
Sebenarnya aku agak canggung dikit kalau ber lo-gua. Soalnya aku asalnya bukan dari daerah yang makai lo-gua. Di rumah apalagi, make bahasa Jawa semua.
“Nama aku Agus. Dari Klaten.”
“Lah, jauh bener dari Jakarta.” Matanya kini mengarah kepada Felix. “Nah, elo yang Cina kemarin. Kakak lo cantik loh. Putihnya sama kaya lo.”
“Jangan nyebut gue Cina, bisa ga?” balas Felix. “Nama gue Felix. Jangan tanya nama chinese gue. Bakalan susah bilangnya.”
Ada satu anak yang lagi make peci. Dia agak pendiam dikit, cuma makan mie sambil dengerin celotehan Antdi tanpa merespon. Selepas magrib tadi, yang dia nyempatin baca Al-quran sebentar. Lumayan pande baca Al-quran. Iramanya masuk kaya yang di masjid-mesjid malam Ramadhan.
Tapi, wajah anak itu kayanya aku tau. Kaya mirip-mirip seseorang. Tapi di mana, ya? Pokoknya aku pernah ngelihat orang yang mirip banget sama dia. Oh, iya … aku ingat.
“Koe kok mirip sama ustadz Ahmad Ramadhan yang lulusan Mesir itu, kan?” tanyaku
“Iye, gua anaknye.”
“Beneran?” Andi mendekatinya.
“Iya bener. Gue Nanang anaknya ustadz Ahmad.”
“Hhahahaha pantes aja setelan lo kaya udsadz-udstad gitu,” kata Andi sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya,
Sebuah kotak rokok malrobo merah keluar bersamaan dengan mancis kecil yang dibeli di swalayan indoapril. Kami menemukan sebuah keabstrakan lagi dari anak yang satu ini. Sudahlah, cukup aku melihat anak itu menggila di bus tadi. Jangan dia sampai berulah di dalam tenda kemah.
“Woi, koe ketahuan sama senior bisa kena hajar lo,” ucapku.
“Santai aja. Senior itu mah kecil. Ada yang ngerokok?” Andi menatap kami satu per satu. “Udah, hajar aja. Senior lagi pada makan di tendanya.”
Sebenarnya mulutku jadi asem gara ngelihat orang ngerokok. Aku sih juga ngerokok kadang-kadang waktu di Klaten. Kubuka resleting tenda untuk melihat keadaan di luar sana. Orang masih sibuk makan sebelum acara api unggunnya di mulai. Para senior juga masih asyik bercandaan di tenda mereka.
Aku udah ga tahan. Sebatang tembakau menyelipkan diri di sela-sela bibirku yang basah. Gemeretak bakara roko berbunyi pelan. Sangat khas keluar bersamaan dengan asap yang mengepul. Aku melayang. Sangat menyenangkan jika nyebat bersama di malam yang dingin ini.
“Kalian ga ngerokok?” tanyaku. Aku malah ngajakim orang lain bikin ulah.
“Ga, sih. Tapi bolehlah gua nyoba satu aja.” Nanang mencoba mengambil sebatang.
__ADS_1
Nanang langsung terbatuk-batuk saat mencoba isapan pertamanya. Maklum, dia baru pertama kali ngerokok. Lagian rokok yang sedang diisap memang bikin sakit di tenggorokan. Ya Allah, aku udah ngajarin orang buat sesat.
Beda dengan Felix, Felix terlihat santai menikmati tembakaunya. Ia seperti sudah terbiasa dengan mengisap tembakau.
Asap mengepal di dalam tenda. Hanya jendela kecil tempat sirkulasi udara. Syahdu bercampur cemas, kami menyebat bareng malam itu. Untung saja selama kami menyebat bersama, tidak ada senior yang menciduk perbuatan illegal kami itu.
Acara api unggun di mulai. Kami kembali berkumpul untuk menyusun kayu yang digunakan untuk acara malam ini. Para anak cewek membiarka tugas ini dilakukan oleh anak laki-laki. Mereka hanya melihat di sekeliling susunan kayu.
Api berkobar saat menyulut sususan kayu. Cahaya terang menyentuh tenda-tenda kemah yang mengelilinginya. Sekarang udara sudah sedikit lebih hangat oleh api yang menyala. Suasana gembira pun tercipta di saat senior-senior membawakan lagu-lagu. Tak hanya itu, beberapa dari mereka dan kami juga ada yang bisa stand up comedy.
“Gus.” Bocah lasak itu terlihat gelisah kembali. Ia menyentuh bahuku dengan kuat. “Perut gua sakit, nih. Kawanin boker yuk.”
“Itu kan udah aku bilang ke koe, makan mienya kebanyakan.”
“Gue udah ga tahan. Tolong kawanin gue boker.”
