
Tangis
Menjelang hari-hari terakhir sekolah, Andi lebih banyak memurungkan diri sendirian. Entah kenapa ia berperilaku seperti ini, sebagai orang yang telah menjadi kekasih seseorang, seharusnya ia tidak berpergian bersama wanita lain. Keras hati menegaskan bahwa itu hanya jalan-jalan biasa, namun tetap saja tidak bisa. Ada sebuah dinding yang menghalangi atas dasar janji setia.
Sarah tidak berbicara dengannya semenjak tiga hari ini. Semua pesan yang telah ia kirimkan tidak ada satu pun ia baca. Setiap kali ia berusaha berbicara, Sarah selalu menghindar dan membuang muka. Ia tidak bisa terus-terusan begini. Sarah merupakan orang yang ia cintai. Namun anehnya, tidak ada kata putus semenjak hari itu. Hanya hal kecil tersebut yang bisa membuat Andi lega.
Hatinya senyap, tidak ada yang mengisi hari-hari yang berharga. Patah hati yang ia dera seakan membuat hatinya dipenuhi oleh rasa penyesalan. Ia tidak ingin hati ini kosong, berharap dialiri rindu yang dikekang. Namun apalah daya, semua usaha telah sia-sia.
Tidak hanya Anak Amak saja yang kebingungan ketika Andi lebih banyak menarik diri. namun Aisyah juga. Sedih rasanya melihat saudaranya tersebut mengekang diri di dalam kamar sembari mengunci pintu. Kadang ia masuk untuk mengantar makanan karena menyadari bahwasanya dapur tidak kunjung Andi sentuh. Terpaksa Aisyah mengantarkan sepiring makanan.
"Uda, buka ... ini Aisyah," ucap Aisyah dengan logat Minang yang kental.
Berkali-kali ia ketuk pintu hingga akhirnya Andi membuka hati untuk menarik gagang pintu.
"Uda, makanlah ...." Aisyah masuk ke kamar untuk meletakkan makanan di atas meja belajar.
Ia tatap kamarnya tampak gelap dan berantakan. Tirai jendela tidak dibuka, begitu pula jendela. Terasa pengap dan panas. Aisyah menyadari jika ada satu masalah yang tengah dihadapi oleh saudaranya tersebut.
"Uda kenapa? ada masalah?" tanya Aisyah.
Muka Andi udah kaya pengangguran yang lagi sakaw sabu. Ga keurus dan bau kaya wibu yang maraton anime sepanjang malam. Kasurnya aja kusut kaya abis dijadiin tempat eue. Sampah-sampah minuman bersoda dan sampah makanan ringan berserakan di sekitarnya.
"Ga ada sih. Uda cuma mager. Bosan nunggu sampai pengambilan raport."
"Kalau ada masalah, cerita aja ke Ais."
"Iya, Ais ... Uda baik-baik aja ga ada masalah." Andi mengelus rambut adiknya.
"Bagaimana kabar Uni Sarah?" tanya Ais.
"Baik-baik aja kok."
"Oh gitu ya ..." Aisyah mengangguk. "Uda, Mama nyuruh Uda buat balek kampung. Uda kan udah lama ga balek, trus nenek udah sering sakit-sakitan. Mama kan baru aja seminggu kemarin balik, jadi mumpung Uda mau libur, disuruh ke sana sama Mama."
"Iya, ya? Masa?"
"Iya, kemarin mama cerita sama Aisyah. Katanya tiket udah dibeli, tiket bus. Biar Mama yang ngambil raport. Uda mau balik?" tanya Aisyah.
__ADS_1
Dahi Andi mengernyit. Ia tidak bisa membayangkan bagaiamana dua hari dua malam di dalam bus. Ditambah lagi kalau diperjalanan sering mual.
"Ah, indak do. Panek naiak bus tu, Lamo bana," jawab Andi dengan Bahasa Minang.
Ah enggak, capek naik bus itu. Lama sekali.
"Kan tiketnya udah dibeli." Suara Aisyah memelas.
"Itu tuh, Mama itu sering kali buat keputusan ga dirundingin dulu."
"Ya mau bagaima lagi, Uda. Kayanya Uda harus balik. Udah lama kan ga ke Bukit Tinggi?"
"Iya sih ..."
Bukit Tinggi merupakan salah satu kota madya di Provinsi Sumatera Barat yang terkenal dengan objek wisata Jam Gadang, sebuah peninggalan masa penjajahan yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Kota tersebut merupakan kota kelahiran Andi dan di sanalah ia memulai kehidupan balitanya, sebelum pindah ke Padang untuk beberapa Tahun. Ketika ia beranjak SD, papa Andi di PHK dan beruntungnya kembali diterima bekerja oleh salah satu perusahan di Jakarta. Terpaksa Andi beserta Aisyah dibawa ke sana oleh orangtua mereka. Selang beberapa tahun kemudian, papanya dimutasi ke Padang dan hanya sekali sebulan menjenguk Andi ke Jakarta.
