
Ada apa ini?
Sepulang sekolah, Arman dihadang oleh beberapa orang anak kelas 10 di sebuah jalan sepi di dekat sekolah. Mau tidak mau, Arman turun untuk menanyakan alasan ia cegat begini. Selama ini, belum ada anak SMA-nya yang berani mencari urusan serius dengannya. Namun, kali ini semakin bertambah aneh karena mereka merupakan junior ia di SMA.
Kunci motor Arman langsung dicabut oleh seseorang dan menarik Arman untuk turun dari motornya. Arman tidak mengerti kenapa ia dihadang begini, namun ia begitu mengenal sosok yang ingin menghadangnya. Tanpa basa-basi, Arman melancarkan serangan yang begitu cepat. Namun, ia berhasil menghindari lesatan pukulan dari Arman.
"Masih ingat gue?" ucap Dandi. Ia memegang kuat kerah baju Arman.
"Berani-beraninya lo giniin senior lo?" balas Arman sembari meludah kepadanya.
Wajah Dandi langsung menunduk karena air liur Arman yang menempel. Sebuah pukulan telak melayang ke hidung Arman hingga meneteskan darah.
"Udah lama gue pingin giniin lo," balas Dandi.
Arman tertawa keras. Ia begitu ingat bahwa Dandi hanyalah pesuruh yang dulu selalu di bully oleh kelompoknya. "Lo cuma Dandi si anjing pesuruh."
"Hahahaha ... udah lama gue enggak dengar julukan itu lagi. Apa lagi julukan yang kalian beri ke gue?" tanya Dandi. Jemarinya menunjuk ketiga teman yang berdiri di belakangnya. "Lo masih ingat mereka juga, kan?"
"Iya, kalian anjing pesuruh, ***!!!!"
Dandi mengangguk pelan. "Kami ngerti kenapa kalian bilang kami anjing. Ya sama, sampai sekarang kami tetap anjing. Anjing yang kalian ajar buat jadi buas."
"Mau apa lo sama gue?"
"Mau apa lagi selain ngehajar lo?" tantang Dandi. "Oh iya, Dugong apa kabar?"
Dandi merujuk kepada ketua Antophosfer yang bernama Dugong tersebut. Ia merupakan seniornya sewaktu SD hingga SMP, termasuk Arman sendiri. Sebuah geng yang dipimpin Dugong membawa penderitaan bagi Dandi dan ketiga temannya.
Seperti yang disebut Arman, mereka hanyalah anjing pesuruh yang selalu dimanfaatkan oleh kelompok Dugong. Sebagai gantinya, Dandi dan ketiga temannya bisa masuk ke dalam sebuah kelompok terkuat untuk melindungi diri sendiri. Tidak ada lagi yang berani menyentuh anak cupu yang selalu direndahkan oleh orang lain.
"Lo mau apa sama dia?" tanya Arman. "Lo enggak bakalan bisa nyentuh Dugong sedikit pun."
"Asal lo tahu, kami giniin lo secara tidak langsung kami mengusik Dugong. Gue enggak peduli gimana pengaruh Dugong di Antophosfer sialan itu."
"***!!!!!!" Arman mendorong Dandi hingga terjerembab ke aspal. Hatinya begitu kesal ketika Antophosfer disebut seperti itu olehnya.
Ketika ia ingin menendang Dandi, ia langsung ditahan oleh ketiga teman Dandi. Ia tidak bisa bergerak hingga sebuah tendangan telak tertuju ke arah perutnya. Arman tidak bisa bernapas akibat serangan itu. Sesaat kemudian, Dandi menduduki dadanya. Ia tidak bisa melawan sama sekali.
"Ternyata tangan kanan Dugong selemah ini. Gue masih ingat banget kalian ngejadiin kami ayam aduan. Kami kalian minta berkelahi satu sama lain buat masuk ke kelompok kalian, trus dijadiin anjing pesuruh, lalu kalian membuang kami."
"***!!!!"
Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Ia masih tidak bisa bergerak karena rasa sakit yang ia rasakan.
"Kalian sebut kami empat anjing pesuruh, sementara itu kami cuma bisa ketawa karena enggak bisa ngelawan." Dandi kembali meninju kepala Arman.
