Andi X Sarah

Andi X Sarah
1. Laper (SEASON 3)


__ADS_3

“Andi, gue hamil ….” Sarah menggenggam tangannya.



Setidaknya itulah kata-kata sakti yang dikeluarin Sarah waktu keluar dari kamar mandi. Dengan perasaan gaduh Andi menyekat keringat dingin di dahinya. Tangis Sarah pecah dan terburai selayaknya mahasiswa akhir bulan yang hilang gocap sewaktu perjalanan mau nge-print. Tiada hati yang tidak berdetak kencang tatkala kalimat itu dikatakan.



“TIDAAAK!!!!”



Sebuah tamparan telak bersarang di pipi kanan Andi. Bukan dari Sarah, melainkan adiknya Aisyah yang datang membangunkan Andi. Saudara lelakinya itu sudah tidur seharian dan hanya bangun ketika dipaksa solat oleh Mama. Bahkan kini hari sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Andi masih berada di atas tempat tidur tanpa ada melakukan hal produktif semenjak tadi pagi. Beruntung saja hari ini merupakan hari minggu, sehingga tidak ada permasalahan kuliah yang harus ia cemaskan.



“Uda, ngapa teriak-teriak?” tanya Aisyah. Masih dengan logat Minang kental selayak mamanya.



“Sumpah, Uda mimpi buruk. Aduh seram ….”



Aisyah tahu sekali kalau Andi pernah disamperin sama penunggu pohon besar simpang warung soto di sekitaran komplek. Waktu itu Andi pernah ngelempar batu ke sana dan demam sehari setelah itu. Setidaknya itu yang pernah diceritakan Sarah kepadanya sewaktu datang berkunjung.



“Makanya tidur siang itu jangan lama-lama. Malah jadi mimpi buruk, kan?”



Aisyah menarik selimut Andi, lalu melipatnya dengan rapi. Sebagai adik dari kakak yang sangat membebankeluargakan ini, Aisyah merasa berkewajiban untuk membersihkan kamar Andi setiap hari. Memang, Andi selalu diminta oleh Mamam untuk membersihkan kamar sendiri. Tapi tahu sendirilah Andi kaya mana, mana ada dibersihkan kamarnya yang berantakan itu. Nah, semenjak itulah Aisyah membersihkan kamar Andi dan menemukan barang-barang yang bikin Aisyah bingung.



Contoh, tissue berserakan di tong sampah kamar padahal Andi lagi enggak ada flu. Kamar yang terkadang bau asap, padahal kompleknya jarang sekali ada orang yang bakar sampah. Pokokny aneh-aneh deh, Aisyah berharap maklum dengan hal-hal tersebut.



“Mama masak apa?”



Sapu melayang ke paha Andi.



“Uda ini! udahlah bangun sore malah berani minta makan. Enggak ada lauk lagi, udah habis karena tadi ada teman mama yang datang.”



*Ni anak lama-lama marahnya udah kaya Sarah aja*, ucap Andi di dalam hati.


__ADS_1


“Sungguh terlalu.” Andi bangun dari tempat tidur dan segera mencuci muka.



Perut yang keroncongan akhirnya membawa Andi untuk ngungsi ke samping rumah. Ke mana lagi kalau bukan ke rumah Tami. Semenjak tamat SMA, Tami selalu tinggal sendirian di rumah besar itu. Papanya yang bekerja di perusahaan perkebunan Kalimantan turut serta membawa istrinya ke sana. Merasa Tami sudah bisa mandiri dan ditambah Tami tidak mempermasalahkan mamanya untuk ikut, Tami pun tinggal sendirian saat ini. Namun, hal itu tidak menjadi permasalahan karena kini Tami sudah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di kantor pajak pemerintahan kota. Ya, Tami ini lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.



“Samlekom ya ahlul bait ….” Andi membuka pintu belakang secara tiba-tiba. “Ana lagi lapar, ada makanankah?”



Memang enggak tahu diri, serasa rumah sendiri Andi nyelonong masuk kaya maling. Udah biasa sih dari dulu Andi begini di rumah Tami, jadi Tami pun ngerasa aneh kalau Andi malah minta izin dulu kalau masuk. Namanya udah sahabatan semenjak bayi, jarak rumahnya cuma lima langkah pula.



