
Sudah seharian ini Andi di rumah. Ada pun keluar hanya untuk menyapu halaman dan menyirami tanaman ketika pagi hari tadi. Jikalau tidak diminta Mama untuk menyiraminya, Andi tetap saja di dalam kamar untuk berbaring diri. Bagaimana ingin kurus kaya masih di SMA jika tidak kuliah, Andi malah mageran dengan syantik. Ada pun hal-hal yang dilakukan Andi ialah menonton film netplik, nonton anime, nonton video jepang, (maksudnya drama jepang), dan bermain game PC.
Saking seringnya baring, kepala Andi sampai jadi pusing. Aisyah udah marah-marah dari tadi karena Andi tidak ingin keluar dari kamar. Lama-lama Aisyah marahnya kaya Mama, pakai Bahasa Minang. Oleh karena itu, Andi memutuskan untuk berlari sore untuk menggerakkan badan. Sekalian melihat anak gadis komplek yang main volley di belakang. Mencuci mata adalah jalan ninja Andi.
Ngos-ngosan Andi lari sore hingga dahinya berkeringat. Baru saja lima belas menit berlari, Andi berhenti di tepi lapangan volley. Andi asyik melihat bola tergondal-gandul di atas lapangan. Mata Andi langsung naik turun dong kalau melihat itu. Rasanya ingin cepat memegang bola itu dan langsung menyervis dengan benar. Namanya anak gadis main bola, pasti servisnya tidaklah sekeras para pria.
“Eh ada Memet ….” Andi melihat Memet di seberang lapangan yang khusus untuk ibu ibu.
Andi jadi heran kenapa Memet malah ngelihatin ibu-ibu. Biasanya kalau nonton volley pasti duduk di tempat Andi untuk melihat para gadis komplek. Apakah dia sudah ganti genre? Andi tahu. Mumpung Memet berjalan membawa plastik somay, Andi dengan cepat mendekati.
“Woy Met ….” Andi memanggil Memet dari arah sepuluh meter. Matanya langsung fokus ketika Memet yang duduk di samping perempuan. “Walah ada Tami dong. Ternyata lagi beduaan.”
Sontak Memet menoleh ke belakang. “Woi ngapain?”
Ceritanya lagi pengen ngeganggu waktu berduaan antara Memet dan Tami. Jadi, Andi ikut nimbrung di sana sambil nyocolin somay punya Tami.
“Waduh, ternyata lagi berdua …..”
Ngapain lo di sini govlok!!! Memet berteriak di dalam hati. Lagi enak-enaknya Memet di sini malah diganggu dengan makhluk yang satu itu. Padahal, Memet dengan bersusah payah mencari waktu di mana Tami bisa cepet pulang dari bekerja. Parahnya lagi, Andi malah ngabisin somay milik Tami.
“Lo ngapain sih?” tanya Memet.
“Biasaa … lari sore. Biar hidup sehat kaya Kevin.” Andi melihat ke sekitar. “Apa enggak ada minum nih.”
“Udahlah mintain somay Tami, elo malah minta minum. Kaga punya akhlak memang ya lo!”
“Udah niih …” Tami memberikan botol air minum miliknya. “Sarah kelihatannya lagi cuci motor tuh. Kamu bantuin sana.”
“Ah biarin … biar mandiri, mandi sendiri. Hehehe ….” Andi menoleh kepada Memet. “Eh elo kok di sini liatin ibu-ibu, biasanya ngelihatin⸺”
Mulut Andi langsung disumbat pakai somay sama Memet. Bisa-bisanya bicarain itu di depan Tami. Memet tidak ingin harga dirinya malah tercoreng karena kebiasaannya bersama Andi itu, melihat anak gadis komplek yang sungguh menggondal-gandulkan, maksudnya bola volley-nya.
“Ngelihat apa?” tanya Tami dengan penasaran.
“Ini … hmm … ngelihat main badminton. Kan bapak-bapak main badminton di sana ….” Memet menunjuk ke belakang, tepat di seberang jalan ada sepetak lapangan badminton yang khusus bapak-bapak dan bujang-bujang komplek.
“Oh … gitu.” Tami mengangguk dengan polos.
“Iya maksudnya gitu. Papanya Tami juga seneng main badminton di sana,” balas Andi.
Memet memberikan kode kepada Andi dengan menendang kakinya. Terus wajah Memet berisyarat agar Andi segera pergi dari sini.
“Enggak lanjut lari lagi Ndi? Malah kering tuh keringat,” kode Memet.
