
Patah Hati
Tawa dan senyum bercampur bersama tatkala Bang JAI bercerita tentang keluguannya. Keluguan semasa SMA yang jenaka, pengalaman pahit bersama gebetan yang ga kunjung dijadiin pacar dan mantan, samai akhirnya membuat sebuah karya yang begitu memesona. Manja lekuk Naila tak bisa Andi hindarkan. Ia memang terlihat menawan. Tidak salah banyak pria yang mengincar dirinya. Senyumnya begitu maksimal berkat kata puitis dari penulis yang katanya terkenal itu.
Kok kesel banget ya aku :D
Naila mengangkat tangan ketika Bang JAI mengajukan sebuah pertanyaan berhadiah buku terbarunya. Semua bertepuk tangan, Naila maju ke panggung sembari malu-malu. Rias wajahnya bertambah merah, sang idola kini sedang berhadap-hadapan.
"Cie yang lagi sama pacarnya ...." Bang JAI mencoba merayu.
Para hadirin dibuat bertepuk tangan kembali ketika lampu sorot mengarah kepada Andi yang tengah menyilangkan tangan. Ya kali dia pacaran sama Naila.
Gue udah punya cowok ... eh cewek, WOI. Kalau ga terkenal udah gue ajak gelud nih Bang JAI.
Sebuah mic diberikan kepada Naila. Suara berdengung berbunyi ketika ia berusaha mengetuk ujungnya.
"Eh, enggak kok." Naila menggeleng. "Dia temen aku, kakak kelas sih."
"Wah, teman yang bentar lagi jadian ya?" goda Bang JAI kembali.
"Enggak kok, Bang. Sumpah cuma temen. Lagian dia udah punya pacar kok."
Ooohhhhhh .... seluruh hadirin seakan ikut prihatin ketika Naila mengatakan bahwa Andi sudah punya pacar.
Bang JAI menepuk-nepuk rambut Naila. "Tenang, lo masih muda. Banyak cowok ganteng yang lain kok. Hahah ...."
"Hahahaha."
"Oh, iya .. kebanyakan mukaddimah nih, kaya pidato di masjid. Nama adek manis ini siapa?" tanya Bang JAI.
__ADS_1
"Oh, nama aku Naila."
"Kalau abang yang katanya temen kamu itu?"
"Itu Andi."
"Hadirin, kalau Naila bisa menjawab pertanyaan, bakalan aku kasih buku gratis." Bang JAI menunggu tepuk tangan mereda. "Jadi, pertanyaannya ialah siapa pemeran utama wanita dan pria di novel Captain Reira? Mudah banget kan?"
Mic dengan cepat di dekatkan ke mulut Naila. Ini pertanyaan mudah. Memang, Naila belum pernah membeli buku tersebut semenjak resmi dirilis. Namun, ia selalu mendapatkan informasinya dari komunitas pecinta buku yang ia ikuti.
"David dan Reira, bang."
"100 juta rupiah ... eh salah," teriak Bang JAI. "Kamu berhak mendapatkan buku novel Captain Reira yang udah aku tanda-tangani."
"Makasih banget, Bang."
"Sama-sama sayangku." Bang JAI tetap memerhatikan Naila yang turun dari panggung. "Ya coba aja gue masih SMA, ya."
Acara talkshow sudah berakhir. Satu per satu para penggemar sudah mulai meninggalkan tempat. Percakapan antara penulis tersebut begitu membekas di hati Naila. Ia tidak henti memegangi buku tersebut di dada, sembari sesekali kembali memerhatikan tanda tangan penulis itu. Padahal kan ga bakalan berubah tanda tanga itu, eh karena saking senangnya Naila memandangi tanda tangan tersebut berkali-kali.
"Gimana udah senang?' tanya Andi.
"Udah, tapi ada yang kurang."
"Apa?"
"Gue laper."
Mumpung di depan lagi ada kaefci, Naila menarik tangan Andi untuk menuntunnya ke sana. Nih anak sering banget megangin tangan Andi. Memang sih, Andi ga masalah. Tapi kalau keseringan kan aneh aja. Tanpa perlawanan, ia mengikuti langkah Naila yang memasuki pintu kaefci.
__ADS_1
"Andi?" Seseorang menyapanya ketika ia hendak keluar bersama temannya.
Mata Andi terbelalak. Ia langsung melepaskan gandengan tangan Naila. Semua pengunjung kaefci dibuat terkejut tatkala wanita di hadapannya menjatuhkan segelas minuman cola yang sedari tadi ia pegang. Air matanya langsung mengalir deras berkat tidak menyangka jika Andi tengah bermain api.
"Jadi begini ya lo kalau lagi ga sama gue?" tanya Sarah sembari mendekat. Vanesa, sahabatnya tersebut menahan tubuh Sarah agar tidak terlalu memancing perhatian.
"Gue bisa jelasi─" Sebuah tamparan keras mengarah ke pipi Andi.
"Jelasin ini cuma salah paham? Sama kaya kemarin? Dia cuma temen dan adik bimbingan lo. Okkay ... gue percaya kalau pegangan tangan cewek cowok yang temenan itu adalah hal yang biasa. Okkay, gue sekarang percaya banget." Sarah menggeleng. "Gue ga bodoh, Andi. Gue murid paling tercerdas di SMA."
"Sarah udah ...." Vanesa tetap menahan tubuh Sarah.
"Ayo, Vanesa. Bukannya kita mau ke tempat lain lagi?" Sarah menggenggam tangan Vanesa. Sebelum melangkah, ia menyorot mata Naila yang tengah mendunduk pucat. "Senang kan lo sekarang?"
Sarah melangkah pergi sembari dikejar oleh Andi. Andi berusaha untuk menahannya, namun Sarah berkali-kali menolak.
"Sarah dengerin gue dulu, plis ..."
Usaha Andi berhasil. Ia berhenti.
"Gue ga ngerti Sar. Dia sendiri yang megangin tangan gue, bukan keinginan gue."
"Hah? Bukan keinginan lo? tapi lo senang kan? Kalau lo ga suka harusnya lo nolak. Selain itu, lo kira gue ga tahu kalian sering barengan. Salah satuya kali ini. Gimana bisa lo jalan sama cewek lain, sementar lo sendiri jarang banget ngajakin gue jalan."
"Lo yang selalu sibuk Sar. Lo sibuk les buat ujian akhir, lo sibuk sama kegiatan lo di komunitas motor, lo sibuk jadi pelatih karate, lo sibuk makanya kita jarang banget jalan."
"Basi tau ga? Lo itu yang jarang banget inisiatif buat jalan. Lo ga peduli sama gue." Sarah menggeleng pelan. "Gue udah merhatiin lo selama ini, gimana kedekatan lo sama Naila sejak awal. Kalian lebih dari teman dan saling menikmati."
"Sarah, ga gitu─"
__ADS_1
Air mata Andi mengalir di garis kekecawaan menatap kekasihnya pergi membawa benci. Hatinya pecah terburai menjadi keping-keping yang sulit untuk diretakkan. Arus yang tengah ia lalui begitu deras, benci menghantam dirinya. Sarah tak lagi menatap dirinya sebagai cinta. Cinta dan rindu yang selama ini mereka diskusikan berdua lenyap begitu saja, hilang tak bersisa.
***