
Kelahi
Kedatangan Pram menjadi pemecah perkelahian yang sudah terjadi. Untung saja Sarah memanggil Pram yang sedang dalam masa pesiar sehingga bisa diminta untuk melerai mereka. Bukan hal yang sulit untuk memisahkan mereka berdua, bahkan jika mereka berdua diajak berduel melawan Pram sendiri, mungkin saja Pram bisa menang. Didikan keras di pendidikan polisi membuat Pram semakin kuat.
Andi dan Dandi didudukin berdua buat dikasih nasehat sama Pram. Dandi menunduk karena takut sedang berurusan dengan polisi beneran, padahal kan Pram masih pendidikan, Dandi juga belum tahu jika Pram itu sebenarnya senior di SMA. Sementara itu, Andi cuma duduk santai sembari menahan jijik dengan muka Pram yang sok serius.
"Kalian ini sekolah atau mau jadi preman?" tanya Pram dengan keras.
"Tidak Pak." Dandi menegaskan suaranya.
"Tidak apa?" tanya Pram.
"Tidak jadi preman, Pak."
Pram menunjuk mereka berdua. "Mulai kali ini kalian ga boleh kelahi, paham?"
"Siap laksakan, Pak," balas Dandi.
Andi menggeleng. Ni anak sementang mau jadi polisi, gaya bicaranya udah kaya begini.
"Eh, lo bisa nyantai dikit bicaranya?" tanya Andi dengan enteng.
Mendengar itu, Dandi langsung menatap Andi yang mudah banget bicara seperti itu.
"Apa?" tanya Andi yang keheranan dengan wajah Dandi. "Eh, dia itu mantan preman SMA kita. Kebetulan aja lulus jadi polisi. Dia kaya kita juga dulu, kok. Jadi santai aja."
"Terserah apa yang kamu bilang. Pokoknya saya enggak suka kalau anak-anak dari SMA saya kelahi kaya preman, paham?" tanya Pram.
"Siap, Pak," balas Dandi lagi.
Merasa jika percakapan ini sia-sia, Andi langsung berdiri menuju tempat berdirinya Sarah. Terlihat Sarah yang melipat tangan karena tidak menyukai perilaku Andi yang seperti ini. Padahal, ia sudah bertekad buat ngejadiin Andi yang tidak menjadi berandalan. Kali ini ia merasa kecewa.
"Ngapain ngajak dia ke sini?' tanya Andi sembari mengenakan sweater-nya.
"Kalau enggak gue ajak dia, kalian bakalan kelahi sampe magrib."
"Gue enggak suka dia." Andi menunjuk Pram yang sedang membantu Dandi berdiri di sana.
__ADS_1
Sarah menggeleng. "Setiap orang enggak suka sama orang yang lebih baik dari dirinya. Makanya lo seperti ini."
Ada sebuah hentakan yang terasa di hati Andi ketika Sarah mengatakan hal itu. Benar, Pram itu hampir sempurna. Dia anak dari orang kaya raya, wajahnya ganteng, tubuhnya kekar, pintar, baik, lembut, dan calon seorang polisi. Siapa yang tidak kagum dengan sosok seperti itu? Sementara itu, Andi hanyalah anak SMA biasa yang cuma pake motor butut ke sekolah, kadang sih pake mobil, itu pun kalau enggak lagi dibawa Mama. Selain itu, masa depan Andi juga belum jelas, tidak seperti Pram.
"Memang, dia lebih baik dari gue. Gue ini ***, Sar." Andi meninggalkan Sarah.
Agus dan yang lain sudah menunggu di motor. Tanpa menunggu, ia segera cabut dari sini karena begitu kesal dengan kedatangan Pram yang tiba-tiba. Apalagi jika Sarah yang memanggil Pram ke sini.
Untuk melepas penat, Andi dan yang lain berangkat menuju kedai untuk sekadar ngerokok sambil makan cemilan yang dijual murah meriah. Bunyi batu domino terdengar ketika Felix mengambil tas kecil yang disembunyikan di balik rak makanan. Sudah kebiasaan mereka untuk menghabiskan waktu bermain domino
Kocokan batu domino yang dilakukan oleh Agus terhenti oleh suara deru mobil yang berhenti di tepi jalan. Terlihat pria yang tengah memakai baju dinas pendidikan polisi berjalan menuju kedai mereka. Urat syaraf Andi menegang seketika berkat Pram yang datang menghampiri.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Andi.
"Gue kira Kodomo sama Anak Amak udah baikan," balas Pram.
