Andi X Sarah

Andi X Sarah
153. Suara-Suara Aneh (SEASON 3)


__ADS_3

Kalimat Sarah terngiang-ngiang di kepala Andi mengenai suara aneh yang sering terdengar di malam hari. Untuk memastikannya Andi berjaga dengan segelas kopi pahit dan sebatang rokok suyra biar bisa melek. Namun, Andi terkejut tatkala ada semilir angin yang meniup telinganya.


“MAMAK ADUH MAMAKKU!” Andi terkejut sambil megang dada.


Menyeringai senyum seorang wanita berpakaian daster tipis. Dapur yang gelas tidak cukup untuk menyinari wajahnya yang gelap. Sewaktu Andi perhatikan lagi, ternyata itu Tasya yang ingin mengambil air minum di dispenser.


“Aduh … elo kenapa sih sendirian gelap-gelapan di sini?” tanya Tasya dengan heran. Ia melihat ke belakang. “Yang lain pada tidur. Elo masih aja ngopi.”


“Ga ada, mau jadi satpam aja. Mata gue masih belum mau tidur. Maklum, gue ini nocturnal.”


Tasya beranjak ke dispenser. Dari sela-sela cahaya lampur teras belakang, Andi memerhatikan body Tasya yang aduhai sekali hasil dari fitnes dan diet rutin. Udahlah kondisi gelap dan senyap, ditambah lagi ada cewek cantik beginian. Apa enggak ke mana-mana pikiran Andi. Namun, Andi masih punya prinsip, kalau soal kebohaian, Nabe pun bisa hehehe ….


“Besok kita rapat tujuh belasan loh sama pemuda. Seminggu lagi udah mau tujuh belasan. Tidur cepat ya biar ga ngantuk ….”


“Yaelah rapat doang kan bisa sambil ngopi. Dikirain emangnya rapat kaya papa lo di legislatif.” Andi menyeruput kopinya. “Papa lo pernah tidur ga sih waktu rapat DPR?”


“Enak aja! Papa gue itu anggota DPR yang baik. Dia enggak pernah tidur waktu rapat dan apalagi korupsi.”


“Itu sih dimulutnya, ga tau aslinya gimana. Elu sih percaya aja sama papa lo.”


Mata Tasya tampak memicing, lalu duduk di depan Andi. Tangannya memangku kepala, lalu merapikan rambutnya sedikit.


“Sepi nih Ndi ….”


“Sepi? Lo mau ngapain?” tanya Andi heran.


“Ga ada ….” Tasya memejamkan mata sebentar. “Sebenarnya gue cantik ga sama lo?”


Andi diam sejenak. Ia perhatikan wajah Tasya, tidak ada celah untuk mengatakan seluruh perawatannya gagal. Orang paling bodoh di universitas pun pasti bilang gadis ini cantik.


“Lebih cantik Aisyah adek gue,” balas Andi.


“Lah, kan gue nanya apa gue cantik atau enggak …” Satu jemari Tasya menyentuh ujung tangan Andi.


Perlahan Andi menarik tangan. Ada yang janggal dari wanita ini. Andi sempat mengira kalau dia ini hantu, tapi waktu ngelihat tali bra yang mencuil sedikit di pundak Tasya, Andi jadi percaya kalau dia itu bukan hantu. Kata Agus, hantu nyamar jadi cewek itu pasti tidak pakai bra. Aneh banget nih Agus kok bisa tahu yang begituan.


“Ah aneh lu ah. Sana pergi tidur biar besok bangun cepet ….”


Tasya tersenyum pelan. “Selamat tidur Andi ….”


Setelah itu, Tasya masuk lagi ke kamar.


Rokok kembali Andi hisap sembari menghela napas. Ampir aja imannya tergadaikan di depan Tasya. Tidak bisa dipungkiri, Tasya memang ga ada obeng, punya kelebihan-kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh wanita di posko KKN ini.


Satu rokok Andi hisap, tanda-tanda suara itu masih belum Andi dengar. Dua rokok, ternyata suara Nanang yang didengar. Lagi-lagi dia ngigo diceramahin sama babehnya. Rokok yang ketiga Andi pengen pipi dulu ke ****** belakang. Andi trauma pakai kamar mandi dalam semenjak penyangganya sering copot. Alhasil, Andi yang sedang mengadu nasib dalam keadaan berjongkok dilihatin sama Nanang.


“AAHHH!!!!!” desah Andi waktu keluar dari ******.


