Andi X Sarah

Andi X Sarah
41. Sweater


__ADS_3

Sweater


Ganteng banget ....


Tapi, ingat dia pernah nyakitin lo


Jangan kasih kendor


"Malah ketawa lagi." Sarah berdiri sambil merapikan rambutnya yang berserakan.


"Iya, harusnya lo minta maaf sama gue. Liat tuh, bukunya berserakan." Pram menunjuk seonggok buku yang berserakan "Bantuin ngerapiinnya."


Wangi Pram yang semerbak tercium tatkala Sarah mengumpulkan buku yang berserakan. Ada rasa bersalah yang timbul ketika melihat buku-buku itu berserekan karena dirinya.


"Nih, udah gue kumpulin─" Sarah melihat sweater Pram mendarat ke tumpukan buku yang ia kumpulkan.


"Kayanya lo lebih butuh itu daripada gue." Pram melangkah dengan membawa sebagian buku tangannya. "Pakai itu, temanin gue ngantar buku-buku itu ke perpus. Ga mungkin lo ke sana pakai baju lo yang becek gitu."


Berkali-kali Sarah mengutuk-ngutuk di dalam hatinya. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa Pram terlihat keren pagi ini. Sekarang, sweater Pram tengah menganggur di hadapannya. Sebenarnya Sarah ragu untuk memakai itu, tapi tidak ada pilihan lagi. Ia tak ingin orang-orang melihat bajunya yang kotor.


Lambaian tangan Pram mengarah kepada petugas perpus yang biasa berdiri di meja kerjanya. Setelah mengisisi daftar pengunjung perpus, Pram melangkah ke rak buku yang tingginya dua meter.


"Bukunya letak di sini, Sar," pinta Pram.


Bermaksud untuk cepat menghindar dari Pram, Sarah langsung saja meletakkan buku-buku itu di rak. Ia menatap Pram setelah melakukan pekerjaannya.


"Gue pergi dulu," ucap Sarah sambil berbalik. "Betewe, gue pinjam sweater lo. Ntar gue balikin."


"Sar, gue mau bicara." Tangannya menahan Sarah. "Gue minta maaf. Gue tau lo benci banget sama gue."


"Udah gue maafin. Sekarang lepas tangan gue," pinta Sarah. Ia kembali melangkah. Namun, tetap terhenti oleh kalimat Pram.


"Raisa kepingin balikan sama gue. Makanya dia ngejar-ngejar gue waktu itu. Itu kan yang bikin lo ngejauhin gue?" tanya Pram.


"Udahlah Pram. Gue ga mau ngebahas tentang ini. Kejadian itu udah lama, bahkan gue aja sampai lupa."


"Gue bukanlah cowok baik seperti yang lo lihat selama ini. Gue banyak dekat sama cewek cuma buat senang-senang. Tapi, saat gue ngedeketin lo, ternyata lo berbeda. Lo bukanlah cewek yang tertarik dengan materi dan popularitas gue."

__ADS_1


"Jadi lo ngedeketin gue cuma buat senang-senang?" tanya Sarah.


Kepala Pram mengangguk. Ia tidak bisa menutupi ini semua. "Iya, pada awalnya. Dengan semua cewek yang pernah gue deketin, cuma lo yang bisa bikin gue jatuh cinta. Di saat itu pula gue sadar jika yang selama ini gue lakukan itu salah. Cinta bukanlah hal yang bisa dipermainkan."


"Gue senang lo ngakuin kesalahan lo. Masa lalu biarlah berlalu. Kaya lirik lagu dangdut aja," kata Sarah sambil tertawa kecil. Ia berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku.


"Oke, gue nyerah," balas Pram. Perlahan air mata Pram menetes. Ia menutup wajahnya karena malu menangis di hadapan Sarah. "Gue senang karena lo pernah deket sama gue."


"Duh, jangan nangis gitu, dong. Cowok kok mewek gara cewek. Lo juga berhasil waktu itu, Gue pernah jatuh cinta sama lo."


Dalam tangisnya, Pram masih berusaha untuk tertawa. "Ya iyalah, kan gue ganteng. Masa lo ga bisa jatuh cinta."


"Biasa aja lo *** kuda. Udah jangan nangis lagi. Lo tambah ganteng kalau nangis. Gue ga kuat."


"Lo suka sama Andi?" tanya Pram. Ia menghapus air mata. Sementara itu Sarah sudah beranjak pergi darinya.


"Kalau gue bilang iya, lo bakal mewek lagi." Sarah melambaikan tangannya. "Lebih baik lo cari sendiri apakah gue suka atau enggak."


Sarah merasa iba melihat tangis yang ditunjukkan oleh Pram. Baginya ga ada yang paling jiji ngelihat cowok yang mewek cuma gara-gara cinta. Cowok harusnya tegar dengan apa yang dialaminya. Jika ingin menangis, menangislah dalam kesendirian. Jangan tunjukkan tangis itu di depan orang, itu sama saja menunjukkan kerapuhan seorang lelaki. Tapi tidak apa, Sarah memaklumi rasa pedih yang diakibatkan oleh patah hati.


