Andi X Sarah

Andi X Sarah
83. Tragedi Warung Mas Momon (SEASON 3)


__ADS_3

Senja membawa Andi untuk mengopi di warung Mas Momon. Sebenarnya Andi ada tongkrongannya sendiri bersama Anak Amak, tapi jika dia sendiri malah seperti seorang jomblo kesepian. Oleh karena itu, Andi bergabung bersama anak Kodomo yang kebetulan lagi ada juga di sana. Revin membuat kopi dari kompor warung, lalu mereka duduk di pondokan kayu belakang warung. Sembari bermain kartu gaple dengan taruhan minuman seribuan, mereka pun menikmati momen senja bersama.


Andi pun membawa Memet agar tidak gabut sendirian di pos ronda sambil ngelihatin Tik-Tak yang ceweknya pada goyang. Kalau tidak melihat cewek Tik-Tak, biasanya Memet bermain game slot yang sedang digandrungi orang sekarang. Tetapi karena chip Memet sudah habis, ia mengurungkan niat untuk itu.


“Waduh … gue jadi kangen Tasya nih. Sumpah itu temen Naila bening banget kaya telapak kaki gue.”


Memet ngelihat aneh kepada Revin yang menganalogikan dengan telapak kaki. “Aneh banget kalau kaya telapak kaki. Kaga ada analogi lain apa?”


“Tasya siapa sih Bang?” Tangan Putra melemparkan kartu gaplenya ke tengah-tengah. Putra ini merupakan teman seangkatan Ajiz di Kodomo.


“Temennya satu jurusan Naila yang pernah dibawa waktu ngejenguk Ajiz di rumah sakit.” Revin menoleh kepada Andi. “Temen satu fakultas Andi juga.”


Andi diam saja dan tidak membeberkan bahwasanya Tasya itu sedang ada seperti gelagat-gelagat ingin mendekatinya. Bahkan, Andi juga sudah pernah mendapatkan bonus pelukan dari wanita itu. Meskipun bertolak dengan batinnya, tetapi enak juga dipeluk cewek canti. Andi tetap mengakui kalau Tasya itu cantik pakai banget. Namanya cewek selebgram kaya jadi punya duit banyak untuk perawatan muka.


“Iya dia temen satu fakultas gue. Cewek famous, kaga cocok sama kita yang mainnya di pondokan sambil minum kopi sasetan,” balas Andi.


“Kevin mana ya? Biasanya jam segini dia udah pulang dari narik ojek online,” tanya Memet ketika melihat jam tangan.


“Kevin ke mana sih? Lo yang dari tadi siang sama dia?” tanya Revin kepada Putra.


“Oh Bang Kevin, katanya ngedatengin preman-preman yang udah ngegebukin Ajiz. Dia mau bicara baek-baek sama mereka. Katanya sih gitu, tapi ga tau kalau dia udah ngeporak-porandain tongkrongan mereka. Sumpah gue masih trauma kalau ngelihat  Bang Kevin ngamuk,” balas Putra.


“Beruntung juga kita punya Hercules di tongkrongan, jadi orang-orang pada takut. Heheheh ….,” pungkas Revin.


Mereka melanjutkan permainan gaple mereka sampai pukul setengah enam sore. Sudah banyak pula obrolan yang terjadi di antara mereka. Salah satunya membicarakan Pram yang sedang jalan sama cewek cantik beberapa hari yang lalu. Mereka tidak mengetahui cewek mana lagi yang dibawa Pram di dalam mobil, yang pasti dia sempat membawa cewek itu ke tongkrongan. Pram berdalih hanya mengantarkan temannya pulang ke rumah.


Namanya Pram sang fakboy berdamage. Tanpa meminta pergi jalan, dia pun sering diajak jalan sama cewek lain. Paling minimal minta dianterin pulang. Cewek-cewek pun memanfaatkan kebaikan hati Pram.


“Eh itu Kevin ….” Andi menunjuk Kevin yang membuka helmnya.


Tidak ada senyum lebar yang biasa ditunjukkan Kevin, melainkan wajah khawatir sembari menghempaskan helmnya ke tanah.


