
Mau tidak mau Andi mengantar anak itu ke kamar mandi perempuan. Teringat oleh Andi jika ia membawa rekan di sini, yaitu Taysa. Mau bicara sama guru yang lain, Andi takut menganggu jam mengajar mereka. Oleh karena itu Andi menghampiri Tasya yang ada di salah satu kelas. Wanita itu menoleh ketiak Andi melambai-lambai di sebalik jendela, padahal pintu terbuka lebar.
“Loh ada apa, Andi?” tanya Tasya.
“Ini … murid gue mau buang air. Masa gue yang cowok masuk ke kamar mandi perempuan buat ngawanin dia.”
“Oh gitu.” Tasya merendahkan tubuhnya untuk berbicara dengan gadis kecil itu. “Sama Ibu ya?”
“Ga mau … mau sama om aja.”
Lagi-lagi Andi tidak paham kenapa anak muridnya pada aneh-aneh, yang ini malah manggil om.
“Sejak kapan elo dipanggil om, sih?” Tasya memandangi aneh Andi.
“Ya mana tahu gue, murid gue kali ini memang absurd banget,” balas Andi sembari mengelus rambut muridnya. “Sama Ibu Tasya aja, ya? Ga apa kok, Ibu Tasya-nya enggak menggigit kok.”
“Ga mau … maunya sama om ….”
“Aduh .. gue kudu gimana ini? Katanya dia memang biasa dikawanin di kamar mandi,” ucap Andi kepada Tasya.
“Ya udah … kita bareng aja ke kamar mandi. Nanti ibu kawanin kamu ke sana ….”
Tasya meninggalkan anak muridnya yang sedang ditugaskan untuk mengerjakan tugas LKS. Melihat kondisi anak muridnya Tasya, berbeda jauh dengan murid Andi yang brutal minta ampun. Muridnya Tasya duduk dengan rapi sembari mengerjakan tugas yang sudah diminta sebelumnya. Meskipun masih ada yang bercerita satu sama lain, tetapi mereka tetap menjaga intonasi agar tidak mengganggu teman yang lain. Beda nih kalau dengan anak murid Andi, kalau bisa pakai toa, mereka bawa toa ke kelas agar meribut.
Langkah mereka beriring satu sama lain ke kamar mandi kaya pasangan muda yang udah punya anak umur sembilan tahun. Tasya menggenggam tangan murid itu, sedangkan Andi mengeluarkan jokes-jokes receh biar muridnya tertawa. Sesampainya di kamar mandi, Tasya mengawaninya dengan masuk ke dalam. Sementara Andi menunggu di luar sembari memerhatikan keadaan SD yang sederhana.
“Nah … pinter anak murid Bapak. Gimana udah lega?”
“Aneh-aneh pertanyaan elo,” sindir Tasya. Ia menoleh kepada murid cewek. “Sekarang kamu sama Bapak Andi ya.”
“Iya bu …”
__ADS_1
“Bilang apa ke Ibu Tasya?” tanya Andi.
“Makasih banyak ya Ibu …”
“Iya sama-sama,” balas Tasya.
“Thanks banget Tasya, gue balik dulu ke lapangan belakang.”
Sekembalinya Andi ke lapangan olahraga, tampaklah anak murid Andi yang makin kacau dan makin menjadi-jadi. Anak cowok kaya tawuran satu sama lain. Andi bingung kenapa di permainan futsal terdapat dua bola dalam satu permainan, parahnya lagi mereka menggunakan bola volley. Sekarang dunia permuridan Andi sudah terbali, bola fustal dipakai buat main volley, begitu pula sebaliknya bola volley dipakai untuk bermain fustal oleh anak laki-laki. Ada yang teriak-teriak karena digangguin, ada yang ngatain temennya eek di celana, ada juga yang mau pulang saja padahal bell pulang belum berbunyi.
“Ya Allah … hei … anak cowok! Bola volley jangan ditendang. Nanti malah lonjong kek kepala kalian!” Andi menoleh ke kanan kepada anak cewek. “Kalian juga, kenapa bola futsal dimainin buat voley? Aduuuh ….”
Andi terpaksa mengakhiri jam olahraga hari ini karena mereka udah kacau banget. Lapangan volley menjadi tempat mereka berbaris, sementara Andi berdiri di depan sembari membacakan absen, soalnya dia kelupaan tadi di awal.
“Dalam olahraga ini, kita harus main sportif. Tidak boleh memukul lawan, mengejek mereka, apalagi berbuat curang.”
