Andi X Sarah

Andi X Sarah
155. Drama Sore (SEASON 3)


__ADS_3

Muka bapaknya Sofi beneran seram. Beliau punya kumis tebel yang bikin angin aja ngeluh  buat masuk ke hidung. Tatapannya kecil karena bermata sipit, tapi sinisnya seperti Maya yang lagi mandangin Andi. Kayanya Maya bener dah turunan dari bapaknya sendiri. Kalau berbicara dengan suara berat dengan sedikit serak-serak basah. Yang paling nyeremin itu hobinya yang suka berburu pakai senapa angin. Mungkin saja setiap cowok yang nyariin Sofi ke rumah bakalan engap-engap waktu ngelihat bapaknya.


Duduklah Andi dan Nanang di hadapan Pak Alam. Maya duduk dipangkuan bapaknya sambil memandang sinis kepada Andi. Sementara Sofi diminta untuk membuatkan dua cangkir teh.


“Ngerokok kalian?” tanya Pak Alam.


“Enggak Pak heheh ….” Andi menolaknya.


Jelas dong Andi menolak karena merokok di hadapan orang yang lebih tua itu terkesann tidak sopan, terutama untuk mereka yang dari orangtua belum dibolehin ngerokok.


“Ah masa ga ngerokok. Cowok itu ngerokok.” Pak Alam menghentak kotak rokok malrobo. Jelas banget bapak-bapak kaya yang beli rokok itu. Buat mahasiswa seperti Andi sepertinya dia harus mengurangi jajan yang lain kalau mau beli rokok itu langsung  satu bungkus. “Ngerokok ga?”


Suara Pak Alam ini seperti maksa. Mulut Andi yang asep pengen ngerokok ditambah gelagat Pak Alam yang dari tadi minta mereka ngerokok, Andi pun menyeret kotak rokok ke hadapannya.


“Ya udah deh Pak. Kami jadi perokok.” Andi ngambil sebatang, lalu memberikannya kepada Nanang.


“Minta sebatang Pak.” Nanang menunduk.


“Jangan kaya orang susah rokok kok ketengan,” balas Pak Alam. “Jadi … kamu yang mau dekatin anak saya?”


“Eh enggak kok Pak. Saya mah cuma KKN doang. Kaga ada niat mau nyari cewek,” balas Andi dengan logat sehari-harinya.


“Ah … bohong kamu. Kata Maya kamu tiap hari chat anak saya.”


Nanang sontak menatap Andi. “Ndi, beneran lo ngechat Sofi? Parah banget lo.”


“Sueer dah Pak, kaga ada saya ngedeketin tuh gadis. Sumpah pocong saya Pak.” Andi memohon-mohon.


Datanlah Sofi dengan dua cangkir minuman yang diperuntukkan kepada Andi dan Nanang.


“Jadi Sofi, mana cowok yang mau mendekati kamu itu? Tunjuk aja ….”


“Eh Bapak, enggak ada kok abang-abang ini mau begitu. Mereka kan anak KKN desa ini,” balas Sofi.


“Bapak, ini Om Andi ini yang mau ngedeketin Kak Sofi.” Maya ngomporin. “Kemarin datang ke sini, sekarang datang lagi. Sebenarnya Om pengen sama Kak Sofi kan?”


Sumpah nih bocil makin lama makin makin aja. Dibiarin malah ngelunjajk. Dilawan malah Andi takut sama bapaknya. Jadi serba salah Andi di sini.  Untuk tidak memperpanjang pembicaraan absurd ini, Andi menyerahkan kertas proposal itu kepada Pak Alam.


“Gini Pak, kami mau ngadain acara tujuh belasan. Jadi butuh dana sekitar lima belas juta. Rincian dananya ada di proposal.  Silahkan Bapak baca dengan detail, seluruhnya untuk suskes acara tersebut. Ini beda Pak, soalnya ini proposal buat toko. Kami tidak memaksa besaran sumbangan, seikhlasnya saja,” jelas Andi.


“Ah … jangan kaya orang susah dong. Masa lima belas juta saja acara ini. Kemarin lebih dari segitu ….”


Anaknya bawel, bapaknya songong. Memang parah nih keluarga.

__ADS_1


“Heheh … maklum Pak lagi krisis Pak. Katanya taun ini minyak dunia naik, terus minyak goreng juga naik. Masa Pak mahal banget minyak goreng sekarang. Katanya negeri ini banyak minyak sawit, hutan aja pada ditebang buat nanam sawit. Parahnya lagi banyak yang nimbun Pak. Emak saya di rumah sampe ngomel-ngomel kebawa mimpi⸻”


Nanang menyenggol Andi yang malah curhat tentang kenaikan minyak goreng. Soalnya sekarang di berita pada viral tentang gaibnya stok minyak goreng subsidi empat belas rebu seliter.


“Fokus Ndi, proposal … bukan keadaan ekonomi …”


“Sorry Pak kurang fokus.” Andi berdehem sejenak. “Khmm … saya lanjutin yah. Nah, begitu Pak.”


Kalau cuma begitu, sama saja tidak melanjutkan kalimat. Pak Alam tetap dengan wajah cool.


“Sofi, minta sama ibuk duit.”


“Iya Bapak ….”


Sebanyak apa pun duit Bapak, pasti akhirnya yang megang Ibuk. Begitulah sistem umumya keluarga. Jadi, bapak-bapak itu sebenarnya tidak punya duit. Duit itu punya bini.


Sofi datang dengan lima lembar duit pecahan seratus ribu. Andi meminta Nanang mencatat nama Pak Alam.


