Andi X Sarah

Andi X Sarah
24. Bikin Repot (SEASON 2)


__ADS_3

Bikin Repot


Ia makin gaduh ketika Naila masih memegangi bahunya yang tadi sempat terhantam. Hantaman tadi sepertinya masih membekas di tangan Naila. Ia tidak sampai hati melihat Naila yang kesusahan mengambil air di aliran air terjun. Dengan memberanikan diri, Andi datang menghampiri.


Cukup ragu untuk menyapa karena kejadian tadi. Namun, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada kata maaf yang mendalam diucapkan darinya. Kesalahan itu kini bertambah rumit.


"Naila, sini gue bantuin," ucap Andi.


Wanita berambut terikat itu terkejut dengan menyentuh dada. Ember yang tadi ia tenteng terjatuh hingga menumpahkan air yang sudah diambil. "Ya Allah ... gue kira makhluk binuan lo. Tiba-tiba aja datang dari balek batu."


"Seganteng ini lo kira Jin. *** sekalee." Andi mencairkan suasana.


"Enggak .....   gue lagi ngambek, jangan deket-deket gue. hush ...."


"Ngambek bilang-bilang."


Tangan Andi menggapai ember yang tadi terjatuh. Ia rasakan air yang begitu sejuk menyentuh mata kakinya. Semakin ke dalam, air semakin sejuk dan berombak. Ingin rasanya ia membuka baju dan menumpahkan diri pada butiran air yang deras jatuh ke bawah.


"Jangan jauh-jauh, ntar lo tenggelam," ucap Naila.


"Lo ngambek tapi masih mau ngomong sama gue," balas Andi sambil menunduk.


Satu buah ember dilempar oleh Naila dari tepian. Walaupun terbawa arus, Andi tetap berusaha mengerjarnya. Percikan air dari langkah bar-bar Andi, membuat Naila bergeser semakin ke tepi.


"Jadi, gue harus ngapain? Btw, tadi itu sakit." Naila duduk di rerumputan yang tumbuh di tepian. Sembari melihat Andi yang masih betah di air, ia mencoba menenggelamkan kakinya pada pasir basah berkerikil kecil.


"Itu makanya, gue minta maaf. Sarah juga udah tahu, dia nyuruh gue buat minta maaf." Langkah Andi bergeser ke tepian.


Naila tidak kunjung berdiri. Andi menyadari bahwa wanitta itu masih ingin menetap di sini untuk sementara waktu. Menikmati embun air terjun yang deras, gemericik air yang beriak di tengah, serta kicauan burung hutan yang sahut-menyahut bergantian. Untuk tak terlalu dekat, Andi memilih naik ke sebuah batu untuk duduk.


Sebatang rokok ia bakar untuk menikmati waktu yang sejenak ini. "Tadi gue cemas sama lo."


"Lo bisa cemas sama gue?" tanya Naila dengan sebelah alis yang naik.

__ADS_1


"Yaa gimana ga cemas ... lo diam begitu, ditambah lagi Sarah bakalan ngamuk. Lo belum tahu Sarah ngamuk gimana kan?"


Naila tersenyum lepas. Wajahnya menoleh pada Andi yang menghembuskan kepulan asap. Setelah itu, lirikan matanya kembali pada gemericik air. "Dulu gue pernah kelahi sama temen gue."


"Kelahi sama temen biasa kali ... kaya kita tadi."


Kepalanya menggeleng pelan. "Bukan itu intinya, waktu itu gue masih kecil banget, kira-kira tiga tahun. Kami kelahi waktu kelahi, dia ngedorong gue."


"Ngedorong lo?" tanya Andi penasaran.


"Bener ... dia ngedorong gue, trus gue jatuh ke sebuah comberan. Akhirnya, tangan gue patah. Makanya itu gue enggak suka kalau ada yang ngedorong gue, gue trauma."


Kepulan asap bertambah lambat ketika diperhujung kalimat Naila. Sebuah tragedi ungkap mengenai kecemasannya akan sesuatu. Wajahnya yang begitu marah bercampur sedih sewaktu itu, ternyata menyimpan sejarah menyakitkan yang masih ia simpan. Kejadian itu membuat Naila begitu takut jika sesorang tengah mendorongnya.


