Andi X Sarah

Andi X Sarah
108. Agus Si Polisi (SEASON 3)


__ADS_3

“Kalau lo butuh apa-apa, bilang aja sama Nanag. Dia pasti mau kok, oke?” ucap Andi tatkala ia pamit untuk pergi.


Seperti dahulu, Ipit selalu ramah kepada dirinya. Bagaimana Andi yang ngos-ngosan lari keliling gedung olahraga karena terlembat, Ipit memberikan kata semangat pada setiap putara lari Andi, meskipun Andi sama sekali tidak mempedulikannya. Bahkan, Andi sampai tidak mengingat nama Ipit karena kebiasannya yang mengabaikan hal-hal kecil seperti itu. Padahal, Ipit merupakan teman baru pertamanya di universitas ini.


Andi mengonfirmasi pertemuannya dengan Nanang sebagai teman angkatan Ipit. Nanang pun mengiyakan jika Ipit merupakan teman satu angkatannya dan Ipit sedang bekerja paruh waktu di café Fakultas Kedokteran. Meskipun Nanang tidak dekat dengan wanita itu karena beda kelas, tetapi ia mengenalnya secara pribadi dan tetap bersapa apabila bertemu di Fakultas Psikologi.


Hari ini tepatnya pada malam hari, Anak Amak sedang berkumpul di rumah Andi untuk menongkrong bersama. Tentu saja kamar Andi penuh sesak oleh mereka berempat dengan aktivitasnya masing-masing. Andi dan Felix asyik bermain game PC berdua. Nanang duduk nonton anime di pojokan kamar sembari menghisap rokok elekterik. Sementara itu, baru saja Agus selesai dari solat Isya, ia malah keluar dari kamar.


“Agus udah religius sekarang ya?” tanya Felix sembari memerhatikan laptop gaming belasan juta rupiah miliknya itu.


“Perhatiin depan lo goblok, itu mereka lagi sembunyi.” Andi memperingati posisi karakter Felix yang mudah sekali menjadi sasaran tembakan. “Ga tau tuh Agus, udah tobat kali.”


“Kemarin gue ajak ke klenteng malah nolak …..”


“GOBLOK … dia kan muslim.” Andi kembali berkutat dengan musuh yang ada di depannya. Pertepuran terjadi dengan tembakan bertubi-tubi. Hanya Andi dan Felix yang tersisa di dalam timnya. Namun, sebagai harapan terakhir, Felix malah kalah duel dengan lawan. “Hadeeeh … kita kalah lagi. Turun deh win rate gue.”


“Cuma game doang ga usah diseriusin,” balas Felix sembari melepaskan headset gaming bermotif telinga kucing itu. “Tapi serius deh, jarang-jarang lihat Agus solat.”


“Ya elah … udah kewajiban dia itu mah. Malah bagus Agus udah mulai solat, semenjak gue ajak dia bolos solat jumat bulan yang lalu.”


Felix menoleh kepada Andi. “Kan kata lo solat jumat itu boleh ga  solat asal diganti sama solat dzuhur.”


Kepala Felix langsung disentil sama Andi. “Tapi kan ga buat main biliyar juga kali. Kalau ga ada halangan, solat jumat itu wajib bagi kami yang laki-laki.”


“Oh gitu ya … ga jadi deh gue masuk jadi tim mayoritas.”


“Masuk aja sini, sini gue syahadatin …. Ashaduu … ayo bisa dengan pelan ….”


Candaan mereka memang udah biasa begini. Apalagi kan Felix yang bukan seorang muslim, sunat bukanlah sebuah kewajiban. Tapi Felix tetap sunat waktu SMA atas dasar kesehatan. Andi malah nakut-nakutin kalau sunatnya waktu SMA, bakalan pakai kapak karena itunya udah gede. Ayiknya mereka, kalau lagi imlek nanti bakalan bertandang ke rumah Felix dan dapat angpao dari kedua orangtuanya. Makanan imlek khas orang Tionghoa juga enak-enak dan terasa spesial karena jarang mereka temui. Ditambah lagi, Cece-nya Felix itu bening banget kaya orang Cina, lah kan memang orang Cina. Jadinya mereka betah kalau lagi main di toko kelontong orangtua Felix.


