
Jadwal kuliah hari ini sudah habis. Sudah saatnya Andi menikmati sore dengan kopi tubruk harga lima ribu dari kantin fakultas mereka. Berbeda jauh harganya dari café fakultas kedokteran yang sekali ngopi harus merogoh kocek belasan ribu, tetapi tetap dengan sensasi tersendirinya. Andi asyik ngelihati pegawai kantin yang gadis itu dengan memutar tubuhnya ke belakang. Belum lagi anak Jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) yang lagi nongkrong di tengah kantin. Ternyata benar, calon-calon guru SD tidak pernah kekurangan cewek cantiknya.
Terlihat mbak-mbak pegawai kantin mengantarkan kopi Andi. Andi pun menoleh kembali ke depan menghadap ke kolam anak Jurusan Perikanan. Alangkah terkejutnya Andi sewaktu Andi mengembalikan posisi tubuhnya. Ia mendapati Tasya sedang berada di hadapannya sekarang dengan memangku tangan. Senyumnya melingkar lembut kepada Andi dengan tatapan lemah dan lentiknya mata tatkala ia mengerjap. Bersenandung kata sapaan dari wanita itu agar Andi membalasnya segera.
Bukannya balasan sapa yang Tasya dapatkan, melainkan asap rokok yang mengarah ke arahnya. Sudah tahu di sini Andi pengen ngerokok, jadi Andi tidak akan segan-segan membakar rokok. Kecuali ia sudah berjanji dengan wanita itu, tentu saja ada kemungkinan Andi untuk mengurungkan niat melepas candu.
Andi menatap aneh pada dirinya. “Lo sejak kapan ada di sini?”
Ia melihat jam tangannya. “Sekitar semenit yang lalu. Kok sendirian? Mana Ari Kiting dan Nabe? Biasanya kalian selalu bertiga.”
“Bukan urusan lo mereka ke mana ….” Andi menghembuskan asap rokoknya ke depan, bukan ke samping sebagaimana biasanya ketika ada wanita di depan.
“Kak … Bembeng dingin satu ya ….” Tangan Tasya mengacuk kepada mbak-mbak kantin untuk memesan sesuatu.
Ingin sekali Andi berpindah meja agar tidak lagi bersama orang lain. Hal ini bukan karena dia adalah Tasya atau seorang wanita, melainkan Andi ingin sendirian saja kali ini sembari mendengarkan musik pop punk di headset-nya. Namun apalah daya Tasya sudah lengket pada kuris dan malah memesan satu minuman yang diantar dengan cepat.
“Lo ngapain ke sini?” tanya Andi.
Tasya menyedot minuman cokelat dinginnya itu dengan sedotan. “Kenapa enggak suka?”
Ya gue kaga mau diganggu, maemunah! Andi berteriak di dalam hati.
“Aneh aja kenapa lo tiba-tiba aja lo dateng ke sini ….”
“Gue lagi pengen aja ngobrol sama lo. Gue nganggu ga?” tanya balik Tasya.
Nganggu bangeeeet! Kalau diekspresikan, Andi lagi memegang kedua kepalanya di dalam hati. Serius, Andi udah ga selera lagi ngopi gara-gara diganggi oleh orang lain.
__ADS_1
“Enggak kok biasa aja. Gimana asyik main air sama mereka kemarin?” tanya Andi.
“Asyik kok. Walaupun panas, kami cukup menikmatinya kemarin. Sarah orangnya berani banget main di berbagai wahana. Hahah ….”
Dugaan Andi pun benar. Awalnya ia sudah yakin jika Sarah menyukai kegiatan itu karena ada banyak wahana yang menantang, meskipun Sarah kelihatan bete di awal-awal. Sebelumnya, Andi sudah pernah mengajak Sarah ke tempat yang sama. Waktu Andi minta pulang, eh Sarah sendiri yang minta agar bertahan lebih lama lagi. Anak itu memang enggak peduli seberapa panasnya cuaca, hingga kulit Andi udah kemerah-merahan karena main panas. Sementara Sarah sudah keling gara-gara di sengat matahari.
“Oh gitu … bagus deh kalau Sarah seneng main sama kalian ….”
