
Tentu saja Andi masih berkutat dengan kekhawatira terhadap mamanya tersebut. Ia tidak konsen menjalani perkuliahan, meskipun mata kuliah tersebut masih terbilang santai dengan dosen yang asyik. Ia terus saja memandangi luar kelas untuk melihat pepohonan. Secara tidak sengaja waktu di jendela ternyata terlihatlah pemandangan absurd, yaitu lalat sedang terbang tandem. Tiada lain dan tiada bukan lalat yang sedang kawin. Vibe galau Andi langsung jadi ngakak. Dia diam-diam ketawa dengan menutup mulut biar tidak ketahuan sama dosen.
“Andi, saya lihat kamu melamun. Dan baru saja tertawa. Apa yang lucu?” Dosen menurunkan spidolnya dan berhenti menjelaskan materi.
Tidak mungkin aja kan Andi bilang kalau di jendela ada lalat lagi kawan. Yang ada dia makin kena marah dan seluruh kelas buyar konsentrasinya karena sibuk ketawa. Oleh karena itu, Andi sadar diri.
“Maaf Pak, enggak ada pak.”
“Lain kali jangan begitu ya, waterboom men …,” balas dosen tersebut ala-ala sound di Tik Tak.
Udah dibilang, dosennya asyik. Tapi kalau sekali marah, ya bikin satu kelas jadi diam.
Setelah itu, Andi galau lagi mikirin mamanya yang terbaring lemah di rumah sakit. Ia tidak tega melihat mamanya seperti itu. Mamanya juga pasti bosan kalau selalu berdiam diri. Biasanya, beliau tidak ingin berhenti bergerak. Selalu saja ada yang harus dikerjakan. Mulai dari masak, cuci baju, mengomentari berita tv, mengomentari kuliah Andi, ngomelin Andi yang terlambat bangun, bahkan mengomentari kondisi negara ini.
Bayangin aja, bagaimana bisa mamak-mamak tidak jadi komentator kaya komentator bola kalau seluruh bahan pangan harganya naik. Minyak goreng naik tinggi, tidak mungkin Andi goreng ikan pakai minyak angin. Gas LPG langka di pasaran dan tidak mungkin juga Andi disuruh pagi-pagi nyari kayu bakar di rumah. Mau diganti pakai minyak tanah, harganya juga mahal. Mau komentar pedas dan jadi buzzer opisisi, takutnya mamanya Andi diangkut ke kantor polisi. Ya sudah deh, mamanya Andi cuma ngeluh di dapur saja.
“Ndi, lihat si behel. Bagus banget bodinya dari belakang ***,” ucap Ari Kiting yang berada di sampingnya.
Ari Kiting merupakan teman dekat Andi di kelas. Kenapa ada julukan Kiting di sebelah namanya tersebut? Hal itu karena rambutnya yang keriting. Orangnya kocak, tapi pinter. Jauh banget pinternya daripada Andi kalau soal materi. Tapi, anak itu belajar mengenai praktik dari Andi karena Andi menguasai bidang perpraktikan.
“Wah, mata lo jeli juga, Ri. Sumpah tuh anak kalau gue kaga punya pacar, mau juga gue deketin dia,” balas Andi.
Nana atau lebih dikenal dengan Nabe, alias Nana Behel ialah cewek primadona kelas mereka. Cewek cantik berkulit kuning langsat itu memang jadi incaran mata para pria di kelas dan di luar kelas. Bodinya aduhai mantap, tapi cenderung lebih pendek daripada Tami. Cuma dia di kelas ini yang makai behel makanya Andi ngasih julukan Nana Behel dari semester satu. Lama kelamaan, seluruh kelas memanggilnya dengan nama Nabe.
“Aduh … bajunya transparan pula. Auto pengen deh gue ….”
Benar apa yang dikatakan oleh Ari Kiting. Pakaian putih yang dikenakan Nabe cenderung transparan. Ada dua kemungkinan, pakaiannya tipis atau memang tubuh Nabe yang terlalu bohai jadi ngepas gitu ke bajunya. Yang namanya cowok nih ya, pasti matanya punya teknologi auto fokus yang tidak dimiliki oleh manusia jenis mana pun.
Kepala Andi menoleh ke kiri melihat Ari kiting yang mulai absurd. “Lo mau ngapain?
“Itu … mau ngajakin jalan, makan di kaefci, terus nonton bioskop.” Ari kiting-kiting senyam-senyum tidak jelas.
“Terus setelah itu mau ngapain?”
__ADS_1
“Ya … ngantarin dia pulanglah, ngapain lagi?” Ia menyenggol bahu Andi. Matanya tetap memerhatikan bapak dosen yang lagi sibuk dengan laptop. “Macam ga paham aja lo Ndi.”
“Heheh … sebelum lo ngelakuin itu, gue mau juga ngelakuinnya.”
“Lah, gue aduin Sarah lo ya?” ancam Ari Kiting kepada Andi. Dia mengenal pacarnya Andi karena sering dijadiin alasan jemputin Sarah kalau nolak nongkrong di kantin fakultas.
