Andi X Sarah

Andi X Sarah
45. Keliling Malam (2) (SEASON 3)


__ADS_3

“Sarah itu waktu SMA mana pernah minta dikawanin ke WC waktu di SMA. Ngomong-ngomong, Kakak juga ngerokok di WC ya dulu?”


Ingatan Pram bergerak ke bertahun-tahun yang lalu di kala seluruh kenakalan masih terjadi padanya. Masa-masa itu sungguh membuatnya rindu. Masa remaja selalu saja membuat orang pada masanya selalu membara tanpa memikirkan resiko. Ya, hampir sama saja seperti Kevin dan yang lain, Pram juga cabut dan merokok di WC bersama mereka. Meskipun hal itu masih ia tutupi dari


para guru. Oleh karena itu, Pram tetap dikenal sebagai anak pintar yang pendiam


dan menjadi murid faforit dari banyak guru.


“Ya, bisa dibilang begitu. Tapi enggak sering, deh. Soalnya guebmasih mikirin status gue di sekolah yang dianggap anak berprestasi. Menjaga kepercayaan itu harus kayanya.”


“Beda banget ya sama Kak Kevin dan Andi.”


“Bedanya pake banget. Kalau mereka itu sekali brutal, ya brutal aja. Mau apa pun resiko ke sekolah, mereka tetap hantam. Tapi, itu pula yang bikin mereka dikenal di sekolah. Tahu ga, kadang guru-guru juga rindu anak-anak


nakal seperti mereka.”


“Kayanya aku aja deh Kak yang enggak ngelakuin apa-apa di sekolah. Banyak diemnya.”


Kedua alis Pram naik ketika meresponnya. Yang ia ketahui, Tami juga termasuk jajaran anak pintar di kelasnya dan bahkan bersaing peringkat dengan Sarah sebagai juara umum.


“Lo kan juga pinter di kelas, masa enggak ngelakuin apa-apa,” jawab Pram.


“Bukan begitu, maksud aku Kak kegiatan yang bikin aku jadi dikenal orang banyak. Jujur, aku cuma punya temen di kelas aja. Walaupun di kelas, itu pun cuma sama Andi dan Sarah.”


Pram menoleh kepada Tami. “Ada satu.”


“Apa itu?” tanya Tami.


“Elo itu diincer sama temen satu angkatan dan bahkan alumni seperti kami. Siapa sih yang enggak kenal adik kelas yang namanya Tami di kalangan anak cowok. Emangnya cuma Sarah aja yang dikenal? Elo juga loh.”


“Hahaha … bisa aja Kakak.”


Pram mengangguk sembari melihat cahaya bulan yang bersinar redup pada bayang-bayang Gunung Merapi. Matanya sedikit memicing untuk memerhatikan embun dini hari yang bertebaran di sana.


“Lo itu punya kelebihan yang enggak banyak dimiliki oleh orang lain.”

__ADS_1


“Oh ya? Apa itu?”


“Lo cantik dan lo lembut, mungkin hal itu yang bikin banyak orang tertarik sama lo,” balas Pram.


Kalimat tersebut tidak mampu menggerakkan bibir Tami untuk berkata-kata. Ia fokus menjawabnya di dalam hati, tanpa bisa untuk dikeluarkan. Setiap kata dan setiap huruf seakan kembali berputar di kepalanya, menghantui imajinasinya yang sedang dipengaruhi oleh pria di samping. Ia merasa aneh kenapa Pram begitu lugas berbicara dengannya seperti itu, seakan ia bukanlah orang yang baru pertama kali ia kenal. Padahal, Pram mengenalnya baru akhir-akhir ini saja.


Benar yang banyak dikatakan oleh orang lain, terutam para wanita.bPram merupakan orang yang lugas dan jujur kepada orang lain. Kejujurannya pun tidak pernah menyakiti hati, selalu dikemas dengan kata-kata untuk meminimalir ketersinggungan. Begitu pula kejujuran yang bersifat menyanjung, ia sangat handal dengan hal tersebut. Kalimatnya terdengar lembut dan menarik hati untuk didengarkan. Ia tipe pria yang pandai merangkai kata untuk dikatakan. Tidak heran banyak wanita yang terpikat tatkala baru pertama kali berbicara.


Namun, hal tersebut yang membuat Kevin selalu khawatir dengan temannya tersebut. Masa lalu Pram yang penuh dengan inferioritas telah menumbuhkan rasa dendam terhadap kepopularitas. Ia yang dulu kurang pergaulan dengan penampilan seadanya telah berubah menjad sosok Pram sekarang berkat dukungan dari Pram sendiri. Kemudian, ia memanfaatkan metamorfosanya tersebut untuk memenuhi hasrat ingin dikenal.


Apa yang dikhawatirkan oleh Kevin? Hanya satu, hubungan buruk dengan orang lain. Ia terlalu menarik perhatian, meskipun dirinya diam di tempat. Banyak wanita terpikat dengannya, banyak pula pria yang harus ia hadapi dari sikapnya tersebut. Banyak wanita yang diajaknya pergi berkencan, akan ada banyak pula wanita yang pernah ia sakiti. Tidak heran Kevin pernah meminta Andi untuk menghentikan Pram dengan cara merebut Sarah, sehingga Pram sadar bahwasanya tidak semua wanita bisa ia miliki.


