Andi X Sarah

Andi X Sarah
127. Rencana KKN (SEASON 3)


__ADS_3

“Enggak kok, gue belum punya pacar. Kalau elo?”


Pertanyaan itu terngiang-ngiang oleh Memet hingga ke rumah. Bahkan, jawaban yang dijawab oleh Ipit turut berulang selayaknya kaset terputar di DVD. Senja yang bergema tadi sungguh berlangsung sangat lama, seakan waktu memperlambat diri agar Memet diberikan kesempatan untuk menikmatinya. Momen tidak sampai di sana, Memet turut mengantarkan Ipit ke rumahnya. Untuk pertama kali, Memet bersama seorang wanita tanpa merasa tertolak.


Ipit terlihat berbeda dari wanita pada umumnya, bahkan dari Tami sekali pun. Memang, Ipit jauh kalah cantik dari Tami yang beningnya bikin cowok pada pamling. Namun, Tami tampak intimewa dengan kesederhanaan pembawaan. Ia tidak terlalu mencolok ketika Memet menemuinya, tidak mengenakan pakaian modis, berbicara santai tanpa memelas. Terlihat jauh dari Ipit yang sedang berada di atas panggung. Jika di panggung, Ipit benar-benar terlihat seperti anak band punk yang sangar ketika memegang gitar.


Ternyata eh ternyata, Sarah melihat Memet berduaan dengan Ipit. Waktu itu, Sarah sedang berkelana berdua bersama Kelly di sekitaran belakang rektorat. Kesal karena Andi memilih bermain di dalam kolam, akhirnya Sarah memilih menghabiskan waktu bersama Kelly. Kebetulan sekali tatap pandangnya terlihat ke arah sepasang insan yang sedang duduk berdua di atas rumput sembari menyicipi pop aise blender.


Mulut Sarah udah kaya admin lambe turah. Keesokan harinya, ia membicarakan hal itu dengan Kelly. Ber-combo mereka berdua untuk menggibahi Memet dan Ipit. Sarah mengatakan Memet salah milih orang. Kelly ngatain Ipit dengan mempertegas jika wanita itu memang penggoda. Masa baru kenal udah duduk berdua begitu, menurut Kelly. Mumpung Andi belum tahu, ia berencana menyimpan cerita itu untuknya nanti. Sementara untuk Tami, Sarah masih mengurungkan niat untuk bercerita.


Secara pribadi, wajar saja Memet mencari wanita lain setelah berkali-kali secara tegas ditolak oleh Tami. Bukannya sekali, tapi Memet masih kukuh untuk memilih Tami selama ini. Reira pikir Memet sudah melebihi rasa kecewa sehingga ia melepaskan segala hal yang ia pertahankan. Tami tidak baik untuk kesehatan mental dan kesehatan dompetnya. Sudah jelas Tami jalan sama Pram dan sudah jelas pula kalau Tami itu jajannya banyak. Kan dia orang kaya, sementara Memet lebih baik menabung uang untuk keperluannya yang lain.


Karena udah dua hari tidak bertemu dengan Andi, ia berencana memergoki Andi langsung di kelasnya. Hari kemarin Andi beralasan ingin main warnet sama Felix dan Nanang soalnya mereka udah lama tidak main warnet lagi. Hari ini ia juga tidak membalas panggilan telepin dari Sarah.


“Samlekom!” Sarah mengetuk kelas Andi yang jadwalnya sudah ia miliki. Soalnya Sarah sempat memotret jadwal kuliah Andi yang tertempel di lemarinya.


“Maaf mbak, nyari siapa ya?” tanya seorang wanita berhijab. Jelas Sarah tidak mengenal wanita itu.


“Nyari Andi, ada nggak Kak?” tanya balik Sarah.


“Oh, tadi kelihatan sama Ari Kiting dan Nabe. Enggak tahu tuh ke mana. Cari aja di gazebo fakultas. Kalau enggak ada, cari aja di kantin. Soalnya mereka sering makan bareng di sana.”


“Oke, makasih ya Kak.”


Sarah menghela napas karena Andi berada di pergaulan sehat, yaitu bersama Ari Kiting dan Nabe. Meskipun cowok keriting itu aneh, Ari Kiting tidak termasuk orang yang macam-macam. Sementara Nabe, Sarah berharap ia memberikan pengaruh baik karena Nabe itu orang yang cerdas, terlihat dari Andi yang sering bertanya materi kepada wanita itu.


Tujuan pertama langsung ke kantin. Sarah melihat sekumpulan mahasiswa yang di sana ada Andi, Ari Kiting, dan Nabe. Namun, matanya lebih tertuju ke arah wanita tinggi di sana, yaitu Tasya.


“Eh Sarah … kebetulan banget lo di sini.” Tasya menarik tangan temannya. “Kenalin ini Aulia, temen jurusan gue.”


Sarah dan Aulia saling berkenalan kemudian. Seperti biasa, Sarah selalu cuek dengan orang baru, gelagatnya kaya mau ajak sparing karate aja.


“Ada rapat paripurna apa ini?” Mumpung Andi berada di samping Sarah, ia pun mencuibit kuat pinggan pacarnya itu. Lalu berucap kecil dengan penuh penekanan ke telinga Andi, “Lo ke mana aja sih dua hari ini?”


“Nanti dulu napa!” balas Andi pelan.


“Jadi gini, kan bulan besok kita udah KKN atau Kuliah Kerja Nyata⸺”

__ADS_1


Kalimat Tasya malah dipotong oleh Sarah.


“Udah tahu kepanjangannya,” balas Sarah.


