
Andi mengingat masa kecilnya dulu yang selalu dipaksa untuk pergi mengaji ke masjid. Kalau tidak mau, maka mamanya bakalan menghadirkan tangkai sapu buat nakut-nakutin. Biar Andi mau ikut, mamanya Andi meminta Memet untuk mengajak anaknya biar ikut ke masjid tatkala magrib, lalu bertahan sampai Isya di sana. Lama kelamaan, Andi jadi ketagihan buat ke masjid. Bukannya buat mengaji, melainkan buat main bersama teman-teman sekaligus minum minuman jas jus seribuan yang bikin tenggorokan amandel.
Walaupun bobrok-bobrok begini, masa kecil Andi juga dihabiskan di dalam masjid. Tidak heran Andi juga pandai mengaji dan berirama, meskipun makhraj dan tajwidnya masih salah, setidaknya tidak malu-maluin sewaktu disuruh mengaji. Bahkan, sampai besar pun mengaji di kala magrib juga dijadikan kebiasaan. Ada hal yang aneh rasanya kalau tidak mengaji, yaitu mamanya bakalan marah-marah lagu.
Ya begitulah mamanya Andi, di depan teman-temannya sangat lembut sekali, sehingga teman Andi nyaman kalau di rumah. Beda hal nih kalau Andi sendirian di rumah, alamat kena marah setiap hari gara-gara kelakuan aneh Andi. Terkadang jemur pakaian tidak beres, terlambat ngangkat jemuran, malas bersihin kamar, sampai bangun kesiangan.
Program Kerja Magrib Mengaji ini dicanangkan oleh Nanang. Babehnya Nanang yang ustadz itu memaksa Nanang agar menyemarakkan gema mengaji di masjid tempat KKN. Setiap magrib, beberapa di antara mereka akan bertahan di masjid hingga Isya berakhir untuk mengajari mengaji. Sebenannya ada marbot dan imam masjid yang mengajari selama ini, tetapi mereka tidak cukup untuk menghadapi sekian banyak anak-anak desa yang dititipkan oleh apra orangtuanya. Tidaklah digaji uang, melainkan berupa donasi beras serta hasil tani lainnya. Dengan hadirnya anak KKN, pekerjaan mulai mereka bisa terbantu.
“Lu apal niat solat maghrib kan?” Nanang yang disamping Andi berbisik.
“Ya hapal dong guoblok. Gue ini bukan murtad!” protes Andi.
“Oke … gue adzan dulu ya ….”
Jemaah masjid baru tahu kalau Nanang ini putra dari Ustadz Dr. Nazaruddin, Lc, MA yang sering tampil di TV nasional. Meskipun Andi tahu gimana Nanang luar dan dalam, tapi jamaah masjid tetap menganggap Nanang sebagai anak alim. Kan sebenarnya ga gitu juga aslinya Nanang. Demi menjaga nama baik seorang babeh, Nanang pun turut menjaga sikap.
Tiada yang menyangka, Andi langsung terkejut mendengar suara adzan Nanang. Dia seperti mendengar adzan di chanel Rodja TV yang ada di saluran televisi rumah. Anak yang dulu tetap ikut pergi minum, meskipun di sana tetap nolak ikutan, ternyata bisa adzan dengan bagus. Andi pun membalas setiap bait adzan seperti yang lain, terkagum-kagum dengan suara indah Nanang.
“Laa ilaa hailallaah ….” Nanang mengakhiirinya dengan iqamah.
Setelah itu, Nanang berdiri di samping Andi.
“Gimana, gue ini bisa adzan dong ….”
“Sabi nih ikut lomba adzan anak madrasah komplek gue,” balas Nanang.
Sholat magrib sudah, Andi langsung solat sunnah karena ia jarang doa bersama. Kan Andi ini Muhammadiyah, beda sama Nanang yang Nadhatul Ulama. Meskipun berbeda, mereka tetap bersaudara. Biasanya, orang-orang Minang mayoritas memang Muhammadiyah, sedangkan orang Betawi kaya Nanang biasanya mayoritas Nadhatul Ulama. Kalau Andi panutan ulamanya Buya Hamka, sedangkan Nanang panutannya Gus Dur.
“Mari kita mulai ngaji ini dengan ta`awudz … ayo baca bersama-sama,” ucap Andi kepada lima orang anak murid yang duduk bersila di hadapannya.
Selagi anak muridnya bersiap-siap membaca buku iqra alip ba ta tsa, Andi melirik ke arah Sarah yang sedang memakai telekung. Sontak ia bergeming dengan Sarah yang akrab dengan anak-anak. Kalau pakai telekung begini, kecantikan Sarah nambah sekian persen dari biasanya. Apalagi kalau megang kitab suci, kaya anak pesantren, tetapi kelakuannya rocker penikmat Nirvana.