Bel berbunyi, Aisyah ke bawah untuk melihat orang yang telah memencet bel. Tidak lama kemudian, Aisyah kembali ke kamar Andi sembari menyebutkan sebuah nama, yaitu Naila.
Andi dengan cepat menuju ke bawah untuk melihat apakah benar-benar Naila yang tengah berkunjung. Belum sempat Andi keluar rumah, ternyata wanita itu telah duduk di ruang tamu.
"Mau apa lo ke sini? Udah gue bilang kan, kita seharusnya ga ketemu. Mengertilah keadaan, Nai."
"Lo ga kelihatan dua hari ini. Ke sekolah cuma buat cabut aja. Ketiga teman ******* lo khawatir, makanya gue ke sini. Ternyata benar, lo lagi berantakan." Mata Naila menyorot penampilan Andi yang lagi berantakan. Rambutnya acak-acakan banget.
"Oh begitu, selain itu, gue khawatir sama lo. Gue takut kalau lo benci gue," ucap Naila.
Naila begitu cemas semenjak kejadian itu. Memang, semua ini karena dirinya. Hal ini tidak akan terjadi jika ia tidak membawa pergi. Yang tidak kalah penting ialah jika selama ini ia menjaga jarak kepada Andi yang sudah memiliki seseorang. Perkataan wanita di malam perkemahan tersebut ternyata benar, kedekatan dirinya dan Andi bisa membuat hubungan mereka meretak.
"Gue ga benci sama lo. Gue benci sama diri gue sendiri."
"Sebaiknya lo bicara semua ini ke Sarah baik-baik."
"Gue harap juga begitu."
"Oke, cuma ini tujuan gue ke mari. Gue mohon pamit." Naila beranjak ke pintu.
Minuman baru saja diletakkan di meja tamu, namun Naila sudah beranjak pamit. Tidak sedikit pun minuman tersebut disentuhnya.
"Lo pulang pake apa?"
"Pake ojol."
__ADS_1
"Sini gue anter."
Naila menggeleng. Ia cemas jika hal yang sama akan terjadi.
"Enggak, gue pulang sendiri aja. Lagian, lagi ada diskon besar-besaran," balas Naila.
Langah Andi mendahului Naila keluar. Ia tarik tangan Naila menuju ke mobil dan memasukkannya dengan paksa.
"Gue bilang gue mau pulang sendiri."
Bunyi musik terputar di dalam mobil. Perlahan mobil meninggalkan rumah menuju kediaman Naila. Pernyataan Naila tidak sedikit pun ia respon, menoleh pun tidak. Tidak ada yang perlu dibahas. Ia tidak tega melihat Naila datang berkunjung cuma buat perbincangan singkat tersebut. Padahal, rumahnya cukup jauh dari rumah Andi dan membutuhkan biaya yang lumayan besar kalau menggunakan ojek online.
"Lo suka sama gue?" tanya Andi.
Sontak Naila langsung menoleh. Matanya membesar tanda tak percaya jika Andi berani mengatakan hal tersebut.
"Gue tanya, lo suka sama gue?" paksa Andi.
"Enggak," balas Naila dengan singkat.
"Trus kenapa? Lo nyaman pergi sama gue, lo mau aja dekat sama gue, dengan santainya ngegenggam tangan gue."
Mobil berhenti tepat di gerbang rumah Naila. Naila sempat terdiam sejenak demi memikirkan kalimat apa lagi yang akan ia lontarkan.
"Lo nangis ...." Perlahan telunjuk Naila menyapu segaris air mata Andi yang turun.
"Jawab pertanyaan gue, Nai!" bentak Andi.
Naila kembali menarik tangannya. "Gue baru pertama kali dapet temen cowok sebaik lo, sejujur lo, dan ga punya maksud lain kalau mau deket sama gue."
"Ga ada maksud lain?" tanya Andi lagi.
"Enggak, gue sama sekali ga punya rasa sama lo." Naila kembali menatap Andi yang tegang dengan segaris air mata di pipinya. "Kenapa lo nanyain ini?"
"Gue cuma penasara." Suara kunci mobil berbunyi, pertanda Andi mempersilahkan Naila untuk turun. "Maaf, gue bentak lo."
"Iya, gue minta maaf bikin lo sedih."
Naila turun tanpa menoleh. Hanya kalimat itu yang ia ucapkan untuk pamit. Suasana di mobil itu canggung sekali, ia tidak sempat berpikir dengan jernih untuk memulai percakapan yang tepat. Tanpa disadari, air matanya menangis tatkala ia memasuki kamarnya. Ia sandarkan tubuh ke pintu sembari membekap mulut. Tangis pecah tak tertahankan. Isakan terlalu keras untuk diucapkan. Naila menangis sembari menahan, semua ini salahnya.
Perasaannya membuat ia buta jika pria itu sudah ada yang memiliki.
__ADS_1
***