
Aku Ingin Sekali Lagi
Bunyi air di kamar mandi membuat Nenek heran. Andi yang selama ini paling susah dibangunin, eh tiba-tiba mandi ketika udara masih dingin sekali. Nenek curiga Andi kesambet setan karena abis keliaran di malam hari. Selain itu, Nenek sempat tidak percaya jika tangan Andi luka gara-gara gelud sama maling. Awalnya dia menduga jika Andi bener-bener diganggu sama makhluk halus. Setelah menelpon Pak Lai─ayahnya Clara─Nenek baru percaya jika Andi luka karena sabetan maling.
Mandi dengan tangan yang terluka tentu saja tidak mudah. Andi terpaksa menggunakan posisi baru dengan tangan yang selalu mengangkat ke atas. Nyabun harus pake sebelah tangan dan berusaha keras buat menyentuh sekujur tubuh. Setelah mandi, Andi tersenyum-senyum kepada Nenek yang lagi duduk di dapur.
Rencana jalan-jalan hari ini sudah disurvey terlebih dahulu lewat google. Ternyata ada tempat bagus jika didatangi pagi-pagi, yaitu Puncak Lawang. Puncak Lawang merupakan salah satu objek wisata yang menyuguhkan pemandangan Danau Maninjau dari atas bukit yang sangat tinggi. Danau Maninjau akan terlihat membentang beserta perbukitan yang mengelilinginya. Spesial dari tempat itu ialah jika didatangi pagi hari. Embun putih penuh menyelimuti bukit sehingga menambah suasana harmoni yang ingin dicari.
Kamar Andi penuh dengan semerbak harum parfum yang dipake dengan maksimal. Mungkin aja kalau nenek Andi di sana selama satu jam, bisa-bisa pingsan karena saking harumnya. Yang biasanya Andi jarang banget pake pomade, kini udah dipoles klimis kaya rambutnya wak doyok. Andi kali ini gengsian pake sepatu KW, dia keluarin sepatu harga sejutaan merek Pans biar dikatain anak hype. Pokoknya kali ini harus ganteng maksimal.
Telinga Andi dibuat berdiri tatkala mendengar Clara memanggil nenek dengan suara lembutnya.
"Nek, Andi dima?" tanya Clara. Dima \= di mana.
"gue di sini," jawab Andi mengintip dari kamar.
Clara menyampaikan senyum pertamanya hari ini. Tanpa menjawab, ia langsung ke dapur untuk menyalakan air panas. Andi yang penasaran, menghampiri Clara di dapur.
"Ngapain masak air panas? Tenang, aku ga perlu kopi."
"Siapa yang mau buatin kamu kopi?" Clara memandang lucu. "Ini buat bersihin lukamu. Kan kemarin udah aku bilang. Sekarang duduk aja ...."
Ia hanya mengangguk malu. Ternyata Andi kepedean.
"Julurkan tanganmu," pinta Clara.
Di meja terletak air panas beserta kain dan obat merah yang akan digunakan untuk membersihakan air panas. Mata Andi dibuat terpicing karena pedihnya luka baru yang diberi air panas. Belum lagi obat merah yang semakin membuat bulu-bulu Andi merinding. Namun, ia tetap berusaha buat terlihat keren. Makanya, Andi sok-sokan cool gitu.
"Jangan sok-sokan nahan pedih, udah keluarin aja." Clara menepuk luka Andi.
"***** ... kok lo tahu sih ...."
Luka sudah dibersihkan, Nenek juga sudah disalami untuk pamit berpergian. Tatkala mereka kelur rumah, Andi terheran melihat mobil sedan tengah terparkir di depan rumah.
"Kamu yang bawa?" tanya Andi.
"Iya, mobil Ayah. Emangnya kenapa?" tanya balik Andi.
"Enggak ada, ternyata gadis desa kaya kamu bisa bawa mobil."
"Aku memang orang desa, tapi kalau urusan begini aku bisa."