Isak tangis dari Pram bertahan sampai di kelasnya. Semua anak cewek bingung kenapa Pram menangis. Masa pentolan sekolah yang sering tawuran sama anak SMK sebelah, bisa nangis mewek seperti ini. Sementara itu teman-teman KODOMO-nya menyambut Pram dengan senyuman hangat.


"Udah jangan nangis gitu, ayo sini peluk sama Oom." Kevin merangkul Andi. Mencumbunya, menciumnya. Ya enggak gitu juga kali. "Sama emak lo berani, sama cewek lo malah nangis begini."


"Ya kan gue patah hati, gue cinta sama dia," balas Pram dalam pelukan Kevin.


"Jatuh cinta itu berat, biar gue aja. Maksudnya, mending sama gue aja."


"Maho ***** ..."


Semua tertawa melihat sisi lain dari Pram yang selama ini terlihat dingin. Ternyata hatinya begitu lunak kaya tanker mobail lejen yang salah pasang gear. Sekali serang sama panah cinta asmara, langsung modar kaya gini.


Wangi parfum Pram sangat melekat pada sweater yang digunakan Sarah. Berkali-kali ia menghirup napas panjang-panjang untuk menyimpan wangi itu dalam pikirannya. Ini merupakan wangi yang sama dengan saat pertemuan mereka pertama kali. Wangi yang membawakannya benih-benih cinta untuk ditumbuhkan. Pada akhirnya benih yang merekah itu layu oleh patah hati yang ia rasakan.


Sementara itu, Sarah didatangi oleh Andi. Sarah sama sekali belum sempat menikmati betapa empuknya kursi di kelas, Andi sudah memasang wajah suram padanya. Andi benar-benar membuat kelas Sarah di pagi buta dengan wajah seperti itu.


"Napa muka lo? Suram amat. Kaya masa depan lo," ucap Sarah sambil melewati Andi menuju ke tempat duduk.

__ADS_1


"Tadi sama siapa?" tanya Andi. Sebenarnya ia tahu jika Sarah bersama Pram tadi.


"Sama Pram."


"Sama Pram?? Gue bilang ya sama lo, jangan deket-deket dia. Dia itu pria berdarah dingin," balas Pram sambil berdiri di depan meja Sarah.


Alisnya naik sebelah. Tidak ada seseorang pun di dunia ini kecuali papanya yang bisa melarang ini itu pada Sarah.


"Jadi lo ngelarang gue berteman sama dia? dia udah minta maaf sama gue. Gue bukan orang yang suka nyimpan dendam."


"Pokoknya lo ga boleh deket sama dia." Kepala Andi menggeleng. Matanya fokus dengan sweater yang Sarah gunakan saat ini. "Itu punya siapa? Kok wanginya gue kenal ..."


"Ini punya Pram. Baju gue kotor gara naik sepeda."


"Buka, jangan dipake." Andi mendekat sambil menarik paksa sweater itu.


Tangan Sarah menahan Andi untuk membuka sweater yang ia pakai. Ia tak mau jika bagian belakang seragamnya dilihat orang lagi. Andi tetap memaksa untuk membukanya.


"Andi, jangan. Pakaian gue kotor, gue ga mau diliatin orang," protes Sarah.


"Pakai aja punya gue. Punya gue lebih mahal daripada punya Pram. Lebih bagus."


"ANDI JANGAN!!!!"


"LO HARUS LEPASIN INI!!!!"


Sementara itu orang-orang pada ngelihatin dua orang gila yang lagi tarik-tarikan sweater. Andi udah kaya om-om yang maksa cewek buat maksiat dan Sarah udah kaya cewek yang lagi bilang 'yamette kudasai' ke om-om. Aneh banget perilaku mereka pagi hari ini.


"Lepasin, Andi!!!!!"


"Lo ga boleh terima apa pun dari Pram. Dia buka cowok yang baik. Mana tau sweater ini modusnya dia ke elo."


Andi menarik ke atas dengan kuat hingga sweater Pram lepas dari tubuh Sarah. Tiba-tiba terdengar suara robekan yang cukup jelas. Tangan Andi melebarkan sweater Pram. Di saat itu pula mata Sarah melebar ke arah bagian pinggang sweater tersebut. Terdapat robekan memanjang hingga ke bagian lengan. Sweater itu memang tipis, sehingga bisa robek seperti itu.


Kekesalannya pada Andi bertambah di pagi hari ini. Belum pernah rasamya Sarah terasa kesal seperti sekarang. Ia berdiri lalu telapak tangannnya menempel dengan keras di wajah Andi. Matanya merah ingin menangis. Air mata itu masih tertahan di kelopak matanya. Terbendung hingga saat yang tidak bisa ditentukan.


"JANGAN PERNAH BILANG PRAM SEPERTI ITU LAGI!!!!"

__ADS_1


***


__ADS_2