Andi X Sarah

Andi X Sarah
97. Jangan Sampai (SEASON 3)


__ADS_3

“Gue mau main futsal.”


Bukan dari mulut Andi yang mengucap kalimat itu, melainkan Sarah yang ingin main futsal bersama teman-teman SMA-nya dahulu. Seminggu yang lalu, anak cewek angkatannya Sarah berkeinginan buat bikin Basah Day, alias olahraga bareng sebagai ajang ngumpul-ngumpul lagi. Sebagai cewek angkatan yang paling doyan olahraga, Sarah pun semangat untuk ikut serta dalam Basah Day tersebut. Akan ada banyak cewek-cewek angkatan SMA mereka yang berada di sana.


Tentu saja Tami diminta ikut oleh Sarah. Tidak ada alasan jam kerja karena Basah Day diadakan pada hari sabtu, alias Tami akan libur. Mereka berdua tentu saja tidak punya sepatu futsal. Mumpung Andi banyak mengoleksi sepatu futsal berkat hobinya tersebut, Andi meminjamkan sepatu futsal lamanya yang sudah kekecilan kepada Sarah dan Tami. Kalau mau beli baru harganya mahal. Kalau mau dibeli yang KW, baru aja dipake sekali paling sudah robek. Mending Andi meminjamkan sepatunya dan syukurlah pas di kaki mereka masing-masing.


“Cocok ga?” tanya Sarah ketika dijemput oleh Andi memakai motor gedenya. Sarah menunjukkan baju Real Madrid dengan nama belakang Abang Cristiano Ronaldo.


Andi perhatikan gadis itu dari bawah ke atas. Ternyata baju lama pemberiannya masih muat dipake sama dia. Padahal, Andi membelikannya sewaktu masih di akhir-akhir masa SMA.


“Cocok kok.” Andi menepuk jok belakangnya. “Naik cepet.”


“Tumben pakai motor keren?” tanya Sarah melihat motor gede Andi yang jarang sekali ia pakai. Biasanya dia memakai motor mamanya.


“Mobil dipakai sama Aisyah, motor dibawa sama Mama. Jadi, gue keluarin motor yang ini.”


Sarah menunjuk curiga. “Bilang aja biar kelihatan keren di depan cewek-cewek kan?”


“Iya, kan gue dulu cowok keren di SMA.” Kembali Andi menepuk jok belakangnya. “Cepetan dah naik. Tami udah pergi dari tadi loh.”


“Oke sayangku, cintaku.” Sarah naik ke motor. “Nih gue kasih peluk di belakang.”


Tangan Sarah melingkar di pinggang Andi sebagaimana biasanya mereka berboncengan. Kalau makai motor ini, tentu saja membuat tubuh Sarah cenderung jatuh ke depan. Biasanya nih, cewek-cewek pada bangga dibonceng pakai motor begini dan nempelnya lengket banget sama cowoknya. Author sering dibikin iri karena sehari-hari cuma makai supra geter kaya Andi.


Sesampainya di tempat futsal langganan anak SMA mereka, terlihatlah teman-teman SMA mereka yang sudah lama tidak bersua. Tidak hanya anak cewek, melainkan juga ada teman cowok angkatan yang datang. Tentu saja mereka tidak ingin melihat pertandingan futsal anak cewek. Area futsal yang biasanya dua lapangan, kini dibuka jaringnya agar bisa memainkan lapangan  yang lebih luas dan menampung pemain lebih banyak juga.


“Vanesaaaa!” panggil Sarah sambil meluk gadis itu.

__ADS_1


Sahabat Sarah dari kelas satu SMA itu sangat senang melihat Sarah yang datang. Karena dia bakalan jadi satu tim dan sudah dipastikan menambah kekuatan timnya. Tajuk pertandingan kali ini ialah IPA vs IPS, sehingga gengsi jurusan pun dipertaruhkan.


“Kaki lo udah pemanasan dulu kan.”


Sarah langsung memperagakan tendangan taekwondo yang sempurna mendekati kepala Andi. Andi terkejut waktu melihat Sarah bisa melakukan itu, padahal Sarah itu spesialisasinya ialah karate.


Anjir, punya jurus baru nih anak, ucap Andi di dalam hati.


Sebagai mantan Ketua OSIS, Sarah tentu saja dikenal kalangan angkatan mereka. Sarah pun disapa-sapain sama teman seangkatan, seakan udah jadi seleb. Andi jadi nganggur tidak diajak ngobrol dan akhirnya sadar diri kalau hari ini adalah hari para cewek, Jadinya, Andi bergabung ke rombongan cowok yang di sana ada komplotan Dugong.


