh banget." Tanpa basa-basi duduk menyamping di belakang Ajiz.


Senyum Ajiz ngembang sebesar buah nangka. Jarang-jarang ada bidadari nyangkut di motor bututnya. Di jalan, Ajiz ga henti-henti ngucap karena tubuh Naila nempel-nempel mulu sama dia. Apalagi joknya baru dikasih kit, itu tuh pengkilap body motor. Jadi, joknya jadi licin gitu.


Terima kasih menyambut Ajiz tatkala ia sampai di depan rumah Naila. Senyum yang diberikan begitu santun melambai kepada hatinya yang sedang berbunga-bunga.


Inilah saatnya .... Ajiz bersemangat. Sudah saatnya ia menyatakan perasaannya kepada Naila. Walaupun ga sadar kasta, Ajiz tetap percaya diri.


"Naila gue suka sama lo."


...


...


Naila tak berekspresi sedikit pun. Senyum yang sedari tadi ia pasang, seketika luntur dihantam kalimat Ajiz. Tidak disangka seseorang yang baru mengantarnya pake motor butut, memberanikan diri buat nembak.


"Maaf, kayanya lo salah orang."


"Gimana salah orang sih? Gue kan lagi bicara sama lo."


Helaan napasnya terasa berat. Ia bukanlah orang yang pandai menolak perasaan pria.


"Yaa lo sukanya sama orang yang salah."


"Kenapa gue salah suka sama lo?"


"Gue ga nyalahin lo suka sama gue, tapi sekarang lo lagi salah karena gue udah suka sama orang lain. Maap." Naila berlari menuju gerbang rumahnya.


"Naila tunggu ...!" teriak Ajiz. "Andi, kan? Andi kan orang yang lo suka?"

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Naila. Ia tetap berlari meninggalkan Ajiz yang masih tertahan oleh pertanyaannya yang belum dijawab.


***


__ADS_2