Andi X Sarah

Andi X Sarah
38. Narkoba (SEASON 3)


__ADS_3

Pesanan sudah datang. Kakak-kakak warungnya pada ngelihatin para pria yang sedang mengelilingi meja waktu ngantar makanan. Siapa lagi kalau bukan Pram yang menjadi pusat perhatian. Waktu ngeletak makanan, ucapan terima kasih Pram bikin kakak-kakak warung jadi senyam-senyum. Ya namanya disenyumin cowok keren dan gagah seperti Pram, siapa yang enggak baper. Waktu Andi yang ngucapin terima kasih dengan senyum lebarnya, dia malah kena cubit sama Sarah.



Pokoknya Sarah kali ini harus makan mie instan dabel dengan esktra cabe rawit. Cuma Sarah sendiri yang memiliki porsi beda. Yang lain pada mesen satu porsi, eh Sarah malah mesan dua. Cabenya itu bener-bener bikin mules dan lambung Sarah udah kaya mesin giling yang bisa misahin biji-biji cabe. Andi disuruh nyobain kuahnya sedikit oleh Sarah. Tentu saja dia nolak. Udahlah masih ada sisa mual dan kepala sakit, Andi tidak mau malah sakit perut yang bakalan nyusahin orang se-mobil.



Berbeda jauh sekali dengan Tami yang cuma ngambil pisang goreng dan mesan teh hangat. Andi tahu banget nih kalau Tami hampir samaan nafsu makannnya sama Sarah. Kali aja dia enggak mau kelihatan norak di depan orang banyak. Bahkan, makannya udah kaya princess banget. Pisangnya dicuil dikit-dikit dan dimasukin ke mulut dengan pelan.



“Ayo silahkan makan ….”



Sarah seperti yang traktir hari ini. Tangannya terbuka untuk meminta teman-teman yang lain untuk segera menikmati makanan. Padahal kan Sarah yang ditraktir oleh Andi. Kadang Author kaga tahu deh kalau soal gadis itu.



“Sarah, kita nanti bakalan makan lagi loh,” ucap Felix yang keheranan dengan porsi Sarah.



Dengan tenang Sarah menuangkan saos pedes.



“Ya udah, gue makan lagi. Hidup jangan dibawa repot, ya kan?”



Tanggan Andi menyentuh ujung sendoknya yang panas. Sementara yang lain sudah menyicipi, Andi masih menundanya.



“Pram … Agus … apa kalian enggak ada menyikapi kasus narkoba di sekitaran sekolah?” tanya Andi tiba-tiba.



Pram dan Agus berhenti mendekatkan wajahnya ke sendok.



“Gimana?” tanya Pram ke Agus.



“Kalau soal itu, bukan gue yang menangani. Ada tim lain,” balas Pram.


__ADS_1


“Tapi bukannya masalah narkoba udah ada dari dulu?” tanya Nanang.



Dua kali ketukan tangan Sarah menghentikan pembicaraan mereja. Sarah meminta menghentikan pembicaraan serius tersebut dengan candaan. Dari tadi nih anak ngatur-ngatur mulu kek emak-emak. Waktu Andi memasukkan bakwan tambahan ke mangkuk Sarah, barulah Sarah makan lagi dan tidak menganggu mereka.



“Masalah narkoba itu udah dari jaman-jaman dulu. Temen-temen seangkatan gue juga banyak yang ketangkep gara-gara narkoba. Beberapa di antara mereka bahkan bandar.”



“Wilayah kita udah enggak aman. Kodomo sebagai yang megang wilayah sekitar sekolah juga enggak bisa ngendaliin wilayah. Udah banyak aja tuh preman-preman dari sekolah lain yang nongkrong di warung-warung. Padahal dulu kan pasti mereka segan karena tahu Kodomo. Makanya, penyebaran narkoba makin menjadi-jadi,” sambung Kevin.



“Masalahnya kami enggak punya wilayah seperti yang kalian punya. Anak Amak ya cuma nguasain satu warung,” balas Andi.



Kevin menoleh kepada Memet yang lagi ngunyah-nguyah santuy keripik singkong sambil dengerin pembicaraan.



“Kalau elo Met, gimana keadaan Prebep?”



Jemari Memet menunjuk dirinya sendiri.