Arman berjuang sekuat tenaga untuk berdiri. Walaupun secara ukuran fisik dirinya lebih unggul dari Dandi yang lebih pendek darinya, namun kekuatannya terasa begitu kuat. Arman memasang kuda-kuda untuk bertarung. Terlihat ketiga teman Dandi ingin maju, namun Dandi menahannya karena merasa bahwa Arman merupakan mangsanya.
"Ayo sini maju!" tantang Arman.
Serangan pertama Dandi berhasil dipatahkan oleh Arman. Serangan balasan bersarang ke pelipis Dandi hingga terlihat membengkak. Merasa direndahkan, Dandi melayangkan tendangan ke pingang Arman hingga ia mundur dua langkah. Gerakan Dandi terlihat begitu cepat, ia melompat untuk menyasar dada Arman dengan lututnya.
Arman terjatuh seketika. Sakit di ulu hatinya masih terasa hingga pertahanan dirinya sedikit berkurang. Ia berusaha untuk kembali berdiri, namun Dandi kembali berlari untuk menghantamnya. Rasanya Arman tidak sanggup lagi untuk berdiri. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Dandi untuk menghabisi wajah Arman dengan brutal.
__ADS_1
Seluruh wajah Arman penuh dengan darah yang mengalir dari hidung. Beberapa titik pada wajahnya terasa membengkak dan membiru. Ia hanya bisa melindungi wajahnya menggunakan lengannya yang mulai terasa lemah.
"Lo anggota Antophosfer, kan?" Dandi mengambil kotak rokok di saku dada Arman, lalu menyulutnya. "Gue bakalan hancurin kalian sampai enggak bersisa, termasuk Dugong yang jadi target kami selanjutnya. Ingat aja nama Four Dogs. "
Hanya kalimat itu yang ditinggalkan oleh Dandi. Kemudian ia pergi dengan membawa sekotak rokok milik Arman.
Kejadian itu membuat sebuah dilema pada diri Andi. Ia ingin membantu, namun ia terlalu sudah membuat janji untuk tidak terlibat dalam permasalahan di sekolahnya. Ini merupakan janji kepada Sarah, dan yang paling penting ialah janji pada dirinya sendiri. Sudah cukup dirinya selalu tidak disukai oleh guru-guru dan para berandalan sekolah yang berseberangan dengannya.
Esok hari merupakan hari keberangkatanya menuju lokasi perkemahan. Oleh karena itu ia tidak terlalu banyak masuk jam pelajaran karena mengursi ini dan itu. Setelah menghadiri pembekalan yang diberikan sekolah, ia beranjak ke kantin sendirian untuk melihat siapa gerangan yang telah mengusik Arman. Ia hanya mengingat nama, tanpa tahu bentuk rupa wajah yang dimaksud oleh Arman itu.
"Hey," ucap Sarah dari belakang. "Makan yuk."
Andi terkejut dengan kehadiran Sarah yang tiba-tiba. Padahal ia ingin sendiri untuk mencari tahu.
"Ayuk," balas Andi tanpa basa-basi.
Mereka berdua duduk di tempat biasa, bagian sudut kanan kantin yang biasanya diisi oleh kalangan angkatan mereka sendiri. Andi memesan mie ayam, sementara itu Sarah memesan mie instan double plus telor ceplok yang pastinya Andi yang bayar. Masa cewek yang bayar kan? itulah yang dipikiran Sarah.
"Coba lo puasa makan mie," ucap Andi ketika pesanan datang.
"Lah, lo sendiri makan mie."
Tangan Andi menggapai sendok dan garpu, serta memberikannya kepada Sarah. "Ini mie ayam, normal-normal aja orang makan satu porsi. Lah, elo kaya udah jadi makanan pokok."
"Tumben perhatian," balas Sarah singkat.
"Gue kan pacar lo."
Sarah tertawa pelan. "Lo pacar gue?"
"Kok nanya kaya gitu? Lagi ngambek?" tanya Andi.
"Gue masih cemburu," jawab Sarah tanpa basa-basi.
Mulut Andi berhenti mengunyah. Pasti gara kemarin nih ....
"Gue ngerti ... maaf, gue enggak bilang sebelumnya sama lo. Kemarin itu gue disuruh ngantar Naila ke rumah gara-gara mama gue. Gue mikir gitu juga loh ... pasti Sarah bakalan ngambek kalau tahu itu."
