
Adakah satu titik di mana tanpa disadari kita saling mengingat? Pernahkah pertemuan rasa itu sama-sama menyimpulkan kekhawatiran dan rindu yang serupa? Mata Memet memejam tatkala pertanyaan itu mencuat dari balik pandang wajahnya kepada Tami. Wanita itu kini duduk meringkuh di sampingnya sembari melihat atraksi massa yang geram oleh kehadiran maling malam ini. Jarak mereka hanya dua jengkal itu pun karena Memet menjauh agar tidak terlalu dilihat oleh orang banyak.
Terselip sebuah kata bahwasanya Memet sangat mengkhawatirkan Tami, tetapi terlalu berat untuk dikeluarkan oleh hati yang bertepuk sebelah tangan ini. Hatinya yang kecil itu terlalu lemah menghadapi kenyataan cinta bahwasanya ia bukanlah siapa-siapa. Jikalau keberaniannya kali ini murni karena Memet khawatir, tetapi sejatinya tidak lebih sebagai tugas pemuda setempat dan orang ronda yang selalu diandalkan jika ada rumah kemalingan. Selalu saja seperti itu, tidak akan menjadi satu. Tetap ada dinding pemisah antara mereka.
Tami tampak kedinginan. Memet melapisi tubuh wanita itu dengan jaket denim ala-ala babang dilan lagi bawa motor tua. Jangankan ucapan terima kasih, mata mereka yang saling bertemu saja sudah membuat Memet bersenang hati. Kemudian, Memet terlalu gugup untuk memandanginya lama sehingga kembali beralih ke depan. Jika di sampingnya sedang ada bidadari, maka di depannya hanya pemandangan maling yang digebukin. Sungguh kontradiktif sekali dan bikin hati Memet jadi sumpek.
Ya, baru kali ini Memet merasa gentle di depan seorang wanita. Mungkin hanya sedikit orang yang berani bertaruh nyawa seperti itu untuk orang yang tanpa kepastian. Kepastian hanya datang dari Memet, yaitu agar Tami bisa selamat. Memet pun berhasil malam ini dengan kebanggaan bak seorang pangeran raja yang pulang sehabis menang perang. Memang, lawannya kali ini bukanlah apa-apa karena Memet pernah menghadapi musuh yang lebih kuat dan bahkan lebih mengancam nyawa. Namun, entah kenapa Memet terasa begitu puas karena kata terima kasih serta senyum itu datangnya dari Tami seorang.
“Tami ….”
“Memet ….”
Mereka memanggil secara bersamaan.
“Lo duluan,” balas Memet.
“Entah apa yang terjadi kalau kamu terlambat datang. Maling itu udah berusaha buka kamar aku. Waktu itu aku bahkan belum tahu kalau malingnya telanjang kaya gitu.”
Memet menghela napas. “Ya … itu sudah tugasnya orang ronda, bukan?”
“Met ….” Tami memandang wajah pria di sampingnya.
“Iya?”
“Kalau orangnya bukan aku, apa kamu sekhawatir tadi?”
Mata Memet terpaku pada dalamnya pandangan Tami. “Eh, maksud lo?”
__ADS_1
“Aku seakan bukan ngelihat Memet waktu kamu mukulin maling itu. Baru kali itu aku ngelihat orang di depan mataku sendiri lagi digebukin.”
“Apa lo takut sama gue setelah lo ngelihat itu?” tanya Memet.
“Bukan gitu ….” Tami menyentuh kedua lututnya. “Kalau aku enggak ada di sana, bisa jadi kamu ngebunuh orang lain.”
“Gue enggak bakalan ngebunuh orang lain. Lo kira gue baru kelahi satu kali? Hal yang kaya gitu udah biasa waktu gue masih di SMK. Jadi, gue tahu bedanya mukulin sampai bonyok dan ngebunuh orang.” Memet menggeleng kepala. “Soal pertanyaan lo tadi kalau itu bukan lo apakah gue bakalan seperti itu juga? Hmm … bisa jadi kalau itu terjadi pada orang-orang terdekat gue. Gue pasti khawatir.”
Tami tersenyum pelan. “Padahal kamu dulu enggak seberani itu waktu kecil deh. Bahkan, kamu takut sama kucing.”
“Dunia merubah orang, Tam. Kalau lo cuma bergerak di satu titik, lo enggak akan bisa bertahan. Gue bisa begini agar bisa bertahan dari para preman-preman yang malakin gue waktu sekolah. Kalau enggak, mereka terus aja ngerampas gue.”
“Apa Andi juga begitu?” tanya Tami.
Kedua bahu Memet naik. “Entahlah … semenjak remaja gue dan dia enggak satu sekolahan lagi. Bahkan, kami terhitung enggak pernah main bareng, kecuali main bola di belakang. Itu pun ujung-ujungnya berantem antara kubu gue dan kubu dia.”
“Ya salah satunya karena elo yang balik lagi ke sini. Coba aja lo enggak ke sini lagi, mungkin aja gue dan Andi masih musuh bebuyutan.”
Warga terlihat sudah puas untuk mempermak wajah sang maling. Maling udah tepar ketika diangkut ke atas mobil pick up. Tidak lama kemudian, terlihat cahaya merah dan biru dari arah gapura komplek yang menjadi tanda jika polisi telah datang. Maling itu pun segera diangkut oleh bapak polisi sehingga bisa diproses hukum.
Andi tiba terlambat ketika warga sudah mulai beranjak pergi dari sekitar rumah Tami. Ia kesal karena belum sempat berkontribusi dalam mempermak wajah maling agar jadi lebih estetik. Biasanya apabila ada kejadian kemalingan, Andi selalu datang bersamaan dengan Memet sehingga mereka bisa melakukan combo untuk meng-*ulti* maling.
“Matiin motor lo dulu, baru ke sini ….” Memet menunjuk motor Andi yang masih belum dimatiin. Lampunya aja masih hidup.
“Oh, maap … gue masih panik gara-gara Tami kemalingan.”
Memet berdiri dari duduknya untuk melakukan tos tinju. “Sekarang, Tami urusan lo. Selamatkan dia ke rumah.”
__ADS_1
“Makasih banget udah cepet bertindak. Ada untungnya juga gue enggak ikut, bisa-bisa malingnya mati dan kita yang dibawa ke polsek. Kata warga sekitar, malingnya bonyok banget.”
“Haha … bener juga. Tapi jangan sampe ke polsek lah, gue trauma masuk polsek.”
“Iya sama hahaha ….” Andi menepuk pundak Memet. “Sekali lagi makasih banyak.”
“Oke, sama-sama. Gue pulang dulu. Udah malem, takut dikunci emak di rumah.”
“Udah gede lu kek bapak orang masih aja dikunciin.”
Memet tertawa sembari melambai. “Haha … lah lo juga kan.”
“Makasih Memet!!!” pungkas Tami.
Tami malam ini akan tidur di rumah Aisyah. Mamanya Andi meminta Tami untuk menginap dulu beberapa hari sampai keadaan mental Tami sudah membaik. Tami masih sangat cemas untuk tinggal sendirian karena kejadian ini. Sementara Tami sudah berada di rumah Andi, Andi kini bertugas untuk membereskan rumah Tami yang berantakan sekaligus mengunci seluruh pintu. Tidak lupa Andi mengunci paksa jendela yang dibuka dengan paku.
Kondisi rumah Tami benar-benar amburegul gara-gara digasak maling. Terdapat berbagai barang berharga yang sempat dimasukkan ke dalam tas maling tadinya, seperti emas, jam tangan, sejumlah uang, serta handphone. Rata-rata seluruh benda tersebut merupakan milik kedua orangtua Tami. Saat ini benda-benda tersebut sudah diamankan oleh mamanya Andi. Andi tinggal membereskan seperti benda-benda yang terjatuh karena perkelahian dan buku-buku yang berantakan.
Andi menyempatkan diri untuk melihat-lihat kamar Tami. Ia menemukan banyak benda yang pernah mereka mainkan sewaktu kecil, seperti boneka, robot-robotan, dan kerajinan dari kertas origami sisa-sisa kebersamaan mereka. Namun, langkah Andi terhenti di sebuah laci yang banyak surat pribadi dari orang lain. Rasa penasaran Andi membuatnya menelusuri surat-surat tersebut.
“Anjir, banyak banget surat cinta yang datang ke elo, Tam.” Andi menelusuri setiap nama yang ada di kertas tersebut.
Seluruh surat tersebut berasal dari teman-temannya selama SMA, baik seangkatan, junior, maupun senior. Hampir seluruh nama tersebut Andi kenal. Hal itu membuat Andi tertawa-tawa kecil karena melihat temannya yang sangat bodoh dalam menuliskan kata-kata cinta. Tangan Andi berhenti di sebuah surat yang letaknya tersendiri, yaitu di dalam kotak. Surat tersebut berasal dari Memet.
Namun anehnya, surat itu masih utuh terjaga di dalam amplop. Tami sama sekali belum membukanya untuk alasan tertentu yang belum Andi ketahui.
\*\*\*
__ADS_1