
Berkunjung ke rumah kakek dan nenek Pram sudah selesai. Waktunya bagi mereka untuk pulang kembali ke kota. Sebelum itu, mereka tidak lupa untuk membeli yang akan diberikan kepada keluarga atau pun teman sejawat. Ada perasaan puas karena hati tenang telah mendapatkan sedikit angin segar dari kesibukan duniawi, semntara di sisi lain mereka harus menjalani kehidupan sibuk itu kembali . Tidak terkecuali Andi di bangku perkuliahan.
Mereka kembali diantar ke rumahnya masing-masing. Andi sudah tidak sabar untuk memberikan segala macam benda-benda yang mereka beli sewaktu berlibur. Rumah nyaman itu kini sudah ada di hadapan. Keadaan komplek terasa sunyi sekali, tetapi masih terang di sekitar rumah Andi. Ia menoleh kepada Tami yang melambai ke arah mobil Agus. Mereka baru saja pergi ke pengantaran selanjutnya.
“Tidur di rumah gue aja, Tam.” Ia menjemput koper Tami yang ditenteng oleh wanita itu.
“Oh oke, aku masih boleh kan?” tanya Tami.
“Yaa tentu aja boleh dong. Malah Aisyah senang kalau lo masih di rumah gue. Dia punya temen ngobrol di rumah.”
Tami mengangguk senang. “Oke, terima kasih ya.”
Wangi khas rumah pun tercium di hidung Andi. Entah mengapa, wangi setiap rumah itu berbeda-beda. Pasti wangi tersebut akan terbawa ke luar rumah apabila seseorang tidak menyamarkan baunya dengan parfum. Contohnya saja kalau Sarah tidak memakai parfum, maka wanginya persis sama seperti rumahnya. Begitu pula Tami.
\ Andi memanggil-manggil mamanya. Dengan kepala celingak-celinguk di pukul delapan ini, biasanya mamanya selalu berada di ruang tengah untuk mengaji sehabis solat isya. Namun, kali ini kosong melompong. Tidak ada orang yang turut duduk di sana.
“Mana semua orang ya?” tanya Tami.
“Enggak tahu ….”
Bunyi kamar mamanya Andi terbuka. Terlihat Aisyah baru aja keluar dari sana. Andi dengan semangat menunjukkan seluruh benda yang ia bawakan khusus untuk orang di rumah.
“Nih, lihat uda beli apa. Ada makanan, ada kaos, ada gantungan kunci, ada banyak lagi. Hehehe … Aisyah pasti suka deh.” Ia menoleh kepada Tami. “Kak Tami juga bawa tuh.”
“Bener, kakak bawa juga buat kamu. Malam ini, kakak juga masih tidur di sini. Nanti deh kita cerita-cerita apa aja yang kami kerjakan di sana,” sambung Tami.
__ADS_1
“Uda …,” panggil Aisyah.
“Apa? Mama lagi di luar ya?”
Gelengan kepala Aisyah terlihat pelan. Wajahnya turun tidak bersemangat. Lemah tatapan Aisyah menandakan jika ia sedang merasa sedih atau tidak enak badan.
“Ada apa Aisyah? Kamu sakit?” Tangan Andi melekat ke dahi adiknya tersebut.
“Mama lagi demam. Dia lagi di kamar baring. Panasnnya enggak turun-turun sejak malam Uda pergi.”
Terdiam diri Andi mendengar hal tersebut. Bagaimana bisa mamanya demam? Padahal pagi itu ia sudah memastikan jika mamanya sedang baik-baik saja. Berkali-kali Andi bertanya apakah mamanya sehat dan bisa ditinggal. Ceria wajah mamanya hari itu menjadi pelega untuk meninggalkan rumah lebih dari satu hari.
Andi menyampakkan barang bawaannya ke atas sofa, lalu berlari menuju kamar mamanya tersebut. Tampaklah mamanya sedang terbaring lemah di atas ranjang. Selimut tebal membalut hingga seleher. Matanya terpejam erat, napasnya tampak lambat dengan suara erangan. Pada kening mamanya tertempel kompres kain basah. Tatkala Andi mendekat, perlahan mata mamanya terbuka.
“Andi, kamu udah pulang?”
Tangan Andi menempel pada dahi mamanya. “Udah Ma. Kan Andi udah di sini. Mama kok enggak bilang ke Andi kalau lagi demam?”