"Gue bener-bener minta maaf." Tangan Andi menempel untuk memohon.


"Sudah berapa kali lo minta maaf sama gue?" tanya Naila.


"Berapa kali pun gue bisa, asal lo terima."


"Sumpah, semenjak gue dengerin cerita lo semenit yang lalu. Gue jadi sadar kalau kelakuan gue tadi bener-bener salah."


"Hahaha ... kenapa sih lo begitu takut sama Kak Sarah?" tanya Naila.


Andi mengehembuskan kepulan asap terakhirnya sebelum ia kembali menyulut untuk sebatang lagi. "Gue bukan takut, tapi gue sayang."


"Entahlah ... gue kurang tahu sama percintaan. Gue enggak pernah ngerasain bagaimana rasanya disayang sama cowok."


"Beneran?"


Naila mengangguk. Ia berdiri untuk merendam kaki. Batuan kerikil di dalamya seraya memijat kakinya yang kesemutan. Sedikit sulit untuk melangkah lebih dalam, namun ia menikmati ombak beralun lambat yang menyapa.


"Sumpah, gue belum pernah pacaran." Naila menatap kedua kakinya yang membesar dibiaskan air. "Kenapa lo sayang Kak Sarah?"

__ADS_1


"Sarah ... cewek bar-bar yang ngerubah gue. Gue itu dulu brengsek parah, suka mainin cewek, tukang buat masalah, dibenci banyak guru, dibenci sama temen seangkatan karena gue sering bully anak orang. sekarang, gue ngerasa lebih baik karena Sarah."


Kepala Naila memereng memerhatikan kalimat Andi. Ceritanya menarik, tidak pernah ia dengar sebelumnya. "Iya, Kak Sarah itu disiplin banget. Tapi, bukannya banyak yang suka sama Kak Sarah?"


"Iya, sih ... bar-bar kaya gitu cowok banyak yang suka. Senior-senior yang lebih ganteng dari gue juga pada ngincar Sarah. Tapi, entah kenapa dia bisa milih gue yang apa adanya kaya gini."


"Orang banyak bilang, kita enggak pernah memilih kepada siapa cinta itu berlabuh."


Andi tertawa pelan. Ia menghampiri Naila yang memainkan air menggunakan kakinya. "Sok puitis lo."


"Gue selain suka main game, gue suka baca buku sastra. Gue juga nulis."


"Oh iya, kalian itu kok namain diri kalian itu CBS?" Andi menanyakan geng Naila yang berisikan tiga orang. Tidak sengaja mereka satu kelompok bimbingan Andi.


"Hahah ... gue itu cantik, Cece itu Bohay, Dinda itu Sexy. Benerkan?"


"Lo nyadarkan banyak senior yang ngiri?" tanya Andi.


Naila mengangguk setuju. "Bener sih, beberapa kali kami kena labrak."


"Kalau ada yang ngeganggu kalian, bilang aja ke gue, asalkan bukan kalian yang bikin ulah."


Dengan sengaja Naila memercikkan air ke tubuh Andi. Kalimatnya tadi membuat Naila jijik. "Sok heroik."


"Satu sekolahan itu takut sama gue, tenang aja. Kalau enggak ada gue, bilang aja ke Anak Amak yang lain." Andi berbalik badan. "Ayo balik, mereka pasti nanyain."


"Kuy."


Segarnya air berakhir di tepian. Andi menenteng dua ember yang tadi ia isi. Rasanya ingin berlama-lama di sini, namun mereka pasti menunggunya di sana.


Tidak lama kemudian terdengar sebuah suara ceburan air yang keras. Sontak Andi menoleh ke belakang. Ia lihat wajah Naila yang terendam di dalam air. Sekujur tubuhnya basah karena terjatuh ketika melangkah. Batu yang licin membuat Naila terpeleset dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya.


"Tolongin gue!!" panggil Naila.

__ADS_1


Bikin repot aja nih anak!


***


__ADS_2