Tanpa ia duga, Sarah pun menoleh padanya. Sarah berpikir begitu pula, Andi tampan jika pakai baju kaftan cowok serta peci hitam, kaya orang gaya-gaya orang Pakistan gitu. Kalau di komplek, Sarah selalu nungguin Andi lewat di jalan kalau habis solat magrib bersama Memet. Dia bakalan ngintip di jendela sembari senyum-senyum sembari berharap Andi mampir. Ternyata Andi tidak pernah mampir kalau magrib, kata Aisyah dipaksa ngaji dulu sama mamanya,
“Om, jangan ngelihat Kak Sofi terus dong!” protes Maya yang ada di depan Andi.
Lah, kan Andi ngelihatin Sarah bukan kakaknya yang lagi baca Qur`an di pojokan.
__ADS_1
“Ih kamu diam … baca Iqra` nya dulu.” Andi meminta Maya buat maju duluan. “Kamu udah sampai mana baca iqra`-nya?”
Maju ke depan sembari membuka bacaan lanjutan dari kemarin. “Om Maya bilangin Ibu loh kalau lihatin Kak Sofi.”
“Ga ada loh … ah kamu ini bawel banget.” Andi menekan awal bacaan iqra lima yang jadi kelanjutan bacaan Maya magrib ini.
“Awas loh ya!”
Adik Kaka memang beda banget. Adeknya bawel, kakaknya kalem. Mending ngajarin kakaknya ngaji. Loh (?)
Seluruh anak murid Andi selesai diajarin ngaji satu per satu. Mereka diperbolehkan pulang setelah solat Isya. Andi dan beserta anak KKN lainnya pulang ke posko. Anak cewek KKN mempercepat langkahnya karena akan menghadiri kegiatan arisan anak gadis desa di rumah Sofi. Sementara Andi dan Nanang pergi dulu ke warung buat beli mie instan.
“Lo mau mie apa?” tanya Nanang.
“Mie goreng kriuk pedas. Beli dua ya, gue mau dabel makannya nanti.”
“Oke ….” Nanang pergi ke warung, sementara Andi nunggu di tepi sambil duduk di kursi kayu yang tersedia.
Tanpa ia sadari, seorang wanita tampak menghampiri. Ternyata itu Sofi yang lagi menggandeng adeknya Maya. Maya memandang sinis kepada Andi, sedangkan Sofi malah tersenyum.
“Itu nungguin Bang Nanang beli mie instan.”
Sofi melihat ke warung. Benar Nanang sedang duduk menunggu uang kembalian. Pasti uangnya gede, balikin duitnya pakai lama.
“Makan aja di rumah Sofi …”
“Ah ga usah Kak. Kan Om Andi bisa makan di rumahnya,” sanggah Maya.
“Lah … rumah Bapak di kota. Mana di sini rumah Bapak,” balas Andi.
“Hahah … kamu ini Maya. Itu namanya posko KKN, bukan rumah.”
“Yalah …”
Sofi tersenyum kepada Andi. “Bang … itu ….”
“Apa?”
__ADS_1
“Eh … ga jadilah. Sofi pulang dulu ya. Assalamualaikum ….”
Maya tetap aja mandangin sinis Andi dan Sofi. Ni anak udah judes sejak dini, mukanya ampir sama kaya Sarah kalau lagi ngambek. Gedenya pasti modelan kaya Sarah nih.
Nanang baru saja datang sewaktu Sofi baru saja satu kali langkah menuju pulang.
“Loh, Sofi ….” Nanang menoleh kepada Maya. “Hai Maya ….”
“Iya Bang Nanang ….,” balas Maya.
Parah … Andi dipanggil Om, sementara Nanang dipanggil dengan sebutan Abang. Padahal, muka Andi tidak tua-tua amat daripada Nanang, paling tua beberapa bulan doang.
“Kami pulang dulu ya Bang Nanang.”
“Nanti Abang Nanang mampir ke rumah Maya ya. Ada makanan banyak loh,” pinta Maya.
“Heheh … sebenarnya mau … tapi kan acara cewek. Masa sih Abang ikut ke sana,” balas Nanang dengan lembut kepada Maya.
“Yaah … ga asyik. Ngambek ah.” Pipi Maya menggembung karena ngambek.
“Besok-besok deh Abang main ke sana sama Bang Andi.”
“Ga mau sama Om Andi. Dia ngincer Kak Sofi!” protes Maya.
“Lah elu dipanggil Om?” Nanang heran dengan sebutan itu.
“Ga tau nih anak absurd banget,” pungkas Andi.
“Bye Bang Nanang, Bang Andi … kami pulang dulu.” Sofi melambai kepada mereka.
Andi dan Nanang memandangi Sofi yang menggandeng adeknya tersebut untuk beberapa saat.
“Aduh … tuh cewek lembut banget ya suaranya kaya marshellow, bikin lumer ….”
“Beda banget sama adeknya, bawel!” Andi merangkul Nanang. “Ayo pulang, gue mau mukbang mie dabel.”
***
__ADS_1