Setelah itu, Andi pergi kembali masuk ke dalam posko. Namun, langkahnya terhenti oleh suara langkah yang berada di atas plafon langit-langit. Merasa itu merupakan suara yang samas seperti Sarah dengar, Andi mengelilingi luar posko. Kalau ini maling, pasti ada tanda-tanda seperti jejak atau tangga untuk naik ke sana. Kalau hantu, Andi udah bawa tasbih yang udah dibacain shalawat untuk mengantisipasinya. Kan gaya-gaya ustadz pilem hidayah begitu buat ngusir setan. Jadi, Andi tiru saja, mana tahu mujarab.


“Ah ga ada siapa-siapa.” Andi membuka pintu belakang.


Waktu Andi masuk lagi ke dalam, tanpa sengaja keningnya menabrak dada seseorang. Rasanya empuk seperti bantal. Andi terpejam dibuatnya. Ternyata itu Sarah yang mau keluar lewat pintu belakang. Sarah langsung mundur ke belakang, lalu melindungi dadanya seperti orang baru ternodai.


Anjir … ternyata empuk juga … tapi empukan punya Nabe, ucap Andi di dalam hati.


“Woi lo ngapain nabrak-nabrak dada gue? Lo nyari kesempatan?!” protes Sarah.


“Lah? Salah elo sendiri kenapa di depan pintu.”


“Salah elo kenapa malam-malam begini keluyuran. Gue penasaran dong kenapa pintu belakang kebuka. Emangnya lo ngapain sih?!”


Bayangkan saja pukul setengah tiga dini hari ada orang berdebat satu sama lain di kala semuanya sedang tertidur. Itulah Andi dan Sarah.

__ADS_1


Andi menghela napas. “Itu loh … gue denger suara langkah yang ada di langit-langit. Ternyata itu bener. Kalau kucing, langkahnya ternyata gede juga.”


Mendengar hal tersebut, Sarah mendekat sembari menggandeng tangan Andi. Dia jadi takut dan merinding.


“Jangan takut-takutin gue dong Andi. Ntar kalau dia nampakin diri gimana ….”


“Eh jangan nempel begini dong.” Andi melihat sikunya nempel sama dada Sarah. “Tadi elo bilang gue nyari kesempatan.”


“Lah kita kan pacaran, jadi bebas,” balas Sarah dengan santai. “Sumpah Ndi gue jadi takut.”


Andi melepas pegangan tangan Sarah pada lengannya. “Lo tunggu di sini, gue mau ngecek loteng.”


“Apa? Ngecek loteng?”


“Iya … kan bisa pakai tangga.” Andi berjongkok untuk mengambil senter yang ada di rak bawah. Senter tersebut bisa diikatkan di kepala, jadi mempermudah penelusuran.


“Nah ikuuutt!” pinta Sarah kaya bocil.


Seperti seorang detektif yang menelusuri penjahat, mereka perlahan-lahan berjalan menuju samping posko. Di sana ada tangga yang bisa dibawa ke belakang. Hanya bagian belakang posko terdapat celah untuk masuk ke loteng. Andi meminta Sarah untuk tetap di bawah tangga sehingga bisa memeganginya ketika naik.


“Pegangin ya, awas loh kalau gue sampai jatoh kaya kemarin. Gue timpa lo sampai masuk rumah sakit,” ancam Andi.


Tiba-tiba saja Sarah menutup hidungnya ketika Andi baru saja berada di anak tangga kedua.


“Andi, lo kentut? Anak babi lo!”


Andi tersenyum. “Heheh … ga tahan soalnya. Jadi gue lepas sesuatu yang harus dilepas. Sory ya ….”


Tangan Sarah menepuk pinggang Andi dengan keras. “Sorry kepalamu!”


Secara perlahan Andi naik setiap anak tangga. Andi berhenti sejenak ketika berada tepat di bawah kayu plafon, lalu menyingkrikan kayu yang jadi penutupnya agar Andi bisa masuk ke dalam area dalam loteng. Setelah memastikan Sarah tidak kabur di bawah, Andi segera masuk.


Pertama, Andi hanya masuk setengah badang. Sungguh gelap sekali keadaan dalam loteng dan penuh dengan debu. Terdengar suara tikus pengerat berkeliaran di sekitar Andi. Cahaya senter menyinari setiap bagian dalam loteng. Alangkah terkejutnya Andi melihat sosok hitam bermata merah dengan taring yang menyeringai dari mulutnya.