"Iya, deh."
Perjalanan mereka dimulai dari pagi jam 7 menuju wisata Puncak Lawang. Lama perjalanan dapat ditempuh selama dua jam yang sangat memanjakan mata. Suasana desa kental oleh berbagai pesona yang disajika. Sawah melintang sepanjang perjalanan, diujung penglihatan berdiri kokoh bukit batu yang ditumbuhi oleh pepohonan rindang. Tak hanya para warga desa yang hilir mudik menenteng cangkul, namun terdapat pula para kawanan kera yang bergiliran menyeberangi jalan untuk mencari makan.
Sesuai namanya, wisata tersebut berada di atas bukit yang puncaknya ditumbuhi oleh pepepohonan pohon pinus berdaun jarum. Ranum harum pagi yang segar menyembur di tengah embun tipis. Menggoda mata untuk segera memalingkan wajah, sekedar merasakan betapa sejuk terpaannya.
__ADS_1
Clara turun dari mobil dengan membuka tangan lebar-lebar. Tidak perlu teriakan senang yang ia sampaikan, cukup dengan senyum khasnya sudah menyiratkan bahwa ia begitu nyaman dengan tempat ini. Andi turut senang. Yang seharusnya ia yang harus dimanjakan oleh Clara sebagai pemandu, namun Andi yang merasa ingin memanjakan wanita itu.
Mereka terpana oleh tarian burung yang berputar di atas hamparan Danau Maninjau yang tampak pemandangannya dari atas sini. Di bawah sana bertaburan rumah-rumah warga desa yang tampak begiu kecil. Jalan-jalan yang melintang memperlihatkan mobil-mobil yang bergerak seperti semut karena saking kecilnya. Danau Maninjau yang luas tidak hanya sendiri, sekelilingnya berdiri kokoh bukit-bukit tinggi berembut. Pemandangan tidak sampai di situ. Jika kita jeli, garis antara daratan Sumatera dan laut barat akan jelas terlihat di antara dua gunung tersebut. Pemandangan yang begitu indah.
"Kamu senang?" tanya Andi.
"Sangat senang. Aku yang orang Sumatera Barat aja, jarang banget ke sini."
Cabang-cabang pohon bersuara oleh terpaan angin bukit yang kencang. Beriringan pula dengan tersibaknya rambut hitam wanita itu.
"Kamu cantik kalau senyum kaya gitu," puji Andi tanpa ragu.
"Oh, ya? Aku ragu kalau aku bukan cewek yang pertama dipuji kaya gitu."
Tentu saja Clara berpikiran seperti itu. Andi merupakan anak kota yang pergaulanannya lebih luas daripada dirinya. Clara hanya bergaul dengan pemudi desa yang tentu saja tidak sekeren anak-anak kota yang pernah ia temui.
"Hahahah, kamu benar banget .... btw, Clara kelas berapa sih?" tanya Andi. Ia selama ini tidak menanyaka hal ini.
"Aku sama kaya kamu. Tahu ga? umur kita cuma dua hari jaraknya. Kamu lahiran dua hari setelah aku lahir."
"Ah masa? berarti kamu kakak aku, dong?" tanya Andi.
"Muka kamu aja yang agak tua."
***** muke gue emang kaya om-om ...
Pesan LINE berbunyi dari handphone Andi. Ia tatap group Anak Amak yang ribut sedari tadi. Agus memulai percakapan dengan sebuah foto yang membuat Andi begitu terkejut. Komentar dari Felix dan Nanang menambah panas diskusi pagi har ini. Andi malah meng-zoom foto tersebut yang memperlihatka wajah Sarah tengah berfoto dengan seseorang. Senyum familiar yang selalu ia tunjukkan tatkala berfoto dengannya, kini beralih dengan seorang pria yang lain. Sebuah perasaan yang ingin ia lupakan ternyata kembali terkoyak, membuat hatinya pedih dan terenyuh begitu dalam.