Ini hanya insting gue, bawaan gue memang begini. Jadi, jangan salahkan gue akan hal itu. Sekiranya itu yang pernah dikatakan Pram kepada Kevin tatkala membela diri dari amarah sahabatnya tersebut. Meskipun Pram tetap


menentangnya, ia tetap tidak bosan-bosan untuk mengingatkan Pram dalam bersikap. Mau bagaimana pun, Pram merupakan sahabatnya yang pernah ia selamatkan dari keterpurukan.


Mobil sampai di swalayan yang dimaskud. Swalayan tersebut merupakan swalayan 24 jam yang selalu buka. Ia cukup sering ke sini apabila sedang berada di villa. Kondisinya pun masih di daerah yang ramai sehingga nyaman untuk dijadikan tempat berkumpul dengan kursi dan meja di depannya. Bahkan, di jam segini pun masih ada para pemuda yang duduk di sana untuk sekadar mengobrol dan bermain game.


Mereka berdua masuk ke dalam swalayan. Pram membawakan tas keranjang untuk Tami, sekalian membelikan makanan ringan untuk dimakan esokbhari. Mereka jalan bersanding berdua sembari berbincang ringan. Bahkan, penjaga toko pun takjub melihat Pram dan Tami kelihatan cocok sekali. Pram dengan sosok karismatik, sedangkan Tami dengan kecantikan dan kelembutan.


“Lo suka top mie?” Pram menawarkan Tami untuk makan mie cup di depan swalayan nantinya.


“Suka, Kakak mau?” tanya balik Tami.


“Bahkan gue mau nawarin lo makan di depan swalayan nanti sambil minum teh anget. Cocok banget nih buat udara dingin. Lo enggak keburu pengen tidur, kan?”


“Enggak kok, Kak. Kita bisa duduk sebentar di depan nantinya.”


“Oke, kita ambil ya ….”


Setelah seluruh barang yang diinginkan dibayar seluruhnya oleh Pram⸺termasuk belanjaan Tami⸺mereka menyeduh mie cup dan teh hangat untuk dinikmati di depan swalayan. Duduklah mereka berdua saling berhadap-hadapan sembari diperhatikan oleh para pemuda yang sedang nongkrong.


Gini amat ya jadi jomblo, kali aja begini apa yang dibilang mereka dalam hati.


“Tam, elo pacaran sama Memet?” tanya Pram tiba-tiba.

__ADS_1


Ampir aja nih Tami keselek mie. Untung aja Tami orannya kaga emosian. Kalau Sarah, udah dismekdon kalau ditanyain begini.


“Haha … Kakak kok nyimpulin begitu?”


“Ya … kalian deket aja gitu. Gue kira ya pacaran. Gue juga enggak enak nanyainnya ke Memet langsung, soalnya kami enggak akrab.”


Pertanyaan tersebut berakar dari kejadian tadi tatkala tiba-tiba saja Memet menantangnya secara halus karena dianggap mendekati Tami.


“Kami itu dekat, sama kaya Tami sama Andi. Kami udah sama-sama dari kecil, jadi biasa aja kalau kelihatan kaya deket banget.”


“Oh gitu ya, kalian temen masa kecil ternyata. Berarti lo enggak ada yang ngedeketin gitu?”


Pram mode fakboy mulai aktif nih. Pasti nanyainnya begitu meskipun kaga ada maksud apa pun. Soalnya dulu udah kebiasaan, jadi masih kebawa-bawa.


“Apaan sih Kak? Hahaha … kalau yang ngedeketin sihh ada, tapi masih belum ada yang cocok aja,” jawab Tami. Ia tetap menyembunyikan fakta jika Memetlah sebenarnya yang masih mendekatinya.


“Oh, gitu lagi nunggu yang cocok. Temuinlah yang cocok, jangan ngejomblo mulu kaya gue.”


Antara kode dan becanda, Tami pun masih bingung. Ia tetap bersikap santai dengan hal tersebut.


“Lah, seorang Kak Pram yang dulu dideketin banyak cewek masa sekarang ngejomblo sih.”


“Ya sama kaya lo, masih belum ketemu yang cocok aja.”


Membekas momen ini pada denting jam yang mulai menunjukkan pukul dua dini hari lebih. Mereka bergegas pulang kembali ke villa. Perjalanan yang cukup jauh membuat Tami tertidur di mobil sehinga Pram tidak ingin


kebut-kebutan. Sesampainya di villa, tiba-tia saja tubuh Tami jatuh ke sebelah kanan, tepat ke bahuya. Pram pun menahan kepalanya dengan lembut agar tidak terbangun.


Gimana bangunin nih anak ya? Kalau gue tinggalin di sini, nanti dikirain yang lain Tami diapa-apain sama gue.


Di kala ia menatap wajah Tami yang tertidur pulas di bahunya, ia terdiam sejenak memerhatikan apa yang selama ini dibicarakan oleh anak cowok lain. Tami punya wajah bening dengan mata sipit yang indah, hampir kaya cewek-cewek korea. Dagunya sedikit lancip dan hidungnya mancung. Bibirnya merah alami meskipun tidak memakai lipstick. Ia tampak indah dengan kesederhanaannya kali ini.


Apa gue dengan dia bisa ngelupain Sarah ya? Hati Pram bertanya kepada dirinya sendiri.


Seakan bergerak sendiri, bibir Pram bergerak ke keningnya Tami. Kecupannya sungguh berarti, mengandung sebuah harapan, meskipun ia ragu dengan hal tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2