“Gawat … Dandi bergerak sendiri. Preman-preman itu mampus dibikin sama dia.” Ia menatap teman-teman yang lain. “Kalian harus bersiap. Geng mereka bakal ke sini.”


“Apa? Preman itu kenapa bisa mau ke sini?!” Revin berdiri dengan emosi.


“Geng Bang, itu nama mereka. Kalian pernah dengar nama itu dari Lelek yang sebagian anak SMA kita tergabung dengan mereka? Sekarang kita berurusan dengan geng itu.”


Andi mengingat kalau ada lelek pernah menyebut nama geng tersebut. Geng itu terkenal seram dan ditakuti di SMA mereka. Andi menduga kalau Geng Bang menguasai SMA mereka dari segi kekuatan.


“Benar mereka akan ke sini?” Andi membuka jaketnya.


“Gue ngedatengin tongkrongan mereka dan gue lihat dengan mata gue sebonyok apa preman-preman itu dibikin oleh Four Dog. Mereka ngira kalau Dandi itu bagian dari Kodomo. Apa pun yang terjadi sore ini, warung ini harus tetap aman.”


Memet melakukan pemanasan pada tangannya. “Gue memang enggak anak tongkrongan kalian. Tapi, kalian temen-temen gue. Biar gue tunjukin siapa yang pernah megang SMK Permesinan.”


“Ayo kita pemanasan dulu ….”


Agar otot-otot tidak mengalami keram ketika bergelud dengan Geng Beng, mereka melakukan pemanasan yang dipimpin oleh Kevin. Kevin sudah paham mengenai kebugaran jasmani, bahkan melebihi dari Andi yang sekolah di jurusan itu. Selayaknya sebelum senam, Kevin menghitung angka dalam gerakan pemanasan.


“Kok kaya mau senam ya?” tanya Memet dengan bingung.


“Ini harus dilakukan biar kita nanti fleksibel geraknya,” balas Kevin.


“Sumpah deh senior gue itu ….” Putra dengan setengah hati mengikuti gerakan Kevin.


Sepuluh menit kemudian, berbunyilah knalpot motor menggeber warung Mas Momon. Kevin memberitahu bahwas itulah mereka yang datang. Setiap mata menatap waspada untuk siapa saja yang datang. Para junior SMA mereka yang duduk di depan warung, bergerombol lari ke belakang, termasuk Lelek yang dianggap pemimpin dari mereka.


“Bang … kami kok diincer gini Bang? Salah apa kami?” Lelek panik setengah mati.

__ADS_1


Dari belakang gerombolan junior tersebut telah dibopong satu orang yang pingsan karena serangan.


“Sebaiknya kalian pergi jauh ke belakang. Ini urusan kami dengan mereka,” balas Kevin.


Sebagian dari junior tersebut langsung lari karena takut melihat lawan yang datang. Namun, Lelek bersama teman setianya masih bertahan.


“Temen gue udah dipukulin, gue ikut sama Abang,” pinta Lelek.


“Lo bisa kelahi?”


Lelek langsung menunjukkan ototnya yang tidak seberapa itu, cungkring seperti lidi. Tapi, tubuhnya jangkung hampir setinggi Kevin. “Bisa bang, walaupun otot gue cuma segini enggak kaya abang yang segede gaban.”


Tangan Kevin memutar tubuh Lelek untuk melihat rupa preman yang mendatangi mereka. Lelek langsung menelan ludah karena preman-preman itu berwajah seram.


“Jangan takut ya ….” Andi menepuk pundak Lelek yang gemetaran.


Terdapat tiga kelompok, yaitu Kodomo, Prebep, dan Anak Amak. Kevin, Memet, dan Andi maju bertiga paling depan sebagai orang terkuat di masing-masing kelompok mereka. Kevin ingin bernegosiasi dahulu agar tidak terjadi perkelahian yang merugikan.


“Siapa nama lo?” tanya Kevin kepada ketua mereka.


“Gue Salim Ketua Geng Beng. Jadi kalian yang udah bikin bonyok anggota gue?” tanya Salim.


“Kalian udah ngehabisin junior gue. Tapi lo harus tahu, bukan kami yang balas dendam.”


“Jadi, siapa?”