"Gue denger kalian deket, ya?" balas Sarah.
"Sar─"
"Andi ... gue sayang sama lo. Gue tahu banyak yang ngedeketin lo, dari dulu malahan. Tetep aja gue tahan. Tapi, kalau yang ini gue memang enggak mau."
Tangan Andi menggenggam tangan Sarah. "Gue minta maaf ... dia itu adik bimbingan gue, wajar aja orang-orang liat kalau kami itu dekat. Jangan dengerin kata orang, mereka itu tahu buruknya aja."
Sarah masih memasang wajah datarnya tanpa memandang ke arah Andi. Mulutnya tetap mengunyah mie dengan sendok yang besar.
Kalau cewek ngambek, makannya kaya gitu, ya?
"Gue mau nambah mie," balas Sarah.
What????
__ADS_1
"Eh, perut lo itu molen semen, ya?"
"Gue ngambek nih ........"
"Yaudah deh ... gue pesenin lagi─"
Sarah menggasak mangkuk mie Andi. "Enggak, gue mau yang ini."
Hati Andi perlahan senang melihat secuil senyum yang mulai melingkat pada bibir Sarah. Andi menatapnya sembari melipat tangan. Betapa manisnya wanita ini ketika menunjukkan kejujuran.
"Maaf, ya ..."
"Enggak ... lo harus kayang dulu di sini."
"Oke, bentar." Andi pura-pura berdiri.
Tangan Sarah menahan. "Gue canda,"
"Gue juga ...." Andi tersenyum. "Love you ...."
"Love you─" Kalimatnya terjeda oleh kejadian yang baru terjadi.
Seluruh pasang mata menatap ke arah perkelahian yang terjadi. Seorang adik kelas melayang ke sekumpulan kursi. Terlihat Arman dengan sebuah plaster di wajahnya menatap benci kepada seseorang yang baru saja ia hantam.
"ANJING ... SIAPA YANG BERANI NGANGGU MOMEN GUE!!!! ***."
Andi tidak sempat menahan tangan Sarah yang terlanjur beranjak duluan. Kalau udah begini, Andi enggak berani nahan-nahan Sarah yang pingin ngamuk. Kaya dulu-dulu, Sarah berubah jadi bar-bar dan kehijauan seperti huluk. Seluruh bajunya robek-robek dan ototnya pada nonjol. Enggak ini bercanda.
Adik kelas tersebut bangkit dan berlari ke arah Arman. Arman berhasil menahan dan membalas sebuah pukulan telak ke wajahnya. Pukulan selanjutnya terasa begitu menyimpan benci yang dalam, berkali-kali Arman menghantam wajah adik kelas tersebut hingga orang-orang di sekitar pada teriak. Adik kelas tersebut bangkit dan mencoba melawan dengan menendang perut Arman. Jual beli pukulan tidak bisa dihindari.
"WOI, KALIAN BELUM TAHU GUE , YA!!!" Sarah baju lengannya.
Belum sempat Arman dan adik kelas itu melihat Sarah, sebuah tendangan keras melayang kepada masing-masing mereka hingga mental.
"Arman, lo udah tahu gue gimana, kan?" Selanjutnya arah mata Sarah menatap ke adik kelas tersebut. "Dandi, lo berani-beraninya kelahi!!!!"
DANDI???? Itu nama anak yang ngehantam Arman kemarin.
Mengingat nama tersebut, Andi langsung mendekat. Tangannya menarik Sarah ke belakangnya.
"Jadi lo yang ngehantam Arman?" tanya Andi pada Dandi.
"Lo Andi?" tanya Dandi. "Jangan ikut campur urusan gue."
Percakapan tersebut menimbulkan tanda tanya di kepala Sarah. Ia tidak mengerti masalah yang sedang terjadi.
"Kita jumpa setelah pulang sekolah, di lapangan dekat bundaran."
"Lo yang megang kelas 12?" tanya Dandi.
"Iya, gue yang megang."
"Gue terima tantangan lo."
__ADS_1
Andi merasakan kekhawatiran pada Sarah. Tangannya menggenggam tangan Andi begitu erat. Ia takut jika terjadi yang tidak-tidak pada Andi.
***