Andi X Sarah

Andi X Sarah
54. Mancing (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


Pagi hari menyambut di sebelah timur. Mata Andi terbuka ke arah jendela yang sudah mulai bercahayaa. Memet masih terlelap di sampingnya dengan bunyi dengkuran keras. Entah apa yang terjadi tadi malam karena kondisi tempat tidur berantakan. Andi merasa masih membawa kebiasaan lama yaitu sering brutal kalau lagi tidur. Dengan mata yang masih terkantuk dan nyawa  yang belum sepenuhnya pulih, ia bangkit dari posisi tidur. Nanang di bawah sana masih juga terlelap. Hanya Agus dan Felix yang sudah keluar dari kamar. Orang berdua itu memang disiplin jika soal bangun pagi.


Ia pun keluar dengan wajah masih terkatung-katung. Kaya lagi gempa, Andi malah sempoyongan sampe megang meja dulu. Darah Andi masih terlalu dini untuk bergerak, hingga ia hilang kendali. Tatkala pandangannya sudah sempurna, ia melihat villa sudah beraktifitas jauh sebelum ia bangun. Seperti hari kemarin, ia mendengar suara music senam aerobik yang berdetak hingga ke jantungnya. Kevin terlalu keras memasang volume, takutnya hantu bukit malah keganggu tidurnya.


“Sayangku sudah bangun ….” Sarah menyediakan sarapan di atas meja, lengkap dengan kopi di dalam kopi.


“Gue udah kaya papa-papa di pagi hari.”


“Spesial untuk elo.” Sarah meletakkan gelas di hadapan Andi.


“Apaan tuh?” Mata Andi memicing tatkala pandangannya mengarah ke isi gelas tersebut. “Telor setengah matang?”


“Bener, biar kuat, keras, dan tahan lama.”


Andi senyum dong ketika denger itu. Apalagi tadi malam mereka baru aja mengalami hal yang dinginkan.


“Tau aja kesukaan Papa … Hehehe … Hehehe ….”


Tami yang polos ngelihatin Andi waktu dia nyicipin telor setengah matang tersebut. Tampak lidahnya keluar tanda ketidaksukaan.


“Apa enaknya telor enggak mateng sih? Enakan diceplok terus digerong.”


“Lo kaga denger apa yang dibilang Sarah, biar kuat, keras, dan tahan lama.” Andi tersenyum.


Penjelasan tersebut begitu absurd bagi Tami. Kepolosan Tami sungguh numero uno kalau yang beginian. Maklum, kurang banyak temen. Tapi itu pula untungnya Tami enggak dikontaminasi pikiran-pikiran absurd.


“Maksudnya biar tahan olahraga yang lama. Jadi kenceng larinya dan otot yang keras. Lo lihat Kevin kan? Olahraga berjam-jam pun dia enggak ngos-ngosan.”

__ADS_1


“OOooo ….” Panjang deh Tami bilang itunya, “Bener juga sih. Kevin itu punya tubuh yang bagus dan stamina yang kuat. Apalagi telor ayam kampung ini tadi dikasih sama Kevin.”


“Pantes ada makanan beginian, ternyata dari Kevin,” pungkas Andi.


Pagi-pagi sekali, Kevin sudah berada di dapur untuk menyediakan seluruh sarapan full protein yang ia butuhkan. Kevin sangat menjaga kestabilan nutrisi untuk kebugaran tubuhnya. Tepat sekali Sarah pada saat itu sudah bangun. Ia heran kenapa sarapan Kevin itu aneh-aneh, ada telor setengah mateng, susu yang toplesnya segede gaban alias susu protein ala anak gym, pisang, dan lain-lain. Biasanya kan Sarah langsung makan nasi biar kaya orang Indonesia banget. Walaupun sarapan pakai mie, harus tetap ditambah nasi.


Di halaman belakang, ternyata tidak ada orang yang sedang senam aerobik. Terdapat Kevin, Pram, Revin, Agus, dan Felix yang sedang main basket. Musik hanya penyemangat saja. Olahraga pagi mereka terlihat seru sekali. Kedatangan Andi menjadi pelengkap untuk bermain three on three, alias tiga lawan tiga antara kubu Kodomo dan kubu Anak Amak. Tentu saja kubu Kodomo diuntungkan karena Pram merupakan atlit basket SMA.


“Haaah ….” Andi mengelap keringatnya di teras belakang. “Ke mana ya hari ini? Gue jadi bingung.”


