
Sarah selain lucu dan imut, terkadang ia bisa menjadi beruang yang tidak ingin diganggu. Kondisi tersebut dibenarkan oleh Tami setelah melakukan penelitian dari observasinya tersebut. Seminar penelitian dilakukan di depan Andi dan kawan-kawan dengan segala pertanyaan absurd dari mereka semua. Dapat disimpulkan, selain menjadi huluk yang suka nabokin Andi dan teman-temannya sewaktu dahulu, Sarah bisa jadi berantakan kaya beruang betina yang diganggu anaknya.
Yaitu kalau lagi lapar ….
“GUE LAPAR!!!!” Sarah bangkit dari ranjang tempat tidurnya yang berantakan.
Muka panda Sarah sungguh berantakan. Lusuh sekali seperti rambut acak-acakan yang sedang ia lihat di cermin. Daster yang ia pakai tersingkap sebelah karena abis guling-guling, lalu nampaklah tali temali warna cokelat yang ia tutup dengan segera. Sarah berjalan seperti zombie buat cuci muka. Masih dalam keadaan belum mandi sore, Sarah tinggal make parfum biar ga bau. Bermodalkan hoodie motif tangan metal hadiah ulang tahun dari Andi, ia pergi segera untuk mengambil motor mautnya tersebut.
“Anak gadis papa mau ke mana?” tanya papanya lagi mainin burung.
*Loh, kok mainin burung* …
Ya kan papa Sarah punya burung sendiri, masa mainin burung tetangga. Burung murai batu maksudnya ….
“Laper, Pa. Mau nyari makan ….”
“Anak gadis keluar malem gini. Udah jam sebelas ini loh,” balas papanya Sarah.
“Ga boleh nikah lagi loh nanti Sarah bikin,” ancam Sarah.
“Oh, silahkan … cepet beli makanannya. Makan yang banyak ….” Papanya Sarah balik mainin burung murai batu kesayangan.
Ancaman Sarah ternyata berhasil. Jadi gini, papanya Sarah itu kan duren alias duda keren. Sudah lama papanya menjanda, eh menduda, sehingga sering sekali ia kesepian di tengah malam tanpa orang yang nemenin tidur. Sarah pun udah terlalu gede buat tidur sama papanya, padahal waktu kecil Sarah enggak mau tidur kalau papanya enggak ada di samping. Sebulan lalu, papanya Sarah dikenalin sama ibu-ibu yang berprofesi sebagai guru. Selain pintar fisika, beliau terbilang masih cantik untuk wanita berumur empat puluhan. Jadi, papanya Sarah terpincut dan mulai melakukan pendekatan.
*Cerita dulu ni ye* ….
Sarah awalnya biasa-biasa aja kalau papannya sering keluar kalau enggak lagi kerja. Soalnya Sarah tahu kalau papanya punya hobi mancing dan mainin burung, maksudnya kontes burung dengan kicau paling menarik. Papanya juga sering nampak di pos ronda sambil main catur atau domino. Bahkan, akhir-akhir ini malah sering ngajakin Andi buat main bola PS. Sialnya lagi, Sarah makin kesel nih karena papanya itu malah beli PS4 biar enggak main ke rental lagi.
Nah, Sarah lama-lama heran kenapa papanya sering harum banget kalau keluar. Masa kalau cuma mancing atau main bola ps sama Andi harus rapi dan harum sekali. Awalnya papa Sarah cuma pergi pakai motor butut sehari-hari, eh sekarang perginya malah pakai mobil atau minjam motor trail milik Sarah. Enggak mungkin dong ya kan pergi mancing pakai pakaian rapi, harum, dan rambut klimis cuma buat mancing. Emangnya ikan sekarang cuma makan umpan pemancing yang goodlooking. Kalau iya, sama aja dong kaya cewek-cewek jaman sekarang, ini curhatan author.
Rasa penasaran Sarah mengantarkannya buat ngikutin papanya waktu pergi. Memang, papanya Sarah tetep bawa pancing di dalam mobil, tapi masa harus rapi banget gitu. Sarah pun membawa Andi dan memaksanya buat bawa pancingan buat jaga-jaga kalau papanya beneran pergi mancing. Alangkah terkejutnya Sarah ketika penelusuran mereka ke rumah seorang wanita. Sebagai wanita, Sarah pun memuji ibu-ibu tersebut yang masih dengan wajah glowing dan tubuh seperti gadis. *Positif thingking* aja kalau ibu-ibu tersebut sering perawatan dan nge-*gym*.
__ADS_1
Ternyata eh ternyata, mereka pergi ke sebuah café, lalu makan berdua dengan romantisnya. Ala-ala detektif gitu, Sarah dan Andi mencoba masuk sambil ngambil area yang sedikit tertutup. Bukannya fokus memerhatikan papanya sendiri, Sarah malah bikin tekor Andi gara-gara Sarah mesen makanan. Andi pun bingung dengan gelagat papanya Sarah yang tidak biasa. Ia sudah tampak seperti fakboy legenda jaman tujuh puluhan yang sedang melakukan aksi kembali di jaman milenial. Pokoknya Andi hapal banget nih kalau cowok ngedeketin cewek.
