
Sarah Cabut
Keadaan mulai berubah semenjak semester akhir mereka di sekolah. Tidak pernah terjadi perkelahian antara kubu yang dulu sering berseteru. Four Dogs tidak bubar sepenuhnya, mereka akan tetap ada dengan anggota inti mereka yang masih sering ngumul. Ajiz mulai disegani oleh angkatan kelas 10 karena pengaruhnya di Kodomo. Ia menjadi tangan kiri Kevin, berkat itu orang akan berpikir dua kali jika hendak mencari masalah.
Hubungannya Andi dengan Naila masih sama seperti sebelumnya, berteman dengan baik walaupun ada sedikit perubahan. Andi menyadari jika Naila sudah ada yang ngincar, jadi sedikit menjaga jarak. Ia tak lagi sering jalan sama Naila, makan bareng, dan lain sebagaimana karena takut membuat ajiz menjadi sedih. Ya, tau sendiri kan si Ajiz. Dia memang payah ngedeketin cewek, malah ngeharap Naila duluan yang ngedeketin.
Hari ini para murid dibuat terkagum melihat sekelompok Alumni yang lagi datang mengunjungi sekolah. Andi yang lagi ngantuk di kelas malah kebangun karena decak kagum temen-temennya yang melihat keluar jendela, termasuk Sarah sendiri yang duduk tepat di depannya. Andi yang penasaran langsung ikut-ikutan ngelihat keluar dan ia terkejut melihat cowok-cowok keren lagi jalan di lapangan basket.
Kevin, Pram, dan Revin beserta beberapa anak Kodomo lainnya tengah berkunjung. Biar sok-sokan jadi anak baik gitu, mereka menyalami para guru yang sempat mereka datangi. Padahal mereka dulu itu bandel banget dan bikin para guru gerah sama kelakuan naujubilah mereka. Yang namanya senior ngedatangin sekolah tentu aja merasa kaya artis gitu. Kevin memimpin di depan serasa jadi artis sambil dada-dada sama junior yang menatap mereka.
Padahal kan bukan dia yang dilihat, tapi Pram yang lagi pakai seragam siswa polisi bintara. Udahlah pintar, bikin guru senang, ganteng, calon polisi lagi. Suami idaman banget.
"Yaelah ada anak itu," ucap Andi. Ia membenamkan dirinya ke meja lagi buat lanjut tidur.
"Diam lo," sambung Sarah.
"Nyambung aja ni orang."
Sebuah buku menempel di kepala Andi dengan keras. Kepalanya langsung tegak menyorot Sarah yang bertegak pinggang.
"Santuy dikit ngapa sih?!" protes Andi.
"Emangnya ga boleh ya Pram datang ke sekolah?"
"Siapa yang ngelarang, sih?!"
Sarah menujuk Andi. "Tadi lo kaya ga suka aja ngelihat Pram."
"Iya, iya ... dia kan cowok lo. Pantes aja lo belain dia."
"Andi, ga semua orang yang lo musuhin harus lo benci. Sampai kapan sih lo berhenti ngebenci Pram?" tanya Sarah.
"Jangan bicarain dia. Gue pergi dulu." Andi berdiri.
"Bukan masalah dia deket sama gue atau lo pernah cemburu gara dia."
"Mau gue anter ke Pram?" Andi berhenti di depan pintu.
__ADS_1
"Buat apa?" tanya Sarah.
"Biar lo diam."
Sarah dibuat menghentakkan kaki karena Andi yang menyebalkan. Ia duduk kembali kursi sambil membuat tugas sekolah yang akan dikumpul minggu depan. Tangannya mengenggam pena dengan keras sehingga tulisannya cukup tebal di kertas. Di dalam hati Sarah mengutuk-ngutuk kepada Andi hingga ia puas.
Jujur, ia ingin hubungan ini baik-baik saja tanpa ada masalah. Ia tidak ingin bertengkar kembali dengan Andi dan merindukan saat-saat mereka berbincang dengan hangat satu sama lain. Bukan sepenuhnya keinginan hati untuk putus, kata itu terlalu rumit untuk ia pahami. Satu sisi ia ingin memperbaiki hubungan ini, namun di sisi lain ia terlalu muak dengan Andi yang dekat dengan wanita lain. Hatinya sakit menyadari ia bukanlah satu-satunya.