“Mama enggak mau kamu keganggu liburannya.”
“Jangan gitu, Ma. Kalau ada apa-apa, bilang ke Andi. Cuma Andi laki-laki di rumah ini. Sedangkan Papa, jauh di luar kota.”
“Maafin Mama ya.” Beliau terbatuk sebentar. “Bilang ke Tami kalau tidur di sini aja dulu.”
“Udah kok Ma. Tami udah Andi minta buat tidur di sini dulu.”
Keadaan mamanya sungguh memprihatinkan. Jangankan untuk bergerak, berbicara saja ia sulit karena tubuh yang menggigil. Andi meminta Aisyah untuk segera mengganti pakaian mamanya agar bisa dibawa ke klinik kesehatan. Penurutan Aisyah, mama mereka tidak ingin dibawa ke klinik dengan anggapan obat di rumah sudah cukup. Namun ternyata, simpanan obat di rumah tidak cukup untuk menurunkan demam dari mamanya tersebut.
Pergilah mereka untuk berobat ke klinik agar bisa mamanya makan obat segera. Setelah menelpon Sarah, ia menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit pagi hari esok jika demamnya tidak turun juga. Andi juga memberitahukan beberapa gejala yang dirasakan oleh mamanya dengan harapan Sarah tahu apa yang terjadi kepada mamanya. Namun, Sarah lebih menyarankan agar dibawa ke rumah sakit saja.
__ADS_1
Minum obat dari klinik ternyata tidak menurunkan suhu demam dari mamanya Andi. Atas saran dari Sarah, Andi membawa mamanya segera ke rumah sakit. Segala serangkaian pemeriksaaan dilanjutkan, bahkan mamanya dirujuk untuk ke laboratorium kesehatan untuk pengambilan sample darah. Setelah itu baru diketahui jika mama mereka terserang penyakit tifus.
“Bahaya ga?” tanya Andi sambil melihat kertas hasil pemeriksaaan labor. Andi dan Sarah sedang berada di loby laboratorium setelah mendapatkan hasil. Sementara Aisyah sedang bersama mamanya yang terbaring di dalam mobil.
Mata Andi melihat isi kertas tersebut yang tertera berbagai istilah kesehatan yang sama sekali tidak ia ketahui. Satu yang ia ketahui jika mamanya tersebut positif penyakit tifus. Sarah pun mengatakan bahwasanya keterangan itu benar setelah melihat data yang ada di dalam kertas.
“Bahaya kalau dibiarin. Gue pernah sakit tifus dan hanya makan obat di rumah. Tapi, pada saat itu gue masih dalam kategori ringan. Mama lo udah parah keadaannya. Jalan aja lemes.”
“Mama harus dirawat di rumah sakit ya?” tanya Andi sekali lagi. Ia sangat khawatir jika mamanya sampai dirawat.
“Menurut gue sih iya. Biar pengobatannya maksimal dan Tante cepet sembuh. Dia udah tua loh, fisiknya enggak seperti kita. Kalau kenapa-napa ya bahaya,” saran Sarah.
“Ya udah deh. Kita ikuti aja saran dari dokter nantinya. Gue akan nelpon Papa kalau Mama lagi sakit.”
Tangan Andi menggenggam Sarah. Mereka segera membawa Mamanya kembali ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter. Keputusan dokter pun seperti yang dikhawatirkan oleh Andi, yaitu mamanya harus dirawat mulai siang ini. Andi pun menghela napas berat tatkala ia mendengar keterangan tersebut.
Sementara Aisyah menemani mamanya di ruang tunggu, Andi dan Sarah pergi untuk mengurusi administrasi. Andi tertunduk menatap lantai dengan mata berkaca-kaca. Tangan mereka terus bergenggam seakan tidak ingin lepas.
“Lo tenang aja, mama lo pasti akan baik-baik aja kok,” ucap Sarah.
“Gue khawatir banget sama dia Sar, seakan kalau bisa, penyakitnya itu pindah aja ke gue.”
“Udah … yang sekarang lo harus lakukan ialah doain dia cepet sembuh.”
“Makasih ya udah nemenin mama gue ke sini ….”
Belaian tangan Sarah terasa lembut di kepalanya. Senyumnya hangat lagi melegakan hati.
***
__ADS_1