Andi X Sarah

Andi X Sarah
86. Terlampau Baik (SEASON 3)


__ADS_3

Bukannya memakai pakaian yang tertutup, Nabe malah engenakan daster tipis sepaha yang sering dipakai buat cewek-cewek Tik-Tak bergoyang. Mata andi gagal fokus sewaktu Nabe menarik sedikit bagian bawahnya ketika duduk. Andi menghela napas panjang tatkala wanita itu datang ke meja tamu yang ada di kosan. Sengaja Andi mengajak Nabe untuk mengobrol di sana agar menghindari masuk kosan. Sempat masuk tadi sebentar ke dalam kosan, tapi Andi keluar lagi karena canggung.


Nabe tersenyum lebar melihat Andi sedang ada di hadapan. Baginya, tidak ada pria teramah yang ia kenal selain Andi. Bagaimana mau kenal pria teramah, selama ini pria yang kenal dengnnya hanya untuk berasyik-asyik saja. Senior-senior pun ketika mengobrol pasti pada menggoda dirinya, tidak ada yang benar-benar ingin mengobrol.


Sementara itu Andi diam melihat Nabe dari ujung kaki hingga ujung rambut. Di hadapannya sudah salad buah dan susu, serta vitamin yang dibelinya dari indoapril. Ia tidak ingin menjenguk tanpa membawa apa-apa, meskipun sederhana seperti ini.


“Jangan senyam-senyum, gue tahu lo lagi sakit ….”


Wajah Nabe berubah datar. Kini ia memperlihatkan eskpresi yang seharian ini ia rasakan, yaitu lemas. Tangan Nabe pun melipat di dada, seperti orang cuek. Ia berusaha sedikit jual mahal sebagai wanita.


“Mau ngapain lo ke sini? Katanya enggak mau ke sini lagi.”


Andi menggeser barang bawaannya tersebut. “Nih ada buat lo.”


“Cuma buat ini? Bisa diBojekin aja kali.” Nabe membuang muka.


“Yaelah sok jual mahal lo. Kenapa? Ada yang enggak bayar hari ini?”


Dahi Nabe menyerngit. “Ih itu mulut kasar banget sih. Kalau gue lagi open jasa, ke hotel. Lagi pula gue udah berhenti kok. Sumpah gue udah berhenti.”


“Beneran?” tanya Andi untuk memastikan.


“Iya beneran. Gue udah tobat ….”


“Tobat? Udah solat? Solat dulu baru minta tobat.”


“Hehe itu belum, gue enggak ga hapal bacaan solatnya.”

__ADS_1


Bujubuneng … ni anak segede ini apa enggak pernah ikut madrasah waktu bocilnya? Andi pun tidak ingin membahas mengenai hal privat seperti itu lagi.


Nabe meraih barang bawaan Andi masih dengan ekspresi jaul hal. Ia meletakkan kantong indopapril itu di samping dirinya.


“Nabe, lo enggak masuk kelas tiga hari. Temen-temen pada enggak tahu dan bahkan enggak peduli lo ke mana. Lo ngapain aja selama ini di kelas sih? Kok enggak bergaul dengan yang lain.”


Wajah Nabe menunduk. “Gue itu Andi enggak suka orang-orang yang ngebicarain gue dari belakang. Anak cewek pada ngegosipin gue. Mereka bilang gue jablay lah, cewek enggak baik-baik lah, mainan dosen lah, dan lain-lain. Apa enggak bete gue kalau tahu mereka begitu.”


“Kan memang bener ….” Andi keceplosan, lalu menepuk bibirnya sendiri. “Maksud gue, bukan jadi alasan lo buat enggak menjalin pertemanan dengan yang lain. Walaupun begitu, ada saatnya elo butuh sama mereka nanti. Seperti saat ini.”


“Sakit hati gue Ndi. Gue memang jablay, okelah bisa dibilang begitu. Tapi jablay kan juga punya harga diri. Sebejat-bejatnya gue, gue enggak pernah ngebicarain mereka di belakang. Lo kira gue enggak tahu sejumlah nama yang pernah diajakin check in sama temen angkatan.”


“Waduh siapa itu?” Andi jadi penasaran sama yang ini.


“Ada, beberapa ada di kelas kita. Lo enggak perlu tahu.”