Begitu pula kalau lagi hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Felix bakalan kenyang makan rendang dan opor ayam. Felix juga dapet Tunjangan Hari Raya, apalagi kalau bertandang ke tiga rumah temennya yang muslim itu. Yang paling asyik itu kalau ke rumah Nanang yang kedua orangtuanya sangat ke arab-araban banget, maklum penceramah, gaya bicaranya aja sedikit ada qolqolahnya. Felix bisa makan kurma dan minum air zam-zam yang nyegerin. Tunjangan Hari Raya dari orangtua Nanang merupakan yang paling besar. Dari mereka pula Felix dihadiahi peci dan sarung yang bisa dia pakai waktu perang sarung sama temen-temen muslimnya waktu malam tarawih.


“Mama gue ngajakin makan tadi, ayok ke bawah …,” ajak Andi.


“Segan kami Ndi, masa jam sembilanan segini buka tudung nasi lo lagi,” balas Felix.


“Nang lo makan ga?” tanya Andi ke Nanang yang lagi serius dengan animenya.


“Skip dulu lah, gue puasa ….”


“Mantap puasa malam-malam ….” Andi menggeleng.


“Yee tadi gue udah makan sebelum ke sini. Kenyang Ndi. Lo mau gue tambah gemuk gara mama lo maksa makan?” tanya Nanang.


“Siapa yang maksa sih, goblok!” Andi berpaling ke pintu. “Ya udah, gue ke bawah dulu ya soalnya belum makan.”


Baru sedikti Andi nongolin kepala dari atas lantai dua, ia melihat Agus sudah duduk di hadapan meja makan bersama mamanya dan Aisyah. Agus dan Aisyah duduk berhadap-hadapan, sementara mamanya sibuk di atas kompor. Merasa penasaran dengan pembicaraan mereka, Andi pun bersembunyi di lantai bagian atas dapur sehingga ia bisa mendengar pembicaraan mereka bertiga.


“Senang kali deh Mak Uwo kalau kalian ke sini,” ucap mamanya Andi. Mak Uwo berarti bibi paling tua atau bisa diartikan sebagai tante dalam Bahasa Minang. Terdengar bunyi dentang alat masak di atas kompor yang pertanda mamanya Andi sedang memasak sesuatu. “Semenjak kalian tamat SMA, rumah ini jadi sepi kali. Biasanya hampir dua hari atau tiga hari sekali kalian ke sini.”


“Iya Mak Uwo, udah pada sibuk dunianya masing-masing hehe ….” Agus menoleh kepada Aisyah. “Gimana kuliah Aisyah?”


“Ya gitu Mas kaya biasa, datang kuliah terus pulang,” balas Aisyah.

__ADS_1


Andi sempat merasa aneh dengan sebutan Mas kepada Agus. Memang sih Agus itu orang Jawa dan wajar-wajar saja jika dipanggil seperti itu. Tetapi tidak menjadi kebiasaan di kalangan mereka untuk memanggil Agus dengan sebutan Mas. Bahkan\, adik kelas pun tetap memanggil `Abang` daripada `Mas`.


“Cepet tamat ya biar jadi perawat nanti. Baik-baik kuliahnya,” sambung Agus.


“Sabar dulu Mas, masih panjang kuliahnya Aisyah,” balas Aisyah lagi.


“Kayanya Agus harus cepat-cepat belajar Bahasa Minang ni, biar nanti ndak terkejut dengan keluarga di Padang. Hehehe ….,” pancing Mamanya Andi.


Di atas, Andi langsung memegangi kedua kepalanya. Bagaimana bisa mamanya sendiri berkata seperti itu kepada Agus yang ditaburi biji wijen itu. Ingat … Agus itu ditaburi biji wijen! Ia hanya bertingkah baik di sana.


“Bisa aja Mak Uwo. Nanti deh belajar Bahasa Minang sama Andi aja,” balas Agus.


Nanang baru saja keluar dari kamar untuk mencari air putih dan ia bingung melihat Andi yang tiarap di sana. Ia pun mendekat sembari menendang bagian belakang Andi.


“Woi lo ngapain?”


