Andi X Sarah

Andi X Sarah
106. Jangan Ikut Ikutan (2) (SEASON 3)


__ADS_3

“Ya lo pasti bakalan ikut-ikutan kalau sama mereka!”


Wajah Sarah sudah pasti menunjukkan ekspresi marah ketika mengatakan hal itu. Tanpa pun Andi menunjukkan gelagatnya ikut-ikutan dalam masalah itu, Sarah selalu mempunyai insting jika Andi pasti terlebat dalam perkelahian. Faktanya, Andi memang ikut dalam pertarungan di warung Mas Momon serta mau tidak mau bisa jadi target oleh para preman tersebut. Satu hal yang membuat Andi was-was ketika berkeliaran di area sekitaran sekolah karena markas preman-preman itu berpusat di sana.


Andi dan Sarah saling menatap tatkala mereka duduk bersama di gazebo. Nabe dan Ari Kiting sibuk menyicipi minuman soda dingin dan bakso bakar yang tersedia di hadapan. Tidak ia pikirkan lagi Nabe karena berdekatan dengan Sarah, melainkan bagaimana mengubah sikap Sarah yang ngambek kepadanya.


“Makan dulu biar otak lo seger lagi.” Andi menyuapi bakso bakar itu mulut Sarah, tetapi Sarah menolaknya dan malah menyuapnya dengan sendiri.


“Jadi, udah sejauh mana lo ikut dalam masalah itu?” tanya Sarah.


“Ya gue cuma melindungi temen-temen yang lain. Kevin udah jadi korban,” jawab Andi.


“Lo itu sih … sok sokan ngelindungin teman-teman, tapi lo nanti bisa kena masalah. Udah dong Andi ikut-ikutan urusan begitu,” sanggah Sarah tidak ingin kalah.


“Kan gue juga dilindungin, jadi jangan khawatir.”


“Kalian itu bukan karakter game yang kalau mati bisa bangkit lagi nantinya. Kalau mati, ya udah mati aja.”


Astagfirullah, parah amat nih mulut cewek, ucap Nabe di dalam hati. Sementara itu Ari Kiting menelan ludah setelah mendengar kalimat Sarah yang parah, masa bawa-bawa urusan mati.


“Urusan mati hanya di tangan Allah SWT, bukan urusan hambanya ….”


Subahanallah …., ucap Nabe di dalam hati. Sementara Ari Kiting malah menatap datar karena sebenarnya Andi bukanlah orang seperti itu. Solat aja kudu dipaksa dulu baru gerak.


“Malah bawa nama Tuhan lagi, lo udah ibadah?” tanya Sarah.


“Udah … tanya Ari Kiting ….”


“Ah  lupakan … bukan itu intinya … gue kaga mau lo ikut-ikutan sama mereka. Lo harus ingat perjanjian kita dulu, lo enggak bakal lagi kelahi dan melibatkan diri di dalam bahaya. Cukup dulu lo itu ikut tawuran sejak SMA, sekarang jangan lagi.”

__ADS_1


Tangan Andi mengelus rambut Sarah di hadapan teman-temannya. “Lo tenang aja, gue bakalan baik-baik aja kok. Ya kali gue mau melibatkan diri dalam bahaya. Setidaknya gua harus jaga diri dari mereka, sekaligus menjaga temen-temen gue. Gue enggak mau teman-teman lain berakhir seperti Kevin.”


“Awas lo ya sampai bahaya. Gue ga mau ngurus lagi!”


Nabe dan Ari Kiting saling menatap melihat satu pasangan ini. Sebenarnya mereka sama sekali tidak tahu masalah yang dialami oleh Andi. Sementara itu, mereka juga tidak ingi mengulik lebih jauh tentang masalah itu. Biarlah mereka berdua yang berdebat satu sama lain.


Matahari sudah begitu condong ke barat. Sore terlalu larut kali ini hingga para burung mulai berpulang ke sangkarnya masing-masing. Cahaya senja lembut kemerah-merahan bergelantungan di tepi awan, memantul seperti bercak cahaya dan serat-serat yang memanjang ke bawah. Sarah dan Ari Kiting sudah pulang lebih dahulu, sementara Nabe sedang bersiap-siap untuk pulang. Andi menunggu Nabe di luar pagar hingga wanita itu benar-benar pergi.


“Asyik banget ya lo sama Sarah,” ucap Nabe sembari memakai helm.


“Ya … Sarah memang begitu. Dia itu pemarah banget, tapi sebenarnya dia itu sayang. Dia terlalu khawatir sama gue dengan masalah-masalah seperti itu.”