“Oh iya gue lupa.” Andi berdiri lagi. “Dadah Memet … Tami … gue lanjut dulu lari sorenya. Lanjutin makan somaynya lagi ….”
Wajah Memet langsung datar karena punya Tami sudah dihabisin sama anak itu.
Andi melanjutkan lari sorenya dengan semangat. Saking semangatnya, baru aja lima menit lari Andi udah ngos-ngosan lagi. Ia sempat berhenti di pos ronda gapura depan untuk mengambil napas, lalu minum dari dispenser pos ronda. Sewaktu desah kesegaran Andi menggelegar karena abis minum, Andi melihat seseorang yang mendorong motor. Motornya keren kaya motor Rossi, beda sama Andi yang sehari-hari memakai motor supra geter punya emak.
Merasa menjadi pemuda setempat, Andi menghampiri abang-abang ganteng yang sedang kesusahan mendorong motor. Hidung Andi menyempatkan diri buat menghirup udara karena parfum abang-abang itu menyerbak sekali.
__ADS_1
“Bang, ngapain Bang?”
Sudah tahu dia sedang mendorong motor, Andi malah bertanya lagi. Ingin rasanya abang-abang itu menampol Andi dengan kunci inggris, tetapi nanti malah kenal pasal pemukulan.
“Ini … motor gue malah mogok. Kaga tahu masalahnya, tiba-tiba aja mati.”
“Oh gitu ya bang. Oke deh ….” Andi pergi lagi cuma buat nanya hal yang sebenarnya tidak ia pedulikan. Tetapi, Andi malah balik lagi karena ada hal yang ingin ia tanyakan, “Mau ke mana ya Bang ngomong-ngomong? Kayanya bukan orang sini.”
“Gue mau ke rumah Sarah. Kenal Sarah kan?” tanya pria tersebut.
Wajah Andi sempat datar. Kenapa bisa ada pria yang lebih tampan darinya mencari Sarah dengan motor sekeren ini? Biasanya, hanya teman wanita Sarah yang turut mengunjungi rumahnya selama ini. Jika dikatakan anak komunitas motor Sarah, dia memakai motor yang tidak satu jenis dengan motor Sarah. Ingin Andi langsung mengenalkan diri sebagai pacarnya, tetapi Andi mengurungkan niat.
“Oh yang mana ya?” tanya Andi berpura-pura tidak tahu.
“Itu si cewek yang makai motor trail ke mana-mana. Manis-manis gitu orangnya Dek.”
Untung aja muka Andi awet muda\, meskipun perutnya udah buncit. Jadi\, orang itu tidak segan memanggil `adek` kepada Andi.
“Manis? Cantik ga? Gue tahu bang semua cewek cantik di komplek ini ….”
“Sumpah cantik dek.” Pria itu mengeluarkan jempolnya. “Top banget sih dia.”
“Oh Sarah yang itu. Gue kenal Bang. Itu bapaknya sering main di pos ronda. Oh … gue baru ingat Bang.” Andi membantu mendorong motor abang-abang itu. “Mohon maaf, abang ini siapanya Kak Sarah ya?”
“Hmm … temen deket sih.”
“Banget dong, dia temen sekelas gue. Sering main bareng juga kami.”
Andi mengangguk-angguk bodoh. “Maaf bang masih kaga ngerti nih dekatnya gimana. Bisa jadi deket sering makan bareng, jalan bareng, atau cuma buat ngobrol.”
“Pokoknya yang begitu Dek …” Ia menoleh ke belakang.
“Ooh … lagi pedekatean ya? Cie lagi pedekatean sama Kak Sarah. Cieeee ….” tanya Andi untuk memancing.
“Hmm … enggak juga sih, dia udah punya pacar. Tapi, bolehlah dideketin juga …..”
Andi. Andi langsung narik turun napasnya. Saking ga sabarnya sampai rumah, Andi lebih semangat mendorong motor itu sampai ke rumah Sarah. Sesampainya di sana, Andi langsung membukakan gerbang rumah Andi untuk abang-abang itu.
“Makasih banget ya dek udah ngantarin abang ke rumah Sarah. Jadi segan nih. Jaraknya juga jauh dari gerbang.”
“Enggak apa-apa kok Bang. Gue juga seneng bantuin abang bisa cepet ngebawa Kak Sarah buat jalan.” Andi memerhatikan pria itu dari ujung sepatu hingga ujung rambut, benar-benar persiapan buat jalan. “Pasti mau jalan kan? Rapi banget.”
