
Bola api
Malam berbisik menyingkap segala sesuatu rahasia yang dikandungnya. Deru nan tak henti dari air terjun terngiang mengisi sunyi kegelapan. Sahutan warga rimba sebelah membelalakkan mata jika benar-benar bisa untuk ditatap. Hangatnya sweater Andi masih dirasakan oleh Naila semenjak ia pasang sedari tadi siang. Di sini dingin, pria itu malah meminjamkan untuknya. Meski sedikit kasihan, namun Naila tetap bertahan untuk memakainya.
Jujur, ia masih masuk angin semenjak kedinginan berat berendam dengan tak sengaja di air terjun. Entah bagaimana bisa sebuah batu menyandung dirinya hingga terjebur. Tidak bisa dielakkan, ia dengan cepat mengganti baju di semak-semak dengan nyamuk nan berterbangan.
Malam belum terlalu naik, rembulan masih menatap redup di belakang bintang nan bertaburan. Anak-anak yang lain masih bertahan di tenda, walaupun sebagiannya sudah bahu-membahu untuk membuat api unggun yang lumayan besar. Dilihatnya sekeliling, tidak ada Andi dan teman-teman yang masih bertahan di sekitaran tenda.
"Lama juga tidur lo," ucap seseorang yang baru saja datang dari belakang tenda.
** nih anak pede amat ngerokok di depan guru*.
"Woi ***, lo ngerokok ... di sana ada guru," balas Naila dengan kesal. Soalnya asapnya itu loh ...
"Biarin, mereka udah tahu gue begini ... udah bosen mereka marahin gue. Gue aja yang bebal."
"Nanti lomba apa?" tanya Naila.
"Main bola api," balas Andi singkat.
Mata Naila terbelalak mendengarkan jawaban Andi. Ini seriusan main bola api? Kayanya panitia ga mikir apa kaki anak orang bisa gosong gara-gara nendangin bola api.
"Serius lo? gue enggak main, ah. Takut."
"Lo, Bunga, Emilia, dan Cece. Gue udah daftarin namanya ke Sarah."
Naila sedikit menghindar dari hembusan rokok Andi. "Kenapa harus gue sih? Kenapa ga cowok-cowok aja yang main?"
"Eh lo kira kita punya banyak cowok. Karena jumlah cowok kita enggak berimbang, makanya cowok pisah perlombaannya."
"Jadi yang cowok lomba apa?" tanya Naila.
"Seperti berlomba lari, namun diberi sebuah tantangan," jawab Andi.
__ADS_1
"Mending gue yang main." Naila menyombongkan diri.
Mengarkan hal itu, Andi menjadi tertawa. "Emang lo sanggup lari-lari ngos-ngosan lawan anak laki-laki. Lagian, ini lomba Cuma buat anak cowo."
"Yaudah, gue ga sabar nendangin bola apinya."
"Baiklah, kalau ada apa-apa, lo bisa pangil gue."
Naila hanya memberikan jempolnya dan pergi menuju api unggun yang mulai menyala.
Hentak suasana malam begitu kental tak bercelah. Api unggun terasa lebih hangat berkat nyanyian salah satu teman yang diiringi oleh pemain gitar di sampingnya. Makan malam terasa lebih nikmat oleh harmoni yang dirasakan, ditambah lagi senda gurau teman-teman yang tiada henti.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Sarah berdiri untuk memberi tahu jika pertandingan bola api akan dimulai. Ia meminta para anak cewek untuk berkumpul di tanah lapang yang tidak jauh dari lokasi kemah. Sementara itu, para lelaki yang mengikuti lomba berlari mengikuti Andi menuju sebuah tempat. Bagi yang tidak bertanding, diminta untuk berada di tanah lapang karena tidak hanya lomba bola api, tetapi ujung dari rute lomba lari berada di sana.
Tanah lapang memuat hingga sepuluh buah arena bertanding bola api. Jadi, bisa dengan cepat menghabiskan seluruh pertandingan yang berjumlah 30 kelompok. Memang, arena tidak terlalu dibuat besar untuk memungkinkan terciptanya gol yang lebih cepat. Pada acara perkemahan ini, akan diambil empat kelompok terbaik yang hitung dari nilai perolehan per lomba. Jadi, mereka akan berlomba-lomba untuk menciptakan nilai terbaik agar menjadi pemenang.