“Dia curang Bang, masa main bola pakai tangan …,” tunjuk salah satu murid kepada murid lainnya. Murid yang ditunjuk kini planga-plongo karena tidak tahu kenapa ia disalahin temennya.
“Bang, bentar sekali mainnya. Main lagi dong.”
“Tidak boleh, ini udah mau berakhir jam olahraga. Sekarang adek-adek sekalian silahkan masuk lagi ke dalam kelas. Sampai jumpa lagi ….” Andi melambai kepada anak-anak muridnya.
“Yaah … ga asyik bentar banget.”
Bel istirahat berbunyi pada pukul setengah sepuluh pagi. Andi balik ke UKS yang dijadikan tempat ngumpul bagi anak-anak KKN nantinya. Ibu Kepala Sekolah minta mereka juga untuk membantu UKS jika ada murid yang sakit. Andi jadi teringat Sarah dan Kelly yang merupakan anak kedokteran.
Seseorang mengetuk pintu UKS, ternyata itu Tasya yang baru saja keluar dari kelasnya.
“Eh, Andi … cepet banget. Padahal bell baru aja bunyi.”
“Adooh … gue pusing dah ngelihat anak murid gue yang brutal,” balas Andi.
__ADS_1
“Lo laper ga? Makan yuk di kantin ….”
Kantin SD pasti banyak makanan-makanan unik yang cuma ada di SD-SD. Andi pun menyetujuinya karena perutnya sudah lapar. Sarapan tadi pagi ternyata tidak cukup untuk mengisi perut hingga siang. Maklum, perutnya Andi seperti gentong yang dikit-dikit langsung jadi lapar.
Kantin ramai oleh anak murid. Terdapat kantin yang memang dari penjaga sekolah, ada pula penjaja makanan yang berasal dari luar sekolah. Asyik juga melihat keadaan kantin yang ramai seperti ini, mengingatkan Andi terhadap masa-masa sekolahnya dulu, teruatama sewaktu SD. Tatkala itu, Andi suka sekali membeli mie instan yang langsung dibungkus pakai bungkus orginal mienya atau nasi goreng di dalam bungkusan plastik bening. Harganya tidak pakai mahal. Meskipun dengan porsi sedikit, sudah bisa mengenyangkan perut seorang anak SD.
“Pak, mie instannya dabel ya … minumnya teh sisri melati,” ucap Andi kepada pemilik kantin. Lalu, ia menoleh kepada Tasya. “Lo mau apa?”
“Sama, tapi mie instannya enggak dabel. Gila sekali makan langsung dua ….:”
“Nah … itu pertanda jika perut lo belum terlatih untuk makanan seperti ini.”
“Iya sih … soalnya gue dulu sekolah di SMA internasional gitu. Jadi, mana ada makanan beginian.”
Andi memaklumi Tasya yang bersekolah di sekolah elit. Wanita itu pada mau SMA di sekolah negeri seperti dirinya yang masih ngemis dana BOS ke pemerintah, itu pun masih ditilep katanya.
“Lah emangnya di sekolahan elo makanannya apa?”
“Ada ayam teriyaki, salad, onion rings, ada pasta, banyak deh pokoknya. Kalau minuman sih paling cuma jus, semacam minuman boba-bobaan gitu, coffe brown sugar. Kami di sana ada coffee shop-nya.”
“Beda banget ya sekolahan anak borju. Lah gue, makanan tiap hari di sekolah kalau enggak nasi goreng micin ya mie instan micin. Minumnya ini nih …” Andi menyentuh gelas teh sisri yang baru saja datang. “Kalau kaga ini, gue minumnya kopi granita atau kopikap. Dulu sih ga ada torpedo, kalau ada pasti juga gue beli.”
“Mana boleh sekolah gue begitu, Andi. Kalau kami sakit ginjal gimana ….”
“Gue kaga ada tuh sakit-sakitan gara makan yang begituan. Malah sehat begini badan gue. Heheh ….”
Candaan mereka pun berlanjut hingga selesai makan. Andi dan Tasya kembali mengajar ke kelas. Andi mendapatkan kelas yang relatif tertib untuk kali ini. Pada pukul dua belas siang, bel pulang berbunyi. Mereka pun kembali ke posko dengan cara berboncengan.
“Andi … pundak lo nyaman banget.”
Andi panik waktu Tasya tiba-tiba aja nyender. Padahal di depan sana anak KKN lagi nongkrong di depan posko.
__ADS_1
***