
Perseteruan
"Kau nan banamo Sarah tu yo?" Clara menunjuk Sarah dengan tegas.
Kau yang namanya Sarah itu ya?
Andi mendekati telinga Clara. "Clara, Sarah ga ngerti bahasa Minang. Bahasa Indonesia aja dia susah dibilangin, apalagi Minang."
"Emangnya ngapa?" Sarah menarik Andi dan menggandengnya. "Dia pacar aku."
"Lah, kamu itu ya nyakitin Andi aku."
"AnDi AkU ... jijik banget gue dengernya. Eh, dia itu punya aku."
"Dia itu teman aku dari kecil. Kamu baru ngenal dia," balas Clara.
"Enggak ... dia pacar aku. Punya aku titik ..."
"Ih, dia mana mau sama cewek manja yang nyakitin dia."
Sarah naik darah. Ia singsingkan lengan baju.
"Eh, lo baru kenal kok udah ngegas gini ya?" tanya Sarah.
"Andi, kamu kok mau sih mau lagi sama dia?" Clara melipat tangan di dada.
"Eh, ngatain gue lo yah???" Sarah menoleh ke Andi. "Teman masa kecil lo kok aneh semua sih? Tami tuh satu."
"Kamu ngatain aku?" tanya Clara.
"Iya, emangnya ngapa?"
"Cewek bar-bar ..."
"Cewek sok feminim ...."
"Berani kamu sama aku? Satu hektar kebun bawang di desa, aku yang ngurusin sendiri sama ngangkatin pupuknya."
"Lah, anak kebon belagu. Eh, preman-preman radius 10 kilometer takut sama gua!"
"Ih, cewek apaan main sama preman."
"Lah, lo cewek apaan main sama pupuk."
Lah ******* ... ni kaya anjing dan kucing ya ... Andi menepuk jidat.
Mau bercarut, segan sama Clara yang cuma tahu kalau Andi anak baik-baik. Mau digas satu-satu, masih tenggang kalau mereka itu cewek. Telinga Andi sumpek ngelihat adu mulut ga jelas ini.
"Eh, ******* kalian berdua. Diam napa. Gue lapor hansip mau, *****?" Akhirnya keluar juga.
"Andi, mulut kamu ..." Clara menutup mulutnya.
"Heheh ... kadang aku begini. Kadang-kadang aja. Ayok berdua masuk ...."
Andi langsung menggandeng mereka berdua masuk kaya abi-abi poligami dua istri. Aisyah menyambut mereka berdua di depan pintu dengan senyuman aneh.
Uda aku kok bawa dua cewek nih?
"Aisyah ...." panggil Clara sembari memeluknya.
"Uni Clara .... kapan sampai????
"Tadi barusan ... Uni dari bandung ..."
"Cieeeee ..... Kapan nih?" tanya Aisyah.
"Tunggu aja ...."
__ADS_1
Andi membimbing mereka berdua ke tempat duduk masing-masing. Agak diberi jarak biar ga cakar-cakaran. Didudukin hadap-hadapan biar bisa diskusi ringan. Kan masalah bisa diselesaikanbaik-baik, bukan baku hantam.
"Uda ... kok suasananya begini?" tanya Aisyah.
"Udah, bikin aja minum. Mereka ganas kalau lagi haus."
Terjadi saling tatap menatap antara Clara dan Sarah. Andi duduk sembari mengigit jari, takut mereka benar-benar baku hantam. Untuk melerai aksi tatap-tatapan, Andi membuka makanan ringan di atas meja tamu.
"Mama mana?" tanya Clara.
"Mama Andi pergi pengajian ...." Sarah langsung memotong.
"Aku bicara sama Andi, bukan sama kamu."
"Kenapa kamu marah kalau aku bicara sama Andi?" Clara mengambil makanan ringan di hadapannya.
Sarah yang tidak mau kalah, langsung mengambil dua toples makanan ringan untuk dimakan. Padahal dia ga mau makan, tapi karena lihat Clara, dia jadi ikut-ikutan.
Tidak lama kemudian Aisyah tiba membawa dua gelas piala yang berisikan sirup jeruk dingin. Andi langsung menyuruh dia ke dalam karena Andi ga mau Aisyah melihat perseteruan ini.