“Pak … ditulis hamba Allah atau nama bapak ….”


“Ya nama saya dong. Jangan kaya orang susah. Lengkap dengan gelarnya ya,” balas Pak Alam.


“Pak … bapak kan ga pernah kuliah,” ucap Sofi sambil berbisik.


“Oh iya ya?” Pak Alam menahan pena yang digenggam Nanang. “Ya udah, Hamba Allah aja. Malu saya ga ada gelar.”


“Jadi kamu kapan bawa anak saya pergi jalan?” tanya Pak Alam di depan teras.


“Lah Bapak, saya bilang ga ada deketin Sofi.”


“O ya udah ….”


“Ya udah …” Andi ga mau kalah cuek.


Tangan Nanang menarik Andi segera. Perdebatan ini bisa berlanjut kalau Andi ngeladenin mulu. Selama di jalan Andi mengeluh seberapa anehnya bapak dan anak bocilnya itu. Satu songong, satu lagi bawel. Yang normal cuma Ibu Titin dan Sofi, soalnya mereka satu tipe, yaitu ramah dan lembut.


Mereka berdua sekalian berjalan ke sekitaran desa yang ada usaha-usaha menengah masyarakat. Untuk mengangsur, hanya seperempat bagian saja dahulu. Lalu, Andi dan Nanang kembali pulang karena hari sudah mejelang magrib.


“Waduh … capek juga ya keliling desa.”


“Tapi enak Ndi sekalian nyari-nyari cewek,” balas Nanang sembari membuka gerbang pagar posko.


“Aduh … semoga di dapur ada makanan. Sumpah laper gue nih ….”

__ADS_1


“Nyari bakso bakar kuy ke lapangan bola. Sarah sering beli ke sana sore-sore.” Nanang menunjuk motor kebun Pak Kades yang terparkir di depan posko. “Mumpung lagi ga kepake.


“Tilep duitnya dikit aja ya hehehe ….”


Otak Andi langsung jadi *****. Bisa-bisanya nilep duit panitia. Namun, ia berdalih kalau itu bagian dari upah capek. Padahal kan itu sudah terhitung korupsi. Namanya juga orang Indonesia, dikit-dikit harus ada uang rokoklah, uang jalanlah.


“Heheh … bener juga,” ucap anak penceramah yang lupa sama ceramah bapaknya,


“Bentar, gue ganti kostum dulu biar keren. Di sana banyak cewe-cewek soalnya.”


“Oh iya, gue juga dong. Mana tau dapet kenalan ye kan?”


Mereka pun berganti kostum. Andi pakai pomade biar rambutnya keren sisiran ke belakang. Lagi asyik-asyik nyisir ke belakang, terdengar suara ribut di dapur.


“Eh hati-hati dong!”


Andi mendengar suara Tasya dengan intonasi marah. Sesegera mungkin Andi keluar. Ternyata anak itu sedang memarahi Nabe. Terdapat tumpahan air di meja makan tatlala Tasya sedang meletakkan laptop di sana.


“Sorry Tasya, gue ga sengaja numpahin aer. Sumpah gue sengaja. Maap ya ….” Nabe mengelap meja dengan handuk yang tadi terbalut di kepalanya. Sepertinya Nabe ingin pergi mandi. Lalu, ia juga mengelap bagian paha Tasya yang basah.


Sarah terlihat keluar dari kamar dan ikut membersihkan meja makan yang basah.


“Eh ibuk-ibuk, ngapai sih maen aer sore-sore begini?” tanya Sarah.


“Lihat tuh Nabe numpahin air. Kaya anak kecil aja!” balas Tasya dengan sinis.


“Tasya, gue kan ga sengaja. Maap ya.” Suara Nabe memelas.


“Kalau kena laptop gue gimana?! Ini mahal loh!”


Laptop Tasya itu mereknya yang ada apel kegigit, jadi pantas saja mahal. Beda jauh sama laptop Nabe yang mereknya acuz seken, bukan laptop pula lebih tepatnya, tapi notebook dengan ukuran yang lebih kecil.


“Udah Tasya, kan dia ga sengaja. Lagian laptop elo ga kenapa-kenapa kok,” bela Sarah kepada Nabe.


Tangan Tasya menutup laptopnya, lalu pergi sambil berkata, “Ah bikin badmood aja.”


Anak itu kini masuk ke dalam kamar, sementara Nabe berdiri dengan muka murung. Andi bergetar tatkala Nabe menangis, meskipun dia dengan kuat tenaga untuk menahan suaranya.


“Eh Nabe, jangan nangis. Udah … udah … biasa kok itu. Laptop dia memang mahal, tapi kan ga kenapa-kenapa. Rusak pun, gue bantu kok. Gue kenal temennya Andi yang punya toko service elektronik.” Sarah memeluk Nabe agar menangis di pundaknya. “Udah Nabe, ga enak diliatin temen-temen yang lain.”


“Gue ga biasa dibentak-bentak gitu Sar. Orang tua gue aja ga pernah ngebentak gue, apalagi orang lain.”


“Udah … biasa kok itu. Lain kali hati-hati ya elo ….” Sarah mengelus rambut Nabe,

__ADS_1


Drama sore hari ini membuat hati Andi cemas. Pasti nanti ada suasana-suaasana akward di antara mereka. Kemudian, Andi pergi karena melihat syarat wajah Sarah meminta Andi untuk segera beranjak dari sana. Takutnya Nabe malu kalau diliatin lagi nangis.


***


__ADS_2