Andi menoleh ke kanan sewaktu ada seorang pria yang datang. Ternyata orang itu merupakan Ketua BEM dari fakultas mereka. Ia adalah Putra, pria kecil yang punya jiwa kepemimpinan sehingga dipilih menjadi Ketua BEM. Putra berasal dari Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang. Sudah jelas dia pasti wibu suka nonton anime dan hal-hal bersifat jejepangan lainnya. Beda sekali dengan wibu nolep lainnya, Putra punya pikiran visioner untuk merubah fakultas ke arah lainnya, tidak jarang ia memimpin demo apabila ada demonstrasi.
“Wah Tasya … pacar lo?”
“Gimana ya nyebutnya ….” Tasya malah memandang Andi dengan manja.
“Enggak kok hehe … dia temen gue ….”
Putra menjulurkan tangannya. “Oh kenalin gue Putra …”
“Oh oke … gue lihat lo waktu jurusan kita tanding futsal dua minggu yang lalu. Lo pemain bertahan mereka kan? Sayang banget jurusan kami parah kalau main futsal.”
Tertawalah Andi ketika mengingat jurusan mereka membantai jauh jurusannya Putra. Mereka jelas unggul dari strategi atau pun ketahanan tubuh dalam bermain futsal. Di kala anak Jurusan Bahasa Jepang udah ngos-ngosan, Jurusan Pendidikan Olahraga malah masih kuat lari kaya napas babi.
“Haha … sorry banget waktu itu gue main kasar banget. Bukannya kasar ya, mungkin karena gue terlalu serius mainnya. Jegalan kaki gue jarang banget yang pelanggaran, tapi ya bisa aja bikin cederan lawan,” balas Andi.
“Enggak apa kok, gue seneng ada orang-orang berbakat kaya kalian di fakultas kita. Lain kali gue adain turnamen futsal lagi antar jurusan.” Ia menoleh kepada Tasya. “Maaf banget gue nganggu waktu berdua kalian. Gue balik dulu ya Tasya. Jangan lupa projek bareng BEM dikerjain yaa … heheh. Silahkan lanjut pedekateannya ….”
Putra pergi kemudian meninggalkan mereka berdua. Sementara itu, Andi jadi terbatuk waktu Putra mengucapkan kata terakhirnya tadi.
__ADS_1
“Wah, kita dikira pedekatean loh Ndi.”
“Asal ngomong aja dia ….”
“Tapi lo enggak ngerasa gue ngedeketin lo kan?”
Andi berhenti menyicipi kopinya sewaktu Tasya mengucapkan itu. “Apa? Enggaklah … masa gue berpikir seperti itu.”
Padahal, Andi mengiyakan pertanyaan Tasya itu di dalam benaknya. Sudah jelas sekali sikap Tasya terkesan menggodanya, apalagi sewaktu Andi mendapati Tasya mengedipkan sebelah matanya waktu itu. Pria mana yang tidak berpikir kalau aksi itu sedang menggoda? Bahkan, pria paling nolep pun bisa berpikir jernih jika itu sebuah penggodaaan.
“Oh baguslah ….” Tasya tersenyum setelah meminum cokelat dinginnya tersebut. “Takutnya sih lo berpikir seperti itu dan lo malah ngehindar dari gue.”
“Selagi lo temennya Sarah, gue enggak akan ngehindarin temen-temennya. Sarah juga enggak pernah ngehindarin temen-temen gue, bahkan kalau itu cewek yang terlihat dekat sama gue. Contohnya Tami dan Nabe.”
Tasya tersenyum pelan. “Yaa … kalian itu pasangan yang serasi kok. Saling pengertian banget satu sama lain.”
“Lo belum lihat aja kalau dia ngambekan. Tapi kalau gue pesen makanan, dia tetap aja makan. Aneh banget ya ….”
“Pengen banget gue punya pacar kaya elo ….”
Senyum Andi luntur, lalu ia tutupi dengan menghisap rokoknya dengan panjang. “Wah, kenapa harus kaya gue?”
“Entahlah … gue pengen aja.” Tasya mengetuk tangan Andi dengan ujung jemarnya, lalu mengelusnya sedikit.
“Jangan cari kaya gue, bahaya. Gue bukan cowok baik-baik ….”
“Haha iya deh ….” Tasya berdiri kemudian. Minumannya sudah habis dan hanya meninggalkan es-nya saja. “Gue balik dulu ya … titip salam sama Sarah. Minuman lo biar gue bayar ….”
__ADS_1
Pelan Andi mengeluarkan asap rokoknya dari mulut sembari mencerna kalimat Tasya.
***