Andi X Sarah

Andi X Sarah
105. Jangan Ikut-Ikutan (SEASON 3)


__ADS_3

Baru kali ini Sarah melihat sebuah perkelahian memakai senjata tajam yang tentu saja mengancam nyawa seseorang. Senjata tajam bukanlah sebuah senjata tumpul yang sekali pukul masih bisa berdiri lagi, melainkan tertusuk hingga meneteskan darah. Ia yang belajar ilmu kedokteran bisa mempekerikan durasi waktu pendarahan seseorang hingga hilangnya nyawa. Terlebih lagi mata Sarah terbelalak tatkala Revin benar-benar mematahkan tangan musuhnya. Bunyi seperti patahnya sebuah pipa sampai hingga ke dalam mobil. Revin tidak seperti orang yang ia kenal, riang dan ramah, melainkan beringas jika didalam pertarungan.


“Ga usah lo pikirin yang tadi. Lo aman karena enggak ada satu pun orang yang melihat lo,” ucap Pram sebelum ia meninggalkan mobil.


Memang benar, ia akan aman dengan alasan yang disebutkan oleh Pram. Namun, ia khawatir dengan mereka karena sudah terlibat hal-hal seperti ini. Cukup sudah ia melihat tawuran antar SMA di depan mata sendiri yang menimbulkan korban luka dari pihak sekolahnya, ia tidak ingin lagi menyaksikan mereka terlibat pada hal yang sama.


Rasa khawatirnya membuat Sarah tidak tidur karena terus memikirkan Andi. Bisa jadi ia terlibat dan menjadi korban. Keesokan harinya di kala sore menanti, ia mengunjungi rumah Andi. Dari pagi hingga siang, ia sama sekali tidak bisa menemui Andi yang sedang berkuliah. Sembari membawa bakso bakar yang Sarah beli di lapangan volley belakang komplek, Sarah bertandang ke rumah Andi.


“SAMLEKOM!!!”


Sarah masuk tanpa mengetuk. Ia tahu jika mamanya Andi sedang tidak ada di rumah karena sedang bermain volley bersama ibu-ibu komplek. Tentu saja ia tidak bisa masuk menyelonong begitu saja jika mamanya Andi ada di rumah.


“Wah, Uni Sarah … nyari Uda Andi?” tanya Aisyah yang sedang duduk di sofa sembari nonton film.


“Iya, nyariin Andi. Ituh … hape lo ada yang nelpon.” Sarah memerhatikan handphone Aisyah yang berdering karena ditelponin orang. Matanya memicing ketika melihat nama Bang Agus dengan fotonya berbaju polisi di hape-nya Aisyah. “Lah kok Agus?”


Sontak hal tersebut membuat Aisyah membalikkan layar hapenya.


“Ini … hmm … itu Mas Agus memang suka nelpon gini.”


“Lah kok bisa?” Sarah menyempatkan nimbrung dulu duduk di samping Aisyah. “Oh … gue tahu … hmm … jangan-jangan … hmm … sudah kudagi … eh kuduga.”


“Bukan gitu kok, Uni. Hmm … Mas Agus sering nanyain Uda Andi ….”


“Udah manggil Mas aja? Jarang-jarang orang manggil dia dengan sebutan Mas.” Sarah tersenyum curiga. “Jangan bohong deh lo Aisyah. Lo itu kalau bohong ampir sama kaya Andi, hidungnya kembang kempis kaya celeng.”


Aisyah menyentuh hidungnya sendiri, perasaan ia tidak pernah seperti itu. “Beneran deh Uni ….”


“Kalau lo diganggu sama Agus, bilangin aja sama gue. Biasa tuh polisi-polisi baru lulus lagi gencar nyari dedek gemes. Lo jangan sampe terpangaruh sama dia ya, Agus itu ditaburin biji wijen.”


“Iya Uni … dia nelponin Aisyah mulu!”


Langsung Sarah mengambil alih handphonnya Aisyah, lalu mengangkat panggilan dari Agus. “Hallo!”

__ADS_1


“Hallo Dek, Adek lagi di mana?” tanya Agus dari telpon.


“Kapalo ang tu Adek!” Sarah langsung menyebutkan kalimat yang sering diucapkan oleh Andi dengan bahasa minang. Kapalo ang tu artinya ialah kepala anda itu dengan konotasi negatif.


“Waduh kok elu Sar?”


“Malah nanya lagi … jangan telponon adek gue ini ya. Awas lo gangguin dia lagi, gue obrak-abrik warung bakso lo itu sama pegawainya sekalian!


Bunyi berdengung panjang ketika Agus mematikannya dengan sepihak.


“Nih udah … dia ga bakalan gangguin Aisyah lagi.”


“Makasih banyak ya Kak hehehe ….” Aisyah jadi senang karena tidak diganggu oleh Agus lagi.