Tangan Andi mengambil tujuh batu domino untuk dimainkan. Ia menoleh ke Pram setelah membuka batu tersebut satu per satu. "Memang, tapi enggak dengan kita berdua."
"Sarah kan alasannya? Lo enggak suka kalau gue tetap berhubungan dengan dia."
"Lo bisa enggak ngehindar dari hubungan kami berdua?" tanya Andi dengan emosi.
"***!!!" Andi berdiri dan memegangi kedua kerah baju dinas Pram.
"Pukul aja, gue enggak ngelawan. Gue dilarang kelahi." Pram masih mempertahankan senyuman tipisnya.
Perlahan tangan Andi beranjak dari kerah baju Pram. "Gue enggak bakalan nyakitin Sarah."
"Enggak ngikutin perkataan baik dia, termasuk nyakitin Sarah. Lo enggak tahu betapa cemasnya Sarah tadi. Ini peringatan pertama dari gue."
"BACOT!!"
Agus berdiri dan mendekat ke arah Pram. "Sebaiknya lo pergi dari sini. Gue enggak peduli hubungan lo dengan KODOMO atau lo calon polisi, jika lo terus di sini, bisa-bisa tangan gue melayang ke muka lo."
"Oh santai ...begini ya cara kalian nyambut tamu?" Wajah Pram menoleh kembali Andi. "Ingat perkataan gue."
Setelah kalimat itu, Pram melangkah menuju mobilnya. Deru mobil Pram yang berjalan tidak meninggalkan perasaan damai pada hati Andi. Ingin sekali ia menghabisi wajahnya di sini jika tidak peduli dengan hubungan mereka dengan anak Kodomo. Ia tidak ingin hubungan antara dua kubu ini merenggang, bisa-bisa mereka berempat habis oleh mereka. Bahkan, anak ghostnight saja hampir KO hanya dengan Kevin sendiri.
__ADS_1
Pertarungan batu domino senja kali ini tidak begitu terasa. Hatinya dipenuhi rasa gondok ketika menggerakkan batu domino menuju ujung-ujung jalur batu yang akan diisi. Agus, Nanang, dan Felix sengaja tidak membahas hal tersebut karena mereka tahu jika Andi bakalan bisa jadi sensitif banget. Apalagi ini terkait dengan masalah perasaan.
Agus hanya mengiyakan ketika Andi meminta izin untuk pulang duluan. Ia mengerti jika Andi benar-benar butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Andi ga kenapa-napa kan?" tanya Nanang.
"Ya kita lihat aja beberapa hari lagi."
"Bukannya Andi besok bakalan pergi kemah sama adik bimbingannya?" Felix mengambil sebatang rokok milik Nanang.
Agus mengangguk sembari memainkan sebuah batu domino di jemarinya. "Gue yakin Andi bisa baik lagi."
"Semoga aja."
"Kuy, main .... Pake uang," ajak Nanang.
Agus tersenyum. "Eh, tau ga bapak lo lagi ceramah di masjid. Anaknya malah mau jadi bandar judi di sini."
"Ah, itu kan bapak gue."
"Hahahahah." Felix tertawa.
Sementara itu, Andi berhenti di depan pagar rumah. Dilihatnya seorang wanita tengah berdiri di samping motor matic yang terparkir. Seperti biasanya, ia selalu mengenakan sweater merah muda polos dengan rambut sebahu yang terikat. Matanya berbinar oleh pantulan cahaya senja, bermandikan senyuman yang hampir surut oleh wajah Andi yang menatap dalam. Sepenuhnya senyum Naila padam ketika melihat hidung Andi yang terlihat berdarah.
"Hidung lo berdarah, tunggu ...." Tangannya mengambil tissue di dalam tasnya, lalu menempelkannnya di hidung Andi. "Lo kelahi lagi, kan?"
Mata Andi bergeming menatap perlakuan lembut dari Naila. Ia sempat tidak menjawab selama beberapa detik, kemudian ia sadar bahwa pertanyaan itu perlu untuk dijawab.
"Iya, gue kelahi sama Dandi."
"Oh, anak itu. Calon berandalan sekolah kita."
"Mungkin." Ia merasakan tangan Naila yang perlahan beranjak dari wajahnya. "Ngapain ke sini?"
"Lo ngapain ke sini?" tanya Andi.
"ABSEN KITA ***!!! Masa gue yang megang absen sih? Bukannya kakak pembimbing. Kemarin kan kita ada kegiatan bimbingan, lo harus tanda tangan."
__ADS_1
Andi tersenyum lepas. "Sorry, gue lupa."
***