Bisa jadi saat itu ia sangat dipengaruhi oleh emosi sehingga dengan mudahnya mengatakan kata putus. Andi tiba di saat semuanya tidak baik-baik saja. Ia hanya ingin menyendiri dan merenungi semua, sehingga bisa keluar dengan meluruskan perbuatan Andi itu tidak baik. Ia ceroboh dan cenderung menyesal. Namun apalah daya, semua sudah terjadi. Ia berusaha menikmati hari-hari tanpa memikirkan cinta.
Sarah keluar buat mencari angin sesaat. Ia melewati sebuah pagar yang pernah dijadikan tempat untuk cabut bersama Andi. Sebuah dinding yang menjadi saksi bisu ia mengajari cara cabut untuk pertama kali. Mata Sarah mengintip keluar, di sana berdiri sebuah kedai soto dengan cat biru yang selalu ramai. Salah satu pengisi kedai tersebut ialah anak-anak cabut dari sekolah mereka, terutama anak kelas 12 yang bosan.
*Gue bosan nih, apa gue ke sana aja?
Naik ga ya
ga usah deh nanti kena marah
tapi kan gue laper?
Aduh ...
eh hantam aja ...
Aduh susah juga ya ...
Anjay gue cabut*!!!
Sarah meloncat ke tanah dengan mulus. Memang, sedikit gugup karena ga biasa cabut. Sesekali ia memerhatikan dinding, mana tau ada guru yang lagi ngintip di sana. Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, ia berlari ke kedai soto dengan cepat.
Semuanya menyorot Sarah yang lagi ngos-ngosan saat tiba di kedai soto. Pengunjung yang berasal dari sekolahnya agak cemas, bisa jadi Sarah lagi ngincar mereka nih di sini.
"Tenang, gue ke sini karena lapar kok." Sarah tersenyum kepada gerombolan cowok yang asik makan soto.
Mereka ga jadi bubar dan lanjut lagi makan sotonya.
"Bude, sotonya satu sama es teh manis," ucap Sarah kepada bude soto.
__ADS_1
Mata Sarah menyorot seseorang yang lagi duduk santai di hadapan meja yang tersajikan secangkir kopi hitam dan semangkuk soto yang udah habis. Ia duduk sambil baca koran kaya bapak-bapak banget. Sesekali ia mengisap rokok kretek yang terselipkan di antara jari, persis kaya bapaknya Sarah yang lagi sarapan di depan rumah.
"Woi Agus!!! ngapain lo di sini?" tanya Sarah.
Agus menutup korannya dan terkejut melihat Sarah tersenyum ke arahnya. Ia bertambah cemas karena Sarah berjalan menuju meja tempat ia makan.
"Ngerokok aja, gue ga larang kok." Sarah duduk di depan Agus.
"Woi, ***** ... harusnya gue yang nanya ke elo kaya gitu. Lo ngapain di sini? Seorang Sarah malah manjat pagar." Suara Agus mengecil biar ga kedengeran sama yang lain.
"Gue lapar, Gus. Bosan juga kalau udah kelas 12 di sekolah mulu."
Agus mengangguk sambil mengisap rokok. "Akhirnya lo jadi siswa sekolah sepenuhnya."
"Emangnya gue ga siswa sekolah?" tanya Sarah.
"Gue kira lo robot karena belajar mulu."
"******* kau ...." Sarah menyambut soto miliknya yang di antar. "Yang lain mana?"
"Siapa?"
"Nanang dan Felix."
"Andi-nya kok ga disebut."
...
...
Sarah terdiam sesaat. Baru kali ini Agus membuat dirinya diam seperti ini.
"Iya, Andi juga ...." Sarah mengalah.
"Lo masih cinta dia, kan?" tanya Agus.
Jujur, Sarah masih bingung mengenai jawabannya.
__ADS_1
***
Silahkan masuk ke group chat yaa