Andi langsung membekap Nanang, sekaligus memaksanya untuk tetap tiarap di lantai atas ini.


“Bangsat sih Agus udah nyuri start aja sama adek gue …..”


“Ah yang beneran?” tanya Nanang sembari melihat keadaan di bawah sana. Benar saja, Aisyah sedang senyum sama Agus, begitu pula sebaliknya. Agus juga disuguhi secangkir di hadapan. “Uanjir … gue ga terima nih kalau adek lo bisa sama Agus. Gue udah hapal juz tiga puluh soalnya. Kan Aisyah itu hapal Al-Quran. Sedangkan Agus aja, baca Quran masih kaya anak SD.”


“Ya elah baca gitu doang lo bangga, biasa aja kali.” Andi menekan kepala Nanang yang terlalu naik.


“Ndi, lo milih gue atau Agus?” tanya Nanang baik-baik.


“Gue mending milih Pram buat adek gue. Dia ganteng dan kaya raya. Adek gue ga bakalan jadi miskin.”


“Masa mandang fisik dan materi sih.” Nanang menyengit kepada Andi. “Gue serius ini …. lo mending milih Agus atau gue?”


Suara pertanyaan itu membuat Andi dan Nanang menoleh. Ternyata Felix berdiri dengan jelas di sana dan suaranya juga sampai ke dapur.


“GOBLOK!!!!” Andi menekan suaranya agar tidak terdengar.


Mamanya Andi menyadari kehadiran Felix di atas sana.


“Eh Felix, ayo ke bawah. Makan dulu … ada rendang kalau mau makan nasi. Juga ada kolak labu kalau mau yang manis-manis.’


“Ini mereka berdua ngapain Mak Uwo?” tunjuk Felix kepada Andi dan Nanang.


“Ini … hmm … lagi nonton anime sama Nanang,” jawab Andi.


Nanang sudah sedari tadi mengisyaratkan Felix agar tetap diam. Untung saja Felix mengiyakan meskipun tidak mengerti konteknya apaan. Tidak mau berpikir panjang, ia segera bergabung ke dapur untuk makan kolak labu. Begitu pula Andi dan Nanang yang selamat dari kecurigaan jika mereka sedang menguping. Perasaan segan menyelimuti mereka tatkala hidangan sudah tersedia di meja makan. Mereka pun makan bersama sambil mengobrol kegiatan masing-masing kepada mamanya Andi.


Lagi-lagi Andi dibandingin sama Agus dan Felix yang udah sukses dan mapan. Memang mereka masih tinggal bersama orangtua, tetapi secara finansial mereka sudah bisa jika harus berpisah rumah dan hidup sendiri. Sementara itu Andi masih aja di rumah menunggu jajan bulanan, Itu pun disuruh bersihin kamar mandi malas banget. Sindiran itu pun berlaku pula kepada Nanang yang nasibnya sebelas dua belas dengan Andi.


Menjelang jam sepuluh, teman-teman Andi pamit pulang. Sebenarnya orangtua Andi tidak mempermasalahkan jika mereka bertahan dan malah senang jika mereka tidur di rumahnya Andi, tetapi masih ada aktivitas pribadi yang harus diselesaikan masing-masing dari mereka.


Makan jam sembilanan tadi ternyata tidak mengurungkan niat mulut Andi untuk berhenti ngunyah. Mulailah Andi jadi bajing pencuri makanan di kulkas tetangga. Jam sebelas malam memang jadi waktu-waktu yang krusial untuk lapar lagi. Oleh karena itu, Andi pergi menyelinap masuk ke rumah Tami.


Sudah ia panggil di pintu belakang, ternyata Tami tidak menyahut. Ia mengambil kunci yang disembunyikan di suatu tempat agar Andi bisa masuk ketika Tami sedang tidur atau keluar rumah. Kuncinya terletak di tempat rahasia yang tidak akan diberitahu oleh Author. Takutnya malah ada pembaca yang masuk ke rumah Tami kalau tahu lokasi kuncinya.


Sumpah ini tidak penting sekali ….