Sarah berfoto di samping Pram yang tengah memakai baju siswa polisi bintara itu. Sebelah tangan Pram tampak memanjang pada pinggul Sarah, namun Sarah sepertinya tampak begitu bahagia.
Agus : *****, ini gimana sih Andi??? Sarah kok bisa .... aduh ....
Felix : Ini kenapa???? wtf ....
Nanang : Woi Andi, keluar dong *******, diam-diam barr ...
Andi : Apa *****?
Felix : Itu foto Sarah sama Pram. Tangan Pram kok berani-beraninya nempel di pinggul Sarah.
Andi : Kalian belum tahu?
Nanang : Tahu apa?
Agus :Tahu itu temennya tempe.
Felix : Serius dong Agus.
Agus : Gue punya bokep baru nih.
Nanang : Ah masa? Kirim dong.
__ADS_1
Agus : pc aja atau kirim di sini.
Nanang : Di sini aja biar berbagi bersama.
Felix : WOI ANAK SYAITON ... SERIUS DONG PEMBICARAANNYA. KEMBALI KE TOPIK
Agus : Oh oke maap.
Nanang : Nanti ya Gus.
Agus : Oke.
Andi : Woi!!
Agus : Ni serius ni gue ...
Felix : Lo kenapa Ndi? Cerita dong.
Andi : Gue putus sama Sarah.
Nanang : WTF!!!!!
Agus : Seriusan Ndi??? Sejak kapan??? Kok ga cerita ....
Felix : Kok bisa ...
Andi : Tiga hari sebelum gue pergi, gue diajakin pergi ke mall sama Naila. Di sana Naila pegang-pegang tangan gue, eh tau-taunya kepapasan jalan sama Sarah. Gue udah berusaha jelasn kalau gue enggak ada minta dipegang, Naila aja yang enteng banget megangin gue. Dia ga bisa nerima penjelasan gue. Kami kelahi waktu itu dan dia minta putus.
Felix : Harusnya lo cerita sama kami dong. Kami kan temennya elo.
Nanang : Iya, kita tempat lo cerita. Udahlah lo pergi ga bilang-bilang, putusnya juga ga bilang-bilang.
Andi : Tenang aja kok. Bentar lagi gue move on.
Agus : Lo cowok yang paling susah move on sedunia.
Andi : Liat aja instagram gue ya. Gue bisa kok foto kaya Sarah sekarang juga. Liat aja bentar lagi**.
Andi menutup handphone-nya. Ia susun tripod kamera yang sedari tadi ia bawa untuk berfoto-foto. Selagi meminta Clara tetap berdiri di sana, Andi meletakkan handphone-nya dan memasang timer untuk bersiap-siap berfoto.
"Kita foto, yaa ...." Andi menyetel kamera handphone-nya.
"Kenapa ga pake kamera Connan lo aja?" tanya Clara.
"Gue mau nunjukin ke teman-teman gue kalau gue dapet temen di sini. Mereka pasti senang kalau gue dapat temen cantik. Heheheh ...."
"Andii ....." Clara merasa malu dipuji oleh Andi melulu.
Dengan cepat Andi berlari ke posisi setelah timer di pasang. Ia lebarkan tangan Andi ke pinggul Clara. Ajaibnya, wanita itu tidak merasa risih. Ia malah membalas menjatuhkan kepalanya ke bahu Andi. Senyum dipasang sebelum kamera benar-benar menangkap mereka berdua yang tengah berdekatan. Sebuah aksi balasan untuk Sarah yang telah berani meng-posting foto yang seharusnya tabu untuk seseorang yang baru saja putus.
Kilatan Flash mengakhiri momen mereka. Andi bergerak untuk mengecek hasil foto. Sebelum itu, Clara menahan tangan Andi sembari mengatakan, "Aku pengen sekali lagi."
__ADS_1
Hati Andi begitu senang mendengar itu.
***