“Tami dari dulu enggak pernah luntur manisnya yaa ….,” puji Dugong sewaktu Tami berlari sebagai pemain belakang tim IPA. Anak manja itu tampak ngos-ngosan mengejar bola dan malah teriak waktu ditabrak lawan.


“Jelas dong … apalagi waktu dia tinggal di rumah gue. Auto ngelihat bidadari tiap hari,” balas Andi.


Dugong dan Hasbi langsung ngelihatin Andi. “Lah kok bisa?”


“Saudara sih saudara, takutnya elo embat juga,” sindir Hasbi.


“Ya elah, lo mau gue dibacok Sarah?” Andi melihat Sarah yang membawa bola dengan gagah perkasa di bagian tengah lapangan. Beberapa cewek dapat ia lewati dengan mudah.


Tidak lama kemudian, Andi menerima telepon dari Revin. Matanya langsung melotot waktu mendengar penjelasan dari Kevin. Melihat Andi yang tidak seperti biasa, Dugong dan Revin pun menjadi penasaran.


“Ada apa?” tanya Dugong.


“Kevin dibacok ….” Andi bergegas pergi meninggalkan mereka. Ia ingin melihat keadaan Kevin yang sedang tidak baik-baik saja.


“Lo mau ke mana?”

__ADS_1


“Ke rumah Kevin, dia sekarang di sana.”


Dugong memberikan sinyal kepada anggotanya untuk ikut bersama Andi ke rumah Kevin.


Andi tidak menyangka jika Kevin bisa dibacok. Hal itu memberi pelajaran kepada Andi bahwasanya orang paling kuat sekali pun bisa tumbang kalau ditebas senjata tajam. Sekuat dan pemberinya seseorang, pasti selalu ada celah untuk diserang. Rasa cemas itu berkutat di pikiran Andi sewaktu membawa motornya ke kediaman Kevin. Hal ini sudah tidak wajar karena sudah hampir mencelekai orang lain dengan cara kriminal. Bisa saja Kevin tidak selamat setelah dibacok.


Rumah Kevin sudah ramai oleh para anak Kodomo. Abang-abang komunitas ojek online-nya baru saja meninggalkan rumah Kevin. Ajiz meminta Andi dan Dugong untuk langsung masuk ke dalam rumah Kevin. Terdengar suara tangsi ibunya Kevin di dalam kamarnya. Andi jadi tidak tega untuk masuk dan membiarkan keadaan reda terlebih dahulu. Setelah ibunya keluar, barulah Andi, Dugong, dan Pram masuk.


“Ya elah emak gue ini berlebihan banget. Nangisnya kaya gue udah mati aja.”


Kepala Kevin langsung ditaplok sama Pram. “Eh anak jahannam, wajar emak lo nangisnya begitu sambil marahin elo. Anaknnya baru aja dibacok, goblok!”


Makian itu langsung membuat Kevin terdiam.


“Bisa lo tunjukin luka lo ke kami?” tanya Andi.


“Kalian mau lihat?” Kevin memutar tubuhnya perlahan sembari membuka kaosnya. Terlihatlah punggung Kevin yang sudah diperban. Luka bacokan itu memanjang secara vertikal. “Dulu gue pernah lebih parah dari ini. Untung aja jaket ojek online gue itu tebel, jadi lukanya enggak dalam.”


“Jadi, sebenannya siapa yang ngelakuin ini semua?” tanya Dugong.


Ia melihat ke arah pintu biar emaknya Kevin tidak mendengar. “Entahlah, mereka pakai penutup kepala. Motornya udah dicabut plat nomor belakang dan depan. Waktu mereka ngebacok gue, gue langsung jatuh. Dia nginjakin gue sampai habis dan handphone gue dibanting sampai hancur. Untung aja gue masih bisa berdiri dan mereka enggak ngapa-ngapain motor gue, jadinya gue bisa ke klinik sendirian.”


“Pasti ulang geng kriminal itu,” balas Andi.


“Pokoknya jangan satu pun orang yang bilang ke emak gue tentang itu. Biar aja mereka tahu kalau gue itu dibegal, bukan karena ada kelompok yang musuhin gue. Dan gue minta sama kalian, jangan pernah mengusik kelompok itu sampai gue sehat. Untung aja itu terjadi ke gue, kalau ke kalian … bisa-bisa kalian mati di tempat.”


Andi menelan ludah membayangkan hal itu terjadi padanya.

__ADS_1


***


__ADS_2