Andi pun menoleh ke Sarah yang tiba-tiba menerobos kalimat orang lain. “Dengerin dulu napa Sar. Lo ini!”


“Heheh … ga apa.” Tasya menarik napas sesaat. “Mumpung bulan besok kita KKN, kenapa kita enggak bareng aja gitu.”


“Lah kan anggota KKN-nya ditentuin kampus,” sanggah Sarah.


“Bisa kok ngusulin proposal buat anggotanya. Jadi kita bisa bareng.”


“Kenapa harus bareng? Kenapa harus ngajak kami?” Sarah tidak mau kalah.


Andi hanya diam saja melihat kelakuan pacarnya itu. Semakin dilarang, Sarah malah makin menjadi-jadi.


“Ya … kita kan udah kenal. Jadi, mudah gitu buat koordinasinya besok. Gue udah ngajak temen jurusan gue, tapi banyak yang enggak mau. Gimana, kalian setuju ga kalau kita bareng?”


“Setuju banget ….”


Ternyata hanya Aulia sendiri yang menjawab. Aulia pun dilihatin masing-masing dari mereka, hingga ia menurunkan senyum.


“Loh, lo punya kawan juga di fakultas lain?” tanya Andi dengan heran. Soalnya selama ini anak itu selalu mengekor dirinya ke mana-mana. Bahkan, ke WC aja dia ikut.


“Pertanyaan macam apa itu.” Ari Kiting membuang muka.


“Gimana yang lain?” tanya Tasya untuk memastikan. “Gue yang bikin proposalnya, kalian tinggal ngumpulin fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa dan persyaratan lainnya. Oh iya, gue ngajak Rijik juga loh. Dia anaknya pekerja keras, kayanya cocok deh buat nanti.”


Masih belum ada yang mengatakan setuju. Namun, Andi sebenarnya ingin bilang setuju karena sedari dulu ia ingin KKN bareng bersama Sarah dan Nanang.


“Gue setuju deh ….”


“Andi?!” Sarah menoleh langsung padanya.


“Gue pengen KKN sama elo dan Nanang. Kan seru kalau kita bareng.”


“Andi ikut, gue ikut,” balas Nabe tanpa ragu. Tentu saja ia setuju ke mana pun Andi pergi.

__ADS_1


Tasya tersenyum mendengar respon dari Andi dan Nabe.


“Gimana kalau elo Sar?”


Sarah masih diam tanpa menjawab. Ia meminum kopi botolan milik Andi, padahal itu punya Ari Kiting. Pantes aja rasanya agak lain gitu.


“Gue pikir-pikir dulu ….”


Pembahasan KKN hanya sampai dipersetujuan Andi dan Nabe. Tasya memberi waktu kepada mereka selama tiga hari ini untuk memikirkan matang-matang rencana ini. Sementara itu, Tasya ingin mencari orang yang kemungkinan potensial mendukung program KKN mereka nanti agar kuota anggota terpenuhi.


Nabe juga mengajak Sarah agar ikutan. Namun, Sarah tetap menjawab jika masih pikir-pikir dulu. Pikir-pikir dulu hanyalah cara halus untuk menolak. Sebenarnya ia tidak mempermasalahkan anggota lain, hanya Tasya saja yang tidak ia sukai.


Sesampainya di rumah Sarah, Andi membujuk Sarah agar ikutan.


“Sar, ikutan dong. Gue kan pengen sama elo dan Nanang. Bayangin aja kalau nanti gue KKN reguler kaya biasa. Nanti banyak cewek-cewek yang godain gue.”


“Kaya ada aja yang mau ngegodain elo?!” Sarah malah menepisnya.


“Kenapa sih lo ga mau?”


“Ada Tasya, dia itu pengen sama elo aja tuh, makanya dia ngajak elo.”


Andi menyadari itu juga. Hanya saja, ia tidak sepenuhnya memandang hal itu sebagai sesuatu yang negatif. Dengan adanya inisiatif Tasya untuk mengajak mereka, semakin besarlah kesempatan Andi untuk KKN bareng bersama Sarah dan Nanang. Selain itu, Nabe dan Tasya juga sudah ia kenali sebelumnya, jadi sudah tahu karakteristik masing-masing. Andi malas untuk beraktifitas dengan orang baru.


“Jangan mikir itu dulu dong, lihat manfaatnya dong. Lo bisa bareng gue, Nanang, dan Nabe. Nabe juga baik sama elo, apalagi Nanang yang udah kaya sahabat dekat. Mikir ke sananya Sar, bukan masalah cemburu-cemburuan.”


“Lah, elo kok nyalahin gue?” tanya Sarah balik.


Wajah Sarah tampak emosian, Kalau udah begini, terpaksa Andi menjadi air kalau Sarah udah jadi api. Sama-sama mengedepankan ego, nanti malah jadi berantem. Urusannya panjang kalau berantem sama Sarah, soalnya dia sering menyangkutkan satu masalah ke masalh yang lain. Namanya juga cewek.


“Ya udah, gue kasih lo kesempatan buat mikir dulu. Manfaat yang udah  gue bilang, kita bertiga bisa bareng lagi kaya masih sekolah dulu. Andai aja Felix, Agus, Memet, dan Tami satu kampus sama kita, gue pasti ngumpulin kalian buat KKN bareng.”


“Gue tetep ga mau …”


Andi mengelus rambut Sarah. “Mikir dulu baru dijawab. Gue pulang dulu ya sayangku, cintaku ….”


Tatapan Sarah masih sinis kepada Andi hingga Andi benar-benar pergi dari rumahnya. Ia tidak menerima jika ada Tasya di sana.

__ADS_1


***


__ADS_2