“Tapi kan elo yang terkuat di SMK,” sambung Revin.



“Bener sih dulu gue diakuin orang terkuat di SMK, tapi ikan itu dulu. Satu hal yang harus lo ketahui, SMK kami punya sistem yang beda. Kalian punya Antophosfer, sedangkan kami punya satu geng yang nguasain satu sekolah. Jadi, di jaman sekarang udah ada geng lain dong yang nguasain sekolah. Kami enggak berhak ikut campur lagi karena udah alumni.”



“Kalau soal penyebaran narkobanya gimana, Met?



Karena ngelihat Sarah lahap banget makannya, Memet jadi pengen nyuap dengan besar suapan yang sama dengan cewek itu. Sungguh nikmat, ditambah lagi diselingin dengan ngelirik dikit-dikit ke Tami.



“Dari dulu narkoba juga tetap ada. Angkatan kalian pasti enggak pernah tahu kalau Bang Ali sering ngeganja di samping gue. Bahkan, senior-senior yang lain juga pernah nyabu dan malah nawarin gue,” ucap Kevin.



“Terus elo ikutan nyabu juga, Kevin?” tanya Sarah.

__ADS_1



“Ya enggaklah. Gue kan nge-gym dan pengen tubuh gue gede. Kaga maulah gue. Bisa-bisa gue kerempeng kek Nanang.”



“Jangan body shaming dong.” Nanang ke-trigger.



“Apa diangkatan kita juga ada yang terpengaruh dengan narkoba ya?” tanya Felix.



Seluruh mata tertuju kepada Felix. Pertanyaan tersebut benar-benar membuat penasaran setiap kepala di meja tersebut. Bukan karena tanpa alasan Felix melontarkan pertanyaan itu. Di antara tiga angkatan di masa sekolahnya Andi, hanya angkatan Andi yang benar-benar bersih dari narkoba. Tidak ada satu kasus pun baik yang berurusan antar personal maupun dengan polisi, menyangkut masalah narkoba. Sedangkan pada angkatan senior dan junior, masih terdapat laporan peredaran narkoba.



“Angkatan kalian bersih.” Kevin memastikan.



“Dari mana lo tahu?” tanya Sarah.



“Karena gue tahu siapa yang memegang kendali di angkatan kalian, yaitu Dugong. Sewaktu sekolah, enggak ada laporan angkatan kalian yang narkoba. Bahkan, setelah tamat pun tetap ga ada. Kalau pun ada, pasti udah nyampe beritanya di warung.”



Sarah memicingkan mata. “Gue heran nih kenapa kalian punya geng-geng begini. Udah kaya pos ronda tahu pakai punya wilayah segala.”



“Kami enggak punya wilayah,” sanggah Nanang.



“Ya itu karena kalian kurang orang. Masa mau tawuran cuma berempat.” Sarah ngeremehin Anak Amak. Bener sih yang apa dia bilang.



Kevin menyelesaikan mie instannya, lalu menyeruput kopi hitam hangat yang uapnya masih mengawang ke atas. Udara dingin di tepi tebing sangatlah syahdu apabila ditemani oleh segelas kopi. Tanpa ragu dan bimbang dengan lirikan mata Sarah yang memerhatikannya membakar rokok. asap pun bertebaran dibawa angin. Ia tahu sekali jika Sarah tidak menyukai seseorang merokok di hadapannya karena asap yang mengganggu. Tapi dengan jaminan dari Pram bahwasanya tidak ada pelarangan merokok sewakti liburan, jadi Kevin tenang-tenang saja.



“Bukan gitu Sar, kami itu punya geng biar kami punya perlindungan dari orang luar. Lo bayangin aja waktu pergi sekolah bawa duit lima belas ribu, terus dipalakin preman di bus kota. Lo bisa kaga makan di sekolah. Selain itu, kita juga antisipasi tawuran antar sekolah. Salah satu contohnya SMA kita dengan SMK Permesinan Memet.”



“Wisata masa lalu.” Memet tersenyum ketika mengingat masa-masa rivalitas yang kuat antara dua sekolah tersebut. Setiap generasi meninggalkan dendam tersendiri, termasuk Memet dan Kevin yang termasuk seangkatan.

__ADS_1



\*\*\*


__ADS_2