Bunyi serangga malam menambah nuansa sunyi di hutan yang tak kami kenal ini. Dengan perasaan takut, tapi aku harus membawa Andi ke sungai kecil tempat kami mengambil wudu`. Andi dengan cepat membuka celana panjangnya buat mengadu nasibnya yang tengah diujung pantat.
“Lo yakin tai gue bakal bisa ngalir, nih?” Andi melihat keadaan sungai yang sangat dangkal. Sudah dipastikan tai ga bakal bisa ngalir di situ.
“Ikut gua.”
Lokasinya tidaklah terlalu jauh dari sungai kecil tadi. Kami hanya mengikuti jalan setapak yang ada. Ada sedikt ruang buat Andi mengadu nasib. Tanpa basa-basi Andi menggali tanah menggunakan ranting pohon yang ada.
“Bantuin gua buat lobang biar cepet,” pintanya.
Lobang yang digali kini digunakan Andi buat boker. Ga peduli dia dengan semak dan makhluk yang tak kita inginkan, ia tetap menikmati panggilan alam yang sedang melanda. Aku mulai mendengar suara-suara abdsurd dan wewangian yang aduhai sangat mengganggu dari Andi yang sedang mengadu nasib. Kami juga turut menyebat bareng lagi untuk menunggu panggilan alam ini mereda.
“Ahhh … ini pengalaman pertama gua boker di hutan kaya gini,” kata Andi sambil menyentuhku.
“Jangan sentuh, asu. Koe abis eek.”
Suara gitar dari nyanyian di sana kembali kami dengar saat mulai mendekat perkumpulan. Rasanya lega melihat cahaya kembali. Tadi itu memang benar-benar gelap, hanya cahaya bulan dan senter yang kadang idup mati.
“Lah, Sarah?” Andi sedikit terkejut saat seseorang keluar dari kegelapan.
__ADS_1
“Apa lo?” balas Sarah. Ia tetap melangkah maju menuju perkumpulan.
Dari sinilah awal aku tau kalau Sarah memang judesnya minta ampun. Kalau memang benar-benar ga tertarik buat bicara, dia bakal ngecuekin kita sampe kita muak dicuekin.
“Koe dari mana gelap-gela ginian sendirian?” tanyaku. Aneh juga cewek kaya dia sendirian pergi ke hutan.
“Ke WC, napa mau ikut?” balasnya agak ngegass gitu.
“Lah, ada WC?
“Ada. Trus ngapain senior kita ngajakin camping yang ga ada WC umum? Mau emang boker kalian bececeran di hutan ini?”
Saat itu aku menela ludah. Sarah kalau bicara memang suka ngegass. Apalagi kalau baru kenal kaya beginian.
“Di mana?” tanya Andi.
“Di sana.” Telunjuk Sarah mengarah ke sebuah tempat. Ada sebuah tempat kecil yang gelap bertuliskkan `WC` besar-besar.
“Jangan sendirian, lo ga takut?” balas Andi. Ia rupanya sepemikiran denganku.
Jujur, waktu itu aku memang ngeremehin Sarah. Dulu kan kami belum kenal dan ga tau Sarah itu gimana. Aku belum tau kalau Sarah itu jiwanya itu separuh om-om. Ga takut apa-apa. Senior aja takut sama dia, apalagi kami.
“Hantu yang lari kalau ada gue.”
Ah sudahlah, kami biarka cewek yang sok berani itu berjalan di kegelapan malam. Di makan genduruwo kalau bisa, Tapi aku yakin, malah genderuwonya yang baca doa kalau Sarah yang lewat.
Malam itu dilalui dengan gembira. Di balik hangatnya api unggun dan kemilau taburan bintang yang menyala, semua rasa tertumpah dalam satu momen. Satu di antara dua momen yang tak akan dilupakan di masa SMA. Pertama ialah perkemahan itu, kedua adalah hari perpisahan sekolah yang akan terjadi suatu hari nanti.
Pagi hari menyambut kami dengan dinginnya yang menusuk. Maklum kami sedang di daerah daratan tinggi yang kalau napas bisa ada embun-embunnya gitu. Awan tipis bahkan menembus hutan itu hingga meninggalkan titik air yang menempel pada wajah.
Kami tak bangun karena dingin, namun suara gaduh yang terjadi di luar tenda. Saat itu kami tak tahu yang sedang terjadi hingga kami melihatnya dengan mata sendiri. Anak nakal itu sedang dihadang oleh para senior pembimbing kami. Entah apa masalahnya dengan mereka, yang jelas Andi sedang ada masalah.
“Ngaku aja lo, kalian ngerokok di tenda, kan? Gue ngelihat banyak puntung rokok di tenda kalian,” ucap Salah satu senior yang dari kemaren memang galak banget.
Seketika itu aku jadi pucat, Nanang dan Felix juga. Kami lupa membuang puntung rokok yang kami sembunyiin di dalam botol air mineral.
__ADS_1
***