"Iya, gue ga mau lo bicara sama Andi!" tegas Sarah.
Kenyit dahi Clara bertambah jelas akibat kalimat Sarah.
"Apa hak anda bicara seperti itu? mentang-mentang pacarnya Andi!"
"Iya, karena gue pacarnya Andi makanya gue begini."
Andi tersenyum manis walaupun di hatinya pengen nyuruh nih dua orang buat keluar. Enak-enak aja ngacangin Andi yang merupakan tuan rumah. Dia ga ada diajak bicara, asik sendiri dengerin perbedebatan yang bikin telinga sakit.
"Sayang-sayangku, ayo kita damai. Sarah ... Clara ke sini buat ngunjungin gue ... dan" Andi menghadap Clara. "Clara ini kenalin Sarah, dia pacar gue. Gue udah balikan sama dia dan permasalahan yang selama ini udah kami bicarain baik-baik. Gue tau lo pasti marah kan dengar cerita gue waktu itu, jadi sekarang paham kan kalau kami udah baikan?"
"Ngapain lo cerita-cerita masalah kita ke dia?!" Sarah langsung ngegas.
"Kamu mau aja nih sama cewek yang jelas-jelas aja nyakitin kamu!!!"
Lah kok gue yang salah sih???? Gue mau jadi umbi-umbian ajaa ....
Andi langsung kayang sambil makan mie pedas level sepuluh.
"Aku mau ngelihat Andi. Aku rindu, emangnya kenapa? Ga boleh?" tanya Clara.
"Lo tidur di sini?" tanya Sarah lagi.
"Iya, aku tidur di sini. Mamanya Andi dan bunda aku sahabatan, pastinya dia senang kalau aku tidur di sini."
"Andi, aku mau pulang dulu!" Sarah berdiri.
Sarah berjalan ke pintu dan memasang sepatunya kembali. Dengan cepat Andi mengejar Sarah.
"Jangan baper dong Sarah. Dia itu kaya udah saudara gue, ga mungkin dia mau sama gue." Andi modus mijitin pundak Sarah.
"Kurang kenceng .... eh kok kok malah keenakan, gue kan lagi ngambek." Sarah melepaskan tangan Andi. "Pasti dia suka sama lo!"
"Jangan ngambek dong. Ga mungkin gue suruh dia tidur di luar, kan?"
"Pokoknya nanti malam gue kirim ke sini mata-mata. Mana tau kalian duduk berdua di teras sambil ngelihat bintang."
"Ngapain juga gue duduk berdua sambil ngelihat bintang. Trus ngajarin dia rasi bintang dan sebutin arti dari rasi bintang itu. Emangnya gue makhluk dari drama gitu? Ga gue banget."
"Pokoknya liat aja." Sarah berjalan ke mobil. "Liat ajaaaaa nanti malam!!!"
Malam datang menyambut perlahan. Udah dua adzan Clara berada di rumah Andi, adzan magrib satu dan adzan isya satu lagi. Setelah sholat jemaah isya ke masjid, Andi langsung mendengar suara bincang hangat antara Clara dan Mama. Lah Andi sholat berjamaah? Iya, semenjak dipaksa sama Aisyah.
Andi masuk ke kamar sembari nge-vape di ujung jendela. Kalau ngerokok, pasti baunya bakalan nempel. Makanya Andi cuma berani nge-vape di sini. Sambi ngelihatin candaan twitter receh di layar handphone, asap ngebul vape mahal melebur ke mana-mana dengan wangi mangga yang khas. Tiba-tiba Andi terkejut ngelihat ke depan rumah lewat jendela, tiba-tiba banyak pemuda-pemuda komplek yang lagi nongkrong di kedai depan sambil ngelihatin depan rumah. Kaya ngintai-ngintai gitu.
Tiba-tiba sebuah telpon dari Sarah berbunyi. Andi langsung mengangkat.
"Liat kan preman-preman itu, mereka buat ngawasin kalian!"
Andi menjauhkan handphone dari telinga. Suara Sarah udah kaya om-om marah.
__ADS_1
"Eh, jangan segitunya Sar ... gue ga bakalan ***** sama dia."