“Lo enggak perlu tahu. Kalau kalian ngerang mereka, itu juga urusan Kodomo.” Kevin menyadari jika Dandi juga bagian dari Antophosfer. “Mumpung kalian di sini, biar kami sambut.”


Kevin berlari ke tengah kerumunan Geng Beng dan langsung mengamuk dengan dahsyat. Memet yang sudah lama tidak bergelud turut melakukan hal sama. Sementara itu, Andi mengincar sisi paling kanan. Warung Mas Momon sekarang jadi ring tinju. Istri Mas Momon yang panik langsung menutup warung bersama anaknya yang masih bocil. Kericuhan sampai ke warung. Jualan yang terletak di meja depan semuanya berantakan.


“Mampus lo!” Kevin menghantam satu lawan yang sedang menghadangnya dari belakang.


“Sumpah gue ke udah lama ga kaya gini!” Memet meninju salah satu lawan. Melihat Andi yang kesusahan, ia segera membantunya. “Lo kok jadi lemah gini?”


Andi menyeka keringatnya. Bagian dahi Andi terasa kebas karena habis kena pukulan. “Maklum, perut gue udah buncit gini jadi kaga bisa gerak cepet.”


Kevin mengapit dua lawan di keteknya. Bayangin aja ketek habis berpetualang di jalan kota sebagai ojek online, kini bersarang ke kepala musuh. Sementara itu, kaki Kevin sibuk menendangi musuh-musuh yang berusah mendekat. Tidak ada kata ampun yang diberikan oleh Kevin. Musuh-musuh pun mulai takut mendekatinya, hanya ketua dari geng tersebut yang masih berlawan imbang dengannya.


“Woi, kalau bawa pasukan jangan lemah gini dong! Muka aja preman, kaga punya tato!” teriak Kevin sembari menyampakkan musuh yang ada di keteknya.


“Sini lo maju!”


Pertarungan Kevin dan Salim berlangsung sengit. Jual beli serangan terjadi seperti jual beli ayam dipasar, ada yang jual dan ada yang beli. Satu kali pukulan selalu ditangkis. Tatkala melakukan serangan balik,, Salim malah bisa menghindar. Pengalaman bertarung antara dua kedua kelompok ini tidak bisa dianggap sebelah mata. Saling berpengalam sebagai kriminal jalanan, Kevin sudah berurusan dengan banyak preman. Mental sudah teruji satu sama lain.


Masjid sudah hampir adzan magrib. Marbotnya pun mulai menghidupkan kaset ngaji untuk persiapan solat magrib. Tidak ada kata berhenti dari perkelahian tersebut. Mereka terus saja melakukan serangan meskipun bapak-bapak dan ibu-ibu udah goncengan ke masjid. Bukannya melerai, para warga malah kabur karena takut imbasnya.


Tibalah satu mobil mewah ke depan warung. Suara tembakan peluru kosong berbunyi. Semua orang dalam perkelahian seketika melihat ke pria berseragam polisi. Pram baru saja datang, meskipun terlambat.


“Polisi woi!” teriak Salim.


“Polisi! Polisi!” ucap anak-anak Geng Beng.


Perkelahian pun bubar. Motor dengan knalpot gahar mulai berbunyi. Mereka berhamburan untuk kabur karena kehadiran Pram. Pram pun berteriak dengan kencang agar mereka segera pergi dari warung Mas Momon.


Napas ngos-ngosan diperlihatkan oleh mereka setelah para Geng Beng itu kabur. Kevin mengambil air mineral dalam botol dan menyiraminya ke seluruh tubuh. Dadanya yang otot sebesar nangka itu pun kini terlihat sangat sexy. Mungkin kalau istri Mas Momon ngelihat, langsung nelan ludah. Tapi, Andi jijk dong waktu Kevin menaikturunkan otot dadanya.


“Kalian pada ngapa sih?!” tanya Pram dengan nada marah.


Kevin mengatur napasnya seperti seorang suhu Kungfu. “Itu anak-anak Geng Beng mau nyerang kita.”

__ADS_1


“Geng Beng? Aneh banget kaya genre pideo jepang,” balas Pram.


“Dandi udah ngerang mereka duluan karena mau ngebalasin dendamnya Ajiz. Mereka malah ngira kalau Dandi itu anak Kodomo,” sambung Andi.