__ADS_1


Setelah masuk, Andi memanggil Tami lagi. Ia berasumsi jika Tami sedang tidak ada di rumah. Biasanya, Tami langsung menyahut jika Andi memanggil sekali saja. Langsung deh Andi menyelinap ke kulkasnya Tami untuk mengambil minuman cola. Di lemari piring, Andi mengambil satu bungkus mie instan .


“Oh ternyata ini maling rumah Tami tiap malam ….”


Sarah berdiri dengan melipat tangan. Kehadiran Sarah membuat Andi mengelus dada.


“Wah elo Sar, gimana bisa lo di sini?”


“Gue tidur di sini.”


“Lah kok bisa?”


“Ya gue lagi mau tidur di sini aja.”


“Mana Taminya?”


“Lagi mandi ….”


“Mana? Kok ga lihat?”


Kepala Andi langsung ditabok sama dua bungkus mie instan. “Ya mana mungkin lo lihat sih! Masakin dua bungkus lagi yaa …. Nanti kita makan di belakang rumah Tami.”


Terpaksa Andi menjadi tukang masak malam ini.


Andi dihadapkan oleh dua orang cewek pakai daster tipis yang keteknya saja nampak waktu mengangkat tangan. Apalagi Tami yang memiliki body aduhai langsung dilirik sama Andi, beda jauh dari Sarah yang cenderung kurus dan berotot.


“Eh tahu ga, adek lo itu ditelponin sama Agus.” Sarah memulai pembicaraan sewaktu mie instan kuah berada di hadapannya. Sedikit meniup karena uap panasnya, lalu dicicipi kuahnya sedikit.


“Ah masa sih Sarah?” tanya Tami.


Mata Andi langsung mejam waktu Tami memutat tubuh karena tali temali di bahunya nampak.


“Iya, waktu itu kan gue nyariin Andi di rumah. Gue enggak sengaja melihat hapenya Aisyah yang ditelponin sama Agus. Ya, gue ga tau sih apa Aisyah pengen ngakat atau enggak, bisa jadi ia ga mau ngangkat karena gue lagi ada di sana.”


“Terus, dia ngapain selanjutnya?” tanya Tami lagi.


“Gue tanyain dong kenapa bisa dia ditelponin sama Agus. Si Aisyah-nya ngaku kalau sering ditelpon sama Agus. Terus, katanya dia agak risih gitu. Tapi ga tau juga ya, mana tahu si Aisyah lagi ngibulin gue. Kayanya dia seneng deh ditelponin sama polisi.”


Sarah dan Tami kembali ke mode ibu-ibu rumpi. Andi mengingat bagaimana ekspresi ibu-ibu waktu nangkring di gerobak sayur abang abang yang sering mampir ke komplek.


“Gimana dong Ndi? Lo mau adek lo sama Agus?”


Andi diams sejenak untuk berpikir. Kalau dipikir-pikir lagi, Agus itu orangnya baik. Lagi pula ia sudah mapan secara finansial dan orangnya dewasa semenjak lulus menjadi polisi. Tapi, Agus tetap aja Agus yang ia kenal. Bahkan, mereka juga sering tuh ngelihatin cewek-cewek Tik-Tak atau berbagi video bersama ketika lagi gabut. Ya, hampir samalah dengan Andi.


“Entahlah, gue ga tau juga. Tergantung Aisyah-nya. Gue juga enggak pernah ngelarang dia mau berhubungan dengan siapa, asalkan orangnya itu baik,”


“Tapi kan dia Agus loh …,” sanggah Sarah. “Dia itu otaknya booke⸺”


“Bener juga sih. Tapi kan mana ada cowok temen gue yang ga mikirin itu sih!”


“Menurut gue ga apa juga sih Agus bisa sama Aisyah. Lagi pula Aisyah kan bukan cewek yang mau pacaran. Kalau Aisyah mau diajakin nikah langsung, malah bagus kan?” saran Tami.


“Ah, terserah deh … mau Agus, mau Nanang, mau Felix … eh Felix jangan deh asal pindah agama dulu hehehe.” Andi menyeruput kuah mie instannya.

__ADS_1


“Mana tahu Felix bisa jadi Ustadz Felix Shiaw kan? Hahaha ….” Sarah tertawa.


***


__ADS_2