Nah, suatu hari Sarah dikenalin tuh sama ibu-ibu yang namanya Ibu Nessa. Karena muka papanya Sarah udah kek ga tahan lagi buat nikah, Sarah dengan senang hati menyetujui rencana pernikahan mereka. Sebentar lagi Sarah punya mama baru, deh ….
Balik lagi ke Sarah yang lapar banget ….
Waktu ngelewatin pos ronda, Sarah melihat Andi lagi jongkok sambil main catur di lantai. Lawannya ialah preman komplek yang pernah Sarah bikin lari gara-gara berani ngegoda Sarah waktu awal kepindahannya ke sini.
“Andi, gue laper nih. Makan yuk ….” Sarah berhenti di depan pos ronda.
Andi menoleh ke arah suara brutal motor Sarah. “Bentar, gue taruhan minuman seribuan nih.”
“Naik atau gue yang main caturnya?!”
“Kayanya gue cabut dulu, deh. Ibu negara ngamuk. Lo tahu sendiri, kan.” Andi minta izin sama lawan caturnya tersebut.
Alhasil Andi jadi bucin sebentar buat ngawanin Sarah makan. Syukurnya, Sarah mau mentraktir Andi yang lagi enggak bawa dompet.
“Terserah, gue makan apa aja bisa. Omnivora soalnya,” balas Sarah.
“Tau bakso baru di jalan simpang baliho partai banteng yang gede itu ga?” tanya Sarah.
“Oh, baliho yang ada kepak-kepak sayap itu?” Andi diam sebentar buat mengingat lokasi bakso tersebut. “Oh, gue tau banget. Walaupun cuma bakso gerobak, tapi ramainya pakai banget. Kayanya enak, deh.”
“Ke sana aja. Kalau enak, besok-besok kita bisa ke sana lagi. Gue nyaman soalnya di situ bisa ngelihatin baliho gede.”
“Apa enaknya ngelihatin baliho gede itu?”
“Berasa jadi komisaris ….”
__ADS_1
“CHUAKSSS!” Andi tertawa keras.
Berangkatlah Andi ke sana dengan kecepatan rendah kek orang lagi pacaran. Tangan Sarah ngelingkar di pinggang Andi sambil nempelin dagunya di atas pundak Andi. Angin sayup-sayup menerka berdua. Walaupun dingin, tapi kehangatan dari Andi bikin Sarah nyaman banget. Canda-canda manja bergema di malam itu, bahkan membuat rembulan pun iri kepada mereka. Soalnya, bulan cuma sendiri tanpa bintang yang menaungi. Biar ngerasa romantis, Andi memegang tangan Sarah dan itu bikin iri jomblowan-jomblowati waktu mereka berhenti di lampu merah. Pokoknya dunia ini serasa milik mereka berdua dan orang lain cuma ngontrak.
Mereka parkir di indoapril terdekat sambil beli minuman. Andi yang lemah karena kalau minum dingin tenggorokannya malah bengkak, Andi request sama Sarah buat nyari minuman yang di luar kulkas.
“Ini kayanya kita bakalan lama deh dapet makanannya. Apa enggak mau di tempat lain aja?” tanya Andi.
“Enggak sopan deh, kita kan udah duduk di kursinya, masa mau pergi,” balas Sarah.
Andi menyentuh pundak Sarah. “Yaudah, jagain kursi gue biar enggak diambil orang lain. Biar gue pesen dulu ke abang baksonya.”
“Mienya dabel, baksonya juga dabel. Terus bungkus satu buat papa, porsi normal aja.”
“Sekalian aja gerobaknya gue beli sekarang buat lo makan.”
“Kan lo enggak bawa uang.”
“Iya juga, ya ….”
Andi sedikit kesulitan buat manggilin abang baksonya karena dia sibuk sekali ditambah pembeli yang sedari tadi ribut buat mesen makanan. Ia berusaha mendekat biar abang baksonya tahu kalau ada pelanggan yang bakal makan di tempat.
“Bang, baksonya tiga, dua makan di sini, satunya bungkus. Yang satu mienya dabel plus bakso dabel, yang satu bakso biasa aja. Bakso bungkus juga biasa.”
“Iya, mas. Tunggu bentar ya lagi ramai⸺”
Abang bakso dan Andi saling bertatap-tatapan kaya cinta pandangan pertama. Mata Andi memicing curiga, sementara abang baksonya malah melotot sambil kumisnya naik turun.
“Lah, lo kan AGUS!” Andi nunjukin abang bakso yang mulai berpaling wajah dairnya.
*Lah, dia kok tahu gue, sih! Padahal udah nyamar*!
__ADS_1
\*\*\*