Andi melihat sesuatu yang menyeramkan dari balik kegelepan yang ada di dalam loteng. Taringnya menjulur ke luar tatkala mata merah menyala tampak terarah kepada Andi. Bunyi berdesis ia keluar seperti ingin menakuti Andi segera. Bulu kuduk Andi pun berdiri, ia tidak mampu bergerak tatkala sosok menyeramkan tersebut menatap dengan begitu sinis. Kata Agus, gendururo ini punya badan yang gede dan muka yang menyeramkan. Entah kenapa Agus suka cerita-cerita seperti ini, mungkin dia dukun.


“Genduruwo!!!!”


“Apa? Genduruwo?!” Sarah langsung panik. Namun ia tidak bisa meninggalkan Andi karena pacarnya masih berada di atas.


“Iya cok! Genduruwo!”


“Ya turunlah cepet! Gue udah mau pingsan nih!” Sarah menggoncang-goncang tangga agar Andi segera turun.


“Anjir dia ngedekat!”


Andi kalang kabut turun karena sosok itu mendekat. Sumpah sosok itu gedek banget. Cakarnya terasa menggaruk-garuk kayu loteng. Sesampainya di bawah, mereka langsung mundur sembari berpegang satu sama lain. Anak-anak KKN yang lain tampak keluar untuk memastikan keributan apa yang sedang terjadi. Bingung tidak bisa disembunyikan dari mereka yang baru saja keluar dari pintu belakang posko.


“Woi, kalian ngapain sih ribut-ribut jam segini?” tanya Nanang.


“Ada genduruwo!!!”


“Mana ada genduruwo! Hoax itu!” Nanang mendekat kepada mereka.


Tangan Andi menunjuk lonteng. “Lo liat aja ke sana kalau ga percaya.”


“Tenang … gue anak Ustadz Dr. Nazarudin, Lc, MA. Babeh gue udah biasa berhadapan dengan makhluk-makhluk astral yang merasuki manusia.”


Nanang memang suka nyebut gelar babehnya sampe lengkap. Mungkin karena kuliahnya luar negeri.


“Itu kan babehnya lo, bukan elo sendiri!” Sarah mendorong Nanang untuk mendekati tangga. “Tuh hajar aja genduruwonya pakai ayat suci.”


“Aduh … gue ga apal surat yang dibacain babeh gue lagi!” Nanang menepuk jidatnya. “Kata babeh gue, ada ayat-ayat tertentu yang bisa bikin hantu pada kabur. Tapi gue lupa.”

__ADS_1


“Jadi lo mau ngebantuiin atau enggak sih?!”  tanya Andi.


“Ga jadi deh …” Nanang mundur karena takut juga. “Mending telepon Bang Asep. Dia katanya punya jimat gitu.”


Andi segera menelpon Bang Asep. Sembari menunggu Babang Asep datang, Andi nyebat dulu di pondokan sembari ngelihatin lubang menuju loteng. Bang Asep datang dengan membawa kayu balok karena ia mengira ada maling. Sewaktu Andi ngejelasin, Bang Asep malah sama-sama takut.


“Aduh Ndi, di desa ini memang banyak hantunya. Kan dekat hutan. Saya ga berani  ….”


“Bang, liat aja dulu. Mana tahu udah pergi genduruwonya ….”


Bang Asep sebenarnya takut. Memang benar beberapa kali ada warga desa yang melihat makhluk astral berkeliaran di sekitaran desa. Kata orang pinter, makhluk-makhluk tersebut cuma numpang lewat tanpa ingin menganggu. Tapi karena banyak cewek-cewek cantik di sini, ia tidak mau kehilangan harga diri. Sebatang obor ia nyalakan, lalu dibaca-bacain mantra yang hanya ia sendiri yang tahu.


“Doain saya ya biar ga diculik genduruwo.”


“Perasaan, genduruwo ga mau nyulik orang dewasa, mereka cuma nyulik anak-anak,” balas Sarah dengan santai.


“Ya mana tahu Sarah mana tahu genduruwo yang ini demen sama orang dewasa,” sambung Andi.


“Jangan nakut-nakutin saya dong. Belum nikah ini!” Bang Asep menampakkan wajah takutnya.


Ia pun naik ke atas tangga dengan perlahan. Obor tetap berada paling atas menjaga-jaga genduruwonya mendekat dan bisa langsung ditampol pakai api. Walaupun jin tercipta dari api, kan ini sudah dibacain mantra. Kali aja bisa ngefek, mungkin.


