Andi X Sarah

Andi X Sarah
40. Antara Kevin Dan Pram (SEASON 3)


__ADS_3

Angin sejuk pegunungan memasuki jendela-jendela kayu rumah kayu tingkat dua yang berada di belakang villa. Musik Lo-Fi dari playlist milik Revin masih mengalahkan bunyi gesek dedaunan di luar sana. Bukit seakan berbicara dengan meminta manusia untuk tetap diam, lalu berlama-lama menatap keindahannya. Di sana pepohonan benar-benar rimbun yang menjadi sarang bagi para hewan untuk berlindung. Tidak ada tampak kerusakan ekosistem, masih tetap asri. Kevin menyadarinya ketika banyak kicau dari berbagai jenis burung yang mempesona.


Bangunan kayu ini sebenarnya merupakan sebuah gudang semasa tinggalnya kakek dan nenek Pram. Alih fungsi gudang ini menjadi tempat bersantai ialah ketika pengelolaan villa berpindah tangan ke kedua orangtua Pram. Seluruh kayu lapuk diganti dengan yang baru, tetapi tetap mempertahankan bentuk aslinya. Entah kenapa Pram lebih suka menginap di tempat sederhana itu daripada di villa. Yang ia suka dari bangunan itu ialah tidak menghalangi pandangannya ke segala penjuru. Ia mampu melihat pemandangan baik dari jendela depan maupun belakang secara bebas.


Cukup sering Pram mengajak kedua temannya itu untuk menginap di sini di kala waktu senggang. Sewaktu SMA, mereka rela libur sementara hanya untuk melepaskan beban belajar yang suntuk itu. Bertahan di kawasan villa tanpa ke mana-mana pun sudah cukup. Mereka bisa ngopi, bermain golf mini di halaman belakang, atau pun minum-minum sampai kesadaran hilang dan terbangun tatkala matahari sudah setengah tiang.


Ya masa-masa itu mungkin hanya bisa dikenang. Kesibukan masing-masing tidak lagi membawa mereka untuk mengulangi aktifitas yang sama. Pram sibuk dengan pekerjaannya, begitu pula Kevin. Sedangkan Revin yang anak kuliahan tidak mau meninggalkan kelas hanya untuk bersenang-senang. Menjadi dewasa telah membuat setiap manusia memilih prioritasnya masing-masing. Oleh karena itu, menurut Pram momen ini sangat cocok untuk membersamai momen-momen yang pernah terjadi dahulu.


Rokok Kevin tersulut di bagian ujung, menimbulkan bunyi gemeretak tembakau dan cengkeh di dalamnya. Secangkir kopi hangat berbicara di atas meja balkon yang langsung menghadap ke pemandangan Gunung Merapi. Sementara Kevin bertenang diri sendirian, Pram sibuk merapikan bajunya di dalam koper. Sedangkan Revin terlelap sebagai penyambung tidur yang sempat berjeda tadi.


“Udah lama banget ya kita enggak sini,” ucap Pram.


Asap mengawang di hadapannya. Tepat di saat itu Pram keluar dari kamar menuju balkon di mana Kevin duduk. Rokok bersama itu ia sulut dari ujung tembakau Kevin, hal biasa ketika pemantik api tidak bisa ditemukan.


“Lebih dari dua tahun ya kita enggak ke sini.”


Kevin mengangguk. “Ya … kira-kira begitu. Terlebih lagi kita liburan sama mereka-mereka itu.”


“Hahah … sesuatu yang mustahil waktu dulu.”


“Ya mana bisa ngajak mereka. Yang ada malah gelud gara-gara masalah antar kelompok.”


Kursi pun ditarik sebagai tempat Pram duduk. Ia belum menyeduh kopi dan memilih untuk menyeruput kopi V60 yang diracik oleh Kevin. Pria itu cukup piawai dalam meracik kopi karena belajar dari teman-temannya yang merupakan barista.


“Adalah sangat mustahil berlibur sama mereka hahah ….” Pram mengangguk ketika menyeruput nikmatnya kopi seduhan Kevin. “Nikmat banget nih kopi.”


“Jelas dong. Gue baru belajar takaran yang pas dari temen gue yang barista café,” balas Kevin.


“Ngomong-ngomong, kerjaan lo aman kan?”


Mata Kevin memicing curiga. Tidak biasnaya Pram menanyakan hal itu pada Kevin.

__ADS_1


Biasanya, setiap ketemu paling bicarain motor, anak-anak Kodomo, atau pun cewek yang lagi viral di twitter. Tahu sendiri kan kalau viral di twitter itu ceweknya lagi ngapain.


“Tumbenan lo nanyain itu.” Kevin tidak menjawab pertanyaan Kevin.


“Enggak gue tanyain malah dikira kaga peduli. Giliran ditanyain, lo bilang tumben. Gimana sih.”