“Enggak sih, cuma ngunjungin Sarah aja.”
Andi pura-pura tersenyum lebar. “Waah … gitu doang rapi Bang banget Bang.”
Andi berjalan ke pintu rumah Sarah. Pria itu pun bingung kenapa Andi malah ikut ke sana.
“Adek mau ke mana?”
“Ini loh, ada perlu sama bapaknya Kak Sarah. Urusan ronda … biasa …. Nanti abang ngobrol aja sama Kak Sarah, paling gue di belakang sama bapaknya.”
__ADS_1
“Oh oke deh ….”
Tangan Andi mengetuk-ngetuk pintu rumah Sarah, hingga wanita itu keluar dengan setelan biasa. Matanya memerhatikan pria yang sedang Andi bawa. Sekarang, dia masih berdiri di samping motor.
“Loh Andi? Kok bisa sama dia?”
“Ini dia motornya mogok. Gue kasian ngelihat dia ngedorong motor, jadi gue bantuin. Katanya mau ketemu elo,” jawab Andi.
“Oh, namanya Aslan, teman kampus gue. Dia ada perlu sama gue tuh. Ada barang yang mau dikasih ke gue. Suruh masuk dia.” Sarah membuka pintu
Andi menoleh ke belakang. “Bang … masuk ….”
Aslan pun menyematkan melambai kepada Sarah yang dibalas senyum oleh wanita itu. Lalu, Andi dan Aslan masuk. Andi beralasan untuk bertemu dengan papanya Sarah, sementara itu Aslan dengan alasan ingin mengunjungi. Padahal, papanya Sarah lagi di kolam pemancingan karena hari ini adalah jadwal memancing. Tadi siang dia ngajakin Andi keluar, tetapi Andi nolak karena lagi mager.
“Loh Dek, kok duduk di sini?” Alsan terheran-heran melihat Andi yang duduk bersamanya. “Katanya mau ketemu bapaknya Sarah.”
Datanglah Sarah sehabis mengganti baju. Tidak mungkin Sarah bertemu dengan pria sekelasnya hanya dengan mengenakan hot pants. Kalau sama Andi, ya ga apa-apa.
“Dak … Dek … Dak … Dek, eh kelahiran dua ribuan,” panggil Sarah sembari menunjuk kepada Andi. Sarah jadi bar-bar seperti biasanya. “Nih anak goblok ini, angkatan sembilan puluhan. Jadi elo yang harusnya manggil abang.”
Tangan Sarah memberikan minuman cola kalengan kepada mereka berdua.
“Eh iya yah?” tanya Aslan.
“Kenalin, gue Andi ….” Secara paksa Andi mengambil tangan Aslan untuk bersalaman. “Gue pacarnya Sarah.”
Lama sekali mereka bersalaman. Lamanya bukan karena hangat perkenalan, melainkan karena Andi menggenggam erat tangan Aslan.
“G-g-gue Aslan Bang, temen sekelasnya Sarah. Gue ada perlu sama dia nih, maap gue harus ke s-s-si-ni
“Hehehe … senang berkenalan dengan elo”
“Hehehe … makasih banget bantuin gue ngedorong motor Bang.”
Tangan mereka belum juga lepas. Andi makin mengeraskan genggaman tangannya hingga Aslan menahan sakit setengah mati.
“Jangan lama-lama salamannya, nanti dikira ngegay hehehe ….” Sarah menepuk tangan mereka sambil tertawa kecil.
Sarah merasa senang jika pacarnya berkenalan baik dengan teman sekelasnya. Sebelumhya Sarah mengira jika Andi akan cemburu dan marah karena dikunjungi oleh seorang pria. Padahal kan ceritanya bukan begitu, Andi yang enggak mau ngelepasin tangan Aslan biar pria itu mampus.
“Heheh … iya nih, gue seneng banget ketemu sama dia. Anak asyik tadi sering becanda. Katanya elo cantik. Ya kan?” Andi merangkul Aslan.
“Eh iya … tadi kan abang ini bilang kalau lo pacarnya, jadi dia nanyain elo itu cantik apa enggak,” balas Aslan sembari menahan tangan Andi yang mengapit lehernya dengan kuat.
Mampu lo nih ketek gue abis lari sore! Ancam Andi di dalam hati.
Sementara itu Aslan merasa cemas di dalam hatinya, ampun bang sumpah gue enggak tahu …..
Aslan apes akibat terlalu pede di depan orang lain.
***
__ADS_1