“Jadi di mana Andi?”


“Itu lagi di gazebonya Kak Tami. Dia lagi sama temannya bikin tugas.”


Sarah berdiri kemudian. “Oke deh, makasih ya adekku.”


“Waah … Nabeee ….”


Nabe pun terkejut melihat sikap Sarah yang terkesan menyambutnya secara hangat. Bahkan, mereka cipika cipiki dulu. Mau tidak mau, Nabe pun harus membalas dengan hangat pula.


“Eh Sarah … akhirnya kita ketemu ya di sini.” Di dalam hati Nabe berkata, ni anak sok asyik banget kayanya sama gue. Kan kita sebenarnya saingan ….


“Andi mana?” tanya Sarah.


“Itu lagi nyari minuman sama Ari Kiting. Betewe, lo mau ngapain?”


“Hmm … ini ….” Sarah meletakkan bakso bakar yang ia beli di belakang komplek. “Mau ketemu Andi juga.”


“Tunggu bentar aja sih Andi bentar lagi bakalan datang.”

__ADS_1


Sarah menawari bakso bakar yang ia santap dan Nabe pun menyicipinya juga, mumpung lagi lapar juga.


“Gimana Andi, ada banyak ga cewek di kelasnya yang ngegatel?”


“Hmm … ada sih. Mau gimana pun Andi itu punya daya tarik sendiri, jadi ada aja tiap hari cewek di kelas yang ngegatel,” jawab Nabe dengan menutupi fakta jika dirinya juga sering merayu Nabe. Tapi tidak apa-apa Sarah menanyakan hal itu, lebih baik kia menyingkirkan saingan-saingan lainnya sehingga hubungan Andi dan Sarah tidak banyak penganggu. Jadi, ia tidak khawatir jika Andi punya banyak selingkuhan. Ia pun masih bisa dekat dengan Andi, meskipun pria itu sudah mempunyai pacar.


“Lo bilang ke gue ya kalau Andi ada yang ngedeketin. Gue akhir-akhir ini agak was-was sama dia. Semenjak ….” Sarah mengingat nama Tasya di benaknya. “Hmm .. ya adalah cewek yang berusaha ngedekatin Andi.


“Lah, lo kok ga curiga sama gue sih? Heheh … kan gue tiap hari sama Andi.” tanya Nabe.


“Ya, lo kan memang udah jadi temen deket dia dari semester awal, sama Ari Kiting juga. Jadi, wajar aja kalian sama-sama terus. Dia gitu juga kok, gue juga banyak temen deket cowok, tapi dia enggak merasa was-was. Yang gue takutin nih, cewek-cewek di luar sana yang datangnya entah dari mana.”


Ingin sekali Nabe tertawa di dalam hati karena sebenarnya Andi hampir saja bercumbu dengannya ketika berada di kos. Untung saja Andi masih punya pendirian. Jika tidak, perselingkuhan level tertinggi pun sudah terjadi. Dengan tidak curiganya Sarah terhadapnya, Nabe jadi senang karena hal tersebut.


“Oh oke makasih deh udah percaya sama gue ya Sar ….”


“Iya, gue juga senang kalau Andi punya temen-temen dekat di fakultasnya. Kaya elo dan Ari Kiting. Lo tahu sendiri Andi jarang mau bergaul semenjak kuliah.”


“Lah, emangnya sebelum masuk kuliah Andi gimana?” tanya Nabe penasaran.


“Dia itu termasuk jajaran anak famous loh di SMA. Mantannya aja kakak kelas paling cantik pada masanya. Terus, adik kelas juga pada ngincarin Andi. Yaa … gue yang burik ini beruntung banget dipilih sama Andi.”


Iya Sar … lo beruntung banget …., ucap Nabe di dalam hati.


Tidak lama kemudian, Andi dan Ari Kiting datang melalui pintu samping pagar rumah. Andi melihat pergerakan Sarah yang begitu cepat ke arahnya, seperti seorang huluk betina yang ingin mengamuk segera. Ari Kiting ternyata menyadari hal tersebut, ia pun mendorong ke Andi ke depan untuk melindungi diri. Sudah tobat bagi Ari Kiting melihat Sarah yang marah.


Dengkul Andi langsung ditendang sama Sarah.


“Lo kok ga bilang-bilang Kevin habis dibacok sama gue? Terus kalian lagi bermasalah sama preman-preman itu?!”


Andi sontak kesakitan karena dengkulnya abis ditendang sama Sarah. “Lah, Kevin yang kena bacok malah dengkul gue yang lo hantam?!”


“Lo jangan ikut-ikutan!” protes Sarah sembari memasang muka ngambek.

__ADS_1


Ari Kiting dan Nabe tertawa melihat tingkah pasangan yang satu itu.


***


__ADS_2