Kevin tertawa kecil mendengar respon Pram.


“Hahah … ya lo tahu sendirilah gue anak sulung di keluarga. Gue kaya ditakdirin untuk enggak istirahat, kerja siang malam buat cari duit. Dagangan Bapak lagi sulit, jadi gue harus ngasih uang ekstra tiap bulannya.”


“Jaga fisik lo, nanti bisa kena tipes.”


“Fisik kok dijaga, fisik itu diasah. Lihat nih otot gue.” Lengan Kevin langsung nunjukin tonjolan-tonjolan otot kaya binaragawan. “Haha … udah biasa pram kerja siang malam. Siangnya gue jadi ojol, malamnya gue jaga Indoapril. Kalau gue pindah shift jaga Indoaprilnya siang, gue jadi ojolnya malam. Teruslah seperti itu.”


“Gue paham kok kondisi keluarga⸺”


“Sungguh berbeda kondisi keluarga kita. Lihat di sini aja lo dipanggil tuan. Bahkan kakek dan nenek lo aja udah sekaya ini waktu dulunya, apalagi kedua orangtua lo sekarang.”


“Kaga boleh bandingin sama orang yang diatas lo, bukan berarti gue merasa tinggi. Yang mau gue bilang, kalau lo punya kesulitan … ya bilang aja ke gue. Apa yang bisa gue bantu, ya gue bantu.”


“Gue tahu lo anak orang kaya, tapi enggak selamanya lo ngasih materi sama gue. Okelah lo dulu ngasih gue barang ini itu sementara gue ngelindungin lo daripada preman. Bahkan, perjalanan kali ini aja semua elo tanggung buat gue dan Revin.”


“Ya enggak materi juga dong. Kali aja lo butuh bantuan buat nyari kerja atau yang lain.”


Mata Kevin menoleh pada Pram. “Lo tahu apa yang gue salut dari lo?”


Sejenak Pram terdiam untuk menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut. Namun, ia hanya menemukan kata-kata buntuk untuk diucapkan.


“Gue enggak tahu,” balas Kevin sembari menggeleng.


Asap mengepul di antara mereka tatkala rokok secara bersamaan dihembuskan.

__ADS_1


“Lo enggak pernah pergi dari kita, terutama dari gue dan Revin yang udah dari jaman dulu sama-sama. Lo juga punya banyak temen yang kaya-kaya, tapi lo tetep milih kami. Dan satu hal yang gue minta dari lo, tetaplah seperti itu."


Tangan Pram menepuk pundak Kevin.


“Gue bukan kacang lupa sama kulit, kok. Kalian tetap temen-temen gue. Gue bukan kaya orang di luar sana yang ninggalin circle lamanya demi circle baru.”


Bunyi seruput kopi dari bibir Kevin terdengar pelan, tetapi juga cepat. Terlihat noda cokelat menempel pada bibir Kevin tatkala cangkir dijauhkan.


“Sebenarnya ada alasan lain kan dari liburan kali ini.”


Seketika Pram menoleh kepada temannya itu


.


“Alasan lain? Maksud lo?”


“Ya ada alasan lain. Hmm … gue tahu banget elo Pram. Lo mungkin bisa ngasih gratis sama gue dan Revin, bahkan satu anak Kodomo diajakin main ke sini. Tapi enggak dengan orang yang di luar tempat biasa elo nongkrong. Contohnya mereka. Sebenarnya ada alasan lain, kan?”


Pram terdiam. Sahabatnya tersebut ternyata membaca tabir lain dari perjalanan kali ini.


“Iya benar … Sarah … itu alasannya …. Perasaan ini belum berakhir, bahkan seberapa lengketnya di antara mereka berdua.”


“Hahah … sifat fakboy lo itu enggak pernah hilang ya Pram,” sindir Kevin.


Pram menggeleng. “Gue tulus sama dia kok. Selagi perasaan gue masih ada, gue berhak buat berinteraksi sama dia, bahkan walaupun udah punya cowok.’


Tangan Kevin menggapai pundak Pram untuk berdiri. Ia bermaksud untuk mendekati batas balkon.


“Terserah elo sih. Memang sebelum janur kuning melengkung, kita masih punya kesempatan. Perasaan kan elo yang punya, jadi enggak masalah kalau elo masih suka. Tapi ….” Kevin menoleh ke belakang, tepat kepada Pram. “Jangan sampai perasaan lo itu bikin hubungan kita dengan mereka memburuk. Gue enggak mau kita berselisih paham lagi kaya dulu. Gue udah capek-capek membangun hubungan kita dengan mereka agar jadi baik, terutama semenjak lo kelahi sama Andi. Oke?”


Pram mengangguk paham. “Gue paham kok. Gue bisa jaga sikap.”

__ADS_1


“Nah … itu baru Pram-nya gue.”


***


__ADS_2