“Gue sih mau jalan-jalan ke desa. Kata Pram, di sini ada pasar raya sekitar tiga puluh menit dari sini. Lumayan buat jajan kuliner.”


“Ajak yang lain kalau ada kepingin ikut. Kasian juga ngelihat mereka yang di sini-sini aja,” saran Kevin.


Meskipun ada hal yang terjadi antara Andi dan Pram, mereka masing-masing tetap bersikap seperti biasa apa bila di depan orang banyak. Pram pun memberikan saran destinasi apabila ingin berpergian.


“Ada banyak kok, ada Merapi, ada danau, sungai⸺”


“Ya benar … ada danau dan sungai.”


Andi langsung tegak dan menghampiri Sarah yang lagi sarapan. “Sarah kita pergi mancing hari ini. Siap-siap dulu, Tiga puluh menit lagi kita pergi pakai motor Bapak Santoso.”


“Apa? Mancing?”


“Udaaah … ikut aja apa kata gue.”


Sebelum pergi berlibur, Andi sudah memikirkan bagaimana caranya ia agar bisa mancing nantinya. Ia menduga pasti ada sungai atau danau di sekitar tempat mereka menginap sehingga ia bisa sejenak menenangkan diri dengan sebuah hobi. Ia tidak terlalu suka hanya menikmati alam di villa. Hanya saja, Sarah pasti akan marah-marah kalau Andi bawa pancingannya tersebut. Oleh karena itu, ia menitipkan pancingan tersebut kepada Kevin sebelum hari keberangkatan sehingga tidak ketahuan oleh Sarah.


Mau tidak mau, Sarah mengiyakan permintaan Andi. Tanpa mandi, hanya cuci muka dan sikat gigi saja, mereka diantar oleh Agus menuju rumah Bapak Santoso. Dengan petunjuk dari Pram, mereka sampai ke desa di mana beliau tinggal. Bapak Santoso sebelumnya sudah berpesan apabila ada yang ingin meminjam motor, maka bisa dipakai untuk berpergian. Andi memanfaatkan kebaikan hati Bapak Santoso tersebut.


Seperti pasangan suami istri yang lagi pergi mancing, mereka pergi berdua dengan motor butut tersebut. Berbekal umpan cacing yang dicari oleh Bapak Santoso di belakang rumah, pelet ikan, dan jangkrik hidup dari toko pancing sekitar, mereka berangkat ke danau yang dimaksud. Bantuan dari google map mengantarkan mereka ke sana.

__ADS_1


“Waaah … asri banget danau ini.”


“Asri dan sepi lagi. Kita bisa … hmmm ….” Andi tersenyum lebar tapi mencurigakan.


“Lo mau itu lo hilang kalau gituan di sini? Oke  gue jabanin,” balas Sarah.


“Hahah … enggak dong. Enak sih cuma itu yang hilang, takutnya kita berdua yang hilang di sini.” Andi mengeluarkan pancingannya yang berjumlah lima joran. “Lo pande mancing kan?”


“Pandai, kok. Papa juga ada bawa gue ke kolam pancing. Tapi, gue enggak mau pasang umpan cacing atau jangkrik ya? Lo yang masanginnya.”


“Tenang … kalau itu mah gampang.”


Membayangkan memancing bersama seorang kekasih, sungguh pengalaman yang sangat romantis. Berdua saja dengan ketenangan tanpa siapa-siapa sembari menikmati pemandangan alam menjadi daya tarik sendiri. Senandung ikan dalam riak air di permukaan seakan lilin-lilin kecil yang menghiasi. Lalu, mereka duduk bersamping-sampingan atau saling membebankan tubuh ke tubuh yang lain. Dunia seakan menjadi milik sendiri, yang lain pada ngontrak.


Setidaknya itu yang dipikirkan oleh Andi tatkala ia memasangkan umpan untuk Sarah. Meskipun matanya fokus ke umpan yang dipasang, telinga Andi mendengar candaan ringan dari Sarah yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Ia menjadi gagal memasang umpan karena tangannya dipaksa terus untuk bergerak ketika tertawa.


“Siapa yang dapat ikan duluan, gue harus dicium ya.” tantang Andi.


Sarah mendekat ke pipi Andi, kecupannya menempel dengan mesra. “Bahkan sebelum lo dapat duluan, udah gue cium. Makasih ya udah bawa gue ke sini. Ini pengalaman yang berarti.


“Iya, makasih juga udah mau ikut.”


Belaian menjadi tanda bahwasanya Andi telampau sayang kepadanya.


***


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2