Andi X Sarah

Andi X Sarah
129. Ajakan (SEASON 3)


__ADS_3

Memet walaupun tidak Andi, ternyata pria itu langsung cerita kalau mereka nongkrong bareng dan bahkan Memet ngantarin Ipit hingga ke rumah. Bahagia banget si Memet sampe hidungnya kembang kempis kaya terowongan meledak waktu Memet menceritakannya di pos ronda. Gimana enggak senang, mungkin saja hanya Ipit yang selama ini mau diajak berduaan sama Memet. Entah badai apa yang selama ini menutupi tampang Memet sehingga cewek-cewek pada nolak. Makanya waktu Andi ketemu dengan Ipit, ia sempat menggoda Ipit mengenai pendapatnya kepada Memet. Ipit pun malu-malu kaya tikus ketemu kucing, langsung lari.


Perihal rencana KKN, Andi sudah mendapatkan seluruh berkas dari Sarah, Memet, dan si cecunguk Kely. Masih kesal nih Andi dikatain mulu sama Kelly setiap ketemu. Ia pun mengantarkan berkas itu kepada Tasya yang berada di sekre BEM fakultas mereka. Dua kali ketuk, Andi mencapati ada adik tingkat dari jurusan lain menghampiri,


“Nyari siapa?” tanya pria itu dengan cuek.


Pengen Andi colok matanya segera karena songon minta ampun sama senior. Gaya berdirinya aja kaya nantangin untuk gelud. Padahal, wajahnya masih kaya anak mami yang kalau disamperin Memet langsung kabur.


“Tasya, ada?” Andi mencoba mengabaikan gelagat adik tingkat tersebut.


“Ga ada … lo siapa?”


Aduh … pengen Andi tarik nih adik tingkat karena ia tahu kalau sebenarnya sepatu Tasya ada di luar ruangan tersebut.


“Sorry-sorry banget nih ya ….” Andi nyelonong masuk. “Gue permisi dulu mau masuk.”


“Eh lo siapa sih main nyelonong aja?”

__ADS_1


Andi melihat tangan pria itu yang menarik lengan bajunya. “Lepasin ga?”


“Lo siapa? Itu gue tanya dulu?!”


“Gue Andi … puas? Lo tanya tuh sama senior BEM lo, dia tahu gue siapa ….” Andi menoleh ke arah dalam ruangan sekre BEM. “Rijek … gue dicegat anggota lo nih.”


Tidak lama kemudian, Tasya datang sembari melihat aneh kepada mereka berdua. Andi dan adik tingkat itu kaya pegangan tangan, tapi sebenarnya mau baku hantam. Hanya saja, Andi tetap berusaha tenang agar tidak memancing keributan. Sebetulnya, ia bisa dengan mudah mematahkan tangan pria itu dengan sekali hantaman karena posisinya rentan sekali.


“Andi ….” Mata Tasya memicing. “Kalian lagi ngapain?” tanya Tasya.


“Ini berkasnya Tasya.” Andi memberikan berkasnya tersebut kepada Tasya. “Bentar ya … gue ada urusan sama temen lo.”


“Lo ada masalah apa sih sama gue?” tanya Andi.


“Sorry Bang, gue ga tahu.”


“Gue tahu kalau sepatu Tasya ada di sana, makanya gue masuk. Eh elo malah ngalang-ngalangin gue, kek berasa hebat banget lo ya? Baru juga empat semester di sini.”

__ADS_1


“Sumpah bang, gue tadi ga tau kalau abang itu senior. Sorry banget ….”


“Sekali lagi lo gue lihat, awas aja. Gue ga peduli senior siapa yang ada di belakang lo ….”


Andi meninggalkan junior sombong itu di dalam WC, lalu pergi menuju tangga. Tasya tampak menunggunya di ujung tangga sembari memegang berkas yang Andi beri tadi. Ia tampak penasaran denga napa yang sedang Andi lakukan bersama teman Tasya tersebut.


“Andi … lo abis ngapain sama dia?”


“Biasa … ngasih pelajaran sama junior yang ga tahu diri. Masa lo dibilang ga ada di dalam ruangan, jelas-jelas sepatu lo ada di sana. Terus, wajahnya kaya ngajak nantangin gue gelut. Apa ga sakit hati gue. Untung aja tuh mukanya ga nyeremin. Kalau nyeremin, makin gue ajak gelud.”


“Segitunya lo ya Ndi. Jangan gitu lain kali ya. Hahah ….”


“Ajarin junior lo sopan santun lain kali heheh ….” Andi turun melalui tangga.


“Tunggu ….” Tasya menarik ujung bahu Andi, lalu melepaskannya. “Lo abis ini ke mana?”


“Ga ada, mungkin ke kantin buat makan.”

__ADS_1


“Makan bareng gue yuk ….”


Senyum Tasya bermaksud lain, Andi tahu sekali itu.


__ADS_2