“Oke engggak usah dibalas.” Andi menatap Nabe. Kini sorot mata mereka berada di satu pertemuan. “Lo udah mendingan?”


“Nanti makan ya biar lo seger lagi. Gue harap lo masuk kelas lagi dan bergabung dengan yang lain.”


“Ndi,” panggil Nabe hingga Andi menatap. “Lo suka cewek yang seperti apa sih?”


“Gue suka cewek yang itu memang cewek. Sekarang kan banyak cewek jadi-jadian,” balas Andi.


“Gue serius Andi. Kalau lo suka cewek baik-baik, gue berusaha jadi baik. Kalau lo suka cewek pinter, gue jadi lebih pinter lagi. Kalau lo suka cewek hijaban, gue besok makai hijab,” jelas Nabe.


“Nabee … jadilah apa yang diri lo suka. Kalau lo suka dengan gaya lo seperti ini, ya silahkan. Berhijab? Cewek gue aja kaga pake. Jadi, pede aja dengan diri lo sendiri. Tapi tetep, lo enggak ngelakuin yang dulu-dulu itu ….”

__ADS_1


“Oke … gue tetep jadi cewek yang kelihatan bohai. Kan lo suka? Beneran kan suka? Jangan bohong lo?!” paksa Nabe untuk menjawabnya.


“Iya gue sukaa … gue enggak munafik. Tapi bukan jadi alasan gue buat melewati batas. Oke?”


Wajah menunduk ke bawah. “Maafin ya gue terkesan ngeganggu lo. Gue suka diperhatiin, sementara ini gue enggak pernah diperhatiin bahkan sama cowok gue. Dia mah nyari enaknya aja ternyata, makanya gue putusin. Lo adalah temen pertama gue yang mengunjungi gue ke kosan waktu sakit. Makasih banget yaaa ….”


Andi memberikan tos tinjunya. “Santai aja, itukan gunanya temen. Kalau butuh apa-apa, lo kasih tahu gue ya. Sekali lagi, cobalah berteman dengan yang lain. Ga usah peduliin apa kata mereka. Nanti lambat laun penilaian mereka ke elo juga berubah. Kaya mereka enggak kotor aja.”


“Makasih banyak lagi, makasih … makasih … makasih!!!” ucap Nabe dengan bersemangat karena saking bahagianya.


“Udah, jangan berlebihan.”


“Sekarang pulanglah, mana tahu cewek lo lagi pengen ketemu sama lo.”


Andi mengangguk pelan. “Oke, gue pamit dulu.”


“Tapi ….” Nabe menyentuh pahanya. “Kalau lo mau masuk dulu, enggak apa kok. Gue buka pintu ….”


“Kaga mau gue, mending sama ayam!” Sempat Andi memasang wajah datar, tidak lama kemudian tersenyum kembali. “Gue balik dulu. Jangan lupa dimakan saladnya, diminum susunya.”


“Okeee …..”


Nabe melambai kepada Andi yang mulai menghidupkan motor di bawah kosan. Tidak ia alihkan pandangannya kepada Andi, sebelum pria itu benar-benar pergi. Setelah itu, barulah ia masuk ke kosan untuk menikmati apa yang sudah diberikan Andi untuknya. Ia bahagia sekali karena Andi sudah ingin berkunjung, padahal ia berkali-kali menolak untuk berkunjung lagi. Nabe makannya pelan banget, tidak ingin kehabisan makanan pemberian Andi dengan cepet. Bahkan, ia senyam-senyum sendiri waktu makannya di atas kasur sambil mengerjakan tugas kuliah yang ketinggalan.


Sempat Nabe mengirimi chat kepada Andi untuk memastikan dirinya sudah sampai di rumah satu tidak. Namun, chat itu hanya di-read saja oleh pria itu. Meskipun begitu, Nabe tetap tidak merasa sedih karena chatnya diabaikan oleh Andi, bahkan ia merasa lucu. Ia paham jika Andi menganggap pesan itu hanya sekadar basa-basi. Pria itu sangat tidak suka dengan basa-basi.


Di dalam hati Nabe berkata …

__ADS_1


Dijadiin selingkuhanya dia, gue mau, tapi gue jadi cewek terjahat sedunia karena ngehancurin hubungan orang lain. Dijadiin FWB-an, pasti Andi enggak mau. Dia terlampai baik sebagai teman ….


***


__ADS_2