Andi X Sarah

Andi X Sarah
37. Cewek Pesantren (SEASON 2)


__ADS_3


Cewek Pesantren



Lelah menghantarkan Andi pada tidur selama dua belas jam penuh di kamar. Selama tiga hari ini, ia tidak pernah tertidur pulas. Kepalanya sakit tatkala berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Silau mentari pagi jam sebelas dari jendela membangunkannya dari mimpi panjang tadi. Keberuntungan ia dapati tatkala sepiring lontong sayur dan segelas teh yang sudah dingin tersiapkan di meja belakar. Jarang sekali Mama menyiapkan sarapan seperti ini, kecuali tatkala ia sedang terbaring sakit.


Pesan LINE berbunyi menggema. Tangannya sigap menarik handphone dari balik bantal. Tertera nama Nanang telah mengirimkan pesan ke group.


**Nanang : WOI, babeh gue bawa anak pesantren cantik banget.


Agus : Ah masa? Ngapain juga bapak lo ngedatengin anak pesantren ke rumah.


Nanang : Ya kan babeh gue ustadz. Jadi sering bawa anak bimbingan dari teman-teman kyai-nya ke rumah. Katanya silaturahmi ... soalnya bapak gue juga jadi pembimbing lomba-lomba ngaji.


Felix : Ingat Nang ... lo itu ga cocok sama anak pesantren. Clubbing aja tiap malam.


Nanang : Ya elah ... sumpah cantik bener. Putih mulus kaya Andi, hidungnya mancung sempurna.


Andi : Ada apa nyebut nama gue?


Nanang : Ada cewek cantik ke rumah gue. Sholehah, wifeable banget ...


Andi : Semua cewek cantik yang lo bilang wifeable, Nang** ...


Jemarinya mematikan layar handphone. Ia santap lontong sayur yang mulai mendingin sembari nonton streaming kartun pagi.


Pintu terbuka tiba-tiba. Ia sudah menduga siapa yang akan datang tiba-tiba. Cuma satu cewek yang selalu ngebuka kamar dengan bar-bar begitu. Andi dengan cepat menarik selimut biar nutupin badannya yang ga pakai baju.


"ANDI!!!!!!!" teriak Tami dengan berlari dan menggeser Andi di kursi. "Liat siapa yang masangin ini?"


Tubuh mereka menempel satu sama lain. Kepala Tami menyender ke pundak Andi.


"Hey, gue udah bilang kalau masuk kamar gue ketuk dulu." Dada Andi berdebar-debar karena takut di eue sama Tami. "Tumben lo masang jilbab. Biasanya kek telon aja ke rumah gue."


"Ih mulut kamu itu ga bisa dijaga." Tami berdiri dan berputar agar gamis panjang beserta jilbabnya mengembang indah. "Tebak siapa yang masangin ini?"


"Yaa mana tahu gue ... Lo kan pande masang jilbab sendiri." Andi menyendok lontongnya kembali.


"Iya gue bisa, tapi kan ga kaya model beginian. Tebak dong ...." Senyum Tami seakan memaksa Andi untuk menjawabnya. Lagian Andi tetap aja ga tau.


"Apa susahnya ngasih tau gue!"

__ADS_1


"Ih, ini yang masangin Aisyah."


Andi terdiam sesaat.


*Aisyah adek gue?


Dia ke sini?


Kapan?


Ga percaya deh ... Tami semenjak gaul sama Sarah suka ngaco otaknya*.


"Jangan bercanda ... Aisyah itu masih di Sumatera Barat. Kampuang nan jauah di mato."


Tangan Tami menarik Andi ke lantai bawah.


"Tuh siapa yang lagi di dapur!"


Seakan tidak percaya, Andi menepuk pipinya berkali-kali. Seorang wanita tengah memotong bawang di meja dapur. Wajahnya mengikuti alur kecantikan Ibu, mata yang bulat serta bulu mata yang lebat melentik sempurna. Untuk ukuran wanita, ia termasuk tinggi, begitu anggun tatkala mengerjakan pekerjaan dapur. Ia menatap Andi dari balik matanya yang sayu.


"Uda Andi!!!" panggilnya.


"Adiak den ...."


Adik aku ...


Mereka berlari dramatis kaya di pilem-pilem yang ujungnya pelukan. Namanya kan juga rindu. Udah lama banget Andi ga ketemu sama adiknya sendiri.


"Bilo ka siko?" Andi memeluk erat adik manisnya. "Ndeh ... alah gadang Ais kini."


Kapan ke sini? Ndeh ... udah besar Ais kini.


"Uda lalok katiko adiak tibo. Adiak nio lanjuik sakola di siko."


Abang tidur waktu adik datang. Adik mau lanjut sekolah di sini.


Sementara itu, Tami cuma tegak berdiri sambil ngedengerin dua orang minang bicara. Pasti aja Tami ga ngerti, soalnya dia orang Sunda. Walaupun orang sunda, dia ga pande bahasa Sunda.


"Bahasa please ..." Tami senyum-senyum.


Andi dan Aisyah tertawa mendengar perintah Tami.


"Kamu dari mana? Kok pake baju bagus begini?" tanya Andi.

__ADS_1


Logat nada Aisyah memang terasa Minang-nya. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di ranah Minang, walaupun kedua orangtuanya memilih pindah ke Ibu Kota dan Aisyah tetap tinggal untuk belajar di pesantren milik keluarga.


"Ini ... dari rumah Ustadz Dr. Nazaruddin., Lc., MA ... Dia yang jemput Ais ke bandara karena diminta sama bapak kyiai di pesantren. Soalnya bapak Ustadz itu pernah ngebimbing lomba tilawah Ais selama dua bulan."


Andi dan Tami saling bertatap. Ustadz Dr. Nazaruddin., Lc., MA merupakan ustadz yang pernah ngeceramahin Anak Amak di sekolah karena bandel. Itu pun karena ada anaknya yang malah ikutan bandel.


Andi mendekatin telinga Tami. "Bukannya itu bapaknya Nanang, ya?"


Tami mengangguk setuju. Siapa yang ga kenal ustadz itu yang sering tampil di TV Nasional. Anaknya yang satu itu aja yang aga susah dibimbing, abang serta kakak-kakaknya pada beres semua.


"Tunggu bentar ya Ais ..."


Sebuah pertanyaan besar bahwa apakah cewek yang dilihat Nanang di rumah merupakan adiknya atau tidak. Ia cepat-cepat mengambil handphone buat menanyai Nanang.


Andi : Nang, cewek itu jilbabnya warna hitam trus bajunya itu baju batik, kan?


Anak bejat is typing ....


Nanang : Iya, *** ... kok tau?


Andi : Itu adek gue ******* ... dia baru aja pulang dari pesantren di Sumbar.


Felix : Beneran?


Agus : Adek lo yang cantik itu? Yang pernah lo tunjukin fotonya waktu itu?


Andi : Iya, oom-oomkuu.


Nanang : Wah, kayanya kita bakalan jadi saudara nih :D


Andi : GA BAKALAN *******!!


Agus : HHAHAHAHAHA


Felix : Masalah cewek kalian cepat ya ...


Nanang : Emangnya elu, HOMO!!


Felix : Ih, lo kira cewe-cewe chinesee di komplek gue ga pada naksir sama gue apa?


Agus : Yaa elo aja yang ga ada naksir sama mereka. Hahahah ....


Felix : Awas lo ya ... suatu hari gue bakalan dapat cewek ...

__ADS_1


Percakapan tersebut berakhir. Andi dan Aisyah berkunjung ke rumah Tami buat main-main di halaman belakangnya.


***


__ADS_2