“Hmm … sebenarnya gue kurang paham dengan pembicaraan kalian yang tadi, tapi apa yang dibilang Sarah itu bener kok. Lo jangan sampai terlibat pada masalah-masalah yang bahaya.”


“Iya gue paham kok.” Andi mengangguk. “Hati-hati di jalan. Jangan ke mana-mana lagi kalau malam.”


“Wah perhatian banget sih lo.”


Satu alis Nabe naik untuk menggoda. “Ga mau main ke kos gue lagi? Gue free kok malam ini.”


“Gimana kalau Ari Kiting aja yang lo ajak? Hahah ….”


“Gah ah, kalau Ari Kiting gue ga mau! Lo aja hahah ….”


“Udah deh, lo makin gila kalau malam ….”


“Oke deh … bye ya Sayang!” Nabe langsung menggas motornya agar tidak mendengar respon dari Andi.


Andi hanya menggeleng saja karena sudah terbiasa dengan perkataan gila dari Nabe. Karena saking seringnya ia mengatakan hal itu, lama-lama sudah ia anggap sebagai candaan. Bagaimana candaan Kevin dan yang lain ke Tami, begitu pula Nabe ke Andi. Ya, tidak ada yang perlu dipikirkan begitu dalam mengenai Nabe untuk saat ini.

__ADS_1


Malam harinya, Andi nongkrong sendirian di indoapril tempat Kevin berkerja. Ternyata, meskipun ia belum pulih, Kevin memaksakan diri untuk masuk malam ini. Kevin hanya perlu menutup luka di bagian belakang tubuhnya yang sudah dijahit di klinik beberapa waktu lalu. Namanya juga Kevin, manusia baja yang tahan banting. Luka bacok pun ia anggap biasa saja.


Kebetulan sekali Pram datang dengan motor sport-nya ke indoapril tersebut. Andi pun bingung kenapa pria itu tidak datang menggunakan mobil mewahnya. Setahu Andi, ia tidak pernah membawa motor sport itu semenjak SMA dan lebih memilih mengendari mobil ke mana-mana. Dengan menyapa lewat mata saja, Pram langsung masuk ke dalam indoapril. Ia bergabung bersama Andi dengan membawa dua botol minum thai tea yang satunya diberi kepada Andi.


Tidak lama kemudian, Kevin datang dengan seragam indoapril. Ia telah meninggalkan kasir untuk bergabung bersama mereka.


“Jangan lama-lama, gue lagi kerja. Mumpung manager gue lagi ga ada, makanya gue bisa ke sini,” ucap Kevin.


“Ada apa sih?” tanya Andi penasaran.


“Saatnya gue gunain kepolisian untuk kasus ini,” balas Pram.


“Udah gue bilang kan Pram, pertarungan jalanan tetaplah selesai di jalan. Kita udah punya prinsip dari dulu. Makakanya gue enggak mau lo terlibat dalam masalah ini. Dan yang kemarin itu, bukan perintah dari gue, melainkan inisiatif dari elo.”


Andi baru paham karena ada berita dari Memet jika mereka kemarin telah menyergap preman-preman yang ingin menyerang Udin.


“Kalau ga karena itu, Udin bisa bahaya, Kevin.”


“Lo kira Revin ga punya ide untuk menyelamatkan Udin? Gue minta lo berhenti ikut campur dalam masalah jalanan ini karena lo punya tanggung jawab sebagai polisi. Gue enggak mau nama lo tercoreng kalau ada apa-apa sama lo. Gue ini teman lo, makanya gue peduli.”


Pram menggeleng. “Lo ga ngerti juga, Kevin. Kodomo itu tempat gue tumbuh dan berkembang dari yang dulunya cupu, sampai punya nama kaya sekarang. Mau ga mau, gue harus terlibat.”


“Sebenarnya lo kenapa sih Pram?” tanya Kevin dengan kesal.


“Mobil gue dicoret abis sama mereka. Mereka mulai ngincar gue. Mobil itu pemberian papa gue waktu ulang tahun dan itu harga diri gue. Gue mau bikin mampus preman-preman itu,” jawab Pram.


Mendengar mobil itu hadiah ulang tahun, Andi dan Kevin pun jadi insecure. Soalnya mereka ga pernah lagi dapat hadiah ulang tahun semenak masih bocil dulu. Pram malah dapat mobil. Maklum anak orang kaya.


“Oke … lo jangan bergerak. Besok gue gerakin anggota buat bikin mereka mampus. Gue minta sekali lagi, lo jangan ikut, menghindarlah sekali bisa ….”

__ADS_1


Tampak sekali wajah Pram yang tidak menerima keputusan itu.


***


__ADS_2