Andi X Sarah

Andi X Sarah
13. Sarah Cewek Creepy


__ADS_3


Sarah Cewek Creepy



Sore itu matahari bersinar manja menatap setiap insan dengan langkah kecil yang menapak kerikil kecil di trotoar. Sarah jalan kaki sambil nenteng tas yang beratnya kaya udah ngangkat batu bata. Ga salah kalau kekuatan Sarah udah setara sama tukang. Tiap hari ngangkatin batu bata.


Dia masih penasaran dengan yang terjadi beberapa hari yang lalu ketika Pram dan Andi tiba-tiba saja memberhentikan perseteruan mereka di kantin. Padahal seru loh kalau ngelihat Andi kelahi. Sarah menunggu hal itu karena itu kesempatan dirinya untuk memasukkan Andi lagi ke ruangan BK.


Kepulan asap mengawang di kedai Pak Topoi. Kedai yang berada di simpang tiga bingung, soalnya banyak pengendara yang bingung di jalan itu. Tampak olehnya Andi dan kawanan monyetnya lagi jongkok mainin domino di meja kedai Pak Topoi.


Gukk!!! Tiba-tiba saja ada seorang anak yang lagi bawa anjingnya jalan-jalan. Sarah ampir di seruduk sama anjingnya.


"Uanjir, anjing bawa anjing. Kalau jalan pakai mata dong," ucap Sarah pada anjing itu.


Anak itu tertawa. "Lah, udah tau ini  anjing, Kak. Mana ngerti."


"Yaa, yang anjingnya itu elo. Dasar! Gua takut anjing tau!"


Lalu sarah menyeringai kaya anjing dan bikin anjing yang tadi lari dan nyeret anak itu. Mata Sarah mengarah ke Anak Amak yang lagi nyebat bersama di meja kedai Pak Topoi. Ia melangkah ke sana untuk melihat kegiatan rutinitas haram mereka.


Sarah mendapati sejumlah uang di dekat batu domino yang mereka mainkan. Ia berdiri dengan melipat tangan di belakang Andi. Sementara itu, Felix, Nanang, dan Agus hanya ternganga karena mereka telah terciduk oleh Sarah.


"Njir, gua sama Felix menang lagi!" Bunyi domino terdengar saat Andi menghempasannya di atas meja. "Hahaahahaha ... mana uang kalian?"


Anak Amak yang lain tidak bisa menjawab. Ia terdiam sambil menatap ke Sarah yang udah mulai beranjak ke huluk mode. Mereka udah ke sekian kalinya ketahuan main domino pakai uang di kedai Pak Topoi.


Hidung Andi tiba-tiba mengendus-ngendus. Ia merasakan bau-bau yang tidak mengenakkan. Instingnya ini kembali aktif ketika Sarah ada di sekitar dirinya. "Woi, gua merasakan hal yang tidak mengenakkan?" tanya Andi.


Andi menutup mata lalu mengendus ke sana sini. Sarah cuma ngelihatin tingkah abnormal manusia yang satu itu. Hidung Andi mengendus ke depan, lalu ke kana, baunya semakin tercium jelas. Andi memutar kepalany ke belakang, baunya semakin kuat dan kuat.


Ia melebarkan tangannya dengan mata tertutup. "Biasanya gua bisa merasakan kehadiran Sarah dengan tangan gua. Tangan gua bisa merasakan auranya." Ia meraba ke sana sini.


Tanpa sengaja Andi memegang sesuatu yang terlarang. "Lah, kok kenyel, ya? Lembut banget...."


Anjirrr!!!!! Ucap Felix, Nanang, dan Agus.


Cuma manusia satu ini yang berani mainin singa.

__ADS_1


Andi megang apaan, ya?


Hmmmmm


Plakkk!!! Bunyi yang begitu keras terdengar saat Sarah menampar Andi.


"Anjirr lo yaa!!! Berani banget lo megang pipi gua." Sarah mukulin Andi sambl terjerembab ke lantai.


Mata Andi terbuka. Ia mendapati makhluk hijau bertubuh mungil dengan rambutnya yang panjang sedang menghadang dirinya bertubi-tubi. "Wah, lo Sarah? Gua ga ada maksud─"


"Baru kali ini ada cowok berani nyentuh pipi gua selain bapak gue sendiri. *** lo, yaa!!" protesnya. Sarah pergi sambil megangin pipinya yang telah dicubit manja oleh Andi.


Andi mengerang kesakitan di sekujur tubuhnya. Cubitan dengan kekuatan seribu tangan menempel tak diberi ampun. Untung aja si Jhon Andi tidak menjadi sasaran oleh Sarah, kalau iya bisa bisa... ah ga mungkin, Andi tidak seperti itu orangnya. Dia adalah pria jantan, bukan pria hidung belang.


"Kampret banget lo, Ndi. Gimana rasanya pipi Sarah? Untung aja ga itunya yang lo pegang. Hampir loh ... HAHAHAHAH" kata Felix pada Andi.


"Anjir lo, Kalau itunya yang gua pegang, mungkin lo udah yasinan di rumah gua. Trus besoknya ada berita di LINE TODAY kalau seekor huluk membunuh orang tampan tingkat kota."


"Mimpi lo, mblo."


Tidak banyak yang Andi lakukan di sekolah selain nongkrong di kelas Nanang sambil liatin Agus yang lagi nonton di atas meja. Maklum penyakit kumat lagi. Udah lama sih Andi niat buat ruqiyah anak itu. Tapi bapaknya Nanang ga sempat sempat soalnya bapaknya sering ceramah ke luar kota. Maklum, bapaknya kan ustadz kondang.


Matanya sesekali terpejam karena suntuk yang datang melanda. Sesekali dia kayang untuk ngilangin suntuknya. Nanang tepar karena habis main basket, badannya keringat abis. Sempaknya basah, dia yang bilang sendiri. Sementara itu, Felix ngitung uang jualan paket internet. Keturunan pengusaha biasanya kaya gitu, apa aja dijadiin usaha. Pulsa, paket internet, aksesoris handphone dia jadiin usaha. Makanya uangnya banyak. Apalagi buat judi bola. Tebakannya jitu abis.


Njir, celana Agus gerak-gerak, mata Andi langsung fokus ke sana. Bentar lagi ganti oli nih.


"Cabut, yuk?" jawab Agus.


"Cabut ke mana?" tanya Andi.


"Ke Meikarta aja."


Tiba-tiba tangan Andi menempel dengan kuat di celana Agus yang lagi on fire. Agus terkejut dan langsung duduk. "Woi ... gangguin orang aja. Boruto lagi ngeluarin Jougan nih."


"Bok*p kok jadi boruto... Hahahahah." Tawa Andi menggelegar. "Ayo cabut, gua suntuk banget. Ngerokok atau ngapain kek."


Anak berjalan di koridor sama-sama. Belagak kaya orang keren di pilem ganteng-ganteng anjing mereka berjalan sambil nebar pesona ke adik-adik kelas. Semuannya melihat Anak Amak yang lagi jalan. Agus malah senyum-senyum ke kakak kelas. Felix masih mikir tentang keuntungan usaha minggu ini. Nanang ngapalin rumus matematika buat ulangan Nanti.


"Alah, sok-sok'an ngapal lo, Nang. Tetep aja nilai lo ga sebagus gua," ucap Andi.

__ADS_1


"Njir, Nilai tinggi lo karena Sarah aja."


Tawa Andi keluar. "Hahahahah... gua nyontek bukan sama Sarah."


"Tapi kan semua jawaban Matematika semuanya dari Sarah. Semua kawan lo kan gobloknya ga beda jauh kaya elo, kecuali Sarah sendiri."


Tiba-tiba Sarah lewat. Bak seorang ninja, mereka langsung menghindar. Mereka udah latihan selama ini. Andi sembunyi dibalik bunga. Nanang sembunyi di balik pot gede. Felix pura-pura jadi patung kesatria cina berpedang panjang. Sedangkan Agus jadi kudanya Felix.


Alhasil Sarah tak menyadari kehadiran keempat makhluk astral di sekitarnya. Ia melangkah tanpa terusik sedikit pun.


"Hahahaha... Sarah memang goblok, ya," kata Andi sambil ketawa.


"Siapa yang goblok?"


"Sarah, dong. Siapa lagi?" tanya balik Andi.


"Jadi gue?" tanya Sarah yang udah di belakang Andi. Mukanya udah siap-siap berubah jadi makluk hijau bercelana pendek koyak-koyak, yaitu huluk.


"Iya el─" Kepala Andi dengan sigap melihat ke belakang.


Sarah tersenyum dan menerkam Andi dengan ganas. Baju Andi dicabik-cabik. Sempaknya dikoyak-koyak pake gigi sama Sarah. Andi berlari terbirit-birit sambil telanjang. Nanang, Agus, dan Felix tergeletak tak berdaya karena sudah kena hantaman Sarah mode huluk. Tak lama kemudian, Andi mulai tak bertenaga dan pingsan. Sarah menyeret Andi ke sebuah tempat.


Mata Andi terbuka perlahan. Matanya masih sembab karena tertidur satu jam Bau obat yang pekat tercium tiap kali ia menghirup udara. Ia menoleh ke kanan, dengan ranjang UKS yang berbeda, Anak Amak yang lain masih tertepar dalam tidurnya. Tiba-tiba Andi baru teringat apa yang telah terjadi sebelumnya.


Ia menghela napas. "Untung aja semua itu hanya mimpi. Sarah beneran jadi huluk," ucap Andi sambil menggeliatkan badannya. "Woi, bangun. Bel pulang udah bunyi dari tadi."


Anak Amak yang lain terbangun perlahan. Semuanya menguap sambil tersenyum. "Besok-besok kita sini lagi, Ndi. Beneran enak kalau tidur di UKS sampai bel pulang bunyi," kata Agus.


"Hahaha, iya bener. Tapi, di bawah kok banyak orang yang tidur, ya." Felix melihat ke bawah dan melihat tiga orang tertidur miring dengan sebuah bantal di kepalanya.


Seorang petugas UKS yang masih adik kelas mereka langsung bicara, " Itu semua murid yang sakit. Terpaksa mereka tidur di bawah. Malah abang yang tidur di atas ranjang."


"Yang sabar ya, Dek. Ini udah rutinitas kami," balas Andi tanpa menoleh ke adik kelas petugas UKS.


"Rutinitas, ya?" tanya petugas UKS tadi. Dia berbalik dan memperlihatka wajah aslinya. Dia tersenyum lebar sambil menyeringai. Wajahnya putih sedikit kemerah-merahan di bagian pipi. Rambutnya panjang hitam legam.


Mata Andi melotot. Nanang udah pucat. Agus mengigil. Felix ... eh mana Felix, dia udah lari dari tadi.


"Ternyata elo Sarah─"

__ADS_1


Andi pingsan beneran.


***


__ADS_2