“Tenang, gue kasih rokok sebungkus kok,” rayu Andi.
“Rahasia aman dan terkendali. Hehehe ….”
Perbincangan absurd di kelas ini bikin Andi sedikit melupakan kekhawatirannya. Selagi bapak dosen sibuk dengan kerjaannya di laptop, Andi merhatiin Nabe yang di depan. Sampe-sampe Andi langsung beristigfar dan sadar kalau sudah punya pacar.
Mengenai dirawatnya mamanya Andi, ia sudah memberitahukan kepada seluruh Anak Amak. Tidak hanya itu, orang di group liburan waktu itu juga diberitahu. Ucapan kepedulian tidak luput sebagai doa kesembuhan mamannya Andi. Andi jadi merasa senang karena bergaul di circle pertemanan yang memiliki rasa peduli, terutama Memet yang siap siaga untuk mengantarkan apa saja yang dibutuhkan.
Seluruh kelas sore di hari ini sudah selesai. Saatnya Andi menjempu papanya di bandara. Papanya terpaksa mengambil cuti kerja dan berangkat dari Kota Padang menuju Ibu Kota siang tadi. Tentu saja beliau rela meninggalkan pekerjaan sementara untuk melihat keadaan istrinya.
Namun, tatkala Andi ingin beranjak dari kantin fakultas setelah menikmati kopi setengah cangkir, tampaklah seorang wanita yang menghampirinya. Ia tidak langsung duduk, melainkan menyapa Andi terlebih dahulu.
“Wah, ternyata elo di sini Andi.”
Kenapa anak itu di sini? Andi jadi heran seorang Tasya yang elit itu pengen duduk di kantin. Biasanya dia duduknya di café kampus bersama rombongan Naila.
“Gue boleh duduk?” tanya Tasya.
Kaga boleh karena gue mau pergi! tolak Andi di dalam hati. Namun, tidak mungkin juga Andi mengatakan hal tersebut kepada wanita itu. Rasanya tidak sopan karena ia datang dengan baik-baik. Meskipun dengan hati gondok ingin pergi, Andi tetap mempersilahkan Tasya untuk duduk.
“Mau minum? Pesen aja ibu kantin. Nanti masuk ke bon gue.”
Andi biasanya ngebon dulu, nanti dibayar di hari sabtu. Meskipun begitu, Andi tetap membayar tepat waktu sehingga ibu kantin percaya sama Andi.
“Oh enggak usah deh, terima kasih. Lain aja kita ngopi di café,” ucapnya.
Siapa juga yang pengen ngopi sama elu? Kopi terbaik gue ya kopi kantin. Kaga ngerti gue bahasa kopi anak café ….
“Oh oke … tumben ke sini? Biasanya lo jarang kelihatan di kantin,” tanya Andi.
“Tadi ada pertemuan sama anak BEM fakultas. Gue diajak collab buat kelas beauty make up mereka. Istilahnya, gue sebagai mentor gitu.”
__ADS_1
“Oh gitu, pantes di ig lo banyak video tutorial make up.”
Tasya tersenyum. Kedua alis matanya naik karena merasa senang. “Lo ngelihatin Instagram gue?”
“Ya kan elo follow gue. Aneh aja gitu seorang selebgram nge-follow gue yang isi instagramnya cuma postingan anime. Temen-temen gue malah nanyain kenapa bisa lo tahu gue.”
“Biasa aja sih gue nge-follow orang yang gue kenal. Betewe, makasih ya udah polbek.”
“Haha .., enggak ada faedahnya juga gue nge-polbek elo. Lah follower gue enggak ada apa-apanya daripada elo sendiri,” balas Andi.
Tangan Tasya memberikan sebuah undangan kepada Andi. “Datang ya ke ulang tahun gue minggu depan.”
Mata Andi diam menatap tangannya yang menyeret undangan di atas meja. “Wah, terima kasih banget lo udah ngundang gue.”
“Lo harus datang, jangan lupa ya.”
“Gue boleh bawa temen?” tanya Andi.
“Sebenarnya cuma buat yang punya undangan. Soalnya acara yang privat. Tapi, lo bisa bawa pacar lo kok.” Tasya mengangguk setuju. “Betewe, pacar lo anak kedokteran ya?”
Mana mau Sarah diajakin ke tempat-tempat begitu, ucap Andi di dalam hati. Sarah paling malas untuk beramai-ramai di sebuah tempat. Apalagi di sana pasti bising dan tidak satu pun yang ia kenali. Sudah pasti bisa ditebak. Meskipun Sarah mengizinkan Andi untuk pergi, tapi dia tidak akan ikut bersama Andi.
“Iya, anak kedokteran.”
“Wah keren banget. Ya udah deh, lo bawa aja pacar lo besok. Sekalian gue kenalan sama dia. Makasih ya udah mau datang. Gue pamit dulu ….”
Jemari Andi menggaruk kepala melihat Tasya yang ingin mengundang dirinya.
***
__ADS_1