Dengan sebuah toa, Sarah berbicara kepada seluruh peserta lomba bola api.
"PAHAM!!!"
Masing-masing panitia sibuk membimbing para peserta ke arena perlombaan. Naila dan teman satu timnya berjalan perlahan mengikuti abang panitia sambil diliatin sama lawannya yang ada di samping. Merasa diliatin melulu, Naila tidak ingin kalah dengan membalas tatapan yang diberikan.
"Mata lo biasa aja," ucap Naila.
"Sok keganjengan lo ya sama Kak Andi. Udah tau dia pacarnya Kak Sarah."
"Ih, so tau lo ya. Awas lo gue patahin kaki lo di lapangan," balas Naila dengan kesal.
Gila ni anak!!! Malah ngatain gue gatal sama Andi brengsek itu!!
Mereka sama-sama masuk ke lepangan. Sebelum bermain, mereka dipandu untuk bersalam-salaman dan berdoa agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Meskipun kesal, Naila tetap menyalami lawan yang baru aja mengatai dirinya.
"Tendang aja, ga panas ... kaya gini." Panitia menyontohkan cara menendang yang benar. "Sentuh sebentar aja, tapi kuat biar tempurungnya bisa ngegelinding. Lagian kalian pake sepatu. Kalau begini aman. Hati-hati jangan main kasar."
__ADS_1
Tim Naila mendapatkan kesempatan untuk melakukan kick off. Sambil menatap cewek tadi dengan benci, ingin rasanya menyampakkan tempurung ini ke mukanya.
"Cuma gini mudah banget, tendang dengan kuat, mereka ga bakalan berani tahan. Liat aja muka anak mami semua." Naila memberi tahu caranya kepada Cece, teman satu gengnya di CBS.
"Lo kayanya tadi adu mulut sama cewek itu," balas Cece sambil menunjuk.
"lo bayangin aja dia bilang ke gue kalau gue menggatal sama Andi. Selama ini cowok yang ngegatal ke gue," jawab Naila.
"Tapi memang iya, kan?" Cece tersenyum licik untuk bercanda.
"*** kau. Ayo, oper ke gue."
Operan pertama langsung diberikan kepada Naila. Karena sudah tahu triknya, Naila mencari ancang-ancang untuk mendendang. Ia yakin trik ini mudah dilakukan karena permainan ini tidak terdapat kiper yang menjaga gawang. Memang sih gawangany kecil, tapi masih terasa lebar untuk ukuran cewek.
"Tendangan Naila cantik!! HAAAAA!!!!!"
Bunyi tempurung api yang ditendang terdengar keras hingga para penonton terkejut. Api yang berputar turut membunyikan suara yang khas, hingga lawab terlihat mengindar dari putaran bola yang cepat. Tidak ada satu pun yang berani menghentikan pergerakan bola. Naila dengan senyum liciknya tertawa melihat lawan yang berteriak ketakutan. Bola api yang ditendang, dengan mulus memasuki gawang yang dibatasi oleh sepatu.
"GOLLL!!!!" Para penonton berteriak untuk keberhasilan Naila.
Seluruh anggota tim memeluk Naila dengan girang. Namun, Naila tetap memasang wajah cool-nya kepada cewek yang tadi.
Kini giliran lawan yang membawa bola. Lawan terlihat mengoper bola dengan asal-asalan. Namanya juga kan anak cewek main bola, apalagi bolanya itu bola api. Melihat cewek tadi membawa bola, Naila dengan cepat mencegat pergerakannya. Dada mereka saling beradu-adu.
Lah kok dada sih?
Ya ... memang begitu kejadiannya.
Dada mereka saling beradu-adu. Pergerakan lawan berhasil dihalangi Naila, tetapi bola tetap dikuasai cewek itu. Aksi dorong mendorong terjadi. Naila yang kesal, balas mendorong cewek itu. Tanpa diduga, ia menginjakkan sepatunya kepada Naila hingga Naila tertunduk memegangi kaki. Wanita itu berhasil melewati Naila.
Idih, ni anak minta main kasar!!!
***
__ADS_1