Bang Asep melihat ke sekiling loteng. Matanya melebar tatkala melihat sosok hitam besar menyeringai dengan taring panjangnya. Matanya lebar dan warna merah sewaktu menangkap cahaya api. Awalnya takut, tapi Bang Asep merasa heran tatkala mencium aroma-aroma aneh. Aroma tersebut seperti pandan. Ia pun tertawa di dalam hati setelah memastikan makhluk itu bukan genduruwo.


“Ini mah bukan genduruwo. Kalian ini bikin takut saya aja,” ucap Bang Asep sembari melihat ke bawah.


“Jadi apa bang?” tanya Andi.


“Ini namanya musang. Kamu ga cium apa bau-bau pandan begini. Ada musang tertentu yang ngeluarin bau pandan.”


“Oh musang pandan?” tanya Andi lagi.


“Nah itu ….” Bang Asep segera turun.


“Emang ada yang musang bau pandan?” Sarah sama sekali belum pernah melihat musang sebelumnya. Sebagai anak kota, musang liar sudah sangat jarang hidup di sana. Gimana mau hidup, pohon tempat dia tinggal saja sudah habis ditebang. Masa dia ngontrak ke pohon mangga milik orang komplek, bayarnya pakai daun.


“Jadi gimana dong?” tanya Andi..


“Nanang sama Rijek, coba deh pukul langit-langit di dalam rumah. Nanti dia kabur sendiri.” Bang Asep kembali naik ke atas tangga. “Mundur semuanya. Musang segede ini bisa nyerang orang. Ampir segede anjing. Pantas banyak ayam warga yang hilang, ternyata ada musang segede ini berkeliaran di rumah-rumah.”


Nanang dan Rijek mengerjakan perintah dari Bang Asep, Mereka pukul langit-langit posko dengan ujung sapu.  Tatkala mereka melakukan itu, terdengar pergerakan langkah musang yang kocar-kacir buat kabur. Andi yang ada di luar juga mendengar ribut di dalam loteng posko. Ia melihat Bang Asep mengeluarkan semacam suara untuk mengusir musang tersebut. Tidak lama kemudian, Bang Asep bilang kalau musangnya udah keluar dari lubang samping posko.


“Nah itu tuh musangnya ….”


Benar sekali musang tersebut sebesar anjing, bahkan lebih gede. Andi kaya melihat anak beruang madu sedang berlari menuju hutan belakang posko. Anak cewek lainnya pada teriak sewaktu musang menampakkan diri. Andi mencoba menarik napas, ternyata benar musang mengeluarkan bau seperti pandan.


“Aduh … kalian ini bikin panik aja malam-malam begini ….” Bang Asep mengambil rokok milik Andi, lalu menyulutnya perlahan. “Ampir aja saya bawa orang pinter ke sini. Takutnya kalian kenapa-kenapa.”


“Makasih banyak ya Bang udah datang. Soalnya anak cewek di sini sering mendengar suara-suara aneh di loteng. Saya kira itu maling, makanya saya cek. Eh ternyata musang,” balas Andi.


“Besok kamu tutup lubang di samping. Dia pasti ngeloncat dari pohon, makanya sampai ke loteng. Takutnya malah ular yang datang. Ini mending musang yang masih kabur kalau ada manusia dan ga nyerang.”


Bang Asep pun kembali pulang setelah abis panik karena dikira beneran genduruwo. Soalnya waktu kecil dulu mereka sering mendapati anak kecil yang hilang diculik genduruwo, lalu ditemukan di sebalik pohon pisang tiga hari kemudian dengan keadaan linglung.


Andi meminta anak KKN lainnya masuk kembali ke kamar. “Ayo masuk lagi ke kamar. Ada-ada aja nih kejadian malam ini.”


“Oke ….,” jawab mereka.


Hari menunjukkan pukul empat subuh, Andi kalau di jam-jam segini pasti susah tidur. Dia memilih untuk kembali bertahan di dapur sampai adzan solat subuh berkemandang. Tidak sengaja matanya tertutup dan jatuh ke dalam tidur dangkal. Lalu, ia bermimpi jika ada tangan yang membelai wajahnya.


“Andi … lo ganteng banget sih ….” Tasya membelai wajah Andi yang sedang tertidur, lalu balik lagi ke kamar.


***

__ADS_1


__ADS_2