"Pokoknya gue bakalan terus curiga semenjak kejadian lo sama Naila. TITIK!!"
Handphone berdengung pertanda sambungan dimatikan. Sarah segitunya banget ngirimin mata-mata dari preman komplek buat ngawasin mereka berdua. Soalnya Sarah lagi sayang-sayangnya nih, makanya cemburu.
Pintu berbunyi ketika Andi lagi nyemburin asap. Sontak Andi terkejut dan mencoba mengibas-ngibasin tangannya biar asap vape hilang. Dada Andi langsung berdebar-debar, bisa-bisa mamanya langsung menyita vape yang dia beli hampir satu jutaan.
"Andi, kamu berani banget yaah ...."
Tangan Andi mengurut dada. Ternyata itu adalah Clara.
"Aku boleh masuk?" tanya Clara.
"Boleh masuk aja, siapa yang ngelarang," balas Andi.
"Kamu balikan sama Sarah yah?"
Clara duduk di atas tempat tidur Andi.
"Iya, aku balikan sama dia. Ternyata selama ini kami cuma salah paham. Aku juga salah, harusnya aku ga jalan sama cewek lain waktu itu. Dia juga nangkapnya salah, padahal kan gue jalan sama dia sebatas teman yang nemenin temannya ke suatu tempat."
Clara tersenyum.
"Kok senyum?" tanya Andi terheran-heran.
"Kayanya dia sayang banget sama kamu."
"Kok gitu???"
"Dia cemburu sekali waktu aku ke sini. Padahal kan tadi cuma ngetess. Hahahaha ... kamu beruntung dapetin dia. HAHAHAHA." Clara tertawa terbahak-bahak.
"Lah, ternyata kamu tadi bercanda?" tanya Andi.
"Iya, cuma ngetes dia doang. Hahaha ..."
"Segitu banget sampe Sarah ngambek ... hahaha."
Clara mendekat. Ia duduk di hadapan Andi dan mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan dari belakang tubuhnya.
"Kamu datang yah ...."
Sebuah surat undangan mendarat di meja. Andi langsung menggapai dan membacanya. Nama Clara dan seorang pria tertera di depan surat undangan tersebut. Senyum Andi langsung melebar sembari memandang wajah Clara yang berseri-seri. Ia ikuti alur wajah Clara yang begitu senang karena telah memberikan ini kepadanya.
"Kamu boleh datang. Acaranya setelah acara kelulusan SMA. Ini cuma contoh surat undangan yang bakalan dibuat."
"Lah ini cuma contoh ....?" Andi menggeleng. "Lah siapa cowok ini?"
"Iya cuma contoh undangan. Ya kali aku nikah waktu belum lulus. Apa kata orang kampung nanti?? hahaha .... Cowok itu teman ayah. Dia tentara di Kota Padang, keluarga besarnya di Bandung. Makanya aku kemarin ke Bandung."
"Udah lamaran?" tanya Andi.
"Belum sih. Tunggu lulus dulu ..."
"Selamat yaah. Aku masih lama. Nunggu sukses dulu. hahahha ...."
"Iya aku tahu. Kamu juga boleh bawa Sarah kok. Biar jadi referensi waktu kalian nikah. Besok. Hahahahah." Clara memegangi kedua bahu Andi.
Udah tahu bahu Andi abis dijahit, eh malah dipegang sama Clara. Apa ga sakit tuh ...
"Aduh ... Jangan bahu gue, Clar."
"Kenapa bahu kamu?" tanya Clara terkejut.
Andi tersenyum sembari membuka lengan bajunya. " Abis tawuran. Biasa anak laki-laki. Abis kena sayat, makanya dijahit.
Tidak ada wajah marah yang ditampakkan oleh Clara. Ia malah tersenyum.
"Sini aku obati lagi. Besok-besok kalau begini, aku ga bisa ngobatin kamu lagi karena udah punya suami. hahaha."
"Hahaha, iya Clara."
__ADS_1
Di dalam hati Andi berharap, semoga Sarah bisa seperhatian ini kepadanya. Betapa beruntungnya pria yang mendapatkan hati Clara.
***