Tami menampakkan diri dengan daster tipis bermotif bunga-bunga warna jingga. Tergerai rambutnya yang sedikit berwarna merah, terjulur hingga setengah pinggang. Sempat Andi bengong karena baru bangun udah ditampakin bidadari, tapi kembali buyar karena sekarang dia benar-benar lapar.



“Andi, ngapain sore-sore begini?”



“Jatah malam gue ganti sore aja ….”



“Maksud kamu?”




“Ah … enggak ada. Gue lapar nih. Ada lauk, enggak?”



“Lah, kamu tahu sendiri aku jarang banget masak. Makan di luar aja, yuk.”



“Hahah … mau sih, tapi gue khawatir kalau nanti malam gue bisa mati gara-gara diamuk Sarah. Lo tahu sendiri dia ngerasa risih kalau gue makan sama cewek lain,” balas Andi.



“Haha … udah berapa lama sih kalian pacaran? Kaya masih di SMA aja. Ya udah, Aku Bo-Food aja. Aku mau sekalian makan malam.”



“Jangan gitulah, kan gue jadi enak.”



“Ya jelas enak, kan gue yang traktir. Hahaha….”

__ADS_1



Mau tidak mau, sebenarnya memang mau, Andi menuruti perkataan Tami yang akan menentraktirnya sore hari ini. Gadis itu memang sering mentraktir Andi kalau di rumah, selain ia sudah mendapatkan gaji bulanan, Tami sebenarnya senang jika ada orang yang mengunjungi rumahnya. Ya, terkadang kesepian hanya sendirian dan selalu berkutat di dalam pekerjaaan. Saking suntuknya, Tami juga diam-diam mengajak Andi makan malam di luar. Kalau ini harus pakai mobil biar pos satpam enggak ngelihat mereka pergi. Soalnya banyak cepu-nya Sarah di sana.



Tidak sampai satu jam, pesanan restoran ayam goreng datang dengan menggunakan jasa Bo-Food. Abang-abang ojolnya tiba dengan masih memakai helm. Saling bertataplah mereka berdua kaya cinta pandangan pertama. Ojol ini pun bingung, biasanya kalau ngantarin ke sini selalu mbak-mbak yang nerima. Eh, ini malah mas-mas yang nerima makanan. Merasa curiga kalau mbak yang punya rumah lagi kumpul kebo, ia pun bertanya.



“Ini pesanan Mbak Tami. Oh, saya baru lihat Mas di sini,” ucap abang ojol.



“Itu istri saya.”



“Wah, Mbaknya udah punya suami, ya? Ternyata pasangan muda.” Jawaban itu sudah membuat abang ojol merasa lega. Ternyata mereka tidak maksiat di sini.



“Iya, saya kan kerjanya di luar kota. Jadi beberapa kali sebulan ke sini. Sering ngantarin ke sini, ya?” tanya balik Andi.



“Enggak sering juga sih, tapi sekali seminggu pasti ada orderannya nyangkut ke saya. Ya sudah Mas, selamat makan dan berkenyang ria. Sudah pakai Bo-pay, kok.”



“Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Moga banyak rejeki hari ini, ya.”



*Pale lu lakinya Mbak Tami. Jelas kemarin Mbak Tami masih perawan ngakunya kaga punya suami …. Gue aduin Pak RT baru tahu rasa* ….



Di belakang pintu Andi cengar-cengir ngerasa bangga ngaku jadi lakinya Tami. Lah, ternyata abang ojolnya pernah ngobrol sebentar sama Tami waktu ngantarin makanan. Tami ngakunya cuma tinggal sendirian dan belum punya pacar atau pun suami. Sebagai bapak-bapak yang baik, abang ojol pun memberi saran kalau hati-hati selalu terutama malam. Apalagi kan Tami tinggalnya sendirian.



“Tam⸺”



Brmmm …..



Suara motor trail modifikasi datang. Knalpotnya lima kali lebih mahal daripada knalpot motor bebek lama punya Andi. Sudah pasti itu adalah Sarah yang datang secara bar-bar. Andi pun menghela napas. Untung aja Tami mesen banyak. Sarah pasti makannya yang paling banyak.



“Tami … main, yok ….” Sarah berteriak di depan rumah.

__ADS_1



\*\*\*


__ADS_2