
Malam harinya merupakan jadwal untuk mendiskusikan kembali mengenai rancangan kegiatan mereka selama KKN. Sebelum itu, mereka memenuhi undangan makan malam dari rumah Bapak Kepaala Desa, lumayan buat menghemat bahan makanan. Setelah itu, mereka berkumpul lagi di posko KKN sembari ngopi-ngopi santai. Dosen Pembimbing sebenarnya sudah meminta anak-anak KKN-nya untuk menyusun rancangan, sehingga nanti tidak pusing lagi mau ngapain nantinya.
Ruang tengah utama posko menjadi tempat berdiskusi. Andi bete banget karena tidak diperbolehkan merokok, padahal otaknya baru lancar kalau merokok dahulu. Beruntung ada kopi buatan ayang yang membuat Andi jadi melek lagi. Kertas-kertas print-an rancangan kegiatan tergeletak di tengah-tengah mereka.
“Jadi nama-nama programnya ada Magrib Mengaji, Psikoedukasi Kesehatan Mental, Pembuatan Spanduk Penyuluhan Kebersihan, Pembuatan Papan Nama Asmaul Husna dan Nama Jalan, Belajar Asyik, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang mengikuti program desa.”
“Banyak juga ya, apa ga capek nih?”
Muka Andi ditampol oleh Sarah. “Kalau ga mau capek, ga usah kuliah, goblok.”
“Bisa santai dikit napa?”
Tasya hanya menghela napas dengan perilaku sepasang insan tersebut. Dari tadi memang heboh sendiri .
“Memang banyak sih, kita berharap semua kegiatan ini bisa terlaksana. Tapi walau bagaimana pun, yang namanya rancangan pasti nanti ada belok-beloknya dikit. Harusnya bisa kita atasi.”
Aulia tampak mengangkat tangan seperti ingin mengutarakan sesuatu. “Sebelum kita bergerak, seharusnya kita memilih Ketua KKN kita. Siapa bagunya yaa?”
Semua saling memandang, tentu saja tidak ada satu pun yang mau menjadi Ketua KKN karena kerjaannya pasti ribet. Sebagai anak kota yang individualis, kemampuan sosialisasi terhadap lingkungan baru sangatlah rendah.
“Ada yang mau jadi Ketua KKN?” tanya Tasya.
“Elo aja dah, babeh lo kan anggota DPR yang membina desa ini,” jawab Nanang.
“Umumnya gue ga masalah, tapi secara pribadi gue ini cewek. Pasti nanti kita banyak berurusan dengan pemuda desa, bapak-bapak, yaa … agak gimana gitu sama gue,” balas Tasya.
“Bener tuh, apalagi Bang Asep itu matanya genit,” sambung Kelly.
Andi dan Nanang memandang sinis kepada wanita yang sering nyindir itu. Enggak di kota, enggak di desa, mulutnya sama aja. Padahal, Andi tidak ada melihat tanda-tanda kegenitan dari sosok Bang Asep. Malahan, ia mempunya pribadi yang asyik dan mudah akrab dengan orang baru. Pantas saja ia menjabati posisi Ketua Karang Taruna desa ii.
__ADS_1
“Ya udah … ga ribet-ribet, nih ada tiga orang cowok berbatang. Kalau mereka ga mau, potong aja tuh batang,” ungkap Sarah.
“Bener tuh, masa cowok ga berarni ….” Kelly manas-manasin.
“WTF, lo ada masalah apa sih?” Nanang mulai kesal.
Nabe yang berada di samping Andi dari tadi nyolek-nyolek Andi. Dia berbisik kalau Andi saja yang jadi ketua, tetapi dengan tegas jika Andi menolak.
“Biar adil dan karena negara kita negara demokrasi, gimaan kalau kita voting aja? Ga ada kesempatan buat nolak loh ya? Yang pasti, tiga orang cowok di kelompok KKN kita bakalan jadi calon Ketua KKN.”
“Setuju banget!” seru Sarah. Lalu, ia menunjuk ketiga cowok tersebut. Isyaratnya seperti ingin memenggal dengan telunjuknya. “Kalau yang terpilih ga mau, jangan harap bisa tidur tenang. Gue pecahin bijinya ….”
Andi menelan ludah karena ancaman itu. Beneran deh, Memet aja sudah pernah menjadi korban keganasan Sarah. Sewaktu tawuran antara SMA mereka dan SMK Permesinan, Andi malah bawa Sarah. Nah, di sana Sarah langsung menendang biji Malika terpilih milik Memet.
“Sumpah gue ga bisa … gue anak nolep soalnya.” Nanang memohon.
“Nanang, kamu pasti bisa kok ….” Aulia berbinar-binar menatap Nanang.
“Gue siap!”
“Giliran cewek lain ngajak malah mau lo. Anjim banget sih lo!” sindir Andi.
Tasya menulis ketiga nama cowok yang ada yaitu, Andi, Nanang, dan Rizieq tidak pakai Shihab. Andi merasa hal ini sangatlahh merepotkan, jika ia terpilih maka tidak ada lagi waktu buat nyantai-nyantai. Padahal, rencananya dia mau KKN sekalian healing gitu, bukan mau ngurusin orang lain.
“Langsung aja ya.” Tasya memberikan sepotong kecil kertas kepada masing-masing anggota KKN agar bisa diisi sepenggal nama yang mereka pilih. “Diisi nama kandidatnya, tapi jangan dikasih tahu orang lain. Setelah itu, letak di tengah-tengah kita.”
“OKe …..” Andi langsung mengambil yang paling pertama.
Wajah mereka masing-masing memandangi anak cowok. Andi ga nyaman kalau dilihatin begini, apalagi dilihatin sama Nabe yang mukanya, aduh … teringat yang lalu itu. Apalagi Nanang juga ngelihatin muka Andi kaya seorang gay. Sama sekali kertas milik Andi masih kosong, ia belum ada pilihan yang akan ia tulus. Padahal mudah saja, jika tidak menulis nama sendiri, maka tulis saja di antara dua kandidat lainnya.
__ADS_1
“Lo milih siapa?” tanya Andi kepada Nanang. Matanya melirik-lirik ke kertas milik temannya itu.
“Apaan sih? Ga di SMA ga di sini nyontek aja kerjaan lo,” sindir Nanang.
“Lah? Emangnya kita pernah sekelas.”
Ujung pena Sarah menempel di kening Andi. “Elo ini! Cuma ginian aja pakai nyontek segala. Tulis aja siapa kek, nama elo sendiri kek, kan bisa?”
“Ah … jadi males gue.”
Andi pura-pura menulis nama di kertas itu, padahal tidak ada satu pun nama yang ia pilih. Seluruh anggota sudah menyampakkan gulungan kertas kecil mereka ke tengah-tengah. Andi yang paling terakhir dengan cara mengkerimukinnya saja. Lagi-lagi Andi kena marah sama Sarah karena tidak rapih, sehingga Sarah memperbaikinya saja. Beruntung Sarah melakukan itu tanpa melihat. Jika ia melihat, alamatlah Andi kena marah lagi karena Andi sendiri sudah melakukan perbuatan golput, alias golongan putih.
“Gue buka ya guys kertasnya. Bisa dilihat sendiri tangan gue kosong,” tunjuk Tasya.
“Kaya orang sulap …”
Sarah menoleh kepada Andi. “Lo bisa ga sekali aja ga komen gitu? Diam aja gitu duduk dengan tenang?”
“Ah ga asiik lo ….,” ucap Andi memelas.
Tasya membuka kertas itu satu per satu. Andi deg-degan karena namanya pasti ada kesempatan buat terpilih. Pertama, Sarah pasti milih dirinya sendiri, apalagi Nabe, apalagi Tasya, apalagi Nanang yang suka banget ngelihat temennya sendiri tersiksa. Jantung Andi jadi deg-degan karena konsep KKN healingnya bisa hilang karena direnggut posisi Ketua KKN.
“Suara pertama, Andi … Kedua, Andi …. Ketiga Andi ….” Tasya membuka setiap kertas itu satu per satu. “Andi … Andi … Andi … Andi … loh kok elo semua? Nah ini ada satu, tunggu gue buka ya … ini malah kosong kertasnya ga ada namaa.”
“SIAPA YANG GOLPUT SIH?!!!” tanya Sarah dengan emosian. “Kan dibilang pilih!”
“Hehehe … gue ….”
“Gedeg gue lama-lama ngelihat lo,” pungkas Sarah.
__ADS_1
Akhirnya Andi pun terpilih menjadi Ketua KKN.
***