Mata mereka bergerak ke arah belakang untuk duduk di pondokan. Ia memegangi tangannya yang berlumuran darah. Melihat Revin yang tidak baik-baik saja, Kevin mersa panik. Ia menghampiri Revin segera.


“Lo kenapa?” Kevin memeriksa tangan Revin yang bercucuran darah. “Gue kena pisau mereka kayanya.”


“Pram … antar ke klinik! Bahaya kalau dibiarin,” ucap Andi sembari mendorong Pram.


“Ayo Revin ke mobil gue. Kita ke klinik dulu biar dijahit. Kalau enggak lo bakalan bisa kehabisan darah. Deres banget nih darahnya.”


Revin kini dibantu berdiri oleh Andi dan Memet ke dalam mobil. Kevin meminta yang lain bubar, sekaligus berterima kasih kepada Lelek dan teman-temannya. Lelek sudah membuktikan kalau dirinya berani bertarung demi mempertahankan tongkrongan.


Sampailah Andi di rumah di pukul tujuh malam. Ia menyelinap ke dalam rumah dengan kunci yang ia pegang. Merasa tidak ada siapa-siapa di lantai satu, Andi segera menaiki tangga menuju kamarnya. Andi takut mamanya bakalan marah kalau dia pulang setelah magrib. Pesan mamanya tersebut selalu Andi ingat ketika keluyuran seharian, namun kali ini ia datang terlambat.


Sewaktu Andi memasuki kamarnya, ternyata Sarah sudah duduk di atas ranjang.


“Lah elo kok di sini?”


Sarah memasang wajah bete`. “Lo yang ke mana? Kok habis magrib baru pulang? Mama lo khawatir tuh!”


“Mama mana?” Andi melihat kembali keluar pintu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mamanya.


“Mama lagi pergi sama Aisyah buat kontrol ke rumah sakit. Gue dan Tami diminta buat nungguin elo di rumah.”


Andi tidak tahu mau menjawab apa karena ia habis berkelahi. Sarah pasti marah kalau Andi berkelahi lagi. “Tami di mana?”


“Lah kok nanya Tami sih? Elo yang dari mana?!” tanya Sarah kembali.


“Hmm  itu … gue baru main futsal.” Tangan Andi menarik kaosnya. “Nih kaos gue bau keringat. Jadi jangan deket-deket.”


Sarah malah mendekat untuk menciumi bau tubuh Andi. Hidungya ngendus hingga ke ketek sampai Andi jadi risih. “Beneran baru habis main futsa?”


“Beneran sumpah. Gue baru lawan anak tongkrongan di dekat warung Mas Momon. Maklum, bantuin anak Kodomo. Kan gue jago main futsal,” jawab Andi dengan canggung.


“Main futsal kok kening lo bisa bengkak gitu?”


Ternyata Sarah melihat bengkak yang ada di mata Andi. Ia jadi bingung kenapa bisa main futsal sampai bengkak begitu. Perasaan selama ini Andi main futsal cuma luka di kaki karena bergesekan dengan rumput sintetis futsal.


“Ini … apa namanya … hmm …kejedot tiang.” Andi menjauhkan wajah Sarah darinya. Soalnya dari tadi matanya melototin bengkak di kening Andi. “Kan gue ceritanya jadi bek nih. Waktu ngelamatin gawang, gue malah jatoh ke tiang. Kening gue kejedot deh.”


Sarah mulai menjauh dari tubuh Andi. Tangannya merapikan seprai ranjang yang berantakan karean jarang Andi bereskan setelah berbaring. Seluruh bagian kamar pun sudah bersih dan rapi karena Sarah risih melihat kamar pacarnya itu berantakan. Maklum kamar anak bujang kondisinya bagaimana.


“Ini kamar lo rapiin biar enggak Aisyah lagi yang ngeberesin. Udah gede gimana sih?” tanya Sarah.


“Iya gue nanti bersihin.”


“Nanti gimana? Kan udah gue beresin.”


Tiba-tiba Sarah membuka kaos Andi


“Sar, lo ngapain?”


“Udah buka ajaa ….”


“Jangan Sar